Ternyata kedatangan Agung dan Rima tidak hanya untuk menyampaikan undangan ulang tahun anak Geisha. Kakek dan Nenek itu sengaja datang hari ini karena sudah sangat rindu dengan ketiga putra Gendis dan Gyan yang selalu membuat kedua pasangan paruh baya itu tertawa.
Gendis tentu saja senang karena rumahnya menjadi lebih ramai, berbanding terbalik dengan kehidupan Gendis sebelumnya yang terlalu sepi.
“Oh iya, Kakek lupa tadi sempat beli kelapa muda!” seru Agung menepuk jidatnya pelan membuat cucu-cucunya tertawa.
“Maklum kakek udah tua,” sahut Rima sambil terkekeh.
“Bu, tadinya bukannya Ibu bawa risol ya?” celetuk Rian yang membuat Rima menepuk jidatnya juga. “Oh iya, Nenek tadi juga bawa risol!”
“Kamu juga udah tua, Rim,” balas ejek Agung, Rima yang mendengar itu memasang wajah cemberutnya.
Gendis tak henti-hentinya tersenyum melihat pasangan itu saat saling bercanda. Andai orang tuanya dulu tidak berpisah dan bisa seperti Rima dan Agung, Gendis pasti akan menjadi anak yang paling bahagia. Sayangnya, kedua orang tuanya tidak ditakdirkan untuk bersama. Mereka berpisah dan bertemu dengan pasangan baru mereka yang semoga saja cocok.
Agung kembali masuk sambil membawa empat buah kelapa muda. Gendis langsung menoleh ke arah Gyan yang sedang asik menyemil kue buatan Gendis. Merasa sedang di tatap, pria itu mengangkat alisnya bingung.
“Kamu enggak bantuin Bapak?” tanya Gendis membuat gerakan tangan Gyan terhenti namun tidak mengatakan apa-apa. “Kalo enggak bisa ya enggak papa,” lanjut Gendis lagi tidak terlalu berharap pada Gyan.
“Siapa bilang aku enggak bisa?” tanya Gyan mendengus, lelaki itu langsung bangkit dari sofa dan menuju dapur. Gendis menyengir melihat tingkah Gyan.
“Gendis, risolnya ibu goreng ya?” tanya Rima yang masih merasa segan walau ini adalah rumah putrinya.
“Belum digoreng, buk?” tanya Gendis mendekat dan mengambil alih tempat yang dibawa Rima.
“Ini risol buatan ibu sendiri, sekarangkan ibu suka nitip gorengan ke warung-warung,” cerita Rima dan Gendis mengangguk-angguk mendengarnya. Kedua wanita itu kemudian menuju dapur, namun mereka sangat terkejut saat melihat Gyan mengangkat tinggi-tinggi golok dan satu tangan lagi memegang kelapa yang hendak ia tebas, Gendis yang langsung melihat itu tentu saja langsung histeris.
“Gyan, kamu mau ngapain?!” tanya Gendis membuat Gyan menoleh dan menghentikan gerakan tangannya. Agung yang sedang berada di kamar mandi langsung keluar dan ikut terkejut melihat kelakuan menantu prianya.
“Bodoh, kamu mau motong tangan kamu sendiri?!” sembur Agung mengambil alih golok dari tangan Gyan.
“Emang aku salah?” tanya Gyan dengan tampang polos.
“Kalo kamu pegang goloknya setinggi itu, bisa aja nanti kena tangan kamu!” seru Gendis yang sangat marah plus khawatir, untung saja tadi ia mengikuti Rima ke dapur. Jika tidak, mungkin saja pria itu sudah kehilangan tangan karena tingkah cerobohnya.
“Udah, kamu duduk aja sama anak-anak di luar,” usir Gendis yang masih tersisa emosinya. Gyan tidak mengatakan apa-apa dan keluar dari dapur.
“Gendis, kalo ngasih tahu suami itu pelan-pelan,” saran Rima yang kasihan melihat wajah polos menantu prianya.
“Enggak bisa, Buk. Udah stelannya ini suka ngegas,” balas Gendis sambil membuka wadah berisi risol. Wanita itu mengambil wajan dan menungkan secukupnya minyak karena harganya yang cukup mahal.
“Emang Gyan aja yang enggak bisa diandalin,” sahut Agung. Rima yang mendengar itu memukul punggung suaminya dengan sedikit emosi. “Emangnya Mas selalu bisa diandelin?”
“Lho apa yang emangnya Mas enggak bisa?” tanya Agung tidak terima.
“Gendis, suruh bapakmu itu pasang gas!” seru Rima membuat Agung yang hendak membalas langsung bungkam.
“Bapak enggak bisa pasang gas, Buk?” tanya Gendis yang langsung menutup mulutnya untuk menahan tawa. Namun sayangnya itu terlalu lucu, tidak disangka dengan perawakan Agung yang tinggi dan besar ternyata takut memasang gas.
“Bapak kamu itu masang gas kayak jinakin bom. Pernah waktu itu ibu suruh, bajunya habis kena keringat!”
Agung yang aibnya dibongkar hanya bisa diam, terus membuka kelapa dengan mengabaikan tawa cekikan putrinya yang sudah jarang ia dengar.
“Bapak nanti belajar sama Gyan aja, terus Gyab belajar sama bapak,” saran Gendis yang langung disetujui oleh Rima sedangkan Agung menolaknya dalam hati.
“Gendis sini biar ibu masukin risolnya,” kata Rima saat melihat minyak di wajan sudah panas. “Gendis aja, ibuk duduk aja disana,” suruh wanita itu langsung memasukan risol ke dalam minyak panas. Sambil menunggu risol yang berwarna kekuningan, Gendis menatap nglier ke arah kepala muda.
“Gendis, minum, nak.” Agung tiba-tiba menyarahkan setengah kepala yang masih ada air di dalamnya. Wanita itu mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya sebelum mengambil kelapa itu dengan senyum lebar. Ah, benar-benar segar seperti apa yang Gendis harapkan.
Rima yang melihat itu tidak bisa menahan harunya, di dalam hatinya wanita paruh baya itu merasa bersyukur sang putri kehilangan ingatannya. Bukannya ia egois, Rima hanya merasa bahwa sang putri telah mengalami hidup yang sangat berat, akan lebih baik jika putrinya tidak perlu mengingat itu lagi.
“Ibuk panggilin Gyan, Rian sama cucu-cucu ibuk dulu,” ucap Rima sambil bangkit dari kursi saat es kepala muda sudah jadi dan risol telah digoreng. Gendis mengangguk, wanita itu sudah deluan mencoba risol buatan Rima yang ternyata enak. Di dalamnya diisi dengan wortel dan kentang.
Tidak lama kemudian, Rima kembali masuk dengan membawa pasukan—kecuali Gyan yang tidak ada.
“Gendis, kamu ajakin itu Gyan. Dia enggak mau waktu ibu ajakin.”
“Mungkin Gyan udah kenyang, Buk,” balas Gendis sambil mengisi piring kecil kedua putranya dengan risol secukupnya. Waktu makan siang sebentar lagi tiba, Gendis tidak mau anaknya nanti kenyang lebih awal.
Rima yang sedang menggendong Gema sambil menyuapkan air kepala yang tanpa es, menghela nafasnya. Ia merasa ada yang tidak beres dengan menantunya itu, Gyan sepertinya sedang ngambek. “Gendis, buruan ajakin Gyan!”
Gendis menghembuskan nafansya panjang, wanita itu akhirnya bangkit dari kursi menuju ruang tamu. Sesampainya disana, wanita itu memutar bola matanya ketika melihat Gyan sedang sibuk dengan ponselnya, pantas saja pria itu tidak mau.
“Gyan, mau enggak risol sama es kelapa? Kalo habis nanti jangan marah lho.”
“Habisin aja,” sahut Gyan cuek membuat Gendis mengerutkan dahinya. Wanita itu entah kenapa seperti sedang melihat anak lima tahun yang sedang ngambek namun masih memantau apakah ia dibujuk atau tidak— itu sangat terlihat saat Gyan melihat ke ponsel dan ke arahnya saat Gendis diam.
“Beneran kamu enggak mau? Jangan nangis nanti,” ajak Gendis lagi yang sudah duduk di samping pria itu.
“Enggak papa, habisin aja,” ulangnya lagi sambil terus sibuk dengan ponsel.
“Ya udah, aku ke dapu—“ ucapan Gendis tehenti ketika pria itu mengenggan tangannya. Gendis tersenyum geli. “Kenapa?” tanyanya.
“Enggak jadi,” tolaknya dengan wajah datar.
Gendis samakin melebarkan senyumnya, ia sudah menebak pasti Gyan ngambek. “Kamu kenapa? Ibu udah nungguin tuh.”
“Ibu kamu aja, bapak kamu enggak,” sahut Gyan yang membuat Gendis menghela nafasnya. “Kamu ngambek dimarahin bapak?”
“Bapak kamu tuh kayaknya enggak suka aku,” ujar Gyan. Saat ia memutuskan untuk memulai hubungan baru dengan Gendis, ia juga ingin dekat dengan kedua mertuanya. Rima nampak menyayanginya namun Agung sepertinya tidak.
“Bapak marah sama kamu artinya dia peduli,” jelas Gendis sambil menyenderkan tubuhnya ke sofa. “Bapak emang orangnya kelihatan pendiam kok, jadi kalo kamu mau dekat sama bapak ya ajak bicara deluan.”
Di kehidupan sebelumnya, Gendis adalah Manejer Pemasaran. Ia harus bertemu banyak orang setiap harinya yang mungkin berbeda. Hal itu membuatnya menemukan banyak tipe manusia, ada yang suka berbicara walau tidak diajak berbicara, ada yang secukupnya dan ada juga yang tidak menyukai mengobrol dengan orang lain.
Rima yang banyak bicara dan terang-terang mengungkapkan perasan dan Agung yang pendiam dan selalu menyembunyikan perasaannya. Benar-benar kombinasi yang cocok.
“Aku juga ngerasa bersalah karena enggak berusaha dekat sama Ibu dan Bapak, mereka pasti enggak mau nerima aku lagi jadi menantu.” Setitik rasa bersalah di hati pria itu yang sering mengabaikan mertuanya, padahal itu adalah orang tuanya juga.
“Kalo kamu enggak disuruh jadi menantu lagi, kayaknya aku udah lama disuruh nikah lagi sih,” sahut Gendis enteng namun tidak dengan Gyan yang melotot. “Tapi mereka enggak kan? Artinya masih ada kesempatan untuk kamu berubah.”
Gyan terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk. Benar, ia masih punya kesempatan seperti hubungannya dengan Gendis. Ayo bangun semuanya dari awal lagi!
“Kalo marah itu artinya peduli kan?” tanya Gyan tiba-tiba lagi membuat Gendis mengangguk bingung. Untuk apa pria itu bertanya lagi?
“Gendis, kamu tadi marah. Apa artinya kamu peduli sama aku?” tanya Gyan yang tidak bisa menyembunyikan senyumnya.
“Kamu mau tahu?” tanya Gendis yang diangguki oleh Gyan.
“Aku bakal jawab. Tapi, kamu harus temenin aku dulu untuk beli make up dan skincare yang udah habis,” ujar Gendis menyeringai. “Ibu sama bapak baliknya sore, jadi bisa dititipin dulu.”
Gyan tidak butuh waktu lama untuk menjawab. “Oke!”
———
Ini pertama kalinya Gendis jauh dari anak-anak terutama dengan Gema. Wanita itu sebenarnya sudah beberapa kali untuk menimbang pergi atau tidak namun mengingat kebutuhannya yang sudah habis, membuat wanita itu mau tidak mau harus pergi. Ada beberapa barang pribadi yang harus dimilikinya.
“Kamu punya uang dari mana? Bukannya sisa gaji aku tinggal dikit?” tanya Gyan ketika mereka dalam perjalanan menuju Mall.
“Hah?” tanya Gendis yang tidak mendengar apa yang pria itu katakan. Angin hari ini cukup kencang, tanda-tandanya akan hujan.
Gyan kembali mengulang pertanyaannya dengn cukup keras membuat Gendis mengangguk ngerti. “Uang dari gajian aku lag,” sombong wanita itu sambil menepuk-nepuk bahu Gyan.
“Kayaknya bentar lagi gaji kamu kesalip deh sama aku,” lanjut Gendis sambil menyengir. Wanita ingin menunggu Gyan mengatakan sesuatu namun ternyata pria itu malah diam saja.
Tak lama kemudian mereka sampai di salah satu Mall, Gendis yang sudah tidak lama masuk ke dalamnya menatap bangunan itu dengan mata hampir meneteskan air mata. Biasanya hampir tiap minggu, bahkan jika ia memiliki waktu kosong di hari kerja, maka tempat inilah yang ia tujuh. Surga dunianya wanita!
Tapi, saat mengingat isi dompetnya, wanita itu hanya bisa menghela nafasnya panjang. Gendis bertanya-tanya, harus menunggu beberapa tahun agar ia bisa kembali seperti dulu?
“Ayo buruan masuk!” ajak Gendis yang sudah sangat bersemangat.
“Tunggu sebentar, aku mau nunggu seseorang,” tahan Gyan membuat Gendis mengerutkan dahinya dan bertanya, “nungguin siapa?”
“Kina, dia tadi hubungin aku waktu di rumah. Katanya mau minta temenin ke Mall, kebetulan kita mau ke Mall juga.” Gendis mengangguk kecil, ia sebenarnya ingin cepat masuk dan membeli apa yang ia inginkan, setelah itu bisa langsung pulang. Wanita itu tidak ingin lama-lama berada di dalam Mall.
Gendis mengkhawatirkan Gema, bagaimana bayinya itu lapar dan menolak minum s**u formula karena selalu mendapat asi dari Gendis? Ugh, bayi beruangnya sangat malang.
Tiga puluh menit menunggu, sosok Kina juga belum datang. Gendis makin tidak sabaran, ia hendak meminta pergi lebih dulu namun Gyan menahannya dan menyuruhnya untuk tetap sabar.
Hingga akhirnya satu jam terlewati, Gendis sudah tidak bisa menahan lagi. Wanita itu akan mengumpat jika Gyan menahannya lagi, sungguh demi apapun Gendis paling benci saat disuruh menunggu!
“Itu Kina!” tunjuk Gyan yang sebenarnya juga sudah lelah menunggu. Sosok Kina yang mengenakan gaun yang memancarkan sosok lembutnya membuat beberapa mata menatap ke arahnya.
“Duh, maaf banget Mas Gyan. Mobil aku tadi pecah ban, jadi harus ke bengkel dulu tadi.” Kina menggigit bibir bawahnya, memasang ekpresi khawatir dan merasa bersalah takut membuat keduanya marah.
“Enggak papa, sekarang udah benar kan?” tanya Gyan yang tidak mungkin marah. Toh, adiknya tidak mau hal itu juga terjadi.
“Kayaknya kita mulai belanja aja ya,” sahut Gendis yang sudah tidak sabar lagi.
“Ayo Mbak Gendis, kita ke supermarket dulu kan? Papa sama Mama banyak nitip belanjaan.”
“Supermarket?” tanya Gendis yang mengerutkan dahinya. Tempat yang ia tuju berbeda jauh dengan supermarket yang dimaksud Kina.
“Kita harus pisah kayaknya, aku mau ke toko lain,” ujar Gendis membuat Kina mendesah kecewa.
“Ya udah kalo gitu, Mas Gyan sama Mbak Gendis deluan aja. Kina bisa sendiri kok,” tutur gadis itu sambil mengangguk-angguk.
Gendis membalas mengangguk, wanita itu sudah hendak melangkah. Namun tiba-tiba Gyan menahannya. “Gendis, kamu enggak belanja banyak kan? Aku pergi sama Kina aja ya. Kamu pasti bisa kan sendiri?” tanya Gyan yang memikirkan adiknga pasti akan ke susahan.
“Enggak usah Mas Gyan, Kina bisa sendiri kok,” tolak gadis itu yang merasa tidak enakan.
Gendis mengangga mendengar apa yang dikatakan oleh Gyan. Ia tidak peduli pria itu mau menemaninya atau tidak tapi demi apa?! Gendis menghabiskan waktunya dengan sia-sia? Wah-wah, Gyan benar-benar tidak benar ini!
Saat wanita itu memejamkan kelopak matanya ingin melempiaskan emosinya, Gendis tiba-tiba menangkap seseorang saat ia membuka matanya. Ide cemerlang langsung muncul di kepalanya. Dengan senyuman lebar, Gendis mengangguk santai.
“Sebenarnya aku nanti mungkin belanja banyak tapi enggak papa, Gyan sama Kina aja. Karena aku udah ada yang nemenin,” ujar Gendis membuat Gyan dan Kina bingung.
“Siapa?” tanya Gyan yang hatinya tiba-tiba merasa was-was.
“Andre!” panggil Gendis pada seorang pria yang tak jauh dari mereka. Andre menoleh, ekpresi wajahnya berubah jadi gembira saat melihat Gendis.
“Andre, temenin aku belanja yuk?” ajak Gendis langsung menghampiri pria itu. Andre tentu tidak akan menolak. “Ayo!”
Gendis langsung menuju pintu masuk bersama Andre, mengabaikan bahwa saat ini wajah Gyan sangat-sangat buruk. Emosinya kembali terbakar, bak gunung api yang siap hendak meletus!