BAB 1: SUNGAI TAMA
Hujan musim semi mengetuk jendela dengan lembut, seperti jari-jari kecil yang menuntut perhatian. Desahannya senyap, namun terus-menerus—mengingatkan Riko pada bisikan penyesalan yang selalu menghantuinya. Di apartemen sempitnya di pinggiran Tokyo, layar laptop menjadi satu-satunya sumber cahaya. Logo perusahaan kliennya terabaikan, piksel-piksel warna kusam tak lagi mengundang gairah.
Deadline dua hari lagi.
Riko meneguk sisa teh hijau yang mendingin. Pahitnya menusuk, meresap hingga ke tenggorokan—seperti kenyataan hidup yang tak pernah memberi rasa manis. Aroma petrichor malam ini tertiup masuk melalui celah jendela, menambah kesan muram ruang kerjanya.
Ponselnya bergetar di atas meja kayu tua. Nama “Akira” menyala di layar disertai thumbnail senyum hangat yang terasa jauh.
Dia berbisik, “Angkat saja, Riko.”
Tapi tangannya beku. Getaran panggilan terhenti, meninggalkan hening yang lebih pekat.
Kilasan ingatan menyeruak—tertawa bersama Akira di Shibuya, payung mereka bersentuhan, tangan lembutnya pernah Riko genggam saat hujan air mata menetes.
Malam semakin larut. Lampu kota di kejauhan berkelip seperti bintang buatan. Riko menyalakan notifikasi pesan masuk:
[ “Riko, aku tahu kau ada di sana. Tolong balas, setidaknya beri tahu aku apakah kau baik-baik saja?” ]
“Iya. Baik-baik saja,” ia menegaskan dengan suara lembut, hampir terlindas sunyi. Kata-kata yang telah kehilangan maknanya, seperti mantra yang diulang-ulang hingga kosong.
Tanpa sadar, ia mematikan laptop tanpa menyimpan pekerjaan. Ruangan mendadak hening—meneguhkan kesendiriannya. Detik jam dinding bergaung pelan, satu-satunya irama di malam sepi.
Ia menatap sekeliling ruangan yang telah menjadi bentengnya selama berbulan-bulan—saksi bisu bagaimana ia perlahan menghilangkan dirinya dari dunia.
Tidak ada foto di dinding, tidak seperti dulu ketika ia memasang puluhan foto ibunya dan dirinya, tersenyum dari berbagai lokasi dan momen bahagia. Tidak ada tanaman, tidak seperti dulu ketika ibunya bersikeras bahwa “sedikit kehidupan hijau membuat jiwa tetap segar.” Sekarang hanya ada tumpukan buku yang tak pernah selesai dibaca, cangkir-cangkir kotor dengan lingkaran the kering di dasarnya, dan sunyi yang memekakkan telinga.
Di sudut ruangan, kardus milik ibunya masih tersegel rapat. Debu menumpuk, melindungi kenangan yang Riko tak berani ungkap. Ibunya meninggal enam bulan lalu—kanker paru stadium akhir. Penyakit yang membuat Ibunya meninggal dan membuat usaha keras yang selama ini dia perjuangkan menjadi sia-sia. Riko ingat aroma antiseptik rumah sakit, dengungan mesin medis, dan tangan dingin ibunya yang terakhir kali ia genggam.
“Maaf kalau selama ini Ibu sangat merepotkanmu, Hiduplah dengan baik, Riko,” desah ibunya sebelum menutup mata untuk selamanya.
Sekarang janji itu berujung beban berat.
Ia berdiri, melangkah ke jendela. Hening dingin menyelimuti. Di bawah sana, Tokyo terus berdenyut—payung warna-warni menari, lampu jalan memantulkan riak genangan.
“Bagaimana bisa hidup dengan baik?” gumamnya pada kaca berembun, uap napasnya mengaburkan wajah pucat.
Bertahun-tahun ia menunda mimpi dan ambisinya sendiri demi merawat ibunya yang sakit-sakitan. Hentakan sepatu saat berlari di koridor rumah sakit, tremor tangannya saat menyerahkan kartu asuransi, dan senyum palsu yang selalu ia pasang demi ibunya—semua masih terpatri jelas dalam ingatannya. Bertahun-tahun ia bekerja keras membiayai operasi demi operasi, pengobatan demi pengobatan, mengorbankan waktu, energi, dan masa mudanya—hanya untuk menemukan fakta bahwa semua usahanya sia-sia. Takdir telah menertawakannya, menunjukkan betapa rapuhnya kendali manusia atas kehidupan.
Detak jantungnya terasa berat saat mengingat kenangan itu. Yang lebih menyakitkan, ketika Riko akhirnya memutuskan untuk menerima tawaran beasiswa S2 di luar negeri—satu-satunya kesempatan yang ia miliki untuk membangun masa depan yang lebih baik setelah bertahun-tahun tertunda—kanker ibunya kambuh. Lebih ganas dari sebelumnya.
Siang itu, ruangan dokter terasa sesak meski hanya berisi mereka bertiga. Dinding-dinding putih, aroma steril, dan denging samar pendingin udara membuat segalanya terasa tidak nyata.
“Ibumu hanya punya enam bulan lagi,” kata dokter sambil menyerahkan dokumen beasiswa. “Tapi ini kesempatanmu, Riko-san.”
Pilihan terpampang jelas: merawat ibunya atau menatap masa depan. Riko tak sempat menimbang—ia memilih tinggal.
Tangan ibunya gemetar saat memohon:
“Pergilah, Riko. Jangan tunda impianmu demi aku.”
“Nanti ada kesempatan lain, Bu,” Riko menipu diri sendiri, menahan air mata.
Kini, impian itu terkubur bersama jasad ibunya. Riko menemukan dirinya kosong. Dua puluh sembilan tahun, tanpa pencapaian berarti, tanpa hubungan yang bertahan, dan tanpa tujuan hidup. Sementara teman-teman seangkatannya telah membangun karir cemerlang, berkeluarga, atau menjelajahi dunia, ia hanya seorang freelancer dengan apartemen sempit dan rekening bank yang hampir kosong.
Alarm antidepresan memecah sunyi—botol plastik oranye teronggok di atas nakas. Label putih kontras. Beberapa hari terakhir, ia berhenti menelan pil itu. Untuk apa? Obat hanya meredupkan, tak pernah menghapus rasa sakit.
Hujan mereda, meninggalkan melodi tetesan halus. Riko menghela napas, lalu meraih sweater wol biru tua warisan ibunya. Teksturnya lembut, membawa kehangatan lamat-lamat. Dengan sepatu kets usang dan payung biru muda, ia melangkah keluar.
Trotoar basah menuntunnya menyusuri jalan sunyi. Etalase toko memantulkan lampu warna-warni—barang-barang baru yang dulu ia idamkan kini terasa asing. Di persimpangan, sepasang kekasih dengan tawa riang menyeberang, payung mereka rapatkan di atas kepala. Riko menahan perih iri.
Malam semakin larut ketika langkahnya membawanya ke arah Sungai Tama, tempat ia dan ibunya sering menghabiskan waktu di musim semi untuk melihat sakura bermekaran. Suara gemericik air menyambutnya dari kejauhan, memanggilnya seperti nyanyian siren. Bahkan di malam musim gugur seperti ini, sungai itu memiliki keindahan tersendiri. Air yang mengalir tenang memantulkan cahaya lampu dari gedung-gedung di sekitarnya, menciptakan lukisan abstrak yang bergerak-gerak, seperti mimpi-mimpi Riko yang kini terhanyut.
Ia duduk di bangku taman yang menghadap sungai—bangku kayu tua dengan ukiran nama-nama yang telah memudar—tempat favorit ibunya dulu. Kayu basah terasa dingin menembus celananya, tapi Riko tidak peduli.
“Aku pulang, Ibu,” bisiknya pada udara malam, suaranya tertelan oleh desau angin.
Ia ingat bagaimana mereka sering berbagi makan siang di sini, kotak bento sederhana dengan onigiri dan tamagoyaki buatan ibunya. Aroma nasi hangat dan telur manis yang dibungkus nori, kehangatan matahari di wajah mereka, dan tawa ringan yang terdengar begitu nyata di telinganya. Mereka akan berbicara tentang mimpi-mimpi yang kini hanya tinggal debu.
“Suatu hari nanti, kau akan punya studio desainmu sendiri, Riko,” kata ibunya dulu, matanya berbinar bangga. “Dan aku akan duduk di sana, menjadi model untuk postermu.”
Kilasan memori itu terasa menyakitkan sekarang. Sungai Tama selalu menjadi tempat menenangkan baginya. Di sini, saat musim semi tahun kesembilan belas hidupnya, ia menangis ketika ditolak masuk universitas impiannya. Air mata asin yang bercampur dengan aroma bunga sakura dan roti melon yang dibelikan ibunya untuk menghiburnya. Ibunya duduk di sampingnya, menggenggam tangannya dan berkata, “Air mata tak apa-apa, Riko. Biarkan mengalir seperti sungai ini, tapi ingat bahwa sungai selalu berakhir di laut yang luas.”
Di sini juga ia merayakan ketika akhirnya mendapat klien pertamanya sebagai desainer grafis, berbagi sake dengan ibunya sambil menatap matahari terbenam. Cairan bening yang menghangatkan tenggorokan, rona merah di pipi ibunya yang tidak terbiasa minum, dan janji-janji masa depan yang terasa begitu dekat untuk diraih. Dan di sini pulalah ia dan ibunya menghabiskan hari terakhir sebelum ibunya terbaring di rumah sakit untuk selamanya.
“Sungai ini menyimpan terlalu banyak kenangan,” pikir Riko sambil mengeluarkan amplop surat perpisahan untuk Akira. Pena masih bau tinta basah. Di bawah payung biru, amplop itu ia letakkan dan di lipat rapi di ujung bangku. Sebuah pesan terakhir dan sebuah hadiah dari ibunya—kombinasi yang tepat.
Riko bangkit, mengambil beberapa langkah menuju tepi sungai. Ia melepas sepatu, menyusunnya rapi—kebiasaan kecil yang ibunya tanamkan.
Air terasa dingin saat ia melangkah masuk, menusuk kulitnya seperti jarum-jarum es. Seluruh tubuhnya menggigil, namun ada kepuasan aneh dalam rasa sakit ini. Tidak ada orang di sekitar pada jam selarut ini, hanya lampu-lampu taman yang berpendar lemah dan suara samar kendaraan dari kejauhan. Sesekali terdengar koak burung gagak yang terjaga, seolah menjadi saksi keputusan finalnya. Riko terus berjalan, membiarkan air memeluk tubuhnya sedikit demi sedikit. Hingga mata kaki. Hingga lutut. Hingga pinggang.
Air dingin meresap ke dalam pakaiannya, membuatnya berat, seperti beban hidup yang selama ini ia tanggung. Anehnya, Riko merasa tenang. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa damai. Di kepalanya terlintas wajah ibunya, wajah Akira, dan semua orang yang pernah hadir dalam hidupnya. Mereka muncul seperti film yang diputar cepat, melebur dalam satu kesadaran bahwa ia akan segera bebas.
“Maafkan aku, Ibu. Aku terlalu lelah untuk hidup dengan baik. Maafkan aku, Akira, karena tak pernah lagi menanggapimu.”
“Tidak apa-apa jika aku pergi sekarang. Tidak ada yang akan merindukan seorang pengecut sepertiku.”
Saat air mencapai dadanya, Riko menutup mata. Napasnya mulai tersengal karena dingin yang menusuk, tapi ia tak peduli. Detak jantungnya melambat, seperti jam yang kehabisan baterai. Hanya butuh beberapa langkah lagi dan semua rasa sakit akan berakhir. Ia mulai membayangkan ketenangan abadi yang menunggunya di kedalaman sungai yang gelap.
Tapi saat ia hendak mengambil langkah terakhir. Tiba-tiba, sesuatu berkilau di dekat kakinya—botol kaca mengapung. Ia meraihnya dengan tangan gemetar, suara tetesan air mengiringi. Ada kertas di dalamnya bertuliskan:
[ Untuk Riko ]
Jantungnya berdegup kencang, seperti genderang yang memecah keheningan malam. Siapa? Bagaimana mungkin? Dengan tangan gemetar yang nyaris menjatuhkan botol itu kembali ke air, Riko membuka botol kaca tersebut, mengeluarkan selembar kertas yang digulung rapi.
Di bawah cahaya temaram lampu taman, ia membaca tulisan tangan yang asing namun entah mengapa terasa familiar—seperti kenangan dari kehidupan yang belum pernah ia jalani.
Hanya beberapa kalimat yang tertulis di sana, namun cukup untuk menghentikan dunianya, menghentikan niatnya, dan mungkin, tanpa ia sadari, menghentikan perpisahannya dengan kehidupan.