Another Victims

2207 Kata
Pagi menjelang, Selena bangun dari tidurnya dalam keadaan leher yang sakit. Tubuhnya bangkit dari posisi berbaring dan mengusap tenguk. Apa yang salah? Saat matanya melirik ke belakang, dia mendapati bantal tebal yang menjadi penyangga kepalanya. Menghela napas, ia bergumam dalam hati, pantes aja. Entah sejak kapan, namun ia tidak bisa tidur beralaskan bantal di kepala. Jadi, setiap malam dia hanya memeluk guling. "Kenapa lo?" Audrey bertanya saat melihat Selena yang menggerakkan lehernya ke kanan dan kiri. Merengganggkan otot yang kaku. "Salah bantal," jawabnya singkat. Audrey bangkit dari kasurnya dan mengucek mata. "Mau gue pijetin?" Selena menggeleng. "Gak usah," lalu mengusap tenguknya pelan. "Nanti juga sembuh sendiri." Dia terkekeh dan bangkit menuju westafel. Menatap wajahnya di cermin sebelum membuka keran air dan mencuci wajahnya. "Sarapan dulu yuk? Laper," ajak Audrey setelah mengenakan sweaternya. Selena mengangguk, menyambar cardigan dan memakainya asal. Matanya melirik, memperhatikan punggung Audrey yang agak membungkuk karena tengah mencuci wajahnya, seperti yang dilakukan Selena sebelumnya. Kemudian, mereka berjalan keluar dan menuju ruang makan. Masih jam setengah enam pagi, pantas saja suasana masih sangat sepi. Hanya ada beberapa pria yang tengah membawa kotak sarapan mereka. Kedua gadis yang masih menguap itu hanya menunggu sampai makanan diletakkan di atas meja, dan mereka mengambilnya. "Nasi goreng," gumam Selena setelah membuka kotak sarapannya. "Lumayan," Audrey mengangguk puas melihat segumpal nasi dengan satu telur mata sapi. "Gue gak mau banget kalo sarapannya roti doang. Gak kenyang." "Dasar rakus," celetuk Lily yang tiba-tiba saja sudah duduk di samping Audrey. Audrey hampir saja terjungkal saking terkejutnya. Tangannya melayang memukul lengan Lily agak keras. "Bisa gak, nguragin kebiasaan buat ngagetin orang?" tanyanya gemas. Lily menggeleng dan mulai menyantap sarapannya, mengikuti Selena yang sudah memasukkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya. Setelah satu persatu makanan mereka masuk ke dalam mulut, tak ada perbincangan diantara mereka. Hanya terdengar derap langkah para siswi asrama yang mulai memasuki ruangan. Suara hinga bingar itu semakin terdengar jelas, membuat Selena yang posisi duduknya menghadap pintu masuk mendongakkan kepala. Claudia. Bersama Sissy dan Maya yang sudah rapi dengan seragam membalut tubuh mereka. Selena hanya bisa menaikkan sebelah alis, merasa kagum karena mereka sudah siap  sepagi ini. Biasanya, hanya anak-anak yang memiliki jadwal piket kelas pagi hari yang sudah siap. Ah, mungkin mereka ada piket hari ini. Pandangan Selena kembali terfokus pada makanan. Bukan karena rasa lapar yang tak bisa dibendung. Namun mata tajam Claudia dan senyum angkuhnya lah alasan utama mengapa ia menunduk. Seketika itu juga, bayangan Claudia yang memegang kaca tajam dengan tubuh berlumuran darah langsung terlintas. "Hai." Selena sudah bisa menebak Claudia akan menyapa mereka. Satu detik kemudian, Audrey mendongak. Hanya Lily yang tampaknya sama sekali tidak tertarik dan tetap melanjutkan sarapannya. Mata Claudia tidak lepas dari Selena yang tetap diam menyantap sarapan. "Anna," Claudia mengambil tempat di sampingnya. "Gue pikir, terjadi sesuatu sama lo?" Mata Selena mengedip sekali. Terjadi apa? Dari ekor mata, ia bisa melihat kening Audrey yang berkerut-kerut, diikuti Lily yang menghentikan aktivitasnya namun sama sekali tidak mendongak. Mereka bertiga masih mematung, berbeda dengan Claudia yang sudah tersenyum miring diikuti Sissy dan Maya yang saling menyenggol. Tidak mendapatkan respon baik, Claudia mendekatkan bibirnya pada telinga Selena dan berbisik, "pot bunga kemarin siang ..." Ah. Insiden pot bunga yang hampir mencelakainya. Tangan gadis itu mengepal. Jadi benar, itu perbuatannya? Tetapi, bukankah hari itu Claudia tidak masuk sekolah? Lalu, siapa yang melakukannya? "Beruntungnya ...," tangan Claudia terangkat ke udara menggapai kepala Selena, mengusap puncak kepalanya seraya menekannya beberapa kali. "... Selena kita gak kenapa-kenapa," dia berbicara dengan bibir semanis mungkin. "Kalo saat itu kena, mungkin kulit kepala lo bakalan robek, mengeluarkan darah, dan kemungkinan besar gak akan bisa masuk sekolah hari ini ..." Bibir Selena tertekan membentuk garis tebal bersamaan dengan alis yang bertauan, lalu dengan cepat menepis tangan Claudia. "Jadi, siapa orang yang kamu suruh?" "Apa lo bener-bener penasaran?" Claudia tersenyum licik. "Dan, kenapa kamu melakukan hal jahat kayak gitu? Aku denger, sebelum ini ada yang kena bully sama kamu. Aku sih gak masalah, karena aku gak takut sama kamu," tegas Selena, menatap lurus-lurus manik mata lawan bicaranya. "Oh, jadi lo udah berani sama gue?" Seringaian tampak jelas mengikuti ucapan Claudia. "Kenapa aku harus takut?" "Ah, apa keberanian itu muncul karena sekarang lo udah merasa memiliki sekolah ini?" Maksudnya apa? Selena mengernyit bingung. "Gue tau, gue tau. Lo udah gak butuh beasiswa lagi, kan?" Kenapa disangkutpautkan dengan beasiswa?! batinnya berteriak kesal. Mata Selena terpejam sejenak, bersamaan dengan menarik napas dalam-dalam. Tidak, dia tidak boleh terbawa emosi. Kalau dia mengikuti emosi, maka takkan ada hal yang terselesaikan dengan baik. Dia harus bisa berpikir jernih saat ini, jangan sampai amarahnya tersulut. Selena membuka mata demi menatap Claudia tepat di manik. "Apa ada hal ngecewain yang bikin kamu jadi pribadi dengan sikap keras kepala dan penyangkal kenyataan seperti ini? Aku yakin tiap manusia itu baik, dan kalo dia berbuat suatu kejahatan, pasti ada penyebabnya. Apa kamu –" "Gue ke sini bukan mau denger untaian kata-kata gak berguna lo itu." Selena menaikkan alis. "Jangan bilang kamu ke sini mau laporan sama aku karena udah masuk sekolah?" Claudia menggeram.  Audrey dan Lily yang tak tahu menahu apa yang dibicarakan mereka hanya bisa mengatupkan bibir rapat-rapat, namun ucapan Selena yang terakhir sukses membuat mereka tertawa geli, meski tertahan. Tak berapa lama kemudian, tiga gadis belagu itu meninggalkan meja Selena. Dan saat itu pula, Selena baru sadar bahwa pundaknya menegang, tangannya yang memegang sendok bergetar hebat. Dia takut. Jika dana beasiswanya dicabut, apa yang harus dilakukannya? Bekerja untuk membiayai sekolah? Meminta Kakek untuk membiayai sekolahnya? Tidak, dia tak mau membebani Kakek. Apa .... memohon pada Claudia untuk mengembalikannya? Dia menggeleng keras, meyakini dirinya bahwa hal itu takkan terjadi. Semua akan baik-baik saja, Selena yakin. *** Selena memutuskan untuk berjalan keliling sekolah. Dia terlalu pagi untuk duduk termenung memandangi Audrey dan beberapa teman yang bertugas piket pagi di kelas. Lehernya sudah tidak terasa sakit, jadi sekarang ia bisa menengok dengan mudah. 'Rie? Udah sampe sekolah?' Bertelepati merupakan hal termudah yang bisa dilakukan untuk berkomunikasi dengan Rieki, karena tidak diperbolehkan membawa barang elektronik ke sekolah. Lagipula, terkadang, Selena suka malas untuk mengetik pesan. Lebih baik langsung mengobrol. 'Aku masih sarapan di asrama. Kamu udah di sekolah ya?' 'Iya ...,' Selena mendesah. 'Harusnya tadi aku tidur dulu abis sarapan.' Tak terasa, kakinya sudah sampai di belakang sekolah. Dia takjub sendiri langkahnya menuntunnya menuju tempat di mana ia pertama kali bertemu dengan Rieki. Pohon itu. Tepat di sampingnya, ada gudang, tempat di mana ia dikunci oleh entah siapa. 'Jangan males deh, Sayang. Masa' iya abis makan kamunya tidur?' Selena terkekeh. 'Ya udah deh kamu selesein makannya dulu.' Ada jeda beberapa detik hingga suara Rieki kembali terdengar di pikirannya. 'Kamu di mana sekarang?' 'Hm ...,' Selena bergumam lalu duduk bersandar di batang pohon. 'Aku lagi ada di tempat pertama kali kita ketemu.' 'Tunggu aku ya,' jeda Rieki, 'lima menit aku sampe sana.' Selena mengangguk menyetujui seakan Rieki berada di hadapannya. Kakinya ia luruskan di atas rerumputan dan menghirup aroma pagi yang segar. Beberapa detik merasakan semilir angin yang menyapu wajahnya, Selena membuka mata. Memandangi langit biru cerah. Memikirkan rentetan kejadian buruk yang sudah menimpanya. Semua karena perlakuan Claudia. Sebenarnya, saat penguncian gudang itu, Lily sudah melaporkan ke pihak sekolah. Awalnya, mereka peduli dan mau menyelidiknya. Namun keesokan harinya, para guru langsung melupakannya. Mereka  seakan tutup mata dan telinga. Tidak peduli. Selena mendengus. Kekuatan uang. "Cepetan. Gue gak punya banyak waktu." Suara yang sangat Selena kenal. "Gue berenti." Selena menegapkan punggung. Suara itu kan? "Bisa diperjelas? Ngomong jangan menye-menye kayak banci deh." Dia benar-benar penasaran dengan orang yang berbicara di balik tembok gudang itu. Gudang ini memang berada di tengah-tengah halaman belakang, jadi Selena takkan menyadari jika ada seseorang yang berada di sisi ruangan itu. Dengan sangat hati-hati dan berharap tidak menimbulkan suara apa pun, Selena bergerak mendekati gudang dan bersandar di dindingnya. Kakinya melangkah menyamping, mempersempit jaraknya dengan sumber suara. "Anna? Ngapain?" suara Rieki membuat Selena terkejut. Dia memutar tubuh dan segera menempelkan jari telunjuknya di bibir. Rieki mengangguk mengerti kalau harus diam tak bersuara. 'Ada apaan sih?' 'Ssh, dengerin aja,' sambut Selena. "Gue udah gak bisa lagi buat ngelanjutin rencana busuk lo." 'Satoki? Rencana busuk apa? Dia ngomong sama siapa?' Selena bisa mendengar pertanyaan itu dalam benak Rieki. "Jadi, lo udah gak butuh dana beasiswa lagi? Oke, semester depan bakalan gue cabut." Claudia terlihat memicingkan mata. Sedangkan Satoki hanya bisa menghela napas pasrah. "Lo bener-bener gak punya perasaan, ya." Claudia mendecih. "Seenggaknya, gue bukan orang yang nyelakain pacar sahabat sendiri." "Itu kemauan lo!" Satoki geram. "Ah?" Claudia berjalan perlahan seraya memainkan kuku-kuku panjangnya yang terawat. "Kemauan gue?" dia tertawa sejenak. "Jangan bercanda. Siapa yang ngunciin Selena di gudang? Elo. Siapa orang yang menuhin loker dia pake cat merah? Elo. Terus, pelaku yang naro bangke burung di meja dia? Elo. Dan yang jatohin pot bunga itu? Elo juga, kan?" Ada senyuman puas ketika melihat kepalan tangan Satoki. "Jadi, di mana letak keinginan gue? Semua terjadi karena kemauan lo. Kalo lo gak mau, pasti hal-hal yang gue sebutin tadi gak akan terjadi." Rieki geram. Tangannya terkepal penuh dengan rahang mengeras. Sorot matanya berubah gelap dan ada kilatan kebencian di sana. Selena bahkan harus menahan lengan Rieki yang sudah siap untuk melayangkana hantaman di wajah mereka berdua. "Lo iblis," desis Satoki. Claudia menaikkan alis. "Wow. Terima kasih atas pujiannya." "b******k," maki Satoki, agak membentak namun suaranya sangat pelan. Beberapa saat kemudian, derap langkah kaki Claudia yang menjauhi tempatnya berdiri terdengar. Setelah kepergian Claudia, Selena mengintip keadaan Satoki. Kedua bahu pemuda itu melorot, punggung yang biasanya terlihat semangat kini tak berdaya. Selena tau, Claudia pasti menekan pemuda itu untuk melakukan semua hal tadi. Selena mengerjap. Tanpa ia sadari, Rieki sudah berjalan cepat menuju Satoki dan langsung memukul ulu hati pemuda itu dengan kumpulan kebencian di kepalan tangannya. Seketika itu juga, tubuh Satoki terjungkal ke belakang. Punggungnya berbenturan keras dengan tanah. "Rie-Rieki?" Satoki tergagap dengan mata terbelalak kaget. Dengan tubuh berada di atas rerumputan, Satoki mendongak menatap Rieki yang memandangnya dengan kilatan amarah. "Jadi elo yang selama ini ngerjain Anna?!" Rieki marah. "Gu-gue bisa jelasin –" Satoki baru mengucapkan seuntai kalimat, namun tangan Rieki kembali bereaksi. Tidak memberi kesempatan untuk menyelesaikan ucapan Satoki. Pukulan demi pukulan dia layangkan hingga wajah pemuda itu memerah, bahkan sudut bibir Satoki sudah robek. "b******k, sakit jiwa," Rieki kalap. "Harusnya lo gak melakukan hal itu! Sejak kapan lo jadi anak buah Claudia?! Otak pinter lo dibuang ke tong sampah, ya?!" Selena panik. Dia berlari mendekat, menahan tubuh Rieki dari belakang namun tak berhasil. "Rieki, udah!" suaranya membentak, namun sama sekali tidak membuat Rieki berhenti. "Satoki gak salah! Claudia yang maksa dia!" "Tapi terakhir kali dia udah hampir nyelakain kamu!!" suara Rieki meninggi, membuat Selena berhenti bergerak, membiarkan d**a pemuda itu naik turun karena amarah. Mata penuh amarah bercampur rasa khawatir dan terluka menatap Selena dalam. "Aku gak mau apa-apa terjadi sama kamu! Udah cukup kecelakaan itu bikin aku tersiksa karena gak tau kabar kamu sama sekali!" Raut Selena memucat saat Rieki mengingatkannya akan kecelakaan yang menyebabkan orangtuanya meninggal. Selena menutup mata sekilas bersamaan dengan Rieki yang kembali menghadap Satoki. Memaki. Mengeluarkan kata-kata kasar yang membuat kuping Selena panas. Nekat, Selena menarik dirinya sampai memungguni Satoki. Melindungi pemuda itu. Namun tanpa sengaja tangan Rieki yang dimaksudkan untuk menghajar Satoki justru mengenai wajah Selena. "Astaga," Satoki terperanjat. Matanya yang sudah bengkak menatap horor Selena yang menyentuh wajahnya dan meringis kesakitan. "Anna!!" Rieki berjongkok dan mendekati Selena yang memalingkan wajah dari dua pemuda itu. "Awas!" Satoki yang sebelumnya berjarak sangat dekat dengan Selena didorong menjauh. Meminta untuk memberikan ruang agar Rieki bisa bisa melihat wajah Selena. Rieki pias. Wajahnya pucat pasi. Tangannya bergerak mendekati dagu Selena dan menariknya. Matanya langsung terbelalak melihat ada cairan merah kental di sudut bibir gadis itu. "Rieki, kamu gak seharusnya mukulin Satoki," bisik Selena. "Kamu harus ke UKS sekarang," Rieki menarik Selena untuk bangkit, namun gadis itu menepisnya keras. "Kamu harus dengerin ucapan aku!" Selena marah. Benar-benar muak dengan  pertengkaran yang ia lihat sejak tadi. Kenapa Rieki begitu gelap mata? Sesaat setelah pandangan Rieki melunak, Selena melanjutkan ucapannya. "Satoki gak salah. Dia juga korban, sama kayak aku. Dia dipaksa Claudia. Kamu denger sendiri kan, tadi?" "Ta-tapi ..." "Gak ada tapi-tapian," Selena menarik Satoki mendekat dan memeriksa keadaannya. "Kita harus bawa dia ke UKS sekarang. Dia sahabat kamu, selamanya begitu. Dan aku gak mau denger kamu mukulin dia lagi atau ngucapin kata-kata kasar kayak tadi," tegas Selena. Rieki mematung. Mengangguk patuh, membawa tangan Satoki menuju pundaknya. Membantu berjalan ke UKS. Matanya sesekali melirik Selena yang alisnya sudah bertautan. Matanya menatap lurus-lurus, dan Rieki sama sekali tidak bisa mendengar suara pikiran Selena. Tetapi meski begitu, Rieki yakin sekali, Selena marah padanya. Mereka bertiga masuk ruang UKS dan mendapatkan segudang pertanyaan suster penjaga. Tentu saja, mereka tak mengatakan hal sebenarnya. Satoki berkata bahwa preman di depan sekolah lah yang menghajarnya. Beruntung, suster yang baru saja bertugas satu minggu di sini itu mengangguk percaya. Setelah selesai mengobati luka Selena dan Satoki, mereka bertiga keluar ruangan. Menuju kelas masing-masing untuk mengikuti jam pelajaran. Saat di lantai dua, Rieki sempat menahan Selena agar berbicara sejenak dengannya. Namun yang didapatkannya hanyalah lirikan Selena mengarah pada lantai atas. Dia mau masuk kelas. Tak ingin ditahan Rieki. Akhirnya pemuda itu mengangguk dan melepaskan tangan Selena. 'Aku minta maaf,' ujar Rieki sebelum Selena benar-benar hilang dari pandangan. Namun Selena sama sekali tidak merespon. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN