Selena masih terpaku di tempat. Pikirannya melayang pada kejadian beberapa hari lalu, di mana Claudia terlihat sangat menyedihkan. Dia seperti kehilangan roh dan tubuhnya seakan dirasuki iblis jahat. Benar-benar mengerikan. Tatapannya itu, sangat kosong sampai mampu membuat Selena bergidik ngeri. Pantas saja Lily sampai histeris dan pingsan seperti itu.
"Ada apa?" Rieki bertanya sambil menyerahkan segelas es jeruk tepat di hadapan gadis itu.
Selena menggeleng pelan lalu mengambil gelas plastik yang diberikan Rieki. "Makasih."
Tangan Rieki terjulur, mengambil kursi di sebelah Selena dan menghempaskan bokongnya di sana. "Kamu ada masalah? Mau cerita sama aku?"
"Gak," Selena menggeleng, memainkan ujung sedotan. "Aku gak ada masalah apa-apa."
Helaan napas terdengar dari bibir Rieki, membuat Selena menunduk. Sudah beberapa hari ini memang, Selena terlihat lebih diam dari biasanya. Jangan tanya betapa penasarannya Rieki akan perubahan sikap Selena. Dia sangat, sangat, sangat penasaran dengan sikapnya yang berubah tiba-tiba. Apa Selena sudah tidak mempercayainya lagi?
'Bukan begitu!' Selena menyambut pikiran Rieki.
Pemuda itu menghela napas, lagi. 'Terus apa? Kenapa sikap kamu kayak gini?'
'Aku penasaran sama keadaan Claudia.'
Alis Rieki terangkat. 'Wow, tunanganku lebih perhatian sama musuhnya ketimbang kekasihnya sendiri yang lagi khawatir.'
Selena mengerang kesal karena wajah Rieki yang mendadak cemberut. "Oke," Selena memutar tubuhnya menghadap Rieki. "Aku mau cerita, tapi biarin aku nanya sesuatu."
"Oke! Pertanyaan pertama, silahkan."
'Apa Claudia punya penyakit mental?'
"Hah?" Rieki mengerutkan kening. "Kamu ngomong apaan sih?"
"Jawab aja!" Selena melotot sebal.
"Setauku sih enggak. Tapi aku gak tau pasti, karena aku udah gak deket sama dia."
Selena menyipitkan mata. "Jadi dulu kamu sempet deket sama dia?"
Ah, Rieki salah berbicara. Tangannya terjulur dan mengambil tangan Selena. Bibirnya nyengir lebar dan ibu jarinya mengusap punggung tangan gadisnya. "Dulu kan pas kecil aku sahabatan sama dia. Sekarang sih udah enggak."
"Bener?"
"Emangnya kamu pernah liat aku ngobrol atau bercanda sama dia?" Sesaat setelah Selena menggeleng, Rieki memutar bola matanya malas. "Tuh kamu tau kenyataannya. Jadi gak usah dipermasalahin dan lanjutkan pertanyaanmu selanjutnya. Aku nunggu, nih!"
"Kok jadi kamu yang sewot?" Selena cemberut.
Rieki terkekeh lalu mencubit hidung Selena dengan gemas. "Abisnya kamu ngeselin sih."
"Stop it!" Selena menyepitkan mata. "Aku lagi ngomong serius sama kamu."
"Okay." Rieki menjauhkan tangan dari wajah Selena yang sudah menggelembung.
"Kalo Justin, sikap dia gimana sih?"
Hidung Rieki berkerut mendengar nama seorang cowok meluncur dari bibir Selena. "Kenapa jadi penasaran sama dia?" tanyanya menyelidik. "Jangan-jangan kamu tertarik sama dia, ya?"
Selena memutar bola matanya malas. 'Enggak, Rieki. Aku penasaran aja sama sikap dia.'
'Apa yang udah dia lakuin ke kamu?'
'Bohongin aku.'
Kening Rieki berkerut. 'Bohong?'
'Lalu, bikin aku takut.'
Rieki semakin menyipitkan mata. Sebenarnya, apa yang terjadi antara dia dan Justin? Apa yang dikatakannya? Apa yang diperbuatnya hingga Selena menjadi seperti penasaran dengan sosok kakak kembar Claudia yang menyebalkan itu? Pikiran-pikiran Rieki sengaja ia layangkan pada Selena. Niatnya ingin membuat gadis itu menyampaikan segala peristiwa yang mungkin saja tak diketahui oleh Rieki, namun nyatanya Selena malah tertawa kecil mendengar segala pikiran yang mengarah pada rasa penasaran. Mungkin bisa dikatakan, cemburu?
Rieki melebarkan mata. 'Aku gak cemburu ya sama dia!'
"Hahaha!" Selena memegang perutnya yang sakit akibat terlalu keras tertawa. "Kamu lucu banget sih," itu malah membuat Rieki cemberut. Selena berdeham ketika Rieki menatapnya tajam.
'Listen. Pertama, aku gak ada hubungan apa pun sama Justin. Kedua, dia berbohong soal kamu tunangan sama Claudia. Ketiga, ada kejadian mengerikan yang bikin aku, Audrey dan Lily ketakutan,' saat melihat Rieki akan menyela pikirannya, Selena mengangkat tangan dan membuka telapaknya—meminta Rieki untuk mendengarkan ucapan Selena sampai selesai. 'Dan kamu gak perlu tau itu apa.'
Rieki memutar bola matanya kesal. "Anna! Kalo cerita jangan setengah-setengah!"
"Suka-suka aku," Selena memeletkan lidah lalu bangkit dari duduk.
'Awas hati-hati, nanti kesandung terus jatoh,' peringat Rieki saat melihat Selena tetap berlari keluar kantin. Sebelah tangannya ia gunakan untuk menopang wajah, memperhatikan Selena yang sudah berhenti berlari dan berbalik arah menatapnya.
'Aku gak akan kesandung ya!'
Rieki tersenyum singkat. Namun hanya dalam hitungan detik, senyuman itu hilang bersamaan dengan matanya yang hampir meloncat keluar. Dia kaget karena ada pot yang terjatuh dari atas, hampir mengenai Selena. Mereka berada di kantin luar gedung sekolah, dan Selena tepat berdiri di sisi luar gedung sekolah.
Selena sendiri hanya bisa diam terpaku, menatap pecahan pot yang terbuat dari tanah liat. Hancur berantakan. Tanahnya berserakan, bunga mawar yang baru berbunga itu tampak tidak berdaya karena tempatnya mengakar sudah tak ada. Spontan, Rieki berdiri dan berlari mendekati Selena dengan wajah panik. Jantung Rieki seperti berhenti berdetak ketika melihat pot itu hampir mencelakai Selena.
"Kamu gak apa-apa?"
Beberapa anak berhenti dan menatap Rieki yang tengah memperhatikan wajah Selena. Sedangkan Selena sendiri sudah mendongak, menatap langit biru. Matanya bergerak ke arah atap sekolah yang dilarang untuk dimasuki siswa. Semua siswa tahu bahwa pintu menuju atap itu terkunci, bahkan digembok.
"A-aku gak apa," Selena akhirnya bersuara. "Tapi, tadi itu ... apa?"
Rieki merangkul Selena, tangannya mencengkram erat di pundak gadis itu. Protektif. Dia akan mengantar Selena sampai kelas, dan takkan membiarkan jauh-jauh darinya. Dengan agak tergesa Rieki mengajak Selena untuk terus berjalan. Tatapan pemuda itu tetap awas, sesekali melihat ke atas bahkan ketika mereka sudah masuk ke dalam gedung.
"Kamu gak boleh jauh-jauh dari aku. Janji?"
Selena yang masih dalam keadaan blank hanya bisa mengangguk. Menuruti ucapan Rieki tanpa benar-benar mencernanya dengan baik. Tangannya yang masih bergetar mengusap wajah dengan gusar. "Kenapa harus aku?"
Pertanyaan Selena barusan membuat Rieki seperti ditampar. Rieki juga tidak mengerti, kenapa Claudia sampai sebegitunya pada Selena. Padahal di waktu-waktu sebelumnya, hal buruk yang selalu dilakukan gadis itu tidak pernah sampai separah ini.
"Maaf," Rieki menarik napasnya dalam. "Aku janji, sesuatu yang buruk gak akan terjadi lagi sama kamu," bisiknya pelan lalu mengecup kening Selena singkat.
Rieki takkan tinggal diam. Tangannya yang bebas sudah terkepal kuat, bersumpah dalam hati akan menemui Claudia malam ini juga. Memintanya untuk menghentikan aksi konyol ini. Tidak, bukan hanya aksi konyol. Namun sudah mencapai batas mengerikan karena menyangkut keselamatan Selena. Gadis yang ia cintai.
***
Rieki baru saja keluar dari ruangan ketua asrama. Beruntung sekali, ia mendapatkan izin untuk keluar asrama sampai jam sebelas malam. Matanya melirik jam yang melingkar di pergelangannya. 19:45. Lebih dari cukup, batinnya.
Sebenarnya, sekolah ini tidak mengharuskan muridnya untuk tinggal di asrama. Kalau dia memutuskan untuk tinggal, maka akan membayar uang sewa kamar. Dan untuk Claudia sendiri, entah bagaimana caranya, gadis itu selalu saja keluar masuk asrama seenaknya. Kalau dia mau, dia bisa tinggal. Dan jika bosan, maka dia akan pulang ke rumah.
Setelah masuk ke dalam taksi yang sudah ia pesan lima belas menit yang lalu, Rieki memberikan alamat rumah Claudia. Sudah beberapa hari ini, kedua anak kembar itu tidak masuk sekolah. Rieki tidak tahu mengapa mereka tidak masuk, dan dia juga tidak peduli. Kalau Claudia menganggap dia datang ke rumahnya karena mengkhawatirkan keadaannya, maka dia salah besar. Rieki datang untuk meminta pertanggung jawaban.
"Terima kasih," sahut Rieki pada pengemudi taksi setelah membayar.
Wajahnya terangkat menatap bangunan megah kokoh yang memiliki belasan kamar di dalamnya. Rieki sudah lama sekali tidak mengunjungi rumah ini. Dulu, ia sering sekali bermain di halamannya yang luas. Dan sekarang, ketika ia memencet bel di dekat pagar berlapiskan perak itu, pintu gerbang otomatis segera terbuka. Sensor itu masih mengenal Rieki yang sudah bertahun-tahun tak datang ke sini.
Kaki Rieki melangkah perlahan, memasuki area luas halaman sebelum sampai di pintu utama. Sesaat setelah ia memencet bel, seorang pemuda membukanya. Justin.
"Ada apa?" tanyanya dengan wajah datar.
"Gue bisa ketemu Claudia?"
"Dia lagi gak bisa diketemuin," jawab Justin tegas.
"Sorry," Rieki tiba-tiba saja menekan pelan pundak Justin. "Tapi gue bener-bener harus ketemu sama dia."
Justin menepis tangan Rieki dari pundaknya. "Lo bisa ngomong sama gue."
Rieki sempat menggeram, tetapi itu tak membuat Justin takut. Apalagi mundur dan memperbolehkan Rieki untuk masuk ke dalam untuk bertemu dengan adik kesayangannya, adik satu-satunya.
"Gue gak ada urusan sama lo," jeda Rieki, namun tiba-tiba dia teringat satu hal. "Ah ... gue punya suatu hal yang perlu dibicarain." Justin menaikkan sebelah alis. Tangan Rieki berlipat di depan d**a dengan dagu terangkat. "Gue tau lo gak suka sama hubungan gue dan Selena. Tapi plis, jangan bikin Selena celaka. Emangnya lo gak puas udah bohongin dan bikin dia ketakutan?"
Justin menyipitkan mata. "Dia bilang kejadian itu sama lo?"
Mulut Rieki hampir saja melongo kalau ia tidak menahannya. Kejadian apa? Jadi benar, ada sesuatu yang terjadi? Hal yang membuat ketiga gadis itu ketakutan? Rieki memilih untuk diam dan tetap menatap Justin yang menghela napas berulang kali.
"Sorry, gue gak nyangka mereka bakalan liat."
Lihat apa? Rieki berteriak dalam hati.
"Dan buat Lily, sampein maaf dari gue—terutama maaf dari Claudia," Justin menghirup napasnya dalam-dalam. "Lily bener-bener ketakutan saat itu, dia bahkan sampe pingsan," dia menggeleng frustrasi. "Buat saat ini Claudia gak bisa diketemuin, gue serius. Setelah ini, gue bener-bener bakal jagain dia."
Tiba-tiba, mata Justin tertumbuk pada manik Rieki. "Dan buat elo, gue harap lo bisa jaga omongan. Kalo lo memang bener-bener gak ada rasa sama dia, plis, jangan ngomong hal yang nyakitin hati dia."
"Dia selalu ganggu Anna dan gue gak tahan dengan sikap buruknya."
"Anna?" alis Justin naik sebelah.
"Selena, maksud gue."
Justin melipat tangannya di d**a. "Oke, gue janji Selena gak akan diganggu Claudia lagi."
"Apa yang akan lo lakuin kalo Claudia sampe melanggarnya?"
"Kita pindah sekolah."
Rieki mengangguk. "Deal."
"Dan satu hal lagi. Jika orang seperti Hudson kembali menyerang Selena seperti di pantai saat itu, gue bakal bawa masalah ini ke kepolisian."
Justin mengangguk setuju. Gerak geriknya sudah terlihat tak nyaman dan Rieki tahu bahwa ini saatnya dia untuk pulang. Bukan karena waktu jam malamnya telah habis, namun karena Justin yang sudah menutup rapat mulutnya. Pertanyaan demi pertanyaan menjebak yang bermaksud untuk mengorek 'kejadian itu' tak berhasil membuat Justin menjelaskan lebih jauh. Akhirnya Rieki pulang dengan pertanyaan 'apa yang sebenarnya terjadi saat itu?'.
***
Justin bersandar pada daun pintu kamar setelah menutupnya dari dalam. Dia menghela napas, berjalan perlahan ke arah ranjang dan duduk di sisinya. Matanya melirik langit-langit ruangan dan kembali mereka ulang pembicaraannya dengan Rieki. Pemuda itu sudah memberikan peringatan untuk tidak menyentuh Selena. Meski peringatan itu ditujukan untuk Claudia, namun Justin juga ikut peran dalam membantu rencana Claudia. Jadi, secara tidak langsung, dirinya tidak boleh berdekatan dengan Selena. Itu membuat hatinya teriris.
Tangannya terjulur membuka laci nakas dan mengambil suatu foto dimana ada senyuman lebar seorang sepasang bocah kecil yang tertawa lebar sambil berangkulan. Itu adalah dirinya dan Selena saat masih kecil. Dengan lembut, jemarinya menyusuri wajah Selena seakan dia ada di sini. Kalau ia tak boleh berdekatan dengan Selena, mencintainya dari jauh tak masalah, kan?
Senyuman tipis itu hadir di bibir Justin. Sudah lama rasa itu mengendap dalam dirinya. Rencana Claudia yang ingin memisahkan Rieki dan Selena membawa keuntungan untuknya. Namun jika kembarannya melakukan hal yang membahayakan keselamatan Selena, Justin tak bisa membiarkan ini terus berlanjut. Ia harus menghentikannya.
"Kak?" suara Claudia terdengar setelah ketukan tiga kali di daun pintu.
Dengan cepat, Justin memasukkan foto itu ke tempatnya semula dan berjalan mendekati pintu, membiarkan adiknya masuk.
"Kakak lagi ngapain sih? Lama banget," gerutu Claudia sambil membawa bantal di pelukannya. Piyama yang ia kenakan agak berantakan, mungkin karena dia berguling-guling di atas ranjang. Biasanya, Claudia seperti itu karena tak bisa memejamkan matanya barang sekejap. Mata Justin mengikuti langkah Claudia yang menuju ranjangnya.
"Lagi di kamar mandi tadi," dustanya. "Kamu kenapa ke sini? Gak bisa tidur lagi?"
Claudia duduk di tengah-tengah ranjang. "Aku mau minta temenin lagi sampe tidur."
"Sampe kapan Clau, tidur di sini? Sempit tau."
Claudia cemberut. "Sampe aku merasa tenang."
Justin menghela napas dan mulai mematikan lampu ruangan. Saatnya tidur, dan dia harus menemani Claudia sampai gadis itu benar-benar terlelap. Dibalik sikap dingin dan sombongnya di hadapan publik, Claudia adalah sosok gadis yang benar-benar manja pada Justin. Mungkin karena ia adalah satu-satunya seseorang tempatnya bersandar.
Justin membenarkan letak selimut dan menutupi tubuh Claudia sampai batas dagu. Beberapa saat ia duduk di pinggir ranjang, Claudia membuka selimut dan tersenyum lembut. Memberikan isyarat mata pada Justin untuk masuk ke dalam selimut, tidur di sisi Claudia. Justin menurut, naik merangkak dan berbaring di samping Claudia. Ketika tangan adiknya melingkar di perut Justin, pemuda itu hanya bisa tersenyum kecil.
Tuhan, tolong biarkan Claudia bahagia, bisiknya dalam hati.
"Apa yang Kakak doakan?"
Justin tersenyum kecil dan memiringkan tubuh menghadap Claudia yang masih menatapnya. Dia memainkan poni Claudia yang agak berantakan. Adiknya selalu tahu, sebelum mereka tertidur, Justin pasti akan berdoa. "Kebahagiaanmu."
"Harusnya Kakak gak bilang sama aku!" Claudia memukul pelan d**a Justin. "Kalo gitu kan, doanya gak manjur," cibirnya.
Justin terkekeh. "Manjur gak manjur, aku bakalan bikin kamu bahagia."
"Aku pengen kita bahagia kayak dulu Kak. Bahagia seperti sebelum kematian Mama."
***