Satu
"Awas jatuh Dit!" Ian menarik tanganku dengan sangat kuat.
Jantungku masih berdetak cepat. Aku dan Ian tadi lomba berlari untuk sampai ke perkemahan. Tidak di sangka, aku malah hampir terjatuh ke sungai.
"Lomba sih lomba, tapi hati-hati dong! Kalau kamu jatuh gimana, kan aku juga yang repot!!"
"Dih, galak banget sih! Emangnya itu mau aku jatuh ke sungai, aku juga kaget tau!"
"Iya maaf, aku beneran khawatir Dit. Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa, aku takut kamu gentayangin aku."
"Wah nggak sopan nih bocil!" Aku mengacak rambut Ian.
Ianpun tertawa begitupun sebaliknya.
"Terima kasih banyak ya Ian."
"Sama-sama."
Hari ini kami ada kegiatan Pramuka gabungan di salah satu tempat perkemahan khusus. Aku dan Ian memang sudah terbiasa mengikuti kegiatan bersama. Walau sebenarnya Ian adalah adik kelasku, tapi dia sudah seperti teman seangkatanku. Keahlian dan kecerdasannya bahkan melampaui teman laki-laki sekelasku. Kadang aku juga bingung setiap kali aku mengikuti kegiatan, nama Ian juga tertera di sana.
Sepertinya kami memang memiliki banyak kesamaan. Tetapi tidak dengan makanan dan minuman. Ian lebih suka semua masakkan tradisional, sedangkan aku suka semua masakkan khususnya masakkan Itali dan western. Jadi mau kami sedang ingin makan di luar, aku lebih sering mengikuti selera Ian. Walau tidak jarang kami ke tempat makan western dan Itali untuk mengobati keinginanku.
Ianpun memeluk dan menggandeng tanganku lembut.
"Nanti ada yang lihat kan nggak enak tau!"
"Aku kan berondong kamu Dit, mereka pasti paham."
Akupun mendengus dan menjitak kepala Ian. Kami memang sudah seperti keluarga, hal itu sudah biasa aku dan Ian lakukan sejak kami SMP. Entah awalnya bagaimana, namun sejak duduk di bangku SMK hatiku berdetak lebih cepat jika Ian menggandeng dan memelukku dengan erat.
"Dit, sebentar lagi kan kamu lulus sekolah. Terus rencananya setelah itu kamu mau gimana?" Aku dan Ian berjalan bergandengan tangan menuju pos.
Kami adalah ketua tim pramuka yang saat ini sedang melakukan survey lokasi untuk kegiatan pramuka nanti sore. Kami berjalan berdua karena memang berjalan lebih dulu, sedangkan beberapa orang lagi yang ikut serta dalam survey ini berjalan di belakang kami. Makanya aku khawatir ada yang melihat. Aku dan Ian memang sudah lama di gosipkan berpacaran, tidak jarang aku menepis gosip tersebut. Tapi mungkin karena sikap kami, gosip itu tidak pernah padam.
Saat di perjalanan menuju pos, tiba-tiba cuaca mendung dan hujan turun dengan sangat deras. Kami berteduh di salah satu rumah yang sudah cukup tua. Angin sangat kencang dan hujan turun semakin deras. Aku dan Ian mengibas-ngibaskan tangan ke pakaian kami yang sedikit basah.
"Hujannya makin deras lagi Dit, kamu pasti kedinginan."
"Pastilah, kamu gimana sih bocil.." Aku melirik Ian sebal.
"Mau aku peluk lagi?"
"Nggak usah, kamu kan juga basah. Aneh!"
"Tapi kan badan aku hangat Dit!"
"Tau ah!" Aku memanyunkan mulutku.
Lalu saat aku menoleh sebelah kiri, ada tempat duduk tua yang terbuat dari kayu. Aku berjalan ke tempat duduk tersebut dan melambaikan tangan ke arah Ian lalu mengajaknya untuk duduk di sampingku. Ia pun mengangguk, menghampiri, dan duduk di sampingmu.
"Dit, aku boleh tanya sesuatu?"
"Tanya aja, biasanya juga kamu langsung nanya." Aku menggosokkan kedua tanganku sambil meniupnya dan menemelkan ke pipiku agar lebih hangat.
"Kamu suka laki-laki seperti apa Dit?" Ian memandang lurus ke arahku.
"Maksudnya?"
"Ya laki-laki untuk jadi suami kamu nanti, kamu suka yang bagaimana?"
"Aku nggak tau, belum kepikiran. Yang pasti setelah lulus nanti aku mau kerja sambil kumpulkan uang 1 tahun kira-kira terus aku masuk kuliah sambil kerja." Aku membayangkan.
"Uhm... Kalau aku gimana Dit?"
"Gimana apanya?" Aku mengerutkan kening dan menyipitkan mata.
"Aku bisa masuk ke dalam kriteria kamu nggak?" Wajah Ian tampak serius.
Aku tertawa mendengar perkataan Ian, "Ian bocil, kamu masih kelas 1 SMK lho. Nggak salah ngomong begitu?"
"Aku serius Dit. Nanti kalau aku sudah lulus kuliah dan mendapat pekerjaan yang bagus, kita nikah yuk!"
Mataku membulat mendengar perkataan Ian barusan. Seketika saat itu juga suara gemuruh petir terdengar sangat kencang.
"Dit, gimana hubungan kamu sama Dipta?" tanya mama mengejutkan lamunanku.
Aku teringat masa-masa bersama Ian, dia adalah laki-laki pertama yang menarik untukku.
"Gimana apanya, Ma?" tanyaku dengan kening berkerut.
"Loh, mama kira kamu punya hubungan dekat sama dia. Bukannya dia antar jemput kamu setiap hari?"
"Sebenarnya aku udah sering nolak, tapi dia aja yang mau. Lumayan kan ma, jadi irit." Aku menyengir.
"Ampun deh Dita, yang penting kamu hati-hati. Jangan sampai sakiti hati orang. Bahaya," ujar mama memperingatkan.
"Tenang, Ma. Aku tahu apa yang harus kulakukan dan bagaimana menghadapinya. Owh iya, Mama ingat Ian ga?"
"Ian siapa Dit?"
"Itu lho tetangga kita dulu, sekarang tinggal dimana ya? Udah lama nggak ketemu."
"Owh yang dulu sering pulang pergi bareng pas kamu SMP dan SMK?"
"Iya, nomornya udah ganti kayaknya. Dulu dia sering banget hubungin aku. Kemarin, teman kampus sempat ngomongin Ian, makanya aku jadi kepikiran Ma."
"Lho, teman kamu kenal dia Dit? Kamu masih suka dia ya?" ledek Mama sambil mencubit pipiku dengan gemas.
"Bukan suka Ma, tapi tertarik karena dia menarik."
"Sama saja sayang."
"Beda Ma."
"Iya, iya." Mama pasrah.
Sekolah SMP dan SMK aku dan Ian berada dalam 1 gedung yang sama. Sisi kanan merupakan gedung SMP dan sisi kiri merupakan gedung SMK. Ian dan aku sangat dekat, kami sering berangkat dan pergi sekolah bersama. Ian merupakan Adik kelasku, umurku lebih tua 2 tahun darinya. Kecerdasan dan pemikirannya yang terbuka membuatnya menarik di mataku.
Namun, Ibunya sangat tidak suka padaku. Mama bilang, itu hanya perasaanku saja. Tapi tidak seperti yang kurasakan. Kadang jika aku bertemu dan menegur Ibunya Ian, wajahnya langsung berubah masam dan menjawab sangat singkat. Beliau terlihat sangat jelas tidak menyukaiku.
Aku tidak tahu alasan pastinya, ada yang bilang karena aku dari keluarga broken home jadi mungkin Ibunya Ian tidak menyukaiku karena takut aku memberikan dampak buruk bagi Ian. Tapi dampak buruk apa yang kuberikan, kami hanya sekedar berangkat dan pulang sekolah bersama, bermain, berbagi cerita atau belajar bersama.
Sejak aku lulus SMK, mendapatkan pekerjaan, lalu satu tahun kemudian aku mendaftar kuliah dan mulai sibuk dengan kegiatan kuliah dan bekerja, hubungan kami mulai merenggang. Dan setelah Ian lulus SMK dia pun pindah rumah ke Jakarta. Kami sempat masih berkomunikasi beberapa bulan setelah Ian pindah, namun saat ini kami sudah tidak berkomunikasi lagi. Seolah Ian hilang ditelan bumi. Pembahasan soal Ian kemarin di kampus memeberikan secercah harapan padaku untuk bisa bertemu dengannya.
***
"Capek, Dit? Nih makan dulu," ujarnya sambil memberikan sandwich dan s**u coklat tersebut padaku sebelum melajukan mobilnya.
"Thanks, ya!"
Dipta mengangguk.
"Enak?" Dipta melihat ke arahku.
"Selalu, seperti biasa."
"Nanti kujemput di kampus, oke?"
"Oke," sahutku sambil mengunyah gigitan sandwich terakhir.
Aku dan Dipta sudah dekat selama 3 bulan terakhir, namun hanya belum ada status yang jelas di antara kami. Belum ada kemajuan signifikan dalam hubungan kami. Trauma karena perceraian orang tuaku, membuatku malas memiliki hubungan spesial, tapi aku tidak pernah menolak dispesialkan oleh laki-laki yang terlihat menyukaiku.
Tak lama, mobil yang dikendarai Dipta pun tiba di depan gedung kantorku. Aku mengucapkan terima kasih padanya sebelum turun dari mobil.
Aku bekerja di salah satu Bank ternama di Indonesia. Melalui acara job fair yang sempat diselenggarakan di daerah Jakarta Selatan, aku mendapatkan kesempatan untuk tes, interview, dan bekerja disini.
Aku berjalan menuju ruang kerjaku, gedung ini merupakan salah satu grup anak perusahaan kantorku bekerja, dan karena aku merupakan staf bagian Corporate Action yang merupakan bagian dari Divisi Corporate Secretary, aku mengenal sebagian besar staf, Direksi, ataupun Komisaris di Perusahaan dan grup Anak Perusahaan ini.
Ruanganku berada di lantai lima. Ruangan ini berhadapan langsung dengan ruangan jajaran Direksi, disamping kanan ada ruangan Divisi Kredit, dan disamping kiri terdapat Ruangan Treasury. Ruangan Komisaris sendiri ada di lantai 28. Ruangan SDM, Umum, IT, Finance berada di lantai 3.
"Pagi semua," sapaku.
"Pagi juga, Dit!" Mereka semua balik menyapa.
Aku langsung duduk dimejaku yang bersisian dengan Kepala Divisi Corporate Secretary. Job desk ku sebagai sekretariat Divisi yang sebagian besar mengurus kebutuhan intern dan ekstern beliau, rekan kerja, dan segala kebutuhan Divisi.
"Pagi, Pak." Aku menyapa Pak Anton Kepala Divisi Corporate Secretary dan Pak Gusti Kepala Bagian Corporate Action yang saat itu datang berbarengan.
"Pagi, Dit, gimana persiapan rapat pagi ini? Bahan paparan dan lain-lain?" tanya Pak Gusti santai, sedangkan Pak Anton langsung masuk ke ruang kerjanya.
"Sudah siap semua, Pak. Laptop dan bahan sudah saya siapkan di meja rapat, untuk makanan dan minuman sedang disiapkan juga."
"Bagus. Terima kasih, Dit."
"Sama-sama, Pak."
Rapat berjalan dengan lancar begitupun dengan pekerjaanku yang lainnya. Jam pulang kantor telah tiba, hujan pun sudah reda. Sebelumnya aku melihat hujan cukup deras dari jendela samping kanan mejaku. Aku pamit pulang kepada rekan kerjaku dan Kepala Bagian dan keluar kantor, berjalan menyusuri jalan SCBD yang menyejukkan mata dengan pepohonan disisi kanan dan gedung-gedung bertingkat disisi kirinya.
Angin berhembus sejuk menyentuh wajahku, segar sekali. Aku menaiki Bus Patas AC nomor 44 dengan tujuan Ciledug yang menuju kampusku. Penuh seperti biasa pada saat jam pulang kerja. Bersyukur aku sampai tepat waktu jam mata kuliah pertama padahal jalan sangat padat hari ini.
Jam 8 malam, mata kuliah terakhir telah selesai, mahasiswa dan mahasiswi pun berhamburan menuju kendaraan, kantin, ataupun jemputan mereka. Aku melihat Dipta di parkiran sedang makan batagor sambil bersandar di kap mobilnya.
"Mau batagor, Dit? Atau mau roti? Barusan sebelum ke sini aku sempat beliin kamu roti isi daging, coklat keju, dan s**u UHT."
"Nggak deh, Dip. Takut berat badan nggak ke kontrol, disodorin makanan mulu sama kamu."
Dipta berdecak.
"Begitu doang padahal loh! Ini nggak ada apa-apanya dibanding rasa senang aku kalau lihat kamu."
Aku tertawa kecil. "Bisa aja kamu."
Dipta tersenyum. "Yuk masuk!" ajak Dipta berjalan ke arah bagian kemudi.