Aku memasuki mobil, Dipta menungguku memakai seat belt. Dia memandang lekat ke arahku, hingga aku merasa sedikit canggung dan malu. Dipta terdiam dan berkata " Anything and everything for you, Dit," ujarnya tiba-tiba.
Aku pun tersenyum tipis mendengar ucapannya.
Dipta mengantarku sampai rumah didaerah kota Bogor, sedangkan rumahnya berada di Tanjung Barat. Aku sudah berkali-kali bilang untuk mengantarku sampai stasiun terdekat saja, namun Dipta bersikeras untuk mengantar sampai rumah karena khawatir padaku.
Aku turun di depan rumah, adikku sudah menungguku di bangku depan. Dia memang bertugas menungguku sampai rumah dengan selamat dan tepat waktu. Jika telat 5 menit saja, dia pasti sudah sibuk menelpon dan chat tanpa henti.
"Alhamdulillah, sudah sampai Mbakku. Gimana, barusan macet?"
"Nggak tahu, De. Mba tidur selama diperjalanan." Aku tersenyum. "Yuk masuk, istirahat!"
"Siapp!"
Aku langsung ke kamar untuk mengambil pakaian dan bergegas kekamar mandi. Setelah selesai, aku pun segera masuk kamar dan beristirahat.
Aku memandang langit-langit kamar dan tersenyum mengingat kembali kebersamaan dengan Ian dulu. Walau umur kami terpaut 2 tahun, tinggi badan kami bisa dibilang sama. Ian merupakan anak laki-laki yang bertubuh tinggi dengan memiliki badan yang cukup sekal dan kulit berwarna kuning langsat.
Sewaktu SD, SMP, dan SMK, kami memang sering bermain di teras rumahku, tidak jarang kami juga menghabiskan waktu bersama saat pulang sekolah. Kami biasa bertemu di depan gerbang setelah pulang sekolah. Ian pandai berkata-kata baik dalam hal pelajaran atau bersosialisasi. Dia memiliki banyak teman dan sebagian temannya adalah temanku juga.
Aku sedikit tomboy dulu, dengan pakaian rapih sesuai standard anak sekolah, rambut di ikat tinggi, dan tanpa make up adalah penampilan terbaikku. Namun saat SMK, Mama memaksaku untuk menggunakan skincare, dan aku terpaksa menurutinya. Aku bersyukur dengan paksaan Mama tersebut, karena jika tidak mungkin sudah banyak masalah terjadi dengan wajahku.
Aku mengenakan seragam putih biru dengan rambut terikat. Saat itu kebetulan aku keluar kelas lebih dulu dibandingkan Ian. Lalu seorang anak laki-laki dengan seragam berbeda denganku datang menghampiri ketika aku sedang asik makan gorengan menunggu Ian. Dia menyatakan perasaan sukanya padaku dengan memberikan sekotak coklat dan setangkai bunga mawar merah.
Tidak lama kemudian, Ian datang menghampiri dengan wajah seriusnya.
"Ada apa ini? Dita itu pacar gue," ucap Ian dengan wajah serius dan galak.
Laki-laki itu kaget dan meminta maaf, dia menyatakan bahwa dia tidak tau kalau aku sudah punya pacar. Aku hanya terdiam menahan tawa saat Ian berkata seperti itu. Dia pun langsung pergi meninggalkan kami berdua. Setelah laki-laki itu pergi, aku dan Ian tertawa.
"Pacar apaan sih Ian bocil," ucapku meledeknya.
"Aku lebih keren dan ganteng dari dia kan." Kami tertawa dan memakan coklat pemberian laki-laki tadi.
Ian mengulurkan tangannya, dan aku menyambut tangannya. Saat itu adalah pertama kalinya kami berpegangan tangan. Aku merasakan gemuruh di hatiku yang belum kupahami artinya dan tidak terlalu kupedulikan. Aku hanya merasa senang dan nyaman ketika bersama Ian.
"Dit, nonton yuk! Mumpung hari ini kita nggak ada jam pelajaran tambahan." Ian tersenyum.
"Emang kamu ada uangnya? Nonton kan mahal Ian untuk ukuran anak SMP seperti kita. Apalagi di sana pasti kita akan beli cemilan, minuman, dan makan."
"Tenang, uang aku banyak kok. Selama ini kan setiap hari aku jarang jajan, paling makan dan nyemilnya di rumah kamu. Habis masakan Mama kamu lebih enak dari jajanan di luar sih!" Ian nyengir.
"Setuju sih aku!" Aku tertawa.
"Kalau mau nonton, kita search cara dan film update dulu Ian. Biar paham dan nggak malu-maluin." Aku nyengir.
Aku dan Ian mencari info terkait cara menonton di bioskop dan film yang akan tayang hari ini. Ini adalah pertama kalinya kami menonton bioskop. Jujur aku sangat senang dan sedikit kaget karena Ian mengajakku nonton. Karena hal ini tidak pernah terpikirkan olehku sama sekali. Selain karena keterbatasan keuangan, padatnya aktivitasku juga menjadi salah satu alasannya.
Setelah menemukan film yang akan kami tonton, kami segera pergi ke mall terdekat untuk menonton bioskop.
"Dit, kamu mau popcorn manis atau asin?"
"Manis aja, minumnya aku mau es lemon tea."
"Ok deh, kamu tunggu di sini ya."
"Siap, terima kasih banyak Ian."
Ian mengacungkan jempolnya dan berjalan menuju kasir untuk membeli tiket bioskop, cemilan, dan minuman. Setelah selesai, Ian kembali berjalan ke arahku dan menyerahkan makanan dan minuman yang aku pesan.
Beberapa saat kemudian, pengumuman untuk film kami pun di mulai. Kami bergegas menuju bioskop dan masuk ke dalamnya. Film di mulai beberapa saat kemudian. Kami menonton film fantasi, film tersebut sangat seru dan mendebarkan. Ternyata menonton film di bioskop sangat seru. Setelah film selesai, kami keluar dari bioskop dan berjalan menuju mall.
"Dit, makan yuk! Aku lapar." Ian meringis.
"Udah sore Ian, aku takut kemalaman pulangnya. Lagian kan tadi udah nyemil."
"Iya tapi itu kan makanan ringan Dit, makan dulu ya. Nggak lama kok!"
"Ya udah, aku ngabarin Mama dulu sebentar."
"Asikk..Gitu dong!" Ian nyengir.
Aku tersenyum tipis, dan menelpon Mama. Untunglah Mama orang yang pengertian. Mungkin karena ini pertama kalinya aku izin main keluar, Mama langsung menyetujuinya. Walau dengan beberapa pertanyaan tentunya seperti dengan siapa dan mau melakukan apa saja. Akupun menjelaskan dengan detail. Setelah mendengar aku pergi bersama Ian, terdengar suara lega dari Mama dan aku segera mengakhiri telpon.
"Mau makan di mana Ian?"
"Restaurant Solaria yuk!"
"Gaya nih bocil! Kamu di kasih uang jajan berapa sih sehari? Kayaknya uang kamu banyak banget." Aku mengerutkan kening.
"Ada deh.. Yang penting cukup untuk kita jalan!" Ian menjulurkan lidah meledek.
Aku berdecak sebal dan mengikuti Ian di samping. Sesampainya di restaurant, Ian segera berjalan menuju kasih untuk memesan makanan, minuman dan membayarnya. Sedangkan aku duduk di salah satu meja kosong dekat jendela. Aku senang duduk di dekat jendela karena sambil makan atau mengobrol, kita bisa melihat jalan, orang, ataupun kendaraan yang berlalu lalang.
Setelah selesai di kasir, Ian datang menghampiri dan duduk di hadapanku sambil tersenyum senang.
"Kamu kenapa senyum senang gitu?"
"Nggak apa-apa, cuma kalau begini kita kayak lagi kencan ya Dit." Ian nyengir.
Aku tertawa cukup kencang, "Ian bocil, kita itu masih SMP jangan mikir aneh-aneh deh! Lagian aku tuh Kakak kelas kamu tau! Bahaya nih Ian, masih kecil aja begini, kira-kira nanti kalau kamu udah kuliah dan kerja bakal gimana ya? Pasti pacara kamu banyak!" Aku membayangkan.
Ian memanyunkan mulutnya, "Kan aku bilang kayak bukan beneran. GR banget sih kamu!"
"Dih ngambek!" Aku mencubit pipi Ian.
Ian meringis kesakitan, "Sakit tau, kamu mah nyubitnya beneran."
Aku tertawa. Beberapa saat kemudian, makanan dan minuman kami datang. Kamipun segera makan dan minum. Setelah selesai, kami bergegas ke luar dari mall dan pulang ke rumah menggunakan transportasi umum.
Saat kami turun dari transportasi umum, kamipun kembali bergandengan tangan dan melepasnya saat sudah sampai di depan rumah. Aku yang melepasnya lebih dulu, karena khawatir jika terlihat Mama atau Ibunya Ian. Ian sempat kaget dan memandang tanganku. Aku tersenyum, namun Ian merengut. Aku tidak mengerti artinya.
Sejak saat itu kami sering bergandengan tangan saat pergi ataupun pulang
sekolah, entah apa yang dipikirkan Ian saat itu. Kami tidak pernah membicarakan apapun mengenai hal tersebut.
***
"Dit, lo dekat sama Kak Pasha ketua Presmas?" tanya Novi dan Naomi kaget.
"Biasa aja. Kenapa emangnya nanya gitu?"
"Ya kaget lah, kita lagi bahas tugas gini, tiba-tiba dia nyamperin dan duduk disamping lo. Udah gitu pesanin kita makan dan minum juga lagi. Jadi enak kan kita, ya ga Nao?" ucap Novi.
"Tull itu.." jawab Nao dengan logat Medannya yang masih kental.
Aku, Novi, dan Naomi sudah dekat dari semester awal kuliah, kami sering berdiskusi mengenai tugas ataupun sekedar mengobrol untuk mengurangi bosan.
"Biasa aja kok, seingat gue minggu kemarin Kak Pasha nyamperin gue disini pas lo berdua lagi ketoilet, terus dia minta nomor hp, ya udah gue kasih, dari situ dia suka chat deh."
"Bussett lo bukannya dekat sama siapa tuh yang suka antar jemput lo, owh iya si Dipta, kirain gue lo suka sama dia dan mau pacaran gitu," ucap Novi nyerocos.
"Hah nggalah, gue belum kepikiran pacaran dulu, repot! bikin kepala pusing. Mending nyebar jaring aja yang banyak, nanti pas waktunya, gue tinggal ambil," aku nyengir.
"Parah lo Dit, PHPin orang mulu. Kasihan tau," kata Naomi matanya melirikku heran.
"Kasihan kenapa, mereka nggak ada yang nembak gue, gue juga selalu bilang masih sibuk kuliah sambil kerja, jadi nggak mau nambah pikiran untuk pacaran. Terlebih lagi lo berdua kan tau gue masih trauma karena perceraian orang tua gue. Dan satu lagi, gue sering nolak kok kebaikkan mereka, cuma mereka maksa. Jadi ya gue bersyukur aja, mungkin ini salah satu rezeki juga dari Allah SWT." aku tersenyum kecil.
"Iya sih, mereka aja yang b**o," ucap Novi heran.
"Nggak boleh ngomong gitu tau, dosa. Anggap aja rezeki, yang penting nggak aneh-aneh."
"Dit, jemputan lo udah datang tuh." Nao mengarahkan jadi telunjuknya kearah parkiran.
"Owh iya, gue balik duluan ya, udah malam juga. Lo pada bawa motor kan?" Aku mengambil tas sambil berdiri.
"Amaann..." sahut Nao dan Novi berbarengan.
Aku berjalan menuju mobil Dipta yang baru terparkir di lapangan dekat perahu. Setelah mobil berhenti, Dipta menurunkan jendela. Aku masuk kedalam mobil, dan menarik seat belt. Namun aku sempat kaget karena tiba-tiba Dipta mencoba ingin membantu. Aku pun dengan cepat menepisnya.
"Sorry Dip, aku bisa sendiri," ucapku refleks dengan sikapnya yang tidak biasa .
"Owh ok, habis bawaan kamu agak banyak, jadi aku fikir kamu butuh bantuan. Maaf ya Dit, kamu nggak marah kan?" Tanya Dipta takut.
"It's ok Dip. Btw kayaknya kamu ga usah setiap hari gini deh antar jemput aku. Emang Mami nggak pernah negur kamu pulang pagi terus?"
"Pernah sih, malah Mami jadi penasaran sama kamu." Aku Dipta dengan mata lurus kedepan melihat jalan.
"Penasaran gimana?"
"Penasaran sama kamu yang membuatku sangat tertarik. Btw kamu mau ga hari minggu ini ketemuan sama Mami aku?" Dipta menoleh ke arahku dengan wajah penuh harap.
"Boleh, minggu ini aku belum ada janji apa-apa sih."
Mudah-mudahan keputusanku untuk bertemu dengan Maminya Dipta bukanlah hal yang buruk.