Hilangnya Sebuah Kebebasan (Part 1)
Musim baru saja berganti. Keindahan bunga di beberapa tempat, mulai memudar. Suhu udara yang mulai terasa panas, membuat bunga mulai layu. Padahal ini baru awal musim panas, tapi matahari tetap tak memberi belas kasihan. Terutama pada orang yang di siang terik ini, berlari tanpa henti.
Luke Maha Putra. Sejak beberapa menit yang lalu, Luke sudah menyusuri jalanan Hongdae yang tak seramai biasanya. Sejak memutuskan untuk keluar diam-diam lewat jendela, Luke berlari tanpa henti. Dia tak menoleh ke belakang, tapi yakin orang-orang berjas hitam sedang mengikutinya.
“Penerus Maha Putra Grup, Benjamin Maha Putra diam-diam menikahi gadis pujaan hatinya. Dengan disaksikan beberapa teman dan kenalannya, Ben mengucap janji bersama seorang gadis desa yang bahkan asal usulnya tak jelas. Tindakan gegabahnya membu—”
Sebuah berita yang menjadi akar dari masalah. Sebuah berita yang kemungkinan besar akan membuat hidup Luke berubah seratus delapan puluh derajat. Sebuah berita yang menjadi mimpi buruk bagi Luke, merenggut kebebasannya. Semua karena Ben, kakak yang dulunya pernah berkata, Luke boleh melakukan apapun yang dia inginkan karena Ben yang akan mengurus perusahaan dan t***k bengeknya. Namun! Ben mengingkari ucapannya!
Luke beberapa kali hampir menabrak pejalan kaki kalau saja refleknya tak cepat. Namun, gara-gara itu orang-orang berjas hitam yang mengejarnya jadi semakin dekat dengan Luke. Andai Luke jatuh, maka tamat riwayatnya. Dia tak akan mampu mengelak lagi. Mereka bukan tandingannya. Walau Luke berhasil mendapat sabuk hitam taekwondo, tapi orang yang mengejarnya bukan orang sembarangan. Mereka mampu meringkus orang seperti Luke hanya dalam hitungan detik.
Memang dasar sial. Setelah berlari cukup lama pada akhirnya Luke tersandung. Kakinya yang mulai lemas, tak bisa bergerak dengan cepat. Napasnya pun sudah tersengal-sengal, satu demi satu. Tiga orang di belakangnya dengan sigap menangkap tubuh Luke. Di saat Luke sudah hampir kehilangan tenaga, mereka bertiga justru masih segar bugar. Sialan memang!
“Tuan muda seharusnya tahu ini akan percuma,” ucap salah satu dari mereka, lak-laki berkepala plontos. “Bawa Tuan muda!” lanjutnya pada dua orang yang memegang tangan Luke.
Luke berusaha memberontak, tapi dengan dua lengan berada di cengkraman dua orang berbadan besar, jelas mustahil bagi Luke untuk kabur. Dia hanya buang-buang tenaga saja. Sama seperti saat dia kabur, dia hanya buang-buang tenaga. Pada akhirnya Luke tetap akan tertangkap. Tiga pria berjas hitam, tak akan membiarkan Luke lolos.
“Sialan! Aku nggak mau pulang! Bilang sama Kakek, aku nggak mau pulang!” teriak Luke, membuat orang-orang yang mereka lewati menatap ke arahnya. Beberapa ada yang ingin membantu, tapi mereka langsung menciut saat melihat tubuh kekar orang-orang yang membawa Luke. Apalagi saat beberapa polisi justru membantu mereka. Orang-orang jadi berpikir, mungkin Luke-lah penjahatnya.
“Sialan! Tua bangka sialan!” umpat Luke. u*****n yang juga sia-sia karena sang kakek tak akan melihat atau mendengarnya. Kakek sepertinya sudah memperhitungkan masak-masak, bahwa Luke tak akan menurut saat dibawa pula, maka kakek sengaja meminta bantuan polisi setempat.
Luke dibawa masuk ke sebuah mobil. Mobil itu meluncur menuju Bandar Udara Internasional Incheon, meninggalkan pameran lukisan yang baru dua hari Luke adakan. Pameran itu seharusnya berlangsung selama dua minggu penuh, tapi sepertinya pameran itu akan menjadi pameran terakhir yang Luke selenggarakan.
“Lepas!” seru Luke. Dua orang di kanan kirinya langsung melepaskan lengan Luke. Mereka di dalam mobil, jadi Luke tak akan melawan. Baru setelah mereka tiba di Bandara, Luke kembali di kawal. Otaknya berusaha mencari cara, bagaimana agar bisa kabur. Sekali dia pulang, maka kebebasannya akan kenyap. Dia tahu itu karena dulu Ben pun tak memiliki kebebasan.
“Ben sialan!”
Setiap kali teringat nama Ben, Luke rasanya ingin terus mengumpat. Bagaimana bisa dia menikah dengan wanita tak jelas sedang sang kakek sudah menyiapkan seorang calon dari keluarga terhormat? Kakek sepertinya terlalu sakit hati pada Ben, hingga memutuskan untuk mencoret nama Ben dari daftar ahli waris begitu tahu Ben kawin lari dengan seorang wanita yang diduga wanita malam. Sebagai gantinya, Luke harus menggantikan posisi Ben, termasuk dalam hal menikah.
Demi Tuhan, Luke belum ingin menikah! Walau kini usianya sudah dua puluh enam tahun, tapi dia masih ingin bebas. Kalaupun menikah, dia ingin menikah dengan wanita yang dia cintai, bukan dengan dijodohkan!
“Aku ingin ke kamar mandi,” kata Luke. Biasanya kalau di dalam drama, mereka bisa kabur lewat kamar mandi. Luke tidak memiliki cara lain, jadi apapun akan dia lakukan.
Lelaki plontos memberi isyarat untuk membiarkan Luke ke kamar mandi. Mereka menunggu di luar kamar mandi. Namun, Luke tiba-tiba mengubah arah dan diam-diam masuk ke kamar mandi wanita. Seorang gadis yang melihat keberadaan Luke, hampir saja menjerit kalau saja Luke tak segera membekap gadis itu.
“Tolong, diam! Ah, maksudku ... shut up, please,” pinta Luke sambil menempelkan telunjuknya di bibir gadis itu.
“Aku bisa basaha Indonesia,” kata gadis itu dengan wajah datar. Dia menepis jari Luke.
“Bagus kalau begitu. Sekarang keluar dan jangan katakan apapun!”
Luke melepaskan gadis itu. Sebelum keluar gadis itu menatap Luke sambil menjulurkan lidah. Luke mengernyit, tapi memilih tak mengacuhkan gadis itu. Dia masuk ke salah satu bilik kamar mandi. Sayangnya, belum juga dia menutup pintu, dua pria berjas hitam yang mengawalnya datang.
“Ah, sial!”
Sama sekali tak keren. Baru berencana bersembunyi, sudah langsung ketahuan. Luke kembali diseret keluar kamar mandi. Di dekat pintu masuk kamar mandi, Luke melihat gadis yang dia temui sebelumnya. Gadis itu tertawa puas, seoalah sedang menunggu Luke.
“Makanya aku sudah curiga, kamu pasti orang jahat,” kata gadis itu.
“Terima kasih, Nona,” kata laki-laki berkepala plontos. Jelas sudah kalau gadis itu yang sudah melaporkan Luke.
Gadis itu kembali menjulurkan lidah saat Luke menatapnya dengan tatapan kesal. Rasanya Luke ingin menarik lidah gadis itu!
“Samantha! Ya ampun, aku cari ke mana-mana. Ayo, cari makan sebelum naik pesawat. Aku sudah kelaparan!”
Dua gadis lain datang memanggil gadis yang ternyata bernama Samantha. Samantha masih sempat-sempatnya menjulurkan lidah ke arah Luke. Luke jadi semakin kesal dibuatnya.
“Awas kamu!” dendam Luke.
***
Seolah tak cukup kesal karena sudah dilaporkan, Luke kembali harus berhadapan dengan Samantha. Keduanya duduk berdekatan selama di pesawat. Mereka hanya dipisah oleh pengawal Luke.
“Dia kenapa? Koruptor yang mencoba kabur ke luar negeri, ya?” tebak Samantha sambil menunjuk ke arah Luke. Lemas sekali gadis ini kalau berbicara.
Luke membuang muka, berusaha mengabaikan Samantha.
“Tidak! Tuan muda bukan koruptor,” jawab pengawal Luke. Sebenarnya dia tak perlu mengubris Samantha, tapi tak enak karena Samantha sepertinya terlalu penasaran sampai dia mencondongkan tubuhnya agar bisa melihat Luke.
“Tuan muda?” Samantha tertawa geli. Dia jadi teringat pengawal ayahnya, yang juga selalu berbicara dengan nada kaku. “Terus kenapa Tuan Muda mau kabur?”
“Tu—”
“Berisik!” seru Luke, membuat pengawalnya langsung menutup mulut. Walau para pengawal diperintahkan untuk menyeret Luke kembali ke Indonesia, mereka tetap harus bersikap sopan di saat-saat tertentu.
“Tuan muda kamu galak.”
Luke rasanya ingin melempar apapun untuk membuat Samantha diam.
“Tadi kamu mau ngomong apa? Tuan muda kamu kenapa?” tanya Samantha, masih berusaha bertanya pada pria jas hitam di sampingnya. Gadis itu sepertinya tak takut pada pengawal Luke. Padahal mereka berbadan besar. Jas hitam mereka saja rasanya hampir meledak karena terlalu ketat.
“Tidak ada, Nona.”
“Ada. Tadi kamu kayaknya mau ngomong sesuatu.”
“Tidak, Nona.”
“Ish! Gara-gara Tuan Muda, sih!”
Luke memutar bola matanya. Benar-benar tak habis pikir, harus bertemu dengan gadis tidak jelas seperti Samantha. Luke berharap, ini akan jadi pertemuan terakhir mereka. Namun, cerita ini tak akan berjalan jika dua tokohnya tak lagi bertemu, bukan?