Di waktu yang masih tersemat begitu jelas dalam ingatan pasangan Marchello dan Angela. Saat itu, Angela menemui Marchello di salah satu restaurant bintang lima yang ada di Perancis. Wanita itu melambaikan tangannya dan tersenyum ke arah lelaki itu yang sudah sejak tadi telah menunggu kedatangan Angela Joanna.
Marchello berdiri, menarik satu kursi dan mempersilahkan wanita itu untuk duduk di sana. Restoran bergaya Jepang sengaja Marchello pilih mengingat kesukaan kekasihnya. Rasanya Marchello sudah tidak sabar ingin mengutarakan niatnya pada malam ini di depan wanita yang selama ini telah mengisi penuh hatinya.
"Kamu sangat manis sekali, dasar playboy," ejek Angela membuat Marchello tersenyum karena sudah biasa mendapatkan julukan playboy dari Angela.
Lelaki itu tidak menutupi semua sepak terjangnya sebagai seorang lelaki normal di umurnya yang sekarang. Anak kandung Valeria dan Arkana Carollino yang kini menjadi anak sah dari Frederick Carollino yang mengemban tanggung jawab untuk menikahi Valeria. Lantas hal itu pula yang kini menjadi alasan Marchello didapuk menjadi pewaris Frederick Carollino dengan tambahan saham yang telah Arkana Carollino berikan kepadanya. Belum lagi, harta kekayaan yang Valeria miliki yang tentu saja suatu hari nanti akan menjadikannya salah satu pewaris.
"Aku sudah memesan makanan kesukaanmu Baby," ucap Marchello menyentuh puncak kepala Angela dengan lembut.
Siapapun tahu, Marchello menjadi idola para wanita di seluruh tempat yang dia datangi. Terbukti dengan banyak sekali pasang mata yang kini terang-terangan menatapnya kagum. Hubungannya sendiri dengan Angela sudah berjalan hampir satu tahun lamanya, dan tidak ada yang menyadari hubungan keduanya selain Rebecca, adik Marchello sekaligus teman kuliah Angela Joanna. Semua keluarga lelaki itu di Indonesia selalu mengira jika Marchello sering datang ke Perancis untuk menjenguk adiknya Rebecca yang tinggal di sana.
"Kamu memang selalu tahu keinginanku," tutur Angela tersenyum ke arah Marchello.
Lelaki tampan itu tersenyum, Marchello merasa sangat beruntung karena bisa memiliki Angela. Dan malam ini, Marchello akan menyatakan keseriusannya kepada wanita itu. Cantik, apa adanya, sekaligus pribadi yang menarik membuat Angela makin spesial di mata lelakinya.
"Selamat makan," kata Marchello kepada Angela.
"Kamu juga, wajahmu semakin menirus karena terlalu keras bekerja kan?" omel Angela karena Marchello selalu mementingkan pekerjaannya dari pada mengurus dirinya sendiri.
"Makanya aku ingin kamu menjadi istriku, mengingatkanku setiap kali aku lupa makan," jawab Marchello tersenyum ke arah wanita itu.
Wajah Angela berubah, mendengar kata pernikahan saja membuat jantungnya bergemuruh tidak karuan. Setelah kakaknya menjadi gila karena ditinggal pergi calon suaminya tepat di hari pernikahannya, Angela menjadi sangat antipati akan sebuah pernikahan.
"Kamu mencari istri apa mencari jam pengingat untuk makan?" tanya Angela kepada Marchello.
Mereka tertawa bersama, saling berceloteh ria tentang banyak hal yang telah mereka lalui di belahan dunia yang berbeda dan baru sempat saling bertatap muka setelah waktu yang cukup lama karena pekerjaan Marchello dan kesibukan Angela membantu papanya dalam mengurus perusahaan keluarganya.
Marchello sudah menantikan malam ini, malam di mana dia akan melamar Angela untuk resmi menjadi istrinya. Lelaki itu menarik napas panjang, dan menghembuskannya perlahan. Marchello meraih tangan Angela, mengelusnya dengan lembut.
"Aku ingin membicarakan sesuatu hal penting kepadamu," ucap Marchello membuat Angela menatapnya lekat.
"Apa? Aku juga ingin membagi kebahagiaanku denganmu Sayang," tanya Angela.
Mereka berdua berbicara dengan memakai Bahasa Indonesia yang sangat fasih karena Angela sendiri sering berbicara dengan keluarganya memakai bahasa ibunya tersebut.
Mata Marchello berbinar, mendengar wanitanya membawa kabar bahagia kepadanya membuat Marchello tidak sabar untuk mendengarnya langsung dari mulut wanitanya.
"Ada investor yang sudah setuju bekerja sama denganku membuka perusahaan entertaintment, dan aku diminta untuk membuka perusahaan indukku di Amerika. Aku bahagia sekali mendengarnya El," ucap Angela dengan matanya berbinar bahagia.
"Benarkah? Aku sangat bahagia mendengarnya," seru Marchello tersenyum lebar.
Angela mengangguk, wanita itu menggenggam tangan Marchello dengan sangat senangnya. Terlihat jelas betapa kekasih Marchello teramat sangat bahagia atas keberhasilannya.
"Akhirnya, mimpiku akan jadi kenyataan. Oh ya, kamu ingin membicarakan sesuatu hal penting apa?" tanya Angela penasaran.
"Pejamkan matamu," pinta Marchello membuat Angela menautkan alisnya penasaran.
Wanita itu menuruti saja perintah dari Marchello. Angela memejamkan matanya, keningnya berkerut saat merasakan benda masuk di jari manisnya.
"Buka matamu sekarang," kata Marchello.
Angela membuka matanya, pertama kali yang dilihatnya adalah wajah bahagia dari Marchello. Wanita itu mengerutkan keningnya bingung.
"Bagaimana? Kamu suka cincinnya?" tanya Marchello membuat Angela sontak melihat ke arah cincin yang tadi dilingkarkan di jari manisnya.
"Apa maksudnya ini El?" tanya Angela menatap Marchello bingung.
Berbeda respon dengan Marchello, Angela justru menatap nanar cincin itu dan tidak tahu harus bereaksi bagaimana lagi. Marchello mengelus jemari Angela, mencium tangan wanita itu hingga tubuh Angela menegang seketika.
"Angela, aku ingin mengungkapkan keseriusanku kepadamu. Kita sudah lama mengenal, aku yakin keluarga kita akan merestui hubungan kita berhubung keluarga kita telah lama saling mengenal. Malam ini, aku mengumpulkan keberanianku untuk melamarmu secara langsung di tempat pertama kali kita kencan. Angela, maukah kamu menjadi istriku dan tinggal bersamaku di Indonesia?" tanya Marchello dengan matanya menatap Angela penuh harap.
Mata Angela terbelalak, tidak menyangka jika Marchello mengharapkan hubungan serius dengan dirinya. Tapi bagaimana, dalam hati Angela ada ketakutan luar biasa akan pernikahan seperti yang telah terjadi dengan kakaknya. Belum lagi, Angela baru saja akan merintis perusahaan entertaintment miliknya di Amerika. Bagaimana mereka bisa tinggal bersama dengan kesibukan mereka seperti itu.
"Tapi El, aku baru saja menandatangi kontrak dengan investorku. Aku ingin sekali mendirikan perusahaan itu. Ini mimpiku sejak kecil," ucap Angela.
"Aku akan membuatkanmu perusahaan entertainment, atau kamu bisa mengurus perusahaan Mama Valeria. Mama pasti senang kalau agensinya kamu yang pegang," janji Marchello memberikan pengertian kepada Angela.
"Lalu semua orang akan mengenalku sebagai istri dan menantu keluarga besar Corlyn dan Carollino? Begitukah?" tanya Angela membuat tatapan Marchello berubah.
"Apa salahnya dengan itu? Kamu merasa malu?" pungkas Marchello dengan suara yang sirat akan terluka.
"Bukan begitu El, aku ingin semua orang tahu bahwa aku memiliki kemampuanku sendiri terlepas dari pengaruhmu dan keluargamu. Aku ingin dikenal dan disegani semua orang karena kemampuan dan prestasiku, mengertilah El," jelas Angela meminta pengertian kepada Marchello.
Mereka terdiam cukup lama, baik Marchello maupun Angela sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Angela sangat mencintai lelaki itu, tapi ada satu ruang ketakutan di hati Angela yang membuatnya tidak bisa menerima lamaran lelaki itu. Belum lagi mimpi besarnya yang telah dia idam-idamkan sejak dulu. Angela ingin seluruh dunia mengenalnya karena prestasi dan kemampuan yang dia miliki. Angela tidak ingin semua orang mengira dirinya hanya numpang nama dengan keluarga besar Marchello di Indonesia.
Angela melepaskan cincin itu, menaruhnya di meja. Marchello menatapnya dengan tatapan terluka. Tidak menyangka bahwa wanita yang selama ini dia cintai sepenuh hatinya dapat berpikiran sempit seperti dalam pikiran Angela.
"Kamu bahkan tidak meminta waktu untuk berpikir lebih dulu, apakah ini karena sejak awal hubungan kita hanya permainan bagimu?" tanya Marchello menatap Angela tidak menyangka.
Angela berdiri, memundurkan kursinya hingga suara berderet berbunyi nyaring di sana.
"Maafkan aku, aku tidak punya pilihan lain. Sepertinya, aku bukan wanita yang pantas untukmu," lirih Angela menundukkan kepalanya tanpa berani menatap mata Marchello.
Angela mengambil tasnya, wanita itu melangkah meninggalkan Marchello yang kini menatap punggung itu dengan nanar. Marchello membanting gelas yang ada di meja, hingga semua orang menatapnya penuh tanda tanya.
"Maafkan aku," lirih Angela dengan air matanya yang meluruh, sama sakitnya dengan perasaan Marchello saat ini.
Hari ini, kisah mereka telah usai, bersamaan pupusnya harapan yang sempat terpintas dalam benak Marchello. Tidak ada kesempatan menjalin hubungan lebih serius, karena pada akhirnya Angela justru lebih memilih mengepakkan mimpinya, dan melepaskan harapan Marchello hidup satu atap bersama dengannya.