"Tergantung Dita maunya kapan, besok juga boleh. Yuk!" Ian mengedipkan sebelah matanya kepadaku. Aku membulatkan mata, memangnya dia pikir menikah itu sama seperti mengajak jalan ke mall. Mama dan Adikku tersenyum. "Jadi gimana Dit, setuju nggak?" lanjut Ian. Aku memegang dan memijit keningku dengan tangan kanan. "Gampang banget kamu ngomongnya." Aku menggelengkan kepala. "Jadi kamu nggak mau Dit?" "Bukan nggak mau, tapi belum saatnya Ian." "Berarti kamu mau dong?" Ian sumringah. Wajahku memerah dan mencoba mengalihkan pandangan. "Udah yuk beresin barang-barang ini dulu, sebentar lagi adzan maghrib!" kataku. Mama dan Adikku terkekeh sedangkan Ian tersenyum dan segera membantuku. Ian juga menanyakan tempat untuk menaruh parcel dan beberapa barang yang di bawa. Aku menunjuk

