Rieki tengah mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja. Memperhatikan suasana kelas yang menurutnya benar-benar ribut. Jam pertama tak ada guru menyebabkan pasa siswa dan siswi saling lempar gumpalan kertas dan bergosip ria. Kalau semua guru tak sedang rapat, saat ini kelas pasti sunyi senyap seperti kuburan.
Satoki yang merupakan murid beasiswa seperti Selena tentunya sedang sibuk belajar untuk persiapan ujian yang sebentar lagi akan datang. Sebulan lagi, lebih tepatnya. Jika ingin mempertahankan dana beasiswa, maka nilai mereka harus di atas 85 untuk setiap mata pelajaran. Menyusahkan memang. Selena bahkan sudah tidak bisa diganggu gugat. Hanya belajar yang dilakukan setiap harinya. Mengejar ketinggalan selama home schooling. Kei? Dia mau ujian atau tidak, pasti belajar. Dia satu bangku dengan Satoki.
Matanya melirik seorang pemuda berambut pirang sama persis dengan adik kembarnya, Claudia. Tiap kali mata mereka bertemu--seperti saat ini, Justin pasti akan tersenyum ramah. Rieki ingat sekali bahwa dia adalah orang yang ditemuinya saat festival lalu. Pemuda yang ternyata adalah teman masa kecil Selena.
Otaknya masih bekerja dengan keras, memikirkan kenyataan tentang persahabatan mereka. Karena setau Rieki, saudara Claudia yang tak lain adalah Justin, tinggal dengan neneknya di Inggris sejak kecil. Apa jangan-jangan, sebelum kecelakaan itu Selena tinggal di Inggris? Tidak, tidak, tidak. Kakek tak pernah bilang kalau Selena pernah tinggal di luar negeri.
"Rieki," suara gadis yang tak asing membuatnya mendongak.
"Kenapa, Clau?" Mau apa gadis ini di kelas lain?
"Aku cuman pengen ketemu kamu, kok," mata Rieki berputar malas mendengar ocehan Claudia. Dia melirik sejenak, memperhatikan tingkahnya yang mengusir teman sebangku Rieki. Like a boss.
"Mentang-mentang guru lagi rapat, lo gak seharusnya keluar kelas Clau," desah Rieki.
"Aku cuma pengen liat, calon suamiku ini temenan baik gak sama kakak iparnya."
"Clau!" Rieki mendesis, membuat beberapa anak menoleh kaget. "Udah gue bilang ribuan kali, jangan bersikap seenaknya."
"Bersikap seenaknya gimana? Orangtua kita janji mau nikahin kita!" Claudia menyentak, membuat dirinya menjadi pusat perhatian. Justin yang sebelumnya mendengarkan musik lantas menoleh. Mendapati adiknya berdiri di depan Rieki membuat dia menggelengkan kepala. Bangkit dari posisi duduk dan berjalan mendekati Claudia yang menatap Rieki dengan sorot penuh amarah.
"Clau," Justin menarik adiknya mendekat. "Keluar, yuk."
"Gak mau!" Ia menjerit dan mulai melayangkan pukulan serabutan.
Justin menangkap tangan adiknya dan menatap dia dalam. "Ayolah, keluar yuk. Gak enak tuh diliatin sama anak-anak."
Keras kepala Claudia keluar. Dia menggeleng keras dengan mata yang masih menatap Rieki tajam. Mau tak mau Justin menghela napas. Meskipun sikap adiknya sangat berlebihan, tetapi dia tidak akan tega untuk menyeretnya paksa keluar kelas.
"Perjanjian saat kita kecil itu cuma akal-akalan orangtua kita biar lo berenti nangis," Rieki menghela napas. Dia sama sekali tidak mau menatap Claudia. "Lo tau sendiri kan, gue ini udah punya tunangan, sejak kecil."
"Perjanjian itu terjadi sebelum lo ketemu sama dia."
"Clau." Rahang Rieki mengeras bersamaan dengan tangannya yang terkepal, menahan kesal. Wajahnya mendongak, menatap Claudia lurus-lurus. "Jangan ganggu gue lagi. Kenyataannya, gue sama sekali gak ada perasaan lebih ke elo."
Mata Claudia memerah. Selama ini, meskipun ia sering ditolak mentah-mentah oleh Rieki, hatinya tak pernah terasa sesakit ini. Namun kenapa sekarang terasa sangat pedih? Air mata itu tiba-tiba saja meluncur dari mata birunya yang cantik. Turun menyusuri pipinya yang mulus.
Rieki sempat terkesiap karena melihat Claudia menangis. Biasanya, ia selalu bersikap tenang lalu berbalik arah, memperlihatkan punggungnya pada Rieki. Kalau hari sebelumnya tak pernah ada adegan mengejar Claudia yang telah ditolak Rieki, kini ada Justin yang mengejarnya.
"Gue baru pertama kali liat Claudia nangis."
"Mungkin kali ini lo udah keterlaluan."
Ucapan Kei tidak terlalu digubris Rieki. Namun yang diucapkan Satoki menyentil hatinya. Keterlaluan bagaimana? Dia hanya mengucapkan kenyataan. Sudah bukan rahasia lagi jika dari kecil Claudia sudah menyukainya. Perjanjian itu memang terjadi beberapa hari sebelum pertemuan pertamanya dengan Selena. Saat mereka bermain di taman, Claudia menangis karena wajahnya terluka. Dia bilang kalau takkan ada pemuda yang ingin menikahinya. Oleh karena itu, orangtuanya mengatakan bahwa Rieki akan menikahinya saat dewasa nanti.
***
Selena mendengarnya. Ada anak baru di kelas sebelas, tepat di kelas Rieki. Dan menurut sumber yang ia percayai, Kei-tentunya Selena mendengarnya dari Audrey-anak baru itu adalah saudara kembar Claudia. Kejutan tak terduga. Claudia memiliki kembaran. Apakah sikap mereka sama-sama menyebalkan? Tiba-tiba saja ia merasa penasaran dengan wajah pemuda itu.
Dan karena alasan itulah, kini mereka bertiga-Selena, Audrey, dan Lily-melangkahkan kakinya di lantai dua. Mata mereka memperhatikan sekitar dengan awas. Tiba mereka sampai di tiga kelas sebelum kelas anak baru itu berada, Lily berhenti.
"Gue mau ke toilet dulu bentar," ujarnya pelan.
"Harus sekarang ya?" Audrey mengeluh. Selena ikut mengerucutkan bibir. Sedangkan yang ditatap sebal hanya menggeleng lemah.
"Kebelet. Suer deh. Kalian duluan aja mending," Lily menoleh ke kanan dan kiri, mencari toilet. "Gue di toilet kelas sebelas aja dah. Nanti gue nyusul, oke?" dia bersiap melarikan diri saat matanya menangkap papan bertuliskan 'Toilet'. "Bye!"
Sepeninggal Lily, kedua sahabat itu geleng-geleng kepala. Kenapa tak sejak pagi saja dia ke kamar mandi? Ah, itulah yang dinamakan panggilan alam. Kapan pun, di mana pun. Baru saja Selena akan berbalik arah dan mulai melangkah, pundaknya ditabrak seseorang hingga ia hampir saja terjatuh kalau-kalau Audrey tidak menahan tubuhnya.
"Apa sih, di lorong kok lari-lari."
Selena menggerutu, namun tetap menoleh. Penasaran dengan orang yang menabraknya barusan. Dan betapa terkejutnya kalau itu adalah Claudia. Dengan jelas Selena melihat gadis itu berlari dengan deraian air mata, masuk ke dalam toilet di mana Lily berada.
"Claudia kenapa?"
"Emangnya urusan kita?" Audrey mengedikkan bahu tak peduli.
"Iya sih ..., tapi," tenggorokannya seperti tertahan oleh bongkahan batu besar, suaranya tertahan. "Aku kasian liat dia," dia menoleh, menatap Audrey yang bingung karena Selena seakan-akan berteman baik dengan Claudia. "Mungkin kita bisa bantu?"
"Apaan sih?" Audrey memutar tubuh Selena dengan cepat. "Kita tuh mau ke kelas pacar. Mau liat kembaran Claudia. Bukannya nyamperin dia yang menangis entah-karena-apa. Dan gue gak mau ya, kalo lo bersikap baik ke dia. Dia udah jahat sama lo!"
"Ta-tapi Rey ..."
"Gak ada tapi-tapian! Gue gak mau dibantah," tegas Audrey.
Selena menurut. Entahlah, melihat Claudia yang menangis seperti itu membuat dia tertarik. Bukan rasa tertarik seperti seorang perempuan ke laki-laki. Hanya saja ada perasaan ingin menenangkan. Apalagi Sissy dan Maya yang biasanya berada di sisi Claudia kini tak ada. Mereka jarang terlihat bersama akhir-akhir ini.
"Ada cowok cakep!" Audrey yang sepertinya kesenangan membuat Selena menoleh.
Dari kejauhan ia terlihat sedang mencari sesuatu-atau mungkin seseorang? Lalu ketika matanya menangkap kehadiran Selena, dia terdiam di tempat. Gadis itu pun, ketika melihat wajahnya langsung teringat pemuda bertopeng yang memberi informasi bahwa Claudia adalah tunangan Rieki.
Saat ini yang Selena pikiran adalah, dia seorang pembohong. Apa dia bersekongkol dengan Claudia? Langkah mereka semakin lebar namun tak cepat. Mata mereka saling beradu, tanpa sadar bahwa Audrey sudah memandangi dengan sorot penasaran. Apalagi ketika jarak mereka menipis dan saling melemparkan senyum.
"Hai. Aku gak nyangka bisa ketemu kamu di sini," sapa Selena ramah.
Terlihat cemas, tetapi sedetik kemudian ia menormalkan ekspresi. "Hai," dia tersenyum lembut. "Mulai hari ini gue resmi jadi siswa Rainbow Rose Academy."
Audrey yang sebelumnya ingin berdiri di samping Selena lantas menghentikan langkah tepat di belakang gadis itu. Apa pemuda itu bilang kalau dia adalah murid pindahan? Kalau begitu ...
"Lo kembarannya Claudia?!" Audrey lepas kendali.
"Di sini kabar bener-bener cepet nyebar, ya?" jawabnya, disusul dengan senyuman.
Selena melotot. Dia baru sadar akan kenyataan itu. Sejak tadi kepalanya terus berpikir betapa menyebalkannya dia telah membohonginya saat itu. Memangnya dia tak tahu bagaimana rasanya menangis tiap malam ketika tahu seseorang yang mengisi hati sudah memiliki tunangan?
"Kenapa saat itu kamu bohong sama aku?" akhirnya pertanyaan itu meluncur juga.
Justin menghela napas berat. Matanya menatap liar sekitaran, benar-benar tak mau membalas tatapan Selena. Apa menurut kalian orang yang telah berbohong akan mengaku begitu saja? Tentu saja tidak. Pemuda itu sebenarnya bukanlah seorang yang gemar berbohong, apalagi terhadap orang-orang yang dipedulikannya. Mungkin Selena tak tahu, tetapi dia termasuk dalam daftar orang terpenting dalam hidup Justin.
Mata biru terang Justin akhirnya balas memandang manik Selena. "Gimana pun juga, gue lebih mementingkan keselamatan dia."
Perkataannya menimbulkan guratan-guratan halus di kening Selena maupun Audrey. Dia siapa? Maksudnya, Claudia? Atau siapa? Memangnya, apa yang akan terjadi kalau Justin tidak melakukan hal buruk itu? Pertanyaan-pertanyaan baru timbul di benak Selena dan Audrey. Namun keduanya tidak bisa menyampaikan karena Justin sudah berlalu melewati mereka. Mencari keberadaan Claudia.
***
Lily dalam keadaan bingung. Baru saja ia akan keluar dari bilik kamar mandi karena panggilan alamnya telah terlaksana dengan baik dan benar, suara isak tangis terdengar setelah pintu utama toilet dibanting keras lalu dikunci. Saat masuk tadi, dia sendirian. Tak ada gadis lain yang masuk atau pun keluar toilet.
"Sialan!" rutuk gadis itu, tangisnya semakin hebat.
Tubuh Lily merapat pada pintu berkayu, berencana mendengarkan keluh kesah si gadis. Namun nyatanya dia hanya menangis dalam diam. Hanya isakan dan napas tersengal yang terdengar jelas. Selang beberapa saat dalam keheningan, ada sesuatu benda yang pecah.
"Ada apa?!" Lily mendesis, penasaran namun ia sama sekali tak berani membuka pintu kamar mandi. Namun keheningan yang janggal mendorong tangan Lily untuk menyaksikan apa yang sebenarnya terjadi.
Ketika pintu terbuka, dia terperangah kaget. Di hadapannya kini ada sesosok gadis yang dikenalnya tengah duduk di pojokan kamar mandi. Membeset kulit lengannya dengan pecahan kaca kamar mandi. Dia tidak berniat membunuh diri, Lily tahu itu. Cengiran lebar yang diselingi oleh gumaman-gumaman kecil membuat lutut Lily bergetar. Perutnya terasa melilit dan ia ingin segera berlari menjauh, namun kakinya begitu lemas, dan saat ini dia sudah meringkuk di hadapan Claudia.
Dia tampak begitu buruk. Tidak seperti gadis sombong yang dikenalnya selama ini. Lengannya berlumuran darah dari luka goresan yang bahkan tak beranai dihitung Lily. Ketika wajah Claudia mendongak, seringaian itu semakin jelas terlihat. Mata gadis itu kosong, dan benar-benar membuat Lily ketakutan.
"Jangan mendekat!!" Lily berteriak histeris saat Claudia bangkit dari duduknya.
Darah segar yang mengalir dari tangan kirinya itu menimbulkan jejak cairan merah kental di lantai. Pecahan kaca di sebelah tangannya yang lain pun juga berlumuran darah. Dan sialnya, Lily seorang Hemophobia. Phobia darah. Darah apa pun itu, jika melihatnya tubuh gadis itu akan melemas. Kepalanya terasa pusing dan dia akan mual. Bahkan kalau sedang datang bulan pun, dia harus menutup mata ketika membersihkannya.
Jadi, apa yang harus dilakukan ketika Claudia mendekatinya dengan tubuh penuh darah seperti itu? Satu-satunya adalah berteriak minta tolong. Mengharapkan orang lain akan datang dan membawanya pergi secepat mungkin.
Melihat Lily yang menangis dan berteriak histeris sama sekali tidak membuat Claudia mundur. Gadis itu justru semakin mendekat, dan mendekat dengan jalannya yang sempoyongan. Tepat sesaat sebelum kaca tajam mengenai tubuh Lily, pintu kamar mandi terbuka lebar. Menghantam dinding. Engselnya rusak.
Dada Justin naik turun melihat Claudia yang berlumuran darah. Beberapa siswi yang berkumpul di belakang Justin-termasuk Selena dan Audrey hanya bisa menganga melihat kejarian mengerikan ini.
"Claudia! Hentikan!" Justin menyentak, membuat Claudia menghentikan aksi merobek kulit Lily. Justin lantas dengan langkah lebarnya mendekat dan menghentakkan tangan Claudia hingga pecahan kaca itu terlepas dan terjatuh ke lantai. Ditariknya tubuh Claudia ke dalam rengkuhan.
"Kak ..." panggil Claudia lirih.
"Ssh, Claudia, sayang ... Tenang, tenang ...," Justin menenangkan Claudia yang mulai sadar akan apa yang dilakukannya. Air mata mulai mengalir tanpa disadarinya. "Aku di sini, aku gak akan ke mana-mana."
Tiga siswi yang menyaksikan hal ini seperti kehilangan napas. Mereka sama sekali tidak berbicara, hanya matanya yang bergerak mengikuti langkah Selena dan Audrey yang membawa Lily untuk keluar dari kamar mandi. Gadis itu sudah pingsan saking ketakutannya.
"Kakak ..." tangan Claudia terangkat, memeluk Justin dengan erat.
Justin bergumam berulang kali untuk menenangkan Claudia. Selang beberapa saat mereka berpelukan, Justin menoleh dengan tajam ke arah para siswi yang mulai berbisik-bisik. Dia tahu sebentar lagi mereka pasti akan menyebarkan gosip tentang Claudia.
"Gue tau kalian gak akan nyebarin ini ke siapapun," bisiknya tajam, menusuk. "Kalo kejadian ini sampe ketauan sama pihak sekolah, gue pastiin kalian gak akan hidup tenang sampe kelulusan nanti."
Pandangan Justin yang hangat mendadak bengis. Ia menatap satu persatu para gadis yang dengan tatapan tajam. Mereka mengangguk, mengiyakan ucapan Justin.
"Bersihkan kekacauan ini," perintah Justin pada salah satu gadis yang berkuncir kuda. "Nama lo Risda, kan? Gue mau kamar mandi ini bersih kayak sedia kala-minus kaca dan pintu, itu urusan gue. Kalo sampe gue balik dan belom bersih, lo gak mau bayangin kan, apa yang akan gue lakuin ke elo?"
Dia menggeleng ketakutan. Segera, kedua tangannya yang bebas menarik dua temannya untuk membersihkan kekacauan yang disebabkan Claudia. Selang beberapa langkah tiga gadis itu masuk ke dalam kamar mandi, Justin menggendong Claudia yang sudah tak sadarkan diri. Dengan posisi seperti itu, Justin menelpon salah satu bawahannya.
"Datang kemari sekarang juga. Kita akan ke rumah sakit," perintahnya tegas.
Setelahnya, dia menutup sambungan secara sepihak. Kakinya melangkah dengan tegas bersamaan dengan kepalanya yang menoleh ke kanan dan kiri. Tidak seorang guru pun boleh mengetahu hal ini. Tatapan tajamnya melunak ketika ia menunduk. Memperhatikan wajah Claudia yang pucat. Pegangannya mengerat. Dengan hati berdegup kencang, ia berjalan menuju tangga darurat untuk keluar gedung sekolah. Menunggu kedatangan bawahannya.
***