Chapter 5

1010 Kata
"Harapan semu itu selalu membuatku kembali berharap, walaupun aku tau akhir dari semua ini hanya sebatas haluku." ****** Kate masih tak percaya bahwa Rafa benar-benar datang pagi ini. Cowok itu sedang berbincang-bincang dengan mamanya di ruang tamu. Kate ikut bergabung setelah sarapan, sekalian berpamitan untuk berangkat sekolah. Saat keduanya sudah keluar dari rumah. Kate mulai merasa takut jika Rafa kembali membuka pintu belakang, takutnya jika Kayla kembali ikut bersama Rafa. Kate bernapas lega ketika Rafa membukakan pintu mobil bagian depan. Jadi cowok ini memang benar-benar serius meminta maaf kepadanya. Entah kenapa emosi dan rasa kecewa yang Kate rasakan semalam kini sudah meluap entah ke mana. Hanya hal sederhana seperti ini Kate bisa melupakan semuanya? Dia juga bingung dengan dirinya sendiri. Sebegitu besarkah rasa cintanya kepada Rafa. "Kayla berangkat sama siapa? Gak apa-apa emangnya kalau lo gak jemput dia pagi ini?" "Dia aman sama kak Leo. Intinya gue ada di sini buat membuktikan bahwa gue cinta sama lo Kate. Lo gak usah mikirin Kayla." Kate tersenyum tipis, pandangannya lurus ke depan. Keduanya sama-sama diam, entah kenapa Kate lebih ceplas-ceplos ketika bersama Leo. Mungkin karena dia jarang bersama dengan Rafa. "Eum, lo tadi sarapan, kan?" tanya Kate. "Iya sarapan kok. Lo tau sendiri kalau hari ini gue yang jadi pemimpin upacara. Gak lucu kalau gue pingsan, kan?" Kate sama sekali tidak tau. Rafa juga tidak pernah memberitahukannya. Untuk tidak merusak suasana, biarkan Kate berpura-pura. "Kalau lo pingsan lucu lah." Kate membayangkan hal itu dan tertawa. "Gak lah. Gue gak pengen buat lo malu." "Kok gue yang malu? Kan yang pingsan lo." "Kalau gue pingsan, gue lemah dong. Berarti lo pacaran sama cowok lemah, orang-orang bakalan beranggapan kalau gue gak akan bisa menjaga lo. Dari situ juga banyak cowok-cowok yang mau deketin lo dan ngerusakin hubungan kita." Kate semakin tersenyum, rasanya lega mendengarkan Rafa berbicara panjang lebar tanpa memarahinya. "Iya Raf. Nanti jangan geer ya kalau gue natap lo." "Lo kali yang sering salting kalau gue natap lama." Kate merona. Memang benar, dia suka malu-malu sendiri ketika Rafa menatapnya, apalagi sekalian dengan tersenyum. Kate bisa langsung diam tak berkutik. Sampai ke sekolah Rafa juga membukakan pintu, berjalan beriringan di koridor, dan mengantarkan Kate sampai ke depan kelas XI-Bahasa 3. Kate masuk ke kelas dengan raut wajah bahagia. Vanilla yang sedari tadi mengintip lewat jendela langsung menghampiri Kate. "Pagi ini gue baru percaya kalau lo sama Rafa emang pacaran." Kate semakin tersenyum, cewek itu duduk di kursinya, disusul oleh Vanilla yang duduk di sebelahnya. "So, ada bencana apa sampai lo berdua berangkat bareng? Lo apain dia, Kate." "Ih apaan sih La. Rafa emang ngajak gue berangkat bareng, tanpa gue paksa." "Ouh gitu. Gue ikut senang. Hmm, tapi sekarang udah bel Kate. Kita bisa dihukum kalau gak ke lapangan sekarang," ucap Vanilla lalu gadis itu segera keluar dari kelas. Kate juga ikut menyusul, apalagi Bu Olivia selalu guru BP sudah berdiri di depannya menyuruh murid-murid agar segera ke lapangan, sekaligus mengecek supaya tidak ada yang bersembunyi di kelas. ***** Jika hari biasanya Kate berdiri di barisan paling belakang, hari ini gadis itu sengaja berdiri di posisi paling depan. Hanya untuk melihat Rafa lebih jelas. Cowok itu terlihat gagah ketika menjadi pemimpin upacara. Kate yang biasanya membenci upacara hari ini entah kenapa ingin berlama-lama di lapangan ini meskipun cuacanya panas. Kelas Kate berhadapan dengan kelas Leo. Cowok itu asik menganggu teman sekelasnya. Kate menahan senyum. Dia merasa terhibur bisa melihat dua orang yang dia sayang di posisi seperti sekarang. "Senyum mulu, cuaca panas Kate. Gigi lo bisa kering." Bisik Vanilla yang berdiri di belakang Kate. Kate semakin melebarkan senyumnya, mungkin jika ada guru yang melihat raut wajah Kate. Pasti mereka akan kebingungan, atau bisa jadi menganggap Kate kesurupan sekarang. Upacara yang semula berjalan lancar mendadak heboh ketika dari barisan depan kelas XI-IPS 1 ada yang pingsan. Kate semakin kebingungan saat Rafa berlari dan menghampiri gadis yang sudah tidak sadarkan diri itu. Sayup-sayup Kate bisa mendengar pembicaraan yang mengatakan bahwa yang pingsan adalah Kayla. Pantas saja Rafa langsung gerak cepat. Tapi satu pertanyaan terus terngiang. Apa tidak ada murid cowok di kelas itu selain Rafa? Pemimpin upacara digantikan. Raut wajah Kate kembali meredup. Kayla masih tersegala-galanya bagi Rafa. Apa kalau dirinya yang pingsan Rafa juga akan bertindak seperti itu? Sepertinya tidak akan. ***** Selesai upacara Kate tidak langsung ke kelas. Dia berjalan seorang diri untuk menuju ke UKS. Sebelum masuk ke dalam UKS, Kate mengintip lewat jendela. Di sana ada Rafa dan Leo yang sepertinya sedang berdebat. Kate segera masuk ke dalam, takut jika akan ada aksi baku hantam antara adik-kakak itu. "Kenapa?" "Ini gak ada urusannya sama lo Kate." Rafa menatap tajam ke arah Kate. Kate jelas saja kebingungan, dia hanya bertanya. Kenapa Rafa terlihat marah. "Gue cuma tanya kenapa Raf? Kenapa lo natap gue seolah gue yang paling bersalah di sini." Rafa mengepalkan tangannya. "Kalau Kayla berangkat bareng gue tadi pagi, dia pasti gak di sini sekarang. Kak Leo gak mastiin kalau Kayla udah makan apa belum tadi. Dan ternyata dia benar-benar gak sarapan, makanya Kayla pingsan. Dia punya penyakit lambung udah level akut." Leo masih diam, tatapannya tertuju seutuhnya ke arah perubahan ekspresi Kate. Gadis itu menggigit bibir bawahnya.  "Sorry Raf. Gara-gara lo berangkat sama gue Kayla jadi sakit. Maaf banget, gue gak tau. Lain kali jangan jemput gue, takutnya Kayla gak sarapan lagi karena bukan lo yang jemput." "Gue gak bermaksud gitu Catherina. Lo kenapa baperan banget sih? Gue sama sekali gak menyalahkan lo di sini." "Udahlah Raf. Lo emang gak salahin gue. Tapi kata-kata lo barusan sudah mewakilkan semuanya. Maksud jelasnya itu seperti ini. Kalau tadi pagi kalian berangkat bareng, lo pasti bakalan mastiin Kayla sarapan atau belum. Sayangnya tadi yang jemput Kayla itu Kak Leo. Jadi Kak Leo gak tau deh harus ngapain." Kate meraih tangan Leo. "Kita pendosa Kak. Gak pantas buat satu ruang sama orang suci kayak mereka berdua." Leo ikut saja. Dia juga kesal dengan tingkah Rafa yang masih belum berubah, dan tidak memiliki prinsip. "Kate," panggil Rafa.  Kate tetap melanjutkan langkahnya. Rafa ingin mengejar, namun Kayla sudah sadar dari pingsan dan memanggil namanya. Terpaksa Rafa mengurungkan niatnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN