DEBARAN JANTUNG ASTRID

1284 Kata
Beni baru saja keluar dari cafe yang sudah gelap itu. Seperti biasa Beni jadi orang pagi terakhir yang keluar karna dia harus mengecek keseluruhan ruangan karna di takutkan masih ada colokan yang belum di lepas yang bisa mengakibatkan kebakaran. Setelah semua sudah beres Beni pun berjalan ke arah parkiran karyawan. "Ihhh.. ini kenapa sih?"ucap seorang wanita yang sedang berusaha menyalakan motornya. "Astrid? Kenapa motornya strid?"tanya Beni yang menyadari kalau wanita itu Astrid salah satu karyawannya. "Gak tau ini pak. Tadi pas berangkat gak kenapa-kenapa eh sekarang gak bisa." "Oh ya udah kalai begitu kamu mau bareng aku?" "Gak usah pak, makasih. Mungkin nanti aku nyari gojek aja." "Ini jam 12 malem strid. Gak baik kalai kamu pulang malem-malem berdua sama gojek. Udah aku anterin aja ya." "Tapi pak nanti motor saya bagaimana.." "Taruh sini aja nanti aku bilang ke satpam untuk jaga motor kamu juga." "Tapi pak..." Belum sempat Astrid menjawab Beni sudah menarik tangannya untuk ikut dia ke mobilnya. "Udah ayo masuk.." "Makasih ya pak." Astrid pun masuk ke mobil Beni. Mereka pun keluar dari parkiran cafe. Didalam mobil baik Astrid maupun Beni hanya terdiam. Mereka tidak tau bagaimana harus memulai pembicaraan. Hanya terdengar music dari mobil tersebut. "Aku baru tau kalau kamu sama Hana masih bersaudara"ucap Beni memecah keheningan. Astrid sontak menoleh kearah Beni. "Sam yang cerita. Tapi hanya garis besarnya aja kalau kamu sama Hana bersaudara."ucap Beni "Oohh..iya pak." "Gak usah heran kalau Sam cerita sama aku. Sam dan aku sudah kenal dari kita SMP. Oh iya aku, Sam dan Hana itu satu SMA. Jadi aku jelas kenal sama Hana." "Oh aku baru tau kalau pak Sam dan Hana satu SMA." "Iya,,mereka dulu sempat berpacaran saat SMA tapi terus putus. Dan balik lagi seperti yang kamu tau." "Iya aku di ceritakan sama mama kalau Hana dan Sam menikah karna Hana hamil duluan." "Iya itu juga kecelakaan. Sam gak sengaja minum minuman yang ada obatnya jadinya ya seperti itu lah kejadiannya. Tapi aku salut sama Sam yang mau bertanggung jawab atas semua perbuatannya. Aku sih berharapnya mereka bisa jadi keluarga yang sakinah, mawadah,warohmah."ucap Beni panjang lebar "Amin.. Semoga saja ya pak." "Tapi kenapa kemarin pas nikahan Hana kamu gak datang" "Sebenarnya aku sama Hana itu satu papa tapi beda ibu. Mamaku istri ke dua papanya Hana. Jadi kalau misal kemarin aku sama mama datang pasti Hana gak nyaman. Biarlah hanya papa saja yang datang untuk menjalankan tugasnya sebagai orang tua Hana." "Ohh begitu.." "Selama ini aku gak pernah ketemu langsung dengan Hana. Baru ketemu tempo hari yang Hana datang ke rumah meminta ijin sama papa untuk menikah." "Oh iya...Emang dulu-dulu kalian gak pernah ketemu?" "Enggak. Dulu mama selalu melarang aku menemui keluarga Hana. Dan Hana juga baru tau tentang mamaku waktu SMA kelas satu. Waktu itu mama sedang hamil adik aku papa berniat untuk meninggalkan mama Hana dan hidup sama aku dan mama. Awalnya aku merasa hanya aku yang merasa tersakiti tapi saat mama Hana meninggal aku baru tau kalau Hana juga merasa sakit seperti aku. Sakit karna dikhianati oleh papa kami. Sakit karna keegoisan orang dewasa. Karna itu baik aku maupun mama gak berani untuk menemui Hana. Dan semenjak itu juga papaku sering sakit-sakitan karna menyesali semua perbuatannya baik kepada mamaku, mama Hana dan kami anak-anaknya."cerita Astrid yang mengenang pahitnya keluarga mereka. Beni hanya terdiam mendengar cerita Astrid. Dia tidak menyangka kehidupan Hana maupun Astrid harus complicated. "Maaf ya pak. Saya jadi ngomong panjang lebar sama bapak." "Gak apa-apa kok strid. Kamu bisa ceritakan apapun sama aku." Astrid hanya tersenyum menanggapi perkataan Beni. Entahlah Astrid merasa nyaman menceritakan semua pada Beni. "Dulu aku pernah menyukai Hana saat SMA." "Oh iya, tapi bukannya kata bapak Hana pacarnya pak Sam." "Iya. Dulu itu sebelum Sam pacaran sama Hana aku sempat menyukai Hana dan berniat menembaknya. Tapi kalah start sama Sam.hehehe.." "Pak Sam tau dulu bapak pernah suka sama Hana?" "Ya gak lah. Hanya satu yang tau aku menyukai Hana. Yaitu Vina sahabatnya Hana. Dan sekarang kamu juga tau aku pernah menyukai Hana." "Wah maaf ya pak. Karna saya bapak jadi bilang rahasia bapak sama saya." "Gak apa-apa kok. Lagian sekarang aku udah gak ada rasa sama Hana. Aku udah senang lihat Hana bisa kembali sama Sam. Karna aku tau sebenarnya Sam juga masih menyukai Hana. Hanya saja Sam merasa bersalah karna dulu pernah menyakiti Hana. Aku gak nyangka kalau kejadian saat reuni justru sekarang membawa mereka menjadi suami istri." "Kalau boleh aku tau apa yang kalian sukai dari Hana?"tanya Astri penasaran. Karna selama ini dia tidak tau kalau Hana punya pesona yang bisa buat dua orang tampan ini menyukai Hana. "Hana itu cantik, baik, dia juga pendiam, pintar dan aku suka saat dia tersenyum. Mungkin karna dulu Hana jarang bergaul sama orang jadinya banyak cowok yang penasaran sama dia." Astrid yang mendengar jawaban Beni hanya bisa mengangguk-anguk. "Tapi kamu juga cantik kok strid. Kami juga baik." puji Beni pada Astrid. "Bapak bisa saja."Astrid tersenyum mendengar pujian Beni. Pipinya memanas karna menahan malu. Beni pun terpesona melihat senyuman Astrid. 'Cantik juga Astrid kalau senyum gini'batin Beni. "Masih jauh rumahnya strid?"tanya Beni mengalihkan pembicaraan. Jujur saja saat itu jantung Beni berdegup kencang. Jarang sekali dia duduk berduaan di dalam mobil dengan seorang wanita. Meskipun Beni tidak seterkenal Sam tapi cukup banyak wanita yang menyukainya. Tapi Beni cukup selektif memilih pacar sehingga bisa dihitung jari dia berpacaran. "Belokan depan itu pak. Nanti ada gang berhenti di situ saja pak. Rumah saya masuk Gang." "Oh oke.." Beni pun kembali fokus pada jalanan. Sampai akhirnya mobil itu berhenti di depan Gang rumah Astrid. Astrid yang jarang sekali naik mobil agak kesusahan membuka seatbetnya. "Bisa Strid?"tanya Beni yang melihat Astrid kesusahan membuka sabuk pengamannya. "Sini aku bantu." Beni pun mendekatkan badanya di depan Astrid. Astrid yang kaget karna tubuhnya dan Beni cukup dekat hanya bisa terdiam. Jantungnya berdegup kencang. Cetek... "Akhirnya bisa juga."ucap Beni menoleh ke wajah Astrid. Wajah mereka sangat dekat hingga baik Beni dan Astrid bisa merasakan hembusan nafas mereka. Beni yang melihat wajah Astrid yang pucat pun tersenyum. Ingin rasanya dia mengecup bibir tipis Astrid. Tapi dia tau dia bukan siapa-siapa. Beni pun kembali ke posisinya semula. Astrid yang melihat itu langsung kembali menghembuskan nafasnya cepat-cepat dan mencoba menetralkan kembali debaran jantungnya. Baru pertama kali ini Astrid merasa intim dengan laki-laki. Meskipun Astrid sudah beberapa kali berpacaran tapi baru kali ini wajahnya sedekat itu dengan laki-laki. Selama ini gaya pacaran Astrid hanya sekedar pegangan tangan dan pelukan. Ciuman hanya cium pipi tidak pernah lebih dari itu. Astrid selalu menjaga pergaulannya agar tidak kebablasan seperti mamanya. Dia tidak ingin suatu saat nanti menyesali perbuatannya. Apa yang dialami mamanya yang hamil diluar pernikahan dan harus menjadi istri kedua papanya sudah menjadi pelajaran berharga untuknya agar lebih berhati-hati dalam berpacaran. "Ma..makasih ya pak."ucap Astrid gugup. "Iya sama-sama." "Kalau begitu saya permisi dulu ya pak."pamit Astrid. Astrid pun keluar dari mobil itu dan berjalan masuk ke gang rumahnya. Beni tidak langsung pergi dia ingin menetralkan debaran jantungnya karna kejadian tadi. "Untung aja aku bisa menahan diri. Kalau gak wah bisa gawat."ucap Beni. Beni akui wajah Astrid sangat cantik hampir mirip serupa dengan kecantikan Hana. Bahkan yang Beni tau beberapa karyawan cowok banyak yang naksir Astrid. Astrid juga orangnya cukup humble sehingga banyak orang yang nyaman ngobrol sama dia. Setelah debaran jantungnya sudah kembali normal. Beni pun melanjutkan kembali mobilnya pulang ke rumah dengan diiringi lagu yang keluar dari musik di mobilnya. Tiba-tiba cinta datang kepadaku Saat kumulai mencari cinta Tiba-tiba cinta datang kepadaku Kuharap dia rasakan yang sama Ada sesuatu saat kumelihat dia Ada getaran membuatku rindu Senang hatiku saat kudengar suaranya Ingin selalu ada di dekatnya Saat ku sendiri kubayangkan dia Datang padaku dengan cinta Di keramaian kumerasa sepi Saat tak ada dirinya - Maudy Ayunda (Tiba-tiba cinta datang)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN