Dua hal yang paling Selena benci. Pertengkaran dan ucapan kasar. Dan sialnya, pagi tadi Rieki melakukannya secara bersamaan. Membuat amarah Selena memuncak dan tak terbendung. Selain itu, dia juga marah pada diri sendiri yang membentak Rieki. Tetapi, bagaimana? Selena benar-benar ikut lupa diri seperti Rieki yang memukul Satoki membabi buta. Dirinya mengerti, Rieki marah karena Satoki telah melakukan hal-hal buruk yang menimpanya beberapa minggu terakhir ini. Bahkan hampir mencelakainya. Tetapi, seharusnya Rieki bisa berpikir jernih. Semuanya hal kan, bisa dibicarakan. Apalagi, mereka bersahabat.
'Anna,' Rieki memanggil lagi, dan Selena menggelengkan kepala. Tidak mau menjawab dan memilih untuk menyembunyikan wajahnya diantara lipatan tangan.
"Lo gak mau balik?" Audrey bertanya sambil membenarkan letak tas punggungnya.
Selena menggeleng. "Duluan aja Rey, Ly."
Kedua sahabat Selena lantas saling berpandangan bingung. Ada apa dengan Selena? Kenapa tiba-tiba ingin ditinggalkan sendirian? Audrey berinisiatif menarik kursi dan duduk menghadap Selena. Lily dengan bibir cemberut berusaha sabar karena Satoki sama sekali tidak menjawab pesan atau panggilan darinya. Menyebalkan.
"Kenapa? Mau cerita?" Audrey membuka suara, namun itu malah membuat Selena menggelengkan kepala. Bukan maksud Selena ingin merahasiakan kenyataan yang ia lihat pagi tadi, namun ia tak enak jika harus membeberkannya di hadapan Lily. Jadi, dia sudah memutuskan untuk membicarakan itu dengan Audrey nanti, saat di kamar.
"Kenapa kalian gak duluan aja?" Wajah Selena terangkat. "Aku lagi pengen sendiri dulu."
Audrey dan Lily kembali saling pandang sebelum akhirnya mengangguk setuju. Setelah mengembalikan kursi ke tempat semula, Audrey keluar kelas diikuti Lily yang masih saja sibuk memainkan ponsel. Anak itu, sudah Selena peringatkan untuk tidak melanggar peraturan. Tetap saja, dia melanggarnya.
Selena mendesah pelan. Bagaimana kalau Lily nanti tahu kenyataan tentang Satoki yang selama ini melakukan hal-hal seperti itu? Mengingat Lily yang paling marah dan berapi-api saat mengomentari orang yang telah mengerjai Selena. Apa nanti dia akan berkelahi dengan Satoki? Tidak, Selena tak mau itu terjadi.
Ada banyak pertanyaan yang terkumpul di kepala Selena. Khususnya kenapa Satoki tega melakukan itu? Kenapa juga, dia harus menurut pada Claudia? Tangannya terangkat, menyisir rambut dengan perasaan campur aduk. Bukannya Selena tak tahu alasan dibalik sikap penurut Satoki pada Claudia. Dia tau, alasannya hanyalah satu. Satoki ingin tetap bersekolah di sini.
Selena bangkit, memanggul tas ranselnya dan berjalan keluar kelas. Namun sesaat setelah menutup pintu kelas, pundaknya terasa ada yang menyentuh. Dia berbalik dengan cepat.
"A-apa?" Selena terkejut, tentu saja.
"Hei," sapa Justin dengan senyum canggung. "Apa kabar?"
Mata Selena sempat menyipit. Jantungnya tiba-tiba berdetak tak karuan. Bukan karena dia memiliki perasaan lebih pada Justin. Namun seketika ingatannya terlempar saat pemuda di depannya ini bersikap bengis dan terlihat menyeramkan. Dan Selena takut.
"Baik," Selena mengangguk kikuk. "Ada apa kemari? Nyari seseorang?"
"Ya, gue nyari elo."
Alis Selena naik. "Ada yang mau diomongin?"
"Masalah Claudia."
Oh. Pantas saja. Selena mengangguk mengerti. Matanya mengarah pada ruang kelas. "Mau ngomong di dalem?" namun dihadiahi gelengan kepala.
"Bisa sambil jalan? Gue abis ini ada urusan."
"O-okay," Selena mengangguk lagi, dan kini mereka berjalan berdampingan. Selena diam, menunggu Justin yang akan memberitahu sedikit tentang Claudia hingga Selena bisa mengerti diri gadis itu.
"Gue minta maaf atas segala perilaku buruk Claudia ke elo."
Suasana canggung mereka mulai mencair karena Justin sudah tidak setegang tadi. Mungkin berkat helaan napas dan menutup mata agak lama yang dilakukan Justin, dia bisa agak tenang untuk menyampaikan semuanya. Ya, dia harus memberitahukan semua pada Selena. Dia sudah tak bisa lagi menanggung beban ini sendirian. Dia ingin Claudia mendapatkan kembali kebahagiaannya. Dan Justin tau, Selena pernah membuatnya bahagia—dulu sekali.
"Gue mau menceritakan tentang masa lalu," Justin melirik Selena yang masih menyimak. "Dan ini berhubungan juga sama keluarga lo."
Selena berhenti bergerak dan menoleh. "Keluarga aku?"
Tarikan napas dalam Justin membuat Selena tegang. Apa? Apa yang diketahui Justin tentang masa lalunya yang terlupakan?
"Gue udah bilang sebelumnya kan, kalo kita ini tetanggan saat kecil dulu?"
Selena mengangguk.
"Lo mungkin penasaran gimana gue masih bisa inget sama lo yang udah kepisah jauh selama bertahun-tahun lamanya. Itu karena saat kecil, setelah kita pisah karena kepindahan gue ke Inggris—tepat umur gue enam tahun, gue selalu nulis diary tentang lo." Justin mengedip karena tak sadar telah membelokkan pembicaraan mengenai dirinya. "Ma-maksud gue, dulu kita sering main bareng. Gue, elo, dan Claudia."
Mata Selena membesar. "Claudia ... juga?"
Justin berhenti berjalan dan menghadap Selena. Tangannya mengambil sesuatu dari saku seragam. "Ini kita bertiga," dia menunjuk gadis dengan senyum terlebar. "Dia Claudia." Matanya melirik Selena yang seakan berpikir keras. "Dulu dia gak sekeras ini. Dia baik, dan gak pernah nyakitin orang lain."
Sudah Selena duga. "Terus, kenapa sekarang sikap dia kayak gitu?"
Justin menghela napas dan memasukkan kembali foto itu ke dalam saku seragam. Kedua tangannya masuk ke dalam saku celana. "Beberapa hari setelah kepergian gue ke Inggris, dia ketemu Rieki, dan menurut pengakuannya—yang gue tau setelah balik ke Indonesia, dia udah mulai suka Rieki sejak kecil. Claudia ngenalin Rieki ke elo, dan kalian main bareng. Dan tiba-tiba aja, kalian berdua jadi deket banget. Kalian sering pandang dalam diam, bikin Claudia kesel dan marah-marah gak jelas. Dia merasa terasingkan. Beberapa hari kemudian, kalian berdua ngasih tau kalo udah gede nanti, kalian bakalan nikah."
Samar-samar, Selena mengingat saat-saat di mana seorang gadis kecil datang dan mengenalkannya pada seorang bocah lelaki. Mereka main bersama. Selena dan bocah itu bisa saling ... telepati. Sama seperti sekarang. Selena mendesah pelan. Kenapa juga, Rieki tidak menceritakan tentang masa kecil mereka? Apa karena dia tidak ingin menyebutkan nama Claudia dalam ceritanya?
"Dan itu adalah awal mulanya Claudia benci sama lo."
"Cinta pertama yang direbut?" Selena tersenyum tipis. "Aku gak nyangka jadi orang sejahat itu."
Tanpa sadar Justin mengusap puncak kepala Selena. Kalau Selena membicarakan cinta pertama, sadarkan dia bahwa dirinyalah cinta pertama Justin? Bahkan, sampai sekarang, getaran-getaran itu masih ada di dalam dirinya. Rasa hangat itu terasa ketika Selena mendongak dan tersenyum. Menatap manik matanya yang langsung mengalihkan pandangan saat mata mereka bertemu. Pemuda itu berdeham dan menjauhkan tangannya dari kepala Selena.
"Kecelakaan waktu itu ..."
"Kamu tau tentang itu juga?!" potong Selena. Gadis itu melebarkan mata dan berjalan mendekati Justin hingga punggung cowok itu menabrak jendela. Wajah Justin merona karena jarak Selena yang terlampau dekat.
"Iya gue tau," didorongnya pundak Selena menjauh. Dia bersandar pada daun jendela dan menatap langit. "Karena ibu gue juga meninggal saat itu."
"Maksudnya?" kening Selena berkerut dalam.
Justin memijit pangkal hidung sebelum menghela napas. Terasa seperti ada bongkahan batu besar yang menjadi penyebab tersendatnya omongan Justin. "Kecelakaan itu karena mendiang ibu gue. Dia nabrakin mobilnya dengan kecepatan tinggi sampe mobil kalian masuk jurang—termasuk ibu gue."
Selena membeku di tempat. Jadi, pihak yang dibicarakan oleh Kakek waktu di rumah sakit itu, adalah orangtua Justin dan Claudia? "Kenapa?" hanya itu yang keluar dari bibir Selena yang bergetar menahan kekagetan.
Kaki Justin melangkah ke depan, memperkecil jaraknya dengan Selena. Tangannya mengambil tangan Selena dan meremasnya perlahan. "Maaf, gue minta maaf atas kejadian itu."
"Kenapa, Justin? Kenapa dia tega ngelakuin itu?!" suara Selena meninggi.
"Karena dia gak bisa melepaskan cinta pertamanya. Dia menahan diri selama bertahun-tahun, menunggu hari yang tepat untuk merebut kembali kebahagiaan miliknya. Dia menikah karena terpaksa. Perjodohan. Dan ketika dia sadar orangtua lo gak bisa dipisahkan, dia bersumpah sama diri sendiri kalo dia gak bisa miliki ayah lo, artinya orang lain pun gak berhak."
Tangan Selena dingin. Berkeringat. "Kamu bohong, kan? Kenyataan gak serumit itu. Hal-hal berlebihan yang kamu ceritain cuma ada di novel yang pernah kubaca."
"Beberapa novel berasal dari kisah nyata," Justin meremas tangan Selena. "Gue tau sedetail ini karena baca diary miliknya." Mata Selena berkaca-kaca. Sekuat tenaga, ia menahan air mata yang mendesak keluar. "Maaf, gue gak bermaksud bikin lo sedih. Gue cuma pengen lo tau kebenarannya. Karena gue denger lo udah melupakan masa kecil lo."
Selena tertegun. Dia menahan tangisan. "Kamu tau dari mana?"
"Maaf, gue ngikutin elo dan Rieki saat di festival itu."
Pandangan Selena mengarah pada sepatu. Menunduk dalam. Pikirannya berkecamuk. Sedih yang paling mendominasi. Perutnya terasa melilit, diikuti d**a yang terasa sesak sampai kerongkongannya tak bisa mengeluarkan sepatah kata. Dia tercekat. Air mata jatuh begitu saja tanpa bisa ia tahan.
Justin mendekat. Mengusap puncak kepala Selena yang terlihat jelas di pandangannya. Ia memang tak melihat sebanyak apa tumpahan air mata Selena, namun pundaknya yang berguncang hebat sudah cukup membuat hatinya teriris. Entah kenapa, ada perasaan menyesal karena telah memberitahu semua hal. Tapi ... dia bahkan belum menceritakan tentang hal yang sebenarnya ingin dia sampaikan. Apa dia harus mengatakannya sekarang?
"Aku mau pulang," Selena berbisik setelah mengusap air mata.
Justin mengangguk. "Gue anter," namun Selena menggeleng. "Gue gak enak karena udah bikin cewek nangis." Dia benar-benar khawatir dan merasa bersalah. Kalau boleh, dia ingin sekali memeluknya. Bukan hanya mengusap puncak kepala Selena.
Ketika Selena menegakkan punggung, wajah gadis itu masih saja menunduk. Membuat Justin tak tahu harus berbuat apa. Ternyata, setelah menceritakan masa lalu Selela bukanlah saat yang tepat untuk melanjutkan pembicaraan tentang Claudia. Justin tahu, Selena ingin sendiri dan ia tak mau mengganggunya. Jadi, yang dilakukannya saat ini hanyalah berjalan di belakang Selena. Memandang gadis di depannya yang tengah melorotkan bahu membuatnya menghela napas berkali-kali. Dia meneoleh ke jendela.
Dan saat itulah, Justin menyadari satu hal. Ada sesuatu yang bergerak dengan cepat dari arah luar. Melesat mendekati gedung sekolah hingga akhirnya ia sadar bahwa sesuatu itu mengincar seseorang yang berjalan di depannya. Justin panik.
Dia berlari dan menabrak Selena sampai terjatuh ke lantai, tepat ketika panah itu menembus kaca. Selena terkesiap. Tubuhnya dibungkus Justin yang wajahnya tak bisa Selena lihat. Matanya hanya bisa memandang pecahan kaca jendela yang berhamburan, lalu sadar seketika kalau Justin melindunginya.
"Justin!" Selena memekik hebat saat menyadari anak panah itu mengenai lengan Justin. Tak hanya lengannya yang terluka, punggung Justin pun, terdapat banyak pecahan kaca yang bersarang. Astaga. Meski bergetar, tangan Selena berusaha membangunkan pemuda itu namun tak mampu. Dia lemas. Ketakutan. Terlalu kaget akan kejadian yang tiba-tiba ini.
'Rie, Rie, tolong ...' Selena berusaha memanggil Rieki. 'Justin ... dia terluka ...'
***
Selena masih saja meremas jemarinya di atas pangkuan. Tangannya bergetar. Bibir bawahnya digigit, pertanda ia sangat khawatir dan gugup akan keselamatan orang yang berada di ruang UGD saat ini. Di sampingnya, Rieki memakaikan jaket agar ia tak kedinginan. Pemuda itu sesekali mengusap pundak Selena. Matanya sempat melirik kaki Selena yang tadi diobati, dan merasa lega karena luka yang didapat Selena tak begitu parah.
Tak jauh dari tempat mereka duduk, ada Claudia berdiri tegap dengan wajah tanpa ekspresi, ditemani Hudson yang berdiri jauh dari mereka bertiga. Sudah setengah jam sejak Justin dibawa masuk oleh para suster dan dokter, tak ada pembicaraan diantara mereka. Claudia sama sekali tidak melirik Rieki atau pun Selena yang duduk berdempetan.
Ada tiga hal yang membuatnya mati rasa sekarang. Selena dan Rieki yang tampak mesra, Justin yang berada dalam kondisi kritis, dan yang terakhir ... kenyataan bahwa Justin melindungi Selena dari anak panah itu. Kenapa? Kenapa dia melakukannya? Padahal jarak mereka berdua saat itu cukup jauh. Apa kakaknya itu menyimpan rasa untuk Selena? Matanya melebar tanpa disadari ketika otaknya menarik kesimpulan gila. Tak mungkin.
Rieki yang menyadari wajah tak tenang Claudia lantas membasahi kerongkongan. Dia tahu bahwa ini adalah perbuatan Claudia, yang sengaja ingin mencelakakan Selena. Namun siapa siangka, rencana jahat yang ia jalankan justru melukai kakaknya? Ironi.
"Jadi, sekarang siapa yang lo suruh?" mata Rieki menatap Claudia tajam.
Sedangkan Claudia hanya melirik lewat ekor mata. "Apa yang lo bicarain?"
Rieki menggeram, bangkit dari duduk. Cepat-cepat Selena menahan Rieki, namun tangannya tak sampai karena pemuda itu keburu berada beberapa langkah di depan Claudia.
"Gak usah sok polos!" telunjuknya mengarah pada Claudia seakan ia adalah penjahat kelas kakap. "Gue udah janji buat gak ngomong sesuatu yang nyinggung elo. Tapi liat kelakuan lo yang tambah parah gini, bikin gue muak!" Rieki benar-benar kalap kalau sudah menyangkut Selena. "Lo sakit? Apa masalah lo sama Selena? Lo gak suka hubungan kita? Kalo gitu gak usah gubris. Lo bisa pergi ke mana pun lo mau."
Dada pemuda itu naik turun karena amarah. Apa Claudia sudah benar-benar tak bisa berpikir sehat? Bagaimana kalau anak panah itu mengenai tubuh Selena? Kalau mengenai tepat di organ vital, jantung misalnya? Oh Tuhan, Rieki tak siap jika harus kehilangan Selena secepat itu. Pemikiran buruk yang lewat di kepalanya lantas didengar Selena. Gadis itu berjalan mendekat, meraih tangan Rieki.
"Rie, udah," Selena menekan tangan Rieki di dalam genggamannya.
"Kamu jangan nyuruh aku tenang ya di depan cewek gila macem dia."
"Rieki!" Selena membentak, membuat bibir Rieki terkunci rapat dan dia membuang pandangan. Beralih dari Rieki, mata Selena menangkap Claudia yang hanya diam mematung. Selena mendekat, namun Claudia mundur ke belakang. Tidak mau didekati.
Selena menatap Claudia dengan tatapan terluka. Menghela napas, matanya mengarah pada Rieki. "Aku gak apa-apa, Rie. Yang harus kita khawatirin itu Justin," Selena berjeda, menatap Rieki yang pandangannya sudah melunak. "Dan satu hal lagi, aku gak suka kalo kamu ngomong kasar," matanya melirik Claudia. "Apalagi sama cewek."
"Tapi dia kan udah –"
"Gimana pun juga, dia itu seorang wanita. Kamu gak boleh kasar sama dia."
"Terserah," Rieki mendengus keras.
Claudia yang sejak tadi menahan napas dan air mata lantas berbalik arah menjauhi mereka berdua. Entah karena tak mau melihat kedekatan mereka, atau tidak sudi jika harus mengucapkan terima kasih atas pembelaan Selena padanya.
Dia memutuskan untuk menuju loket administrasi. Di saat mengurus kamar rawat untuk Justin, air matanya tiba-tiba mengalir. Dia merasa bersalah. Anak panah yang dilepaskan Hudson bukan ditujukan untuk menyakiti Justin yang kebetulan ada di sana. Dia hanya ingin membuat Selena terluka sedikit agar ia tahu bahwa Claudia tidak main-main dengan peringatan-menjauhi-Rieki.
Tetapi, kenapa berbalik seperti ini?
"Nona? Anda kenapa menangis?" Claudia sudah tidak bisa lagi menahan air mata.
Dia terisak hebat di depan loket, membuat beberapa orang yang lalu lalang menatapnya bingung serta iba. Hudson yang sejak tadi berada tak jauh di belakang Claudia lantas bergerak mendekat dan mengurus sisa administrasi lalu membawa Claudia menjauhi keramaian. Pria paruh baya itu tahu, Claudia sangat ketakutan kalau-kalau sampai Justin pergi meninggalkannya.
***
"Aku gak ngerti," Claudia mengusap punggung tangan Justin. Pemuda itu masih belum sadarkan diri karena pengaruh obat bius. Punggungnya yang terluka memaksa Justin untuk berbaring menghadap samping.
"Aku bener-bener gak ngerti. Kenapa Kakak lindungin dia?" wajah Claudia tenggelam diantara lipatan tangan. "Kakak suka sama dia?" dia mengangkat wajah. "Jadi, Kakak sekarang khianatin aku? Ninggalin aku kayak Papa dan Mama?" air matanya sudah menganak sungai.
"Kakak jahat," erangnya lemah.
Inilah Claudia. Terlihat sombong dan angkuh di luar, dan berlaku benar-benar manja dan rapuh di hadapan satu-satunya orang yang ia pedulikan dan mempedulikannya. Justin. Sejak kecil, mereka selalu bersama. Dan karena kondisinya yang lemah, Justin dipindahkan ke Inggris untuk mendapatkan lingkungan yang lebih baik agar penyembuhannya bisa lebih cepat. Tentunya, dia di sana bersama Kakek dan Nenek.
Beberapa saat Claudia hanya membisu, mengusap air mata, dan terkadang mengusap wajah Justin yang terlelap. Membawa dirinya mendekat pada Justin dan mengecup kening pemuda itu dengan sayang.
"Maafin aku, Kak," bisiknya pelan, diikuti air mata yang mengalir.
***