The Last Attack

3664 Kata
Baru saja selesai keluar dari kamar mandi, Selena memutuskan untuk membeberkan semuanya pada Audrey. Awalnya gadis itu kaget karena tahu bahwa Satoki-lah dibalik semua kejadian mengerikan yang menimpa Selena. Dan Audrey bisa menebak bahwa lelaki suruhan Claudia yang menyerang Selena malam itu di pantai mendapatkan informasi dari Satoki. "Gue bener-bener gak nyangka," mulut Audrey terbuka lebar. Selena mengedikkan bahu lalu membuka lilitan handuk di kepalanya. "Kenyataan gak semuanya indah, Rey." "Terus, Lily tau?" Selena menghela napas. "Enggak. Aku gak mau bikin hubungan mereka retak." "Lily pasti bakalan marah besar sama Satoki." "Ya," Selena mengangguk. "Kamu tau sendiri kan dia itu benci banget sama pembuli itu." Ada jeda yang cukup panjang diantara mereka hingga akhirnya suara ketukan pintu terdengar samar diantara suara hair-dryer yang dinyalakan Selena. Seketika itu juga, mereka saling pandang dan menatap jam dinding. "Jam sepuluh malem? Siapa?" baru saja Selena akan bangkit, Audrey menahannya. "Biar gue aja yang buka." Selena mengangguk dan tangannya langsung sibuk mengeringkan rambutnya. Sedangkan Audrey, dia bengong dengan mulut mengaga lebar saat mendapati seseorang berdiri di ambang pintu kamarnya. "Kenapa, Rey? Kok diem aja?" suara mendengung hair-dryer membuat Selena penasaran dengan kedatangan tamu tak diundang itu. "Siapa yang dateng sih?" Kepala Selena yang menunduk dengan rambut menutupi wajah menyebabkannya kesulitan melihat. Yang jelas, diantara helaian rambut cokelatnya yang menjuntai ke bawah, dia melihat sepasang kaki dengan sandal rumah berbulu putih. Kaki siapa ini? Merasa penasaran, dia menyingkap rambut sebelum benar-benar mengangkat wajahnya. "Claudia ..." reaksi Selena sama persis dengan Audrey sebelumnya. Dia merasa takjub dengan orang yang menghampirinya ini. Harusnya Claudia berada di rumah sakit, mengingat kakaknya yang baru saja masuk ke dalam ruang rawat sore ini. "Hai," sapa Claudia, "gue boleh ngomong sama lo?" Selena sempat blank beberapa saat. "O-oh, okay. Tunggu sebentar." Dia segera bangkit dan membereskan kasur yang dipenuhi dengan buku-buku pelajaran. Tangannya membawa setumpukan buku-buku ke atas meja lalu membereskan ranjang. Maklum, kamar ini tak cukup luas untuk memasukkan sofa. Hanya ada sepasang meja belajar dan kursinya, sepasang kasur, dan satu kamar mandi. Jadi, mau tak mau dia akan mempersilahkan Claudia untuk duduk di tepian ranjang atau kursi meja belajarnya. "Mau duduk di mana?" Selena menggeser kursi lalu melirik ranjang. "Sorry, kamarku berantakan banget. Nggak sempet beres-beres." "It's okay," Claudia memilih untuk duduk di tepian ranjang. Kini giliran Selena yang bingung harus duduk di mana. Tetapi akhirnya, dia memilih untuk duduk di ranjang Audrey. Memudahkan untuk berbicara dengan Claudia. Mereka saling berhadapan. Pandangan Selena masih melekat pada Claudia yang masih saja menyisir kamar ini. Apa yang dipandangnya? Tak ada yang berbeda kan, dari kamar asramanya? Ah, pasti berbeda jauh. Pastinya, kamar asrama Claudia lebih mewah dari miliknya. Matanya ikut melirik sekitaran dan tertumbuk pada Audrey yang masih berdiri mematung di dekat daun pintu. Memperhatikan Claudia dan Selena secara bergantian. "Rey?" suara Selena membuat Audrey meliriknya. Tangan Audrey menarik kursi belajar. "Kalian bisa ngobrol sepuasnya," dia duduk tanpa melepas pandangan dari Selena. "Tapi, gue gak akan keluar dari kamar ini sampe pembicaraan kalian selesai," Claudia terlihat tidak menyukai ide itu. Membuat Audrey memicingkan mata. "Ya, atau lo keluar dari kamar ini sekarang juga." "Audrey!" desis Selena, merasa tak nyaman. Gadis dengan rambut sepinggang itu mengerutkan kening. "Apa? Jangan harap gue rela ninggalin lo berdua sama dia ...," tangannya menunjuk Claudia. "... di ruangan tertutup kayak gini. Hal itu nggak akan terjadi sampe kiamat nanti." Claudia terlihat mengerti dengan kerisauan Audrey. Siapa juga yang akan rela meninggalkan teman, kerabat, atau pun seseorang yang baru ia kenal berduaan dengan orang yang sudah berulang kali mencoba mencelakainya? Akan aneh kalau Audrey pergi begitu saja meninggalkan mereka untuk berbicara pribadi. Menyadari dirinya penuh kesalahan, Claudia menghela napas. "Gue minta maaf." Ucapannya membuat Selena dan Audrey membeku. "Maaf karena selama ini udah berbuat jahat sama Selena. Gue bener-bener kekanakan karena gak bisa terima kenyataan. Awalnya, gue biasa aja pas tau kalo Selena deket sama Rieki. Gue cuma mau ngerjain dia, iseng-iseng. Tapi nyatanya, pas gue telusuri lebih jauh ... lo adalah orang yang selama ini ditunggu Rieki," dia mengangkat wajah. "Orang yang dulu juga sempet deket sama gue." Selena melongo. "Aku pikir, kamu gak inget kalo kita pernah sahabatan dulu." "Lebih tepatnya, gue gak mau mengingat itu. Gue pengen inget lo sebagai saingan gue." "Tunggu-tunggu-tunggu," Audrey memotong pembicaraan mereka. "Kalian udah pernah ketemu—maksud gue, kalian sahabatan pas kecil?" alisnya terangkat. "Berita hebat. Gimana bisa?" "Kita tetangga," jawab Selena dengan senyum lebar. "Dan sialnya, aku gak inget karena kecelakaan itu ..." suaranya mengecil, teringat akan cerita Justin tadi siang. Tentang ibunya yang menyebabkan tragedi mengenaskan itu. Claudia bangkit dan duduk di samping Selena. "Gue minta maaf," tangannya menyentuh pundak Selena dengan perlahan. Tanpa melanjutkan kalimatnya pun, Selena tahu apa maksud dari ucapan maaf itu. Dia meminta maaf untuk kekeras kepalaan mendiang ibunya. "Jadi ... gue boleh jadi temen lo lagi?" Claudia bertanya takut-takut. Dengan senang hati, Selena mengangguk dan memeluk Claudia dengan erat. "Boleh!" Dipeluk bukanlah hal yang sering ia dapatkan dari seseorang. Hanya Justin lah yang pernah memeluknya erat. Dan ketika dipeluk oleh Selena seperti ini, dia hanya diam mematung. Bingung harus melakukan apa. Sedangkan Audrey, masih menatap Claudia dengan pandangan tak suka. "Claudia," Selena tiba-tiba menarik dirinya dari pelukan. "Ya?" "Soal ... beasiswa Satoki, gimana?" Claudia memiringkan wajah. "Hm? Lo tau?" Selena mengangguk dan ia melanjutkan ucapannya. "Gue gak punya hak buat nyabut dana itu." "Jadi lo cuma ngancem dia?" Audrey bertanya dengan alis naik sebelah. Claudia tersenyum kecil. "Maaf, untuk semua masalah yang gue timbulkan." *** "Pagi-pagi jangan bercanda," Lily meremehkan ucapan Audrey. "Gak lucu sama sekali." Audrey memutar malas kedua bola matanya. "Gue serius!" "Mana mungkin Selly maafin Claudia semudah itu?" Lily melotot tapi kemudian wajahnya menjadi datar. "Bisa jadi sih. Dia kan terlalu baik. Selalu memaafkan orang lain." "Nah, itu lo tau," Audrey melangkah pelan sambil melirik Lily sekilas. "Gue di situ sumpah kesel banget, astaga. Rasanya kepengen benturin kepala Selly ke tembok dan teriak, 'dia mau bunuh elo, Selly! Dan sekarang lo maafin dia?!'." "Kalo gue yang ada di situ, gak akan gue biarin Claudia masuk ke dalam kamar." Telinga Audrey memang mendengarkan ucapan yang dilontarkan Lily, namun matanya tak lepas dari sosok pemuda yang bertingkah sedikit mencurigakan. Sebenarnya dia bukan pemuda tak dikenal, Audrey mengenalnya. Bahkan gadis yang amarahnya tengah meletup-letup di sebelahnya ini lebih mengenalnya. Siapa lagi kalau bukan Satoki, pacar Lily? Sudah beberapa hari ini Lily bercerita bahwa hubungan mereka merenggang. Padahal diantara ketiganya, umur hubungan mereka-lah yang paling muda. Dan sudah seharusnya mereka menjadi pasangan yang sedang dimabuk asmara, bukannya merenggang seperti ini. Sebenarnya Audrey sangat amat ingin memberitahu Lily bahwa Satoki berada di jarak pandang mereka entah-melakukan-apa, namun ia hanya diam, tak berucap apa pun. Audrey pun, masih belum mengatakan tentang Satoki yang melakukan hal buruk pada Selena. Ini masih sangat pagi, jarang ada siswa yang datang sepagi ini kecuali untuk piket. Dan setahu Audrey, jadwal piket Satoki bukan hari ini. Oh, dia mengetahuinya dari Lily. Baru saja mereka berbelok menuruni tangga—mereka berniat kembali ke asrama untuk sarapan, keduanya berpapasan dengan Satoki. Kejadiannya begitu cepat. Lily dan Satoki bertabrakan. "Satoki ...?" Lily mematung beberapa saat ketika sadar orang yang ia tolong adalah pacarnya sendiri. Kalau Lily tidak menggapai tangan Satoki, sudah dipastikan pemuda itu akan berguling di tangga. "Ly? Kamu kok?" wajah Satoki terlihat gugup. Lily mundur beberapa langkah bersamaan dengan tangannya yang menarik Satoki hingga jarak mereka menipis. Audrey yang merasa akan diabaikan lantas memberi isyarat pada Lily untuk kembali ke asrama duluan. Sepeninggal Audrey, Lily menatap Satoki tajam. "Kamu ke mana aja selama ini gak ada kabar?" "Aku? Aku kan selalu ada di hatimu, Sayang," canda Satoki sambil mencoel dagu Lily. Namun gadis itu menepis keras. "Kamu anggep hubungan kita lelucon?" Satoki terdiam. Bingung harus memulai pembicaraan dari mana. Begitu banyak pernyataan yang tergantung dalam benak, namun sama sekali tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Seandainya ia memiliki kemampuan seperti Selena dan Rieki, mungkin segalanya akan lebih mudah. Mungkin sekarang ia takkan melihat air mata yang menggenang di pelupuk Lily. Sungguh menyakitkan, ketika hubungan yang ia anggap sebagai batu loncatan untuk memata-matai  Selena harus berubah menjadi perasaan tulus. "Kamu ilang. Apa itu artinya kamu ingin hubungan kita berhenti?" Lily melirih, berusaha memendam getaran hebat dalam d**a. Yang diharapkan Lily adalah penjelasan dari Satoki, bukannya wajah yang tak mau menatapnya. Benar-benar menyakitkan ketika permasalahan yang seharusnya dibicarakan dengan mata terkunci harus berakhir dengan keheningan menyakitkan seperti ini. "Oke," Lily menarik napas dalam. "Diam berarti iya," kakinya bergerak mundur sebelum benar-benar memutar tubuh. "Kita akhiri semuanya di sini." Lily berbalik arah. Tak akan melihat ke belakang lagi. Karena tahu, pemuda yang ia cintai takkan mengejarnya seperti adegan di film-film. Satoki sangat ingin mengejar Lily, namun hatinya benar-benar tak kuat. Jika tetap berada di dekat mereka dan bersikap seolah-olah tak terjadi apapun, itu membuat rasa bersalahnya semakin membesar. Jadi, Satoki memutuskan untuk menjauhi Lily dan yang lainnya. "Maaf," lirih Satoki pelan seraya memandang punggung Lily yang semakin mengecil. Satoki menunduk, mengepalkan tangan sampai buku-buku jarinya memutih. Kalau orang lain memilih untuk mengikuti kata hati—mengejar orang yang dicintai, tidak untuk Satoki. Ia lebih memilih untuk berbalik arah dan menuju tempat unuk melaksanakan rencana berikutnya. Selalu ada pilihan dalam hidup. Namun Satoki tak bisa melirik pilihan yang ia inginkan sekarang. Hanya dengan melakukan hal keji ini, ia bisa terus bersekolah dan menggapai cita-citanya. *** Rieki melihat semuanya. Satoki lagi-lagi meletakkan sesuatu yang aneh di atas meja Selena. Sudah sejak pagi Rieki mengikuti Satoki dari asrama. Dirinya juga melihat dengan jelas bagaimana putusnya Satoki dan Lily. Hanya karena ia tak bisa bersekolah jadi dia menuruti perintah jahat Claudia? Rieki ragu kalau dia adalah murid beasiswa, dilihat dari betapa bodohnya pemuda itu karena mau menuruti kemauan Claudia. "Satoki." panggil Rieki, membuat Satoki menoleh dan bahunya terangkat. Menegang. Rieki berjalan mendekat dengan wajah menahan amarah. Tangannya mengambil bangkai tikus yang diletakkan di atas meja Selena. Rieki benar-benar tak menyangka Satoki tega berbuat seperti ini. Setelah membuangnya di tong sampah, pandangan Rieki kembali pada Satoki. Luka lebam akibat pukulan Rieki beberapa hari yang lalu ternyata masih berbekas. Dan Rieki merasa bersalah karena hal itu. Seharusnya dia bisa berpikir jernih kala itu. "Rie. Gue-gue ..." "Lo segitu bego-nya ya, dimanfaatin Claudia?" Satoki menunduk dalam. "Lo gak tau gimana rasanya jadi gue. Gue gak punya apa-apa. Semua cita-cita gue gantungin setelah lulus dari sini. Gue mau sekolah setinggi mungkin. Tanpa biaya dari dia, gue gak mungkin —" "Lo mau tetep sekolah di sini, kan? Gue bisa atur." "Hah?" kepala Satoki terangkat. Keningnya mengernyit dalam ketika Rieki menghirup udara dalam-dalam sambil memejamkan mata. Tak lama kemudian, senyuman lebar muncul di wajah Rieki bersamaan dengan manik matanya yang memandang Satoki. "Perkenalkan, gue Rieki Fernando Keane, anak dari pemilik Rainbow Rose Academy. Sang pewaris tunggal." Rieki tersenyum lebar, menunggu reaksi Satoki yang nyatanya hanya membeku. "Semoga penjelasan singkat gue bisa bikin lo tenang dan gak ganggu Selena." Bibir Satoki terbuka lebar. Anak dari pemilik sekolah? Rieki? Apa benar? Satoki benar-benar tak menyangka kalau salah satu temannya adalah orang penting di Rainbow Rose Academy. Kalau Rieki adalah anak dari pemilik sekolah, apa Satoki bisa bergantung padanya untuk tetap bersekolah di sini? "Kalo Claudia sampe minta ayahnya buat nyabut dana beasiswa punya lo, ayah gue yang akan nanggung semua biaya pendidikan lo sampe lulus nanti," jeda Rieki. "Kalo perlu, dia bisa biayain lo di perkuliahan. Karena dia tau lo anak yang berprestasi." Satoki tak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Inikah balasan yang diterima untuk orang jahat sepertinya? Dia benar-benar bersyukur dikelilingi oleh orang baik. Saking senangnya, air mata yang sejak pertama kali dirinya dimanfaatkan oleh Claudia tumpah ruah. Rieki hanya bisa tersenyum getir. Senangnya, bisa membantu menyelesaikan masalah sahabatnya. Rieki berjalan mendekat dan menepuk pundak Satoki. "Mau nangis sampe kapan? Gak mau ngejar Lily?" *** Setelah kepergian Satoki, Rieki duduk di meja Selena. Dia menunggu kedatangan gadis itu. Dia sudah tidak bertelepati dengan Selena sejak Justin masuk rumah sakit. Akhir-akhir ini, Rieki tidak bisa masuk ke dalam pikiran Selena ataupun memanggilnya lewat telepati. Seakan-akan aksesnya sudah ditutup rapat oleh Selena. Dan Rieki tak tahu mengapa Selena seperti itu. Kelas mulai ramai. Beberapa anak yang baru memasuki kelas dan mendapati seorang senior yang berada di kelas mereka lantas hanya bisa terkejut. Sebagian besar menyapa Rieki, sisanya langsung duduk di kursi atau memilih untuk keluar kelas. Mata Rieki hanya tertuju pada pintu kelas sampai akhirnya dia menemukan sosok yang ditunggunya. "Anna," Rieki berdiri, memanggil Selena yang langsung menoleh. Gadis itu tersenyum kecil sebelum meletakkan tasnya di kursi. Dia menghirup napas dalam sebelum memutar kepalanya menghadap Rieki. Pemuda itu masih berdiri di belakang Selena, menunggu respon gadis itu. "Hei," sapa Selena akhirnya. Tak hanya Rieki yang memperhatikan Selena. Audrey pun, hanya bisa memandang sahabatnya dengan gelengan kepala. Baru kali ini dia melihat Selena mendiamkan seseorang seperti itu. Selena benar-benar tak menyukai kata-kata kasar dan perkelahian ternyata. Bukan hanya mereka yang membuat Audrey khawatir. Melihat Lily yang hanya diam dan menenggelamkan wajah diantara lipatan tangan membuatnya mengelus d**a. Bagaimana hubungannya dengan Satoki? Ah, kedua sahabatnya ini benar-benar bikin sakit kepala. "Ada apa dengan situasi kelabu pagi ini?" tangan Kei yang tiba-tiba melingkar di pundak Audrey sempat membuatnya terkesiap. Audrey mengatur detak jantungnya agar kembali normal. Dengan wajah merona, dia menjauhkan diri dari Kei. "Yaaa, kamu tau kan mereka lagi ada masalah," wajahnya langsung berpaling ke sudut kelas. Dia benar-benar kesulitan kalau terlalu dekat dengan Kei. Kei tahu Audrey masih malu-malu padanya. Dan itu membuat Kei semakin gencar untuk menggodanya. Ditariknya pinggang gadis itu sampai tubuh mereka merapat. "Apa sekarang kita harus beraksi?" tanyanya sambil menaik-turunkan alis. "Beraksi?" tanya Audrey dengan kening berkerut. Lalu saat menyadari Kei terlalu dekat, Audrey memalingkan wajah. "Kei ...," dia mendesis, berusaha menjauhkan diri dari Kei namun tak bisa. "Jangan terlalu deket," bisiknya memohon. "Kenapa? Aku kan pengen deket kamu terus." "Tapi ... gak di kelas juga!" Audrey memandangi teman-temannya yang sudah menatapnya geli. Mungkin karena wajahnya yang sudah merah parah, menyebabkan mereka tertawa geli. Tiba-tiba saja Kei menjauh. Dia menatap ke arah Selena dan Rieki lalu Lily, kemudian kembali pada pacarnya. "Ya udah nanti malem temuin aku di depan gerbang ya, jam delapan. Jangan lupa bawa Selena dan Lily." Audrey mengerutkan kening. "Mau ngapain?" "Ada deh," bisik Kei lalu berlalu menghampiri Rieki. Menjepit leher pemuda itu. "Ayo balik ke kelas." Rieki mengerutkan kening. "Duluan. Gue masih mau —" "Gak ada bantahan," potong Kei lalu menarik paksa Rieki keluar dari kelas. *** "Eh?" Claudia mengernyit bingung ketika melihat Selena, Audrey, dan Lily berjalan beriringan keluar asrama. "Kalian mau ke mana?" tanyanya langsung. Audrey sempat menatap tak suka, namun Lily tampak menunduk dalam. Bayang-bayang Claudia yang dipenuhi darah masih teringat jelas di benak, dan itu sangat sulit untuk dihilangkan. Melihatnya saja, sudah membuatnya bergetar begini. Selena yang menyadari wajah Lily hanya tertunduk dalam akhirnya mengambil tangan gadis itu dan menggenggamnya erat. Mengakibatkan Lily mendongak, menatap Selena haru karena tahu bahwa sahabatnya yang satu itu menyadari ketakutan dirinya. "Kita mau keluar," jawab Audrey ketus. "Rey ...," Selena menekan nada bicaranya, menyebabkan Audrey menghela napas sebal. "Maaf," sahut Audrey. Selena tersenyum singkat pada Audrey yang masih terlihat tak suka, kemudian tatapannya beralih pada Claudia yang ternyata memandangi tautan tangan Selena dan Lily. Melihat Selena yang tampak melindungi Lily membuat Claudia mengerutkan kening, menatap Selena penuh pertanyaan. "Lily kenapa?" tanyanya bingung. Selena menggeleng samar. "Nggak apa-apa, kok. Dia cuman lagi nggak enak badan," matanya menangkap tas koper yang berada di sisi Claudia. "Kamu mau ke mana, Clau?" Claudia melirik arah pandang Selena, kemudian menarik kopernya hingga terhenti di depannya. "Gue mau ke rumah kakek nenek, bareng sama Justin," dia berjeda, "dan mungkin nggak akan balik lagi." Mata Selena membesar menyadari ada makna lain di balik perkataannya. Audrey pun sadar, dan dia tersenyum senang mendengar kabar gembira itu. Sedangkan Lily, saking kagetnya, dia mengangkat wajah dan menatap Claudia tidak percaya. Dan yang memberi kabar hanya terkekeh melihat reaksi ketiga gadis di depannya. "Bagus deh, jangan balik-balik la—duh! Selly!" Audrey meringis karena Selena menyikutnya dengan wajah tak enak. Kalau Audrey mengatakannya di belakang Claudia sih, tidak masalah. Namun yang menjadi masalah adalah, gadis itu mengatakannya tepat di depan wajah Claudia. Dan Selena merasa tidak enak. "Nggak sopan ih, Rey," bisik Selena. Audrey cemberut dan membuang pandangan. Tak mau menghiraukan Audrey, Selena kembali memandang Claudia. "Kenapa musti ke Inggris gitu?" dia menghela napas. "Kalo itu mengenai Justin, aku yakin dia bakalan sembuh kalo dirawat di sini ...," Selena melirik tiga sahabatnya. "... kita juga belum sempet jengukin dia." Audrey berdecak sebal, tetapi ia setuju dengan perkataan Selena. "Gue sama Lily juga belum berterima kasih sama Justin. Kalo nggak ada dia, sekarang pasti Selly yang berbaring di ranjang rumah sakit." Claudia tersenyum mendengar penuturan tulus Audrey. Tetapi dia tahu, penjelasannya barusan merupakan perkataan yang ditujukan untuk Justin. Bukan untuk dirinya yang sudah berbuat jahat pada Selena. Dia sadar sekali, dua sahabat Selena ini sangat membencinya. Hal aneh itu adalah ketika Selena memaafkannya dengan mudah. Baru saja Selena akan menyambut perkataan Audrey, ponsel gadis itu berdering. Setelah membaca pemanggilnya, Audrey beranjak dari tempatnya berdiri, menjauhi mereka dan berbicara di salah satu sudut sembari memperhatikan sekitar. Selena memperhatikannya. Audrey sedang mencari sesuatu. "Yaudah, gue berangkat dulu," suara Claudia membuyarkan lamunan Selena. "Oh-iya," Selena mengangguk. "Kalo udah sampe di sana, kabarin kita, ya?" Anggukan kepala Claudia diikuti senyuman tulus yang tampak di wajah. Beberapa saat kemudian, Claudia mendekati Lily dan meminta maaf atas kejadian di kamar mandi waktu itu. Awalnya, dia tidak sadar. Namun saat Justin menjelaskannya, dia menerima permintaan kakaknya untuk meminta maaf pada Lily. Setelah itu, Claudia pamit pada keduanya dan berjalan keluar, menggeret koper besarnya dengan perlahan. "Mungkin Claudia memang udah berubah," sahut Lily pelan. Selena tersenyum singkat. "Aku yakin dia udah berubah." "Tapi lo nggak boleh terlalu deket sama dia ...," Lily berjeda, "... gimana pun juga, kita nggak tau dia bakal melakukan apa. Lo tau sendiri kan, dia itu kayak setan yang baru bebas dari neraka." Selena tertawa dan memukul ringan pundak Lily. "Apaan sih Ly? Aku yakin kok dia nggak akan berbuat hal jahat lagi." "Untungnya dia bakalan pindah," Lily tidak mempedulikan ucapan Selena. "Dia nggak akan muncul lagi di hadapan kita. Bahagia gue, akhirnya ...," dia mendekat dan memeluk Selena erat. "Nggak akan ada lagi orang yang berniat menghapus keberadaan lo." Senyum tipis tampak di wajah Selena. Dia mengangguk, namun matanya memandang angkasa. "Tapi sedih, ya?" seketika itu juga, pelukan Lily terlepas, memandang Selena dengan tatapan bertanya. "Kenapa?" "Claudia, dia sampe pindah ke Inggris gitu. Aku yakin dia sebenernya nggak mau." Lily mengguncang tubuh Selena berulang kali. "Biarin aja udaaah!" dia menggeleng tak percaya. "Gue bener-bener gak bisa ngerti jalan pikiran lo deh. Bisa-bisanya ya tetep mikirin Claudia yang jahatnya melebihi setan itu?" Selena terkekeh. Tak berapa lama kemudian, Audrey memanggil Lily dan Selena untuk segera menghampirinya di gerbang utama. Gadis itu sudah melambai-lambaikan tangannya dengan semangat. Dan ketika Selena menyipitkan mata, dia menyadari bahwa ada seseorang yang bersama Audrey. Kei. Mereka terlihat sangat antusias dengan kedatangan Selena. Tiba mereka sampai di hadapan Audrey, Selena tambah bingung karena ternyata Rieki dan Satoki juga ada di sana. Mereka berdiri di balik pagar yang tertutupi tumbuhan rambat, jadi sosok kedua lelaki itu tidak terlihat sama sekali. "Karena semuanya udah kumpul ...," Audrey menepuk kedua tangannya satu kali kemudian menatap Kei. "Kita bisa jalan—" "Gue nggak ikut," Lily memotong pembicaraan seraya menaikkan sebelah tangannya. Audrey tampak kecewa mendengarnya. Selena bingung, dia belum tau kalau Lily dan Satoki telah memutuskan hubungan. Sedangkan Rieki hanya menghela napas dan membuang pandangan. Tidak ingin melihat Satoki yang sudah berlari mengejar Lily yang berniat masuk kembali ke dalam asrama. "Lily kenapa?" tanya Selena bingung. Audrey bergumam, "ada sedikit masalah sama hubungan mereka." "Mereka bakalan baik, kan?" tanya Selena ragu. "Harus," sambut Rieki. Selena hanya melirik Rieki sejenak, namun beberapa saat kemudian ia memalingkan wajah. Tidak tau harus bagaimana memandang Rieki. Dia sadar bahwa dirinya tak bisa terus-terusan marah pada Rieki karena hal sepele seperti itu. Lagipula, Rieki hilang kendali karena berniat untuk melindunginya, bukan? Mata gadis itu kembali memandang Rieki yang sudah memunggunginya. Mungkin sekarang lah saatnya dia harus meminta maaf. Memperbaiki hubungan diantara mereka. Jadi, Selena berjalan mendekati Rieki. Bersamaan dengan Audrey dan Kei yang berjalan menjauh, memberi ruang pada keduanya untuk membicarakan masalah pribadi. 'Rie,' panggil Selena pelan. Rieki tidak menoleh. Entah karena tidak ingin melihat wajah Selena, atau karena telepatinya tidak sampai. Selena berjalan perlahan hingga langkahnya berhenti tepat di belakang Rieki. Wajahnya mendongak, menatap punggung yang selalu membuatnya nyaman. 'Rie, aku minta maaf,' sahut Selena akhirnya. Tangan Selena terangkat hendak menyentuh pundak Rieki namun nyatanya malah bertabrakan dengan d**a Rieki. Selena terkejut karena Rieki memeluknya tiba-tiba. Tangannya melingkar erat di pinggang Selena, membuat gadis itu hampir kehabisan napas kalau-kalau Rieki tidak merenggangkan pelukannya. "Kamu nggak tau gimana sakitnya dicuekin," bisik Rieki. Tangan Selena terangkat, mengusap punggung Rieki. "Maafin aku. Aku bener-bener nggak suka ngeliat orang yang berkata kasar atau melakukan kekerasan ...," dia berjeda, "... dan saat itu kamu melakukan keduanya. Aku jadi ... marah banget." "Tapi kamu tau kan, aku melakukan itu demi kamu?" Selena mengangguk. "Maaf, aku keras kepala." "Nggak apa-apa," Rieki melonggarkan pelukan mereka dan menangkup wajah Selena. "Itu lebih baik. Aku bisa ngerti diri kamu lebih dalam, dan tau resikonya kalau melanggar peraturan nggak tertulis itu." Selena tersenyum kecil dan menunduk saat sadar wajahnya terlalu dekat dengan Rieki. Pemuda itu hanya mengusap pipi Selena dengan ibu jarinya kemudian menggesekkan hidung mereka beberapa kali. Selena tertawa dengan semburat merah di wajah. Namun dari kejauhan, tanpa mereka sadari, ada mobil mewah berkecepatan tinggi melaju mengarah pada keduanya. Air mata yang mengalir deras memburamkan pandangan pengemudi mobil itu. Gadis dengan mata cantik itu tampak benar-benar marah, bahkan kakinya sudah menginjak pedal gas kuat-kuat, menambah kecepatan. Tidak sampai hitungan menit, bumper mobil itu menghantam sepasang kekasih yang baru saja berbaikan. Terdengar teriakan histeris dari bibir Audrey ketika melihat Rieki dan Selena terseret beberapa meter sebelum akhirnya terpental jauh, berhenti tepat di pinggir jurang. Sedikit lagi mendapat dorongan, sudah dipastikan mereka akan masuk ke dalam jurang seperti mobil itu. Di dalam mobil yang sudah ringsek, Claudia mendesis, "kalo gue nggak bisa dapetin Rieki," cengiran lebar hadir diantara darah yang mengucur deras dari kepalanya. "Maka Selena pun nggak berhak." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN