2. Kena Omel

1380 Kata
"Jadi, proses menggoreng yang dilakukan dengan cepat dalam minyak goreng yang sedikit itu adalah Shallow Frying. Untuk pengolahannya terdapat 2 cara yaitu, Pan Frying dan Sauteing. Kedua teknik ini sering dilakukan pada masakan Cina, dan dipakai sebagai...." bla bla bla, Amira menguap ketika guru wanita berkacamata tebal itu menerangkan rentetan tentang materi dasar tata boga. Entah kalimat apa lagi yang guru itu beberkan, Amira memilih untuk mengabaikannya saja dibanding terus memerhatikan seperti murid lainnya. Baginya, langsung praktik lebih menyenangkan dibanding mendengarkan ocehan monoton yang tak hanya membuatnya bosan, tapi mengundang rasa kantuk juga karena paparan yang disampaikannya bak dongeng menjelang tidur. Sungguh, rasanya Amira ingin keluar dari kelas saja. Tapi, dia bingung. Harus pergi ke mana seandainya dia meninggalkan pembelajaran ini? Mengingat teman satu geng lainnya sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing dan pacarnya juga sedang menghadap Pak Herman di ruang BK, maka Amira harus merelakan hati saja untuk duduk diam di kelas walau ia sudah tidak betah. "Amira," bisik teman sebangkunya menyikut pelan. Si pemilik nama pun mendengus, lalu melirik ke sebelah mendapati Karenina yang sedang aktif mencatat. "Apaan?" "Lo gak nyatet?" tanya Karenina mengernyit. "Malas ah, lo aja duluan ... gue mah kapan-kapan," sahut Amira mengibaskan sebelah tangan. Lalu, ia merebahkan kepalanya ke meja dengan posisi memiring menghadap tembok. "Itu yang lagi diterangin sama Bu Salma termasuk ke dalam poin penting prinsip dasar tata boga loh," ujar Karenina kembali berbisik. "Terus, gue harus gimana?" balas Amira tanpa repot -repot menoleh. "Ya lo catat lah, Amira sayang ... masa gitu doang mesti gue kasih tau," seloroh Karenina setengah gemas. Tak tahan lagi mendengar ocehan teman sebangkunya, Amira pun mendengkus kasar. Dia kembali menegakkan tubuh sambil berteriak menyolot, "Kalo gue malas, ya masa gue mesti paksain sih. Kan gak lucu Karenina yang bawelnya tiada taraa!" Sontak, semua mata memandang serempak ke pusat suara. Tak terkecuali Bu Salma, guru wanita berkacamata tebal itu pun turut serta memandang ke arah Amira yang baru saja mengeluarkan suara nyaringnya. Menyadari akan hal itu, Amira refleks memelototi Karenina dengan sorot lasernya. Membuat temannya itu hanya mampu menunduk takut sambil mengusap tengkuk salah tingkah. "Mampus, sekarang gue malah jadi pusat perhatian kan...." gumam Amira menepuk jidat. Lalu, memasang senyuman konyol binti cengengesan ketika tatapannya mengarah pada sosok berkacamata tebal yang kini sedang menatap judes bercampur jengkel.                                                                                         *** "Ragapan Danendra, kamu lagi, kamu lagi," ujar pria bertubuh kurus tinggi itu geleng-geleng. Sementara Raga, dia hanya berdiri malas tanpa sedikit pun merasa gentar kala berhadapan dengan si kumis baplang itu. "Kamu ini, gak kapok apa doyan sih saya nasihati? Kayaknya, kamu dan teman satu gengmu itu gak ada bosannya bikin vertigo saya kambuh. Gak si Oris yang sering kabur di jam pelajaran, Matheo yang hobi tidur di kelas, Ovidius yang doyan ngerokok juga kayak kamu, ditambah si Ranjiel yang gak pernah rapi kalo pake seragam. Ampuun deh saya sama kalian," cerocos Pak Herman mendesah kasar. "Ya kalo Bapak bosan, kenapa juga harus terus manggil kami ke sini ... Bapak kira saya juga gak bosan apa ketemu Bapak lagi Bapak lagi?" Balas Raga mendumel sekaligus mewakili protes anak-anak GAS yang lain. "Ya maka dari itu, jangan membuat emosi saya mencuat ke permukaan dong! Lagi pula, hobi banget sih kamu dan kawan-kawanmu itu bikin masalah," tukas Pak Herman mendelik. Raga tidak lagi berkomentar. Dia hanya berusaha untuk menulikan pendengarannya sementara di sela Pak Herman yang terus berdalil. Raga terciduk sedang merokok di belakang kelas. Bukan salahnya juga dong kalau tiba-tiba ingin merokok, tapi salahkan saja guru matematikanya. Sudah tahu Raga bertanya itu karena tidak mengerti, eh alih-alih diberitahu malah gurunya itu senewen sampai memaki-maki Raga di depan semua murid. Kan k*****t! Alhasil, Raga pun menumpahkan kekesalannya dengan cara merokok. Ya, itu memang sudah menjadi kebiasaan. Jika bukan setelah kuda-kudaan dengan Amira, maka saat hatinya memendam kesal Raga pun akan melampiaskannya dengan menghisap gulungan tembakau tersebut. "Kamu itu gak sayang paru-paru? Masih muda kok sudah pandai merokok," geleng Pak Herman tak habis pikir. "Apa kabar sama Bapak? Bukannya Bapak juga suka merokok, gak sayang emang sama paru-parunya? Saya mending masih muda, masih segar. Lah Bapak sendiri gimana? Kan kasihan, sudah tidak muda tapi masih aja mau ngerusak paru-paru," urai Raga kelewat kesal. Berani-beraninya guru BKnya itu menceramahi dirinya soal merokok, toh dia sendiri saja belum becus menjaga paru-parunya meski usianya sudah sangat jauh di atas Raga. Pak Herman tergugu, dia benar-benar tidak bisa membantah perkataan muridnya. Terkadang, ada benarnya juga apa yang diucap oleh Raga barusan. Dirinya pun masih aktif merokok, tapi seakan bukan perokok dia justru malah sok menggurui. Pak Herman jadi dilema, antara terus menghardik murid bebalnya itu atau menyudahinya saja agar tidak ada kalimat menohok lainnya yang terucap.                                                                                        *** "Jadi, perhatikan buihnya saat lo merebus babat. Tau gak? Buih itu bisa jadi sumber kotoran yang masih menempel. Misalkan gak dibuang, nanti babatnya malah gak layak konsumsi lagi kalo pas lo masak," terang Amira menunjukkan keahliannya dalam cara mengolah babat sebelum dimasak. Nadia manggut-manggut, dia mencoba menyerap semua perkataan penting yang sudah adik tingkatnya itu lontarkan. Baginya, penerangan yang dijabarkan oleh Amira itu sangat bermanfaat. Meskipun ia lebih tua setahun dari Amira, tapi soal kemahiran dalam praktik masih Amira yang menguasai. Sudah menjadi pembicaraan umum jika Amira dicap sebagai master koki Algateri High School. Beruntung dia bisa bertemu dengan Amira di saat dirinya sendiri sedang kebingungan memikirkan perihal babat yang menjadi bahan khusus untuk praktikumnya minggu depan. "Sejauh ini, lo paham kan sama perkataan gue?" Tegur Amira menatap Nadia yang sejak tadi hanya manggut-manggut saja. "Paham, Mi...." angguk Nadia tersenyum, "Wah, untung aja lo lagi gabut ... jadi, gue bisa dapat ilmu baru deh dari lo, hehe. Makasih ya, Mi...." ujar Nadia memeluk Amira sekilas. "Sama-sama, lain kali ... kalo ada yang mau lo tanyain tentang masak memasak, jangan sungkan ... just call me, Beb!" Seloroh Amira mengedipkan sebelah mata. Membuat Nadia lantas tertawa geli melihat raut menggoda yang Amira tunjukkan. Untung Nadia bukan kaum adam, jadi dia tidak harus repot menahan diri untuk tidak menerjang Amira di tempat. "Ya udah, kalo lo udah paham ... coba praktekin apa yang gue bilang, oke?" Komando Amira yang diangguki Nadia. Tidak peduli jika Nadia itu kakak tingkatnya, yang jelas gaya bicara Amira tidak bisa formal walau pada kakak tertuanya sekalipun. Sementara Nadia mulai beraksi, Amira sendiri memilih untuk beristirahat tak jauh dari Nadia yang mulai sibuk melakukan kegiatannya. Setelah didepak Bu Salma karena sudah berani membuat kegaduhan di kelas, Amira pun dengan senang hati meninggalkan materi yang masih akan gurunya itu ajarkan selama 30 menit kemudian. Tidak peduli dengan omelan yang sempat ia dengar, yang jelas Amira merasa bebas ketika kakinya melangkah ke luar. Kemudian, di tengah ia yang sedang kebingungan dengan tujuannya, Nadia datang meminta bantuan. Merasa tidak keberatan, Amira pun bersedia. Dan di sinilah Amira sekarang, di dapur khusus praktik tata boga bersama Nadia yang katanya ingin diajari cara mengolah babat. Di tengah Nadia yang sedang mempraktikkan apa-apa saja yang sudah Amira beritahukan, gadis bermata belo itu pun iseng-iseng membuka ponselnya. Didapati, beberapa pesan chat yang masuk ke Whatsappnya. Termasuk di Grup Flower GAS, Amira mengklik room chat tersebut guna dilihatnya. Pacar si Theo : Anying, kagak ada yang mau tengokin gue? Gue lagi sekarat nih. Bawain makanan gitu, atau apa kek? Milik si Ranjiel : Kan ada Aa Theo! Amira mengernyit, "Kenapa si Vivi? Dia sakit?" Gumamnya bertanya-tanya. Tapi meski belum tahu penyebab sakitnya karena apa, Amira pun kembali membaca chat grup tersebut. Pacar si Theo : Theo pewe sampe ketiduran, anjir. Demenan si Oris : Gue lagi nemenin Oris latihan. Anda : Gue lagi praktik masak, sorry ya Vi.... Tak lama kemudian, Amira melihat kontak Viana yang dinamainya Pacar Theo sedang mengetik. Pacar si Theo : Ami, masakin gue sushi! Menaikkan kedua alis kompak, Amira pun mendumel, "Sedeng ni bocah, gue kan lagi di sekolah. Mana bisa gue masakin dia sushi," tapi walau begitu, Amira tetap saja membalas permintaan tetangga di komplek rumahnya itu. Anda : iya entar ya, gue anterin ke rumah lo. Friendzone si Ovi : Gue gak bisa Pipi, lagi eskul. Setelah hanya Shapir yang nimbrung sebentar, dan Viana pun hanya membacanya saja, Amira lantas segera mencari kontak pacarnya. "Si Aga lagi apa ya? Jadi kepo, dia disuruh ke BK mau diapain sama Pak Herman," gerutunya sendiri lalu saat menemukan nama yang dicari ia pun segera mengetikkan rentetan kata guna dikirimkannya pada si pemilik kontak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN