Hari minggu adalah hari yang ditunggu-tunggu Gendis, baik dalam kehidupan sebelumnya maupun sekarang. Tapi, sayangnya, Gendis tidak bisa mendapatkan ketenangan yang ia rasakan seperti dulu. Tinggal di lingkungan perumahan yang sederhana, membuat wanita itu harus sabar saat minggu paginya diganggu dengan suara stelan musik tetangga yang keras, suara mesin pemotong, suara ibu-ibu luar dan masih banyak lagi.
“Kamu kenapa tarik nafas terus?” tanya Gyan yang melihat Gendis sedang berbaring di atas kasur dengan telentang. Tidak ada Gema disana, balita itu sedang bermain dengan kedua kakaknya di depan.
“Kamu kenapa pilih rumah disini, sih, Gyan? Kenapa enggak apartemen? Berisik tahu!” sunggut Gendis menatap ke arah pria itu dengan wajah tersiksa.
“Duitnya cukup untuk beli perumahan ini,” sahut Gyan ikut mendudukan tubuhnya di pinggir kasur lalu mendorong tubuh Gendis sedikit. Pria itu akhirnya ikut merebahkan tubuhnya di samping sang isteri.
Gendis mendengus, sekarang Gyan yang memganggu ketenangannya. “Gimana kalo kamu jual rumah ini?”
“Ngaco kamu,” balas Gyan. Rumah ini dibeli dengan setengahhasil tabungannya sejak SD dari mengikuti lomba dan setengah lagi dari Ayah Gyan. “Terus kamu mau tinggal dimana? Bukannya apartemen itu kecil? Emang muat sama anak-anak kita nanti?”
“Gaffi sama Gavin bisa sekamar, terus kalo misalnya Gema udah besar juga bisa tidur sama mereka,” jawab Gendis menoleh ke arah Gyan dengan wajah memelas. Ia sudah tidak sanggup tinggal disini, belum lagi sejak ia memberi makanan pada tetangga sebelah, wanita yang ia temui itu terus menghampiri Gendis untuk mengobrol.
“Kalo nanti kita punya anak perempuan gimana?” tanya Gyan membuat Gendis langsung melotot.
“Anak perempuan? Kamu emangnya belum cukup sama tiga anak?!” seru Gendis dengan terkejut.
“Minimal 5, duanya lagi perempuan,” balas Gyan membuat Gendis langsung memukuli bahu pria itu dengan gemas.
“5 anak? Kamu enggak mikir apa sama biayanya?! Bentar lagi Gaffi mau SMP, terus Gavin enggak lama juga. Gema juga mau sekolah. Dan kamu masih pengen anak, dua lagi?!” Gendis benar-benar langsung stress, ia sekarang sadar apa yang dirasakan karyawan kantornya saat mereka curhat dengan kehidupan mereka yang pas-pasan.
“Sebenarnya Gendis, aku mau ngomong sesuatu sama kamu,” ujar Gyan tiba-tiba membalikan tubuhnya ke arah Gendis membuat wanita itu langsung bergeser. Jangan sampai Gyan melakukan macam-macam di saat ketiga anak mereka bisa masuk dengan muda ke kamar.
“Aku sebenarnya pun—-“
“Nenek!” seruan dari Gavin membuat sepasang suami isteri itu langsung menoleh ke arah pintu. Gendis dan Gyan sontak bangkit dari kasur secara bersamaan dan buru-buru keluar secara bersamaan, namun karena pintu yang terlalu kecil membuat keduanya tersangkut.
“Gyan, minggir! Badan kamu kayak gajah, besar!” seru Gendis. Gyan awalnya hendak mengalah namun mendengar sang isteri yang mengejek tubuhnya, pria itu tetap ingin keluar deluan. “Aku yang deluan pengen keluar, kamu yang harusnya yang ngalah!”
Rian, Rima, Agung dan ketiga anak laki-laki itu tercengang ketika melihat Gendis dan Gyan yang beradu di pintu kamar. Keduanya seperti anak kecil yang tidak mau mengalah.
Gyan yang menyadari semua tatapan orang akhirnya mengalah, sedangkan Gendis berseru senang karena ia yang pertama keluar. “Kamu kayaknya harus diet, deh, Gyan. Aku enggak suka bada gajah kamu!”
“Gendis!” tegyr Rima dengan melotot membuat Gendis menoleh. “Kamu enggak boleh ngomong sama suami kayak gitu, enggak baik,” oceh wanita paruh baya itu membuat Gendis meringgis.
“Kan emang badan Gyan yang besar, Buk…” protes Gendis dengan bibir mengerucut. Ia tidak suka dimarahi oleh ibunya.
“Gyan itu nurut Ayahnya, mertua kamu juga besar kok. Lihat anak-anak kamu, lahirnya dulu juga besar-besar!” Gendis langsung merinding ketika mendengar ketiga anak laki-laki itu lahir dengan bobot besar, bagaimana jika Gendis nanti hamil dan melahirkan anak yang besar?!
Tunggu, ngomong-ngomong tentang hamil, Gendis lupa memakai pengaman saat kemarin berhubungan badan dengan Gyan. Sial! Sial! Ini semua karena Gyan!
Gyan yang awalnya merasa lucu melihat Gendis yang dimarahi karena terlihat seperti anak kecil, tiba-tiba merasa ngeri saat wanitanitu menatapnya dengan tajam seperti silet, entah apa yang ia lakukan pada wanita itu hingga membuatnya sangat marah.
“Udah, Rima. Bukan Gendis yang salah tapi Gyan aja yang enggak mau mengalah,” sahut Agung membuat Gendis yang mendengarnya langsung tersenyum lebar. Wanita itu seketika melupakan kekesalahannya pada Gyan tentang masalah pengaman.
“Iya, betul. Mas Gyan masa enggak mau kalah sama Mbak Gendis,” kata Rian yang membuat senyum Gendis makin lebar. Tidak dengan Gyan yang sekarang wajahnya berubah menjadi masam.
“Hus, enggak usah didengerin Gyan. Dua laki-laki itu emang sayang banget sama Gendis,” tutur Rima lagi yang tidak mau membuat menantunya kesal.
“Ibuk sama Bapak duduk dulu, biar Gendis ambilin minum sama cemilan,” ajak wanita itu yang diangguki Rima dan Agung. Rian yang sangat menyukai keponakannya, langsung bergabung dengan mereka.
Gyan yang sangat jarang berinteraksi dengan mertuanya memutuskan untuk mengikuti Gendis untuk menuju dapur. Gendis awalnya hendak protes karena harusnya sang suami menemani orang tuanya namun mengingat sejarah mereka, Gendis tidak memaksakannya.
“Gyan, tolong bawain cemilannya.” Laki-laki itu mengangguk dan membawanya menuju ruang tamu.
Agung yang sudah diceritakan oleh isteri dan anaknya masih sangat terkejut ketika melihat Gendis menjamu mereka dengan makanan dan minuman. Itu tidak seperti Gendis yang selalu mengabaikan kehadirannya.
Melihat wajah putri keduanya, pria itu tiba-tiba merasa hatinya menjadi perih. Andaikan dulu usaha warung makannya tidak bangkrut, mereka mungkin bisa menguliahkan Gendis di universitas yang bagus seperti anak sulungnya. Sampai saat ini Agung dan Rima masih merasa bersalah karena tidak bisa memberikan sesuatu yang sama dengan putri kedua mereka.
“Ibuk, mau kuenya,” pinta Gavin yang ngiler saat melihat kue kering coklat buatan Gendis.
“Sini Bang, duduk sama Nenek, kita makan kue,” ajak Rima, jika biasanya Gavin akan langsung berlari menuju neneknya namun sekarang bocah itu masih menunggu persetujuan dari Gendis.
“Boleh tapi enggak banyak-banyak, bentar lagi makan siang,” peringat Gendis yang membuat Gavin mengangguk dengan senang. Bocah itu langsung duduk di samping Rima yang kagum dengan putrinya yang sangat berbeda sekarang.
Gendis tahu kalo anak-anak tidak diperbolehkan banyak makan cemilan, jika kebanyakan akan membuat mereka tidak akan makan banyak saat jam makan siang.
“Gendis, ibu sama Ayah kesini mau ngasih tahu kalo bentar keponakan kamu mau ulang tahun,” ujar Rima dengan senyum namun tidak bisa menutupi kesedihan dari raut wajahnya. “Geisha rencananya mau kesini tapi dia sibuk sama suaminya.”
Gendis mengangguk-angguk mendengar undangan ibunya. Tapi, wanita itu merasakan ada yang ganjal saat melihat wajah lesu dari Rian. Sesuatu yang tidak beres pasti terjadi.
“Kak Geisha pasti pinjam uang sama ibu?” tanya Gendis langsung to the point, Gyan ada disampingnya bahkan tersedak.
Rima jadi panik, ia tahu betul kalo Gendis selalu merasa iri dengan Geisha yang sempat kuliah dan sekarang bekerja di perusahaan. Wanita paruh baya itu menyalahkan dirinya sendiri, andai ia juga bisa memberi sesuatu yang sama pada Gendis, hubungan keduanya pasti akan baik-baik saja.
“Iya, Gendis. Tapi, nanti Geisha bakal balikin secepatnya kok,” jawab Rima.
“Apa uang pendaftaran sekolah Rian yang dipake?” tebak Gendis lagi yang tepat sasaran. Melihat keluarganya terdiam, terlebih lagi Rian membuat Gendis merasa tebakannya benar.
“Aku sebenarnya enggak setuju ibu kasih pinjam uang sama Kak Geisha. Dia pasti enggak akan balikin uangnya, kayaknya yang udah-udah,” guman Rian yang didengar semuanya. Anak laki-laki itu sebenarnya tidak mau Rima meminjamkan uangnya tapi karena itu adalah kakak perempuan kandungnya, Rian hanya bisa pasrah.
“Kalo gitu, kamu cuman bisa sekolah sampai SMP, Rian,” kata Gendis dengan santai namun membuat seluruh orang kecuali tiga anak disana terkejut.
“Gendis, kenapa bilang seperti itu sama adikmu?” tanya Rima yang sebenarnya sudah resah beberapa hari ini, terlebih saat sang putri sulung mendatanginya untuk meminjamkan uang.
“Bu, kalo apa yang dibilang Rian benar—Kak Geisha enggak ngembaliin uangnya. Itu artinya Rian enggak bisa lanjutin sekolahnya kan? Apa Gendis salah?” tanya wanita itu membuat ibunya bungkam. Memang benar apa yang dikatakan oleh Gendis, jika uangnya tidak kembalikan maka Rian mungkin tidak bisa lanjut sekolah.
“Buk, aku mau tetap sekolah!” seru Rian yang merasa takut. Jika ia tidak sekolah, bagaimana ia bisa menjadi orang sukses?
Memang benar, banyak orang sukses yang tidak sekolah. Tapi, apakah nasib Rian akan seberuntung mereka? Dengan sekolah, setidaknya Rian mempunyai tangga untuk mencapai kesuksesan itu.
“Apa uangnya udah dipinjem?” tanya Gendis.
“Belum tapi Geisha akan datang besok,” jawab Rima yang sekarang semakin resah, ia tidak mau membuat putri sulungnya marah namun ia sangat tidak sanggup membuat putranya berhenti sekolah.
“Buk, anaknya Kak Geisha itu emang cucunya Ibuk. Tapi, untuk ngerayain ulang tahunnya itu adalah tanggung jawab orang tuannya,” jelas Gendis yang tahu bahwa Rima harus diberi penjelasan agar bisa yakin dengan keputusannya. “Sebenarnya ibu enggak salah kok mau minjamin uang sama Kak Geisha, bagaimana pun itu anak dan cucunya ibu tapi saat ini ada yang lebih penting dari itu yang akan mengeluarkan uang juga.”
“Pertanyaannya, apa yang terjadi kalo anaknya Kak Geisha enggak nyerayain ulang tahun? Enggak akan terjadi sesuatu yang besar kan, dia bisa ngerayain ulang tahunya di tahun depan atau buat yang lebih sederhana. Tapi kalo Rian putus sekolah? Ibu pasti tahu apa yang terjadi.”
“Ibu enggak akan minjemin uang sama Geisha,” putus Rima yang tidak sanggup putranya menderita. Rian memang bukan anak yang selalu juara satu namun karena selalu gigih, ia tidak pernah keluar dari lima besar. Rima tahu sekali bahwa Rian belajar dengan sangat keras.
Sedangkan Geisha, Rima baru menyadari kalo sudah banyak yang ia berikan pada putri sulungnya itu dan hampir mengorbankan kedua anaknya yang lain.
“Makasih, Buk…” lirih Rian yang matanya sudah memerah, remaja itu sangat takut untuk putus sekolah. “Makasih juga Mbak Gendis.”
Rian benar-benar tidak menyesal mengajak kedua orang tuanya kesini, remaja itu sebenarnya sudah kehilangan semangatnya. Ia merasa pasti tidak akan ada orang yang bisa memberi ibu dan ayahnya pemikiran seperti apa yang Gendis katakan. Namun ternyata, sosok kakak perempuannya yang dulu mengabaikannyalah membuat Rian memiliki harapan, Gendis begitu peduli dengannya. Rian benar-benar sangat berterima kasih pada Gendis.
Gendis tersenyum geli mendengarnya, ia sekarang sangat penasaran dengan sosok Geisha yang menurut Gendis hanyalah seorang beban yang menyusahkan orang tuanya sendiri.
“Ibuk, ibuk!” panggil Gavin membuat Gendis menoleh ke arah putranya. “Kenapa, Bang?”
“Abang boleh enggak ulang tahunnya nanti dirayain? Abang belum pernah,” pinta anak laki-laki itu yang sangat berharap. “Abang enggak mau rame-rame kok, cuman ada keluarga kita aja sama kue!”
“Ibu enggak janji kalo ulang tahunnya nanti diadakan besar tapi ibu janji kalo anak-anak ibu ulang tahun pasti akan ada kue dan kado!”