Chapter 18 - Peduli

1666 Kata
“Ughhh…” Suara bunyi televisi dan tepukan membuat Gendis terbangun dari tidurnya, wanita itu mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya, berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retinanya. Tapi, karena hari yang nampaknya sudah siang, membuat cahaya begitu banyak. Gendis sedikit lambat memejamkan kelopak matanya. Gendis terduduk di pinggiran kasur dengan tatapan yang masih kosong, ia mikirkan apa yang harus dikerjakannya hari ini. Apa ia punya rapat penting hari ini? Tapi, wanita itu tiba-tiba membulatkan matanya ketika mengingat bahwa tidak lagi ada agenda bangun pagi, mandi cukup lama, sarapn santai dan pergi ke kantor hingga kembali ke apartemen lagi. Ia yang sekarang adalah ibu rumah tangga yang harus bangun lebih awal dari semua anggota di rumah. Tapi, sudah jam berapa sekarang? Gendis kembali kaget ketika melihat jam dinding yang menujukan pukul 9, wanita itu langsung melompat dari kasur namun saat merasakan sakit dibagian bawahnya, Gendis tidak bisa menahan untuk berteriak. “Argghh!” Beberapa detik kemudian, suara langkah kaki yang tergesa masuk ke dalam kamar. Gyan yang sedang menggendong Gema dengan gendongan, menatap ke adah Gendis dengan khawatir. “Kamu kenapa?” tanya pria itu melihat Gendis yang membeku. Gendis menjulurkan tangannya, menyuruh pria itu diam saat ua merasakan pedih. Barulah beberapa menit kemudian, Gendis bisa menghela nafasnya. Wanita itu lalu menatap tajam ke arah Gyan yang masih menatapnya khawatir. “Ini semua gara-gara kamu, Gyan!” seru Gendis sambil menunjuk pria itu dengan emosi. Gyan terkejut, pria itu langsung tidak terima dengan tuduhan isterinya. “Kamu yang minta lagi, Gendis!” balasnya kembali ingat betapa liarnya sang isteri. Gendis hendak membantah namun bibirnya terkatup, ia lupa bahwa semalam dirinya berubah seperti hantu perawan yang tidak disentuh selama berabad-abad. Memikirkan malam itu, membuat Gendis merasakan pipinya menanas dan ingin mencari tempat bersembunyi. “Buruan mandi, terus sarapan. Hari ini aku izin, kamu bisa istirahat lagi nanti,” ujar Gyan sambil menepuk-nepuk p****t Gema yang berbalut popok. Gendis mengangguk, ia tidak menolak tawaran Gyan yang sungguh menggiurkan. Karena pria itu sedang tidak bekerja, maka pria itu harus bekerja dulu di rumah. Gendis langsung buru-buru menuju kamar mandi, kemarin malam ia tidak sempat membasuh tubuhnya karena terlalu lelah. Setelah merasa segar, Gendis memakan sarapan buatan suaminya yang cukup enak. Keahlian masak pria itu pasti muncul akibat ketidakpedulian Gendis Khalila. “Nnenen…” “Bububbbbb… aaaaa!” Walau hari ini Gyan ingin membuat Gendis bersantai, namun sayangnya Gema tidak akan membiarkan itu. Produk makanan yang balita itu suka masih berada di tubuh ibunya, membuat Gema langsung berteriak kegirangan melihat Gendis. Mau tak mau wanita itu langsung membawa Gema ke dalam gendongannya sedangkan Gyan membereskan mainan. Gendis termenung sedikit melihat anaknya lahap menyusu, membuat perhatiannya teralih ke arah Gyan. “Apa?” tanya Gyan melihat sang isteri menatapny dengan sinis. Ia sekarang tidak lagi marah atau tersulut emosi melihat itu. “Enggak cuman wajah kamu sama Gema aja yang mirip, ternyata hobi nenen kalian juga sama,” ceplos Gendis membuat Gyan tersedak liurnya sendiri. Pria itu lalu mengalihkan pandangannya, melihat apakah ada orang yang mendengar. “Gendis,” tegur Gyan yang tidak suka kegiatan panas mereka dibicarakan di luar waktu berduaan. “Huh,” dengus Gendis. “Awas aja nanti kamu mainin lagi.” Gyan menghela nafasnya panjang, berusaha tidak ambil pusing dengan perkataan isterinya yang kadang memang aneh. Tapi, daripada Gendis yang dulu selalu mengabaikannya, Gyan tentu lebih suka dengan sosok Gendis yang sekarang. Kadang-kadang, pria itu masih terpikir bahwa Gendis yang sekarang, mungkin adalah orang yang berbeda. Namun, ia buru-buru menertawakan dirinya sendiri. Jika memang Gendis yang saat ini ada di depannya adalah sosok orang lain, kenapa wanita itu begitu peduli dengan anak-anak? Ibu kandung mereka saja bisa mengabaikan ketiga putranya, apalagi orang asing. “Gyan, tolong letakin Gema ke kamar dong. Terus bawain laptop juga. Oh, iya, tolong ambilin minum juga di dapur.” Gyan hendak membantah namun saat melihat Gendis meringgis sambil memukul-mukul kakinya membuat pria itu berdiri dan membawa Gema ke dalam kamar. Tak lupa mengambil laptop dan minum. “Makasih, Gyan,” ucap Gendis yang tiba-tiba memiliki ide untuk Gyan tetap di rumah untuk membantunya. Namun ia buru-buru membuang pikiran itu, orang sekeras kepala dan begitu menjunjung harga diri seperti Gyan, mana mau melakukan hal seperti itu. Gendis memutuskan untuk mengerjakan pekerjaannya, ia sangat senang karena bisa menghasilkan uang. Kemarin ia mendapat gaji pertamanya sebagau freelancer, cukup membuat wanita itu teringat kenangan masa lalunya. Gaji pertamanya di kehidupan sebelumnya tentu lebih besar daripada sekarang. Tapi, entah mengapa ia merasa lebih senang. Mungkin karena ada banyak orang yang ingin wanita itu bahagiakan dengan gajinya. Gyan sudah tahu bahwa isterinya bekerja dari rumah, namun ia tidak tahu apa yang Gendis kerjakan. Namun alangkah terkejutnya Gyan ketika melihat apa yang isterinya kerjakan. Itu adalah pekerjaan seorang digital marketing yang sedang dicari perusahaan di sebelah kantornya. “Kamu tahu ini darimana?” tanya Gyan menatap serius ke arah Gendis yang menoleh dengan santai. Wanita itu tentu saja sudah mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan Gyan. “Aku belajar-belajar dari internet sama kursus,” jawab Gendis sangat sederhana. Gyan ingin bertanya lagi, namun ia ingat bahwa selama beberapa tahun, Gendis selalu menghabiskan waktunya lebih banyak dengan ponsel daripada keluarganya. Mungkin selama itu juga Gendis belajar secara diam-diam. “SEO itu apa?” tanya Gyan saat melihat kolom pencarian Gendis menyebutkan hal itu. “SEO itu search engine optimization yang maksudnya bagaimana website klien kamu bisa jadi teratas saat orang mencari sesuatu,” jelas Gendis sambil menoleh ke arah Gyan, memperhatikan wajah pria itu yang mengangguk-angguk. “Kalo ini?” tanya Gyan menujuk ke arah layar lagi. Gendis tidak pelit untuk menjawab, karena jika Gyan memiliki ilmu baru dan bisa menghasilkan uang, bukannya itu akan membuatnya mudah juga kan? Pada akhirnya pagi sampai siang hari itu, Gyan habiskan belajar bersama Gendis tentang digital marketing yang sejak awal sudah membuat Gyan tertarik. Pria itu selalu merasa ragu untuk mencoba sesuatu karena hanya lulusan SMA, apalagi setiap kali ia ingin memulai karir baru, Gyan takut ia akan gagal sehingga membuat anak dan isterinya akan kepalaran. “Kira-kira aku cocok enggak kerja ini?” tanya Gyan ketika Gendis hendak mematikan laptop yang sudah kepanasan, maklum umur laptop itu sudah hampir sama dengan Gavin. Gendis bahkan sangat kagum dan ingin memasukannya ke dalam museum. “Enggak,” jawab Gendis langsung membuat Gyan yang sejak mendapat kuliah gratis langsung bersemangat tiba-tiba merubah wajahnya menjadi datar. “Bukan karena kamu tamatan SMA tapi karena kamu baru belajar sebentar. Kalo kamu emang tertarik, coba pelajarin sampe dua bulan lebih. Kalo kamu bosan, itu artinya enggak cocok,” jelas Gendis. Gyan mengangguk paham apa yang dikatakan oleh isterinya, memang menyukai sesuatu itu sangat mudah namun yang paling sulit adalah mempertahankannya. “Makan siang biar aku aja yang masak,” usul Gyan yang langsung berdiri. Gendis hanya msmberikan jempolnya saja, benar-benar menguntungkan menemukan suami seperti Gyan. Ia pernah mendengar beberapa karyawannya mengatakan bahwa suami mereka jarang masak namun sekali masak, luar biasa kacaunya. Bahkan ia pernah mendengar bahwa sang suami tidak sengaja meninggalkan sudip di lemari karena melakukan dua pekerjaan sekaligus. Sungguh luar biasa! Gendis merenggangkan tubuhnya, sambil mengerutkan dahi saat mendengar suara langkah kaki yang mendekat dari pintu rumah. Tidak lama kemudian, pintu terbuka dan menampilkan dua anaknya yang tumben tidak berisik saat pulang. “Ibuk! Ibuk! Kata ayah, ibuk sakit?” tanya Gavin langsung melepas sepatu dan tasnya tanpa mau menyusun, anak laki-laki itu langsung duduk di samping sang ibu. “Abang tadi enggak teriak karena takut ibu lagi tidur,” gumam bocah itu membuat Gendis gemas, tidak tahan untuk mencubit pipinya yang sekarang semakin gembil. “Ibuk enggak papa kok,” angguk Gendis yang merasa hatihya menghangat. Dulu jika ia sakit, tidak ada yang peduli dengannya kecuali Dokter yang menyuruh Gendis beristirahat. Kehidupannya dulu begitu sepi, Gendis sekarang akhirnya baru menyadari bahwa tembok yang ia bangun untuk memisahkan diri ternyata sangat kokoh dan kuat sampai tidak ada yang bisa masuk. “Beneran ibuk enggak papa?” tanya Gavin lagi yang menjulurkan tangannya ke dahi Gendis. “Enggak panas sih,” gumamnya sambil mengerucutkan bibir. “Tapi, ibu harus tetap banyak istirahar!” “Iya, Bang Gavin,” balas Gendis yang gemas dengan tingkah putranya. “Kalo bisa, sakitnya pindahin ke Abang aja. Kasihan kalo ibu kerena udah masak, beresin rumah, jaga adek Gema, berantem sama Ayah, terus main sama Abang dan Kakak.” Lagi-lagi Gendis terharu, ia belum pernah mendengar ada orang yang rela menukar sakit agar ia tidak merasakannya. Walaupun bisa Gendis tidak mau, ia juga tidak ingin melihat Gavin sakit. Tapi yang membuat Gendis merasa geli adalah Gavin yang menambahkan agenda adu mulutnya dengan Gyan. “Makan siang udah jadi, ayo makan!” ajak Gyan membuat Gendis mengajak dua anaknya umtuk makan siang. Siang ini agak istimewa karena mereka berempat bisa berkumpul, Gema tidak dimasukan karena ia masih tidur. Setelah selesai makan, Gema terbangun karena lapar. Akhirnya Gendis menyusui bocah itu sambil menemani dua anaknya yang lain, bercerita tentang hari mereka di sekolah. Wanita itu bersyukur karena sekarang Gaffi tidak lagi menjadi korban perundungan, bocah itu juga sudah memiliki teman sekarang. Gendis yang awalnya tidak berencana untuk ikut tidur siang, malah bablas sampai dua jam. Wanita itu terbangun dan turun perlahan dari kasur agar ketiganya tidak bangun. Wanita itu lalu mencari-cari sosok Gyan yang tidak ia temukan namun saat mendengar susuatu yang berisik, wanita itu memutuskan untuk keluar. Gyan saat ini tengah memasang CCTV yang membuat Gendis tertegun. Kenapa pria itu tiba-tiba memasang kamera pengawas? Apa karena cerita Gendis kemarin? “Kamu masang CCTV? Untuk apa?” tanya Gendis membuat Gyan yang sedang berada di atas bangku terkejut. Pria itu mengelus-elus dadanya sambil berusaha tidak marah. “Oh, jangan-jangan untuk aku ya?” tebak Gendis dengan percaya diri. “Aku pasang ini biar Gema yang lagi belajar jalan aman,” jawab Gyan membuat Gendis langsung memasang wajah cemberut. “Aku kirain biar ada yang jagain aku,” sunggut Gendis merasa sedih. Ia juga yang terlalu percaya diri, untuk apa pula Gyan melakukan itu hanya demi dirinya? “Untuk apa kamu butuh CCTV? Kamu kan aku yang jagain.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN