CAFE

1160 Kata
Baru saja Sam turun dari mobil banyak sekali notifikasi di hanphonenya. Sam berjalan masuk ke dalam cafe sambil mengecek satu persatu pesan yang masuk di grup whatsappnya yang heboh tentang kejadian tadi di parkiran kampus Hana. Sam pun menyimpan kembali handphonenya dan menuju kedalam kantor Beni. "Ben,," "Weisttt,, pengantin baru udah datang lu?"ucap Beni. Mereka pun duduk di sofa kantor itu. "Bisa aja lu." "Udah go publik nih? Heboh banget di grup WhatsApp." "Iya itu. Gak nyangka aku seterkenal itu.hahaha.." "Ge er lu. "Hahaha...." "Mau minum apa?"tanya Beni. "Kayak biasanya aja." "Oke tunggu ya." Beni pun keluar dari ruangan untuk meminta karyawan dapur membuatkan minuman untuk mereka. Siang itu suasana di cafe cukup ramai dengan pengunjung. Biasanya tambah malam cafe itu akan semakin ramai. Cafe itu banyak di datangi oleh para muda-mudi karna tempatnya yang cozy dan juga instagramable. Cafe itu terdiri dari beberapa bagian. Di bagian tengah terdapat taman kolam air mancur. Disebelah kiri cafe terdapat ruangan yang cukup luas dengan dilengkapi AC dan meja yang besar biasanya ruangan ini di gunakan orang-orang untuk meeting. Disebelah kanan cafe ada pentas yang digunakan untuk live music tiap malam minggu. Live music ini biasanya di datangin oleh band indie yang cukup terkenal sehingga tiap malam minggu cafe itu akan di padati oleh pengunjung. Sedangkan di bagian belakang terdapat musholah dan kamar mandi pengunjung. Di lantai dua hanya ada 2 ruangan yaitu indoor dan outdoor. Untuk menunya mereka ada banyak karna mengusung masakan western dan nusantara. Beni masuk keruangan dengan membawa dua Ice coffe untuk Sam dan dirinya. "Sorry lama.." "Ramai juga hari ini" "Alhamdullilah... nih minumannya." "Thanks" "Gimana malam pertamanya? udah berapa ronde?"goda Beni. "Uhukkk,,, malam pertama apaan."ucap Sam tersedak dengan pertanyaan Beni. "Hahahaha,, Gak usah kaget gitu kali Sam." "Boro-boro malam pertama bahkan sampai sekarang pegangan tangan aja bisa di hitung. Kadang kalau gak aku genggam erat pasti langsung di lepas sama dia." "Hahaha... kok bisa gitu? Wah kok jadi mati kutu gitu sama Hana." "Dia bilangnya sih masih gak nyaman cuma kayaknya dia masih trauma. Aku juga bingung bagaimana ngilangin traumanya." "Pelan-pelan aja. Gak usab buru-buru. Yang Hana butuhkan sekarang kepercayaan." "Iya aku tau. Makanya aku gak mau paksa dia. Aku akan tunggu sampai dia siap meskipun tiap malem harus mandi malem." "Hahaha... itu hukuman buat kamu Sam." "Iya aku juga mikirnya gitu. Mudah-mudahan aja nunggunya gak lama. Secara udah sah suami istri tiap hari ketemu ya pasti pengen lah." "Hahaha... jadi pengen kayak lu." "Pengen hamilin anak orang?"ucap Sam sambil tersenyum jail. "Enak aja,, nikah dulu lah baru mail." "Ya sana cari pacar. Ngejomblo aja lu." "Yeee... kamu pikir cari cewek gampang apa. Aku tuh cari cewek yang baik dan pastinya sayang sama aku dan keluargaku." "Sama Vina aja kan enak tuh kalau pas kencan bisa double date." "Sialan lu. Vina mah udah punya pacar Sam. Dan lagi aku tuh kalau sama temen susah buat sukanya." Tiba-tiba terdengar ketukan dari luar pintu. Tok tok tok "Permisi pak." ucap perempuan itu yang tidak lain adalah Astrid saudara Hana "Oh iya strid. Masuk." "Permisi ya pak." Astrid pun masuk ke ruangan tersebut. Astrid cukup kaget melihat Sam juga berada di ruangan itu. "Hai strid." "Iya pak Sam." Beni sedikit kebingungan dengan situasi tersebut. Karna sangat jarang Sam kenal dengan karyawannya. Karma selama ini yang mengurus semua keperluan Cafe hanya Beni, Sam datang hanya seminggu sekali untuk liad laporan mingguan. "Katanya bapak panggil saya? Ada apa ya pak?" "Oh iya kemaren saya di info katanya ayah kamu sakit ya?"tanya Beni. "Papa sakit strid?"tanya Sam kaget. "Iya pak. Tapi alhamdullilah sekarang sudah lebih baik." "Papa sakit apa?" "Cuma kecapekan aja kok Sam. Kemarin rencana mau kerja tapi adik saya tidak ada yang jaga karna mama jagain papa saya pak jadinya saya ijin gak masuk." "Terus sekarang kondisi papa gimana?" "Alhamdullilah sudah pulang ke rumah kok Sam. Cuma tinggal recovery saja." "Ya udah nanti aku akan ajak Hana jenguk papa." "Gak usah Sam. Aku gak mau ngerepotin kamu sama Hana." "Gak repot kok. Hana juga berhak tau kondisi papanya." "Iya. Makasih ya. Oh iya selamat ya atas pernikahannya. Semoga jadi keluarga yang Sakinah, Mawaddah,Warohmah. Amin" ucap Astrid. "Makasih ya doanya." "Maaf aku sama mama gak bisa datang. Lagian juga kalau aku sama mama datang Hana pasti gak nyaman." "Gak apa-apa kok." "Kalau gitu saya permisi dulu ya pak." Setelah Astrid pergi, Beni langsung meminta penjelasan dari Sam. "Astrid itu saudaranya Hana. Satu ayah tapi beda ibu." "Ohh gitu. Baru tau aku." "Aku juga baru tau waktu aku sama Hana ke rumah papanya untuk minta restu." "Oh.. tapi bukanya Hana dan Astrid sepantaran ya?" "Ya begitulah. Ya kamu tau sendiri lah."Sam tidak mungkin menjelaskan semua pada sahabatnya. Biarlah masalah keluarga istrinya hanya dia ya tau. Beni yang mendengarnya mengerti kalau Sam tidak ingin memaparkan masalah internal keluarga istrinya itu hanya bisa diam dan mengangguk mengerti. "Ngomong-ngomong Hana mana? Gak kamu aja ke sini?"tanya Beni mengalihkan obrolan mereka. "Masih di kampus nanti aku jemput kalau sudah selesai kuliah." "Hana belum cuti kuliahnya? Emng udah berapa bulan kandungannya?" "Entahlah aku belum tanya kapan dia mau cuti kuliah. Gak ngerti aku udah berapa bulan terakhir yang sebelum nikah itu kata dokter udah jalan 10minggu." "Gak periksa lagi?" "Mungkin nanti habisnya aku pindah ke apartemen kayaknya." "Emang kalian mau pindah ke apartemen kamu? Aku pikir kamu mau tinggal terus di rumah Hana." "Ya gak lah. Kamu tau sendiri aku siapin apartemen itu khusus aku tepati sama istri dan anak-anak aku. Jadi pastilah aku tinggal di apartemen." "Oke dah kapan-kapan aku main kesana. Kabari kalai udah pindahan." "Oke. Oiya mumpung kamu disini sekalian cek laporan mingguan ini ya."Beni pun berdiri dan mengambil berkas yang ada di mejanya dan menyerahkan berkas tersebut kepada Sam. "Aku rasa kita harus menambah pesanan ke supplier deh soalnya untuk menu nusantara kadang kita kehabisan stok. Terus untuk supplier daging mereka naikkan harga rencana sih mau cari supplier lain tapi takutnya lama dan menu western nya jadi kosong. Terus untuk petani buah strawberry nya kosong terus." "Oke untuk yang menu nusantara kita tambahkan lagi aja pesanan terus untuk yang supplier daging usahakan nanti aku coba cari di tempat lain tapi kalau sudah mentok gak ada gak apa-apa kita pakai yang lama terus untuk strawberry nya coba aku nanti hubungi temanku sepertinya yang jualan buah." "Oke dah. Untuk pendapatan kita alhamdullilah nya tiap minggunya selalu rame apalagi tiap malam minggu selalu dua kali lipat dari biasanya." "Oke dah. Sepertinya rencana kamu yang pakai band indie sukses besar ya Ben. Tapi usahakan berikan kenyamanan kepada band indie saat mereka manggung ya Ben. Karna aku gak mau mereka merasa tidak nyaman disini jadinya mereka gak mau manggung lagi. Kan kita juga yang repot bisa-bisa pendapatan kita jadinya menurun." "Oke kamu tenang saja." "Oke dah aku percayakan sama kamu Ben. Lapar nih makan yuk." "Oke. Kebetulan ada menu baru dari irfan chef kita. Ayam woku kalau gak salah." "Sepertinya enak. Ayo kita makan." Mereka berdua pun keluar ruangan dan duduk di salah satu meja pengunjung sembari melihat keadaan cafe.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN