BAB 14: MASA LALU HARUKI

1682 Kata
[ Riko, Maafkan aku yang baru membalas suratmu setelah tiga hari. Ketika kau bertanya tentang masa laluku, aku merasa perlu mencatatnya dengan detail yang tepat, dan jujur saja, aku bingung harus mulai dari mana. Setiap kali aku mencoba menuliskannya, tanganku gemetar dan pikiranku kembali ke tempat-tempat yang telah lama kucoba untuk kubur. Namun, kau telah membagi kisahmu denganku, dan kurasa sudah waktunya aku berbagi kisahku juga. Sama sepertimu, hidupku pun tidak selalu dipenuhi dengan kebahagiaan. Masa kecilku adalah seri kebrutalan yang tak berujung. Ayahku, seorang pekerja pabrik, selalu pulang dengan amarah yang meluap. Terkadang karena bosnya, terkadang karena alkohol, tapi hampir selalu berujung pada kekerasan. Ibuku selalu menjadi sasaran pertama, dan saat aku mencoba melindunginya, pukulan itu beralih padaku. Rumah kami yang kecil di pinggiran Tokyo bukanlah rumah dalam arti yang sebenarnya—melainkan penjara. Dinding-dindingnya menyimpan teriakan dan tangisan yang tak pernah terdengar tetangga. Atau mungkin mereka mendengar tapi memilih untuk tidak peduli. Itu adalah kehidupan yang kami jalani selama bertahun-tahun, sebuah rahasia gelap yang tersembunyi di balik senyuman palsu ibuku dan memar yang kami coba sembunyikan. Aku ingat suatu malam saat usiaku sepuluh tahun, ayah pulang dalam keadaan lebih mabuk dari biasanya. Ia mengamuk karena makanan yang tidak sesuai seleranya. Ia mendorong ibu ke dinding dan mulai mencekiknya. Aku berteriak, memohon, dan mencoba menariknya menjauh. Sebagai balasan, ia melemparku ke meja, dan kepalaku membentur sudutnya hingga berdarah. Saat aku terbaring di lantai dengan darah mengalir di wajahku, ibu menangis dan memohon pada ayah untuk berhenti. Yang kuingat setelahnya hanyalah suara sirene ambulans samar-samar dan tatapan kasihan dari paramedis. Hidup dalam ketakutan membentukku menjadi anak yang pendiam dan tertutup. Di sekolah, aku jarang berbicara, takut jika kesalahan sekecil apapun akan memicu kekerasan. Aku belajar untuk menjadi tak terlihat, untuk tidak menarik perhatian. Sementara teman-temanku bermain dan tertawa, aku mengawasi, mempelajari cara mereka berinteraksi, seolah menonton film dari kehidupan yang tak akan pernah kumiliki. Kemudian, saat aku berusia dua belas tahun, sesuatu terjadi yang mengubah segalanya. Ayahku meninggal dalam kecelakaan mobil saat pulang dari bar. Ia menabrak pohon di pinggir jalan dan tewas seketika. Saat polisi datang mengetuk pintu untuk menyampaikan berita, aku merasakan campuran emosi yang tak bisa kujelaskan—kesedihan, kelegaan, dan rasa bersalah karena merasa lega. Hidup tanpa ayah seharusnya lebih baik, tapi trauma yang ia tinggalkan tidak mudah dihapus. Ibuku, walaupun terbebas dari siksaan fisik, tetap hidup dalam bayangan ketakutan. Seringkali aku menemukannya terbangun di tengah malam, gemetar dan menangis. Terkadang ia berteriak dalam tidurnya, seolah masih berada dalam genggaman ayah. Namun di tengah kegelapan itu, ibuku menemukan pelarian—menulis. Ia mulai menulis puisi, lalu cerita pendek, mencurahkan seluruh emosinya ke dalam kata-kata. Tulisannya tidak pernah dipublikasikan, hanya disimpan dalam buku catatan yang ia sembunyikan di laci, tapi aku sering mengendap-endap membacanya saat ia tidur. Dalam tulisannya, ia menciptakan dunia di mana ia kuat, di mana ia bahagia, di mana ia dicintai. Dan dalam dunia-dunia itu, aku pun menemukan harapan. Aku mulai meniru ibuku, menulis cerita-ceritaku sendiri. Awalnya hanya sebagai pelarian, tapi lambat laun menjadi hasrat. Dalam kata-kata, aku menemukan kekuatan yang tidak pernah kumiliki dalam hidup nyata. Aku bisa menjadi siapa saja, melakukan apa saja, dan menciptakan akhir yang kuinginkan—bukan yang ditentukan oleh tangan keras ayahku. Suatu malam, ibuku menemukan buku catatanku. Ia membacanya saat aku tertidur dan keesokan paginya, untuk pertama kalinya sejak ayah meninggal, ia tersenyum dengan tulus. “Kau memiliki bakat, Haruki,” katanya, air mata berkilau di matanya. “Suatu hari, kau akan menjadi penulis yang hebat. Jauh lebih hebat dariku.” Malam itu, di bawah cahaya bulan yang menembus jendela kamar kami yang redup, aku berjanji pada ibuku dan diriku sendiri: aku akan menjadi penulis yang sukses. Aku akan menulis cerita-cerita yang membuat orang merasa tidak sendirian, seperti yang dilakukan tulisan ibuku untukku. Aku akan membuat ibuku bangga. Selama tiga tahun berikutnya, hidup kami perlahan membaik. Ibu mendapat pekerjaan di sebuah toko buku kecil, dan aku terus menulis. Kami mulai tersenyum lebih sering, tertawa sesekali, dan menatap masa depan dengan sedikit harapan. Kami bukan lagi korban—kami adalah penyintas. Namun takdir memiliki rencana lain. Saat usiaku lima belas tahun, ibuku didiagnosis dengan kanker stadium lanjut. Dalam waktu enam bulan, ia pergi meninggalkanku. Di ranjang rumah sakit, dengan tangan kurusnya menggenggam tanganku, kata-kata terakhirnya adalah, “Jangan pernah berhenti menulis, Haruki. Berjanjilah.” Hidup setelah kematian ibuku adalah versi neraka yang berbeda. Tanpa keluarga dekat yang bisa merawatku, aku ditempatkan dalam sistem asuhan, berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya. Di setiap tempat, aku merasa seperti orang asing, benda yang tidak diinginkan yang dipaksa ke dalam hidup orang lain. Keputusasaan menyelimutiku seperti selimut berat yang tak bisa kutanggalkan. Depresi merayap masuk, menggerogoti jiwaku hingga tersisa hanya cangkang kosong. Aku berhenti menulis, berhenti bermimpi, berhenti berharap. Setiap bangun pagi terasa seperti hukuman, dan tidur malam hanya membawa mimpi buruk. Aku mulai memikirkan cara untuk mengakhiri semuanya, untuk bergabung dengan ibu di alam lain—di mana pun itu. Pada hari ulang tahunku yang ke-16, aku berjalan ke Sungai Tama, tempat yang sama di mana kita terhubung sekarang. Dengan surat wasiat sederhana di saku—berisi permintaan maaf dan beberapa puisi terakhir—aku siap untuk melompat. Berdiri di tepi sungai, aku menatap air yang gelap dan bergerak lambat, membayangkan kedamaian yang akan kubawa. Tapi saat aku hendak melangkah maju, sesuatu menghentikanku. Bukan seseorang, bukan suara, tapi ingatan—ingatan tentang ibuku membaca tulisanku, senyumnya yang tulus, dan janjinya bahwa aku akan menjadi penulis hebat suatu hari nanti. Janji yang kubuat padanya di bawah cahaya bulan. Air mata mengalir di wajahku saat aku mundur dari tepi sungai. Aku tak bisa melakukannya—tak bisa mengingkari janjiku pada ibu. Malam itu, untuk pertama kalinya sejak kematiannya, aku menulis lagi. Sebuah cerita tentang anak laki-laki yang kehilangan segalanya tapi menemukan alasan untuk tetap hidup. Itu adalah cerita terburuk yang pernah kutulis, penuh dengan kesalahan dan coretan, tapi itu adalah awal dari pemulihan. Tahun-tahun berikutnya tidak mudah. Aku bekerja keras untuk menyelesaikan sekolah, lalu kuliah sambil bekerja paruh waktu. Setiap malam, tidak peduli seberapa lelah, aku selalu menyisihkan waktu untuk menulis. Cerita demi cerita, puisi demi puisi, novel demi novel—kebanyakan buruk, beberapa layak, tapi semuanya bagian dari perjalananku. Pada usia 25 tahun, setelah penolakan yang tak terhitung jumlahnya, akhirnya sebuah penerbit kecil tertarik dengan novel pertamaku. Hari ketika aku menerima email konfirmasi, aku menangis seperti anak kecil. Begitu banyak tahun perjuangan, begitu banyak rasa sakit, dan akhirnya—sebuah pencapaian. Hal pertama yang ingin kulakukan adalah memberitahu ibuku. Meskipun aku tahu ia tidak lagi ada di dunia ini, aku merasa perlu mengunjungi makamnya, untuk berbagi kabar baik ini dengannya. Jadi aku mengendarai mobil ke pemakaman tempat ia dimakamkan, membawa salinan kontrak penerbit dan sebuket bunga lili putih—bunga favoritnya. Di tengah perjalanan, hujan mulai turun dengan deras. Jalanan menjadi licin, dan visibilitas menurun drastis. Aku seharusnya lebih berhati-hati, tapi pikiranku dipenuhi dengan apa yang akan kukatakan pada ibu. Dan kemudian, seorang pengendara motor tiba-tiba muncul dari tikungan, melintasi jalurku. Aku membanting setir untuk menghindarinya, roda mobilku kehilangan pegangan di jalan yang basah, dan… Sisanya seperti yang telah kuceritakan padamu. Mobilku meluncur menembus pagar pembatas dan terjun ke Sungai Tama. Aku tenggelam dalam kegelapan, dinginnya air menyeruak ke dalam mobilku, memenuhi paru-paruku. Aku masih ingat sensasi tenggelam itu—bagaimana perlawananku melawan air mulai melemah, bagaimana kesadaranku mulai menghilang di tengah kegelapan yang dingin. Tim penyelamat menemukanku beberapa menit kemudian, tapi tubuhku sudah nyaris menyerah pada dekapan dingin sungai. Yang kuingat setelahnya adalah kegelapan yang panjang, seolah tertidur tanpa mimpi. Lalu aku terbangun di tepi Sungai Tama yang sama, basah kuyup dan menggigil, tapi anehnya tak ada seorangpun di sekitarku. Tak ada tim penyelamat, tak ada ambulans, tak ada siapapun. Pada awalnya kukira mereka telah pergi setelah menyelamatkanku, tapi sesuatu terasa berbeda—cahaya, udara, bahkan suara air sungai terdengar sedikit berbeda. Dengan tubuh yang masih lemah, aku berjalan pulang, menggigil dalam pakaian basahku. Tapi ketika sampai di rumah, keanehan yang sesungguhnya mulai terungkap. Keluarga angkatku ada di sana, tapi mereka sama sekali tidak melihatku. Aku berteriak, memohon, bahkan mencoba menyentuh mereka, tapi tanganku menembus tubuh mereka seperti asap. Hari-hari pertama adalah neraka. Aku pikir aku sudah gila, atau mungkin benar-benar mati dan menjadi hantu. Aku menghabiskan waktu berkeliaran di sekitar rumahku, mencoba berkomunikasi dengan siapapun, tapi tak ada yang bisa melihatku. Sampai suatu pagi, ketika aku melihat koran di meja ruang tamu keluargaku. Tanggalnya adalah hari kemarin, tapi beritanya adalah tentang hari ini. Awalnya kukira itu kesalahan percetakan, tapi kemudian aku melihat berita tentang kecelakaanku yang akan terjadi malam ini di dunia lamaku. Selama beberapa minggu berikutnya, aku menyadari bahwa dunia tempat aku berada sekarang adalah dunia paralel, dimensi alternatif yang memiliki kemiripan tapi juga perbedaan nyata dari dunia asalku. Perlahan-lahan, aku mulai memperhatikan perbedaan-perbedaan kecil yang mengonfirmasi teori ini. Toko roti kecil yang setiap hari kulewati saat berangkat kerja di dunia lamaku, di dunia baruku ini telah menjadi toko roti besar dan terkenal. Beberapa jalan memiliki nama berbeda, beberapa bangunan berdiri di tempat yang di duniaku adalah taman atau sebaliknya. Yang lebih mengejutkan, aku menyadari bahwa di dunia ini, orang-orang yang memiliki hubungan denganku di dunia lama sebenarnya tidak ada—Namun anehnya, aku masih bisa melihat mereka, tapi dalam bentuk yang sulit dijelaskan—seperti hologram transparan yang muncul dan menghilang secara tak terduga. Ketika penampakan ini terjadi, aku tidak hanya melihat mereka di masa kini, tapi menyaksikan apa yang akan mereka lakukan di hari esok di dunia lamaku. Ini sangat membingungkan pada awalnya. Bagaimana mungkin aku bisa melihat masa depan orang-orang dari dunia yang kutinggalkan? Seperti saat aku melihatmu, Riko—walaupun kita tidak saling mengenal, aku bisa melihat bayanganmu, penampakan dirimu yang melakukan aktivitas yang akan kau lakukan di hari esok di dunia lamaku. Dan minggu-minggu berikutnya, aku mengamati dan akhirnya menyadari kebenaran yang sulit diterima: aku telah terdampar di dimensi paralel yang berjalan 24 jam lebih cepat dari dunia asalku. Di dunia ini, aku bisa melihat apa yang akan terjadi di dunia lamaku besok. Dan yang lebih aneh lagi, aku menyadari bahwa di dimensi ini, tidak ada “Haruki”—tidak ada versi diriku sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN