Between Tears and Relieved

2249 Kata
Dalam kamar rawat rumah sakit yang sudah gelap, Justin mempersiapkan pakaian serta barang-barangnya selama di rumah sakit. Dia sudah bisa pulang sebenarnya, namun Claudia memaksanya untuk tetap berada di ruang rawat. Claudia, adik kembarnya itu tiba-tiba menerima ajakan dirinya untuk pergi ke rumah kakek nenek di Inggris. Dia tidak begitu mengerti alasan sebenarnya, namun paling tidak adiknya itu bisa tetap berada di bawah pengawasannya. Dia menghela napas, ingat betapa kagetnya adik perempuan yang ia tinggalkan saat kecil dulu menjadi peribadi yang sangat keras kepala dan tidak bisa diatur. Sifatnya yang manja pada Justin memang tidak berubah, tetapi dia sama sekali tidak mengerti dengan perubahan sikap lembutnya menjadi kejam tak penuh ampun seperti itu. Tidak ada yang tau, selain dirinya, bahwa Claudia memiliki gangguan mental sejak kepergian ibunya. Ayahnya pun, tak tahu menahu soal putrinya itu. Dalam waktu tertentu, emosinya menjadi tak terkendali dan berujung kehilangan kesadaran. Emosi yang akan membawa tubuhnya. Seperti yang terakhir kali terjadi di kamar mandi sekolah waktu itu, Claudia menyayat dirinya dengan pecahan kaca. Hal itu sudah terjadi beberapa kali, membuat para pembantu di rumah khawatir dan memutuskan untuk melaporkannya pada Justin. Itu lah salah satu alasan mengapa Justin kembali ke Indonesia. Dia ingin menjaga Claudia, ingin mengembalikan kebahagiaan yang diinginkan gadis itu agar jiwanya kembali. Tapi ternyata, semua hal yang dilakukannya hanya memperburuk keadaan. Dia sadar sekarang, menuruti kemauan Claudia adalah hal terbodoh yang pernah dilakukannya. Tangannya terjulur, mencari ponsel untuk menghubungi Claudia. Entah kenapa, perasaannya benar-benar tak enak saat ini. Bahkan obat tidur yang sebelumnya diberikan oleh suster tidak berpengaruh padanya. "Clau?" sapanya begitu sambungan itu terangkat. "Maaf, hubungan apa yang Anda miliki dengan pemilik ponsel ini?" Jantung Justin seakan berhenti berdetak saat mendengar suara berat yang berbicara di ujung sana. "Anda siapa? Di mana Claudia?!" "Saya kepala polisi yang menangani kasus kecelakaan. Ponsel ini saya temukan di dalam mobil hitam yang jatuh ke dalam jurang. Sekarang saya membutuhkan informasi tentang —" "Di mana Claudia sekarang?" "Maaf, tapi saya perlu menanyakan dulu hubungan yang Anda—" "Saya saudaranya," Justin memejamkan mata, menenangkan diri yang sudah siap meledak saking kesalnya karena penjelasan polisi itu berputar-putar dan tidak menjawab pertanyaannya. Ia menarik napas dalam kemudian sedikit membentak, "di mana Claudia sekarang?!" "Dia dalam kondisi buruk, menuju rumah sakit —" Ponsel di genggaman Justin terlepas, dia bangkit dari ranjangnya dan bergegas keluar. Perasaannya benar-benar takut saat ini. Bingung. Bagaimana bisa mobil Claudia masuk jurang? Apa yang dilakukan Hudson?! Bukankah ia sudah meminta pria itu untuk menjaganya?! Tepat setelah ia membuka handle pintu, dari kejauhan matanya menangkap sosok Hudson yang berlari ke arahnya dengan wajah panik. Justin tahu apa yang akan dikatakan pria itu. "Antarkan aku ke tempat Claudia berada," ucapnya tegas. "Baik, Tuan," sambut Hudson perlahan kemudian menuntun Justin agar bisa berjalan lebih cepat. Bodyguard Claudia itu menatap Justin takut-takut, seperti ingin memberitakan sesuatu namun ditahannya. Hudson sudah bisa menebak kalau Justin tahu tentang kecelakaan itu dilihat dari bagaimana sikapnya dan perintah untuk mengantarkannya pada Claudia. Tapi Hudson rasa, Justin tidak tahu sama sekali tentang apa yang menyebabkan kecelakaan itu terjadi. "Tuan, sepertinya Anda harus mengetahui suatu hal." "Apa? Katakan apa yang ada di pikiranmu sekarang." Hudson menelan ludah gugup. "Nona Claudia mengalami kecelakaan karena menabrak Tuan Rieki dan ... Nona Selena." Justin berhenti bergerak. Claudia menabrak Rieki dan Selena? Dipandang penuh pertanyaan oleh Justin membuat Hudson menunduk ragu penuh permintaan maaf. Setelah kejadian penembakan panah beberapa hari yang lalu, Justin tidak berencana memecat Hudson karena ia sudah begitu setia dengan keluarganya. Pemuda itu justru meminta Hudson untuk menjauhkan Claudia dari tindakan bodoh. "Maaf Tuan, saat itu saya berada di mobil yang berbeda dengan Nona, dan sama sekali tidak menyangka kalau Nona akan melakukan hal senekat itu." "Keadaan Selena, gimana?" Justin mengabaikan penjelasan singkat Hudson. Saat ini perasaannya benar-benar campur aduk. Diantara khawatir pada Claudia, juga merasa kecewa karena kenyataannya adiknya itu mencelakakan Selena. Justin meringis dalam hati. Kalau saja ia bisa meyakinkan Claudia untuk pergi ke Inggris lebih awal, semuanya takkan seburuk ini, kan? *** Tak ada yang bisa Justin ucapkan ketika dokter berkata, "saya sudah berusaha sebisa mungkin untuk menolongnya, namun Tuhan berkehendak lain. Maafkan saya.". Sampai kepergian dokter itu pun, Justin hanya berdiam diri. Berdiri memperhatikan tubuh adiknya yang belum ditutupi oleh kain putih. Para suster keluar ruangan satu persatu, menyisakan dua orang yang bersiap membawa Claudia ke ruang jenazah. Tubuh Justin terasa sangat ringan, seperti sebagian kesadarannya hilang. Hanya satu tujuan Justin saat ini, menghampiri Claudia yang sudah terbujur kaku. Sesaat di hadapan gadis itu, Justin menyentuh pipi Claudia yang terasa dingin. Bagian kanan wajahnya sudah hancur karena terbentur batu besar serta tertusuk ranting dari semak maupun pohon yang ia lewati saat terjun ke dalam jurang. "Halo adikku sayang," Justin tersenyum kecil. Bersamaan dengan Justin yang berusaha berbicara sepatah dua kata dengan Claudia, dua orang suster keluar ruangan untuk memberikan privasi. Tak jauh dari kedua suster yang tengah menunggu itu, Hudson berdiri dengan kepala tertunduk dan tangan yang terkepal. Mati-matian berusaha menahan tangis karena ditinggalkan gadis yang selama ini selalu ia jaga, rawat dengan penuh kasih sayang. Claudia memang sering melukainya saat tidak sadarkan diri, tapi Hudson sadar, dia hanyalah anak dari keluarga kaya raya yang memberontak, mencari perhatian dari orang tua yang tidak peduli dengannya. Rasanya ia ingin berteriak, ingat akan anak gadisnya yang berusia sama dengan Claudia. "Dia pergi dengan cara yang sama seperti istriku?" suara berat yang sangat ia hormati terdengar di telinga Hudson, membuatnya membungkukkan tubuh dan mundur beberapa langkah. "Kenapa dia melakukan ini, Hudson?" tanya Addison, ayah Claudia dan Justin. "Apa karena cinta pertama juga?" tanyanya pilu. Hudson tak bisa berucap apa pun. Dia hanya mengangguk samar, membiarkan Addison berkelana dengan pikirannya sendiri. Hudson juga tidak mengerti, mengapa pria tegas itu menebak sedemikian tepatnya? Apa ia bertanya karena ingat dengan alasan kematian mendiang istrinya, atau karena pria itu benar-benar memerhatikan putrinya? Yang pasti, Hudson sama sekali tidak berhak ikut campur masalah keluarga itu. "Persiapkan untuk pemakaman Claudia besok pagi, Hudson," sahut Addison seraya menghampiri Justin yang hanya diam membeku di samping Claudia. Sepeninggal Hudson, Addison menepuk pundak putra sulungnya hingga ia menoleh. "Hai, Pa," sambut Justin singkat. Addison tersenyum tipis. "Maaf karena selama ini Papa terlalu fokus sama pekerjaan. Semenjak kematian Mama, Papa benar-benar tidak tahu harus berpegangan pada siapa. Pikiran Papa kacau, kecewa, marah pada pada Mama karena ternyata ia masih memiliki perasaan pada lelaki itu." Mendengar pengakuan ayahnya, Justin menoleh. "Itu sudah lama terjadi memang, tapi rasa marah dan kecewa itu masih menggelayuti pikiran Papa ...," Justin kini tau mengapa ia tetap mencintai Selena meski jarak mereka begitu jauh. Sikap itu ternyata diturunkan dari Addison, yang masih menyimpan perasaan yang sama meski mereka sudah berbeda dunia. "... Papa jadi tidak kuat memandang Claudia yang begitu mirip dengan mendiang Mama mu." "Tapi sekarang ...," Addison terdiam, tak mampu mengucapkan kalimat yang menggantung di tenggorokannya. Dia berjalan mendekati Claudia, berdiri tepat di mana Justin sejak tadi hanya diam memandangi tubuh adiknya. "Apa ini hukuman buat Papa, Clau? Karena Papa nggak bisa memaafkan Mama, kamu memberontak dan menjadi seperti ini?" Clau, kamu liat Papa kan? Justin mendongak menatap langit-langit ruangan. "Kalau Papa bisa mengulang waktu, ingin rasanya memeluk dan mendengarkan ceritamu tentang sekolah, seperti yang selalu ingin kamu bicarakan ...," Addison menarik napasnya dalam, tidak ingin air matanya terjatuh. "Kalau saja Papa tidak egois ... Kalau saja ..." Dia ada di sini Clau, dia akhirnya sadar kalau kamu butuh perhatian, kamu butuh rasa sayang dia ... hati Justin benar-benar nyeri mendengar untaian kalimat dari ayahnya. Dan setelah hening beberapa saat, Justin menunduk. Memerhatikan Addison yang mendekati wajah Claudia lalu mengecup kening gadis itu cukup lama. "Maafkan Papa, sayang," bisiknya pelan, membuat air mata Justin yang sejak tadi ia bendung tumpah ruah. Tuhan, kenapa kebahagiaan begitu sulit didapatkan Claudia? Kenapa sampai akhir hayatnya, ia tak bisa tersenyum dari lubuk hatinya yang terdalam? *** Pemakaman itu berlangsung singkat. Justin berdiri di sebelah Addison yang membawa satu-satunya foto Claudia dengan senyum terlebar yang ia punya. Di belakang Justin ada Lily, Audrey, Satoki, serta Kei yang hanya bisa menunduk dalam diam selama pemakaman berlangsung. Satu persatu orang-orang berjalan menjauh dari kuburan Claudia, diikuti dengan sinar mentari yang sangat terik. Justin memandangi angkasa. Bahkan matahari pun sepertinya sama sekali tidak berniat menumpahkan tangisnya untuk menyamarkan air mata Justin yang tetap mengalir meski selalu diusapnya dengan saputangan. Dia tau, seharusnya ia bisa tegar menghadapi ini. Tapi hatinya, tak bisa dibohongi. Kepergian adik kesayangannya itu benar-benar membuat hatinya hancur. Sampai Addison meninggalkan pusara Claudia pun, ia masih tak bergerak dari tempatnya. "Justin, kita turut berduka," suara Kei tak disambut oleh si pemilik nama. Matanya melirik Audrey yang hanya bisa menghela napas berat, diikuti Lily dan juga Satoki yang berjaln mendekati Justin. "Kita balik sekarang? Inget kan, setelah sadar, Selena terus-terusan nanyain Claudia dan gue bingung harus jawab apa—" "Bilang aja Claudia udah pergi dan nggak akan ganggu dia lagi." Mendengar nada ketus dari suara Justin membuat Kei menarik Audrey menjauh dari pemuda yang tengah berkabung itu. "Dia butuh sendiri," bisik Kei akhirnya. Tapi sekian detik kemudian, Justin menoleh dengan wajah penuh amarah. "Kalian nggak perlu pura-pura baik. Gue tau kalian seneng kan Claudia meninggal?!" suaranya semakin meninggi, diikuti dengan kepalan tangan. Wajahnya tak berbeda jauh dengan saat di mana Claudia melukai dirinya di kamar mandi saat itu. Sosok lain di diri Justin yang membuat Selena menjadi awas padanya. Satoki dan Kei sempat kaget melihat perubahan sikap Justin, tapi mereka memasang tubuhnya di depan gadisnya masing-masing. Takut jika hal buruk akan menimpa keduanya. "Mana ada sih orang yang seneng pas tau temennya meninggal? Nggak ada," sambut Kei. "Temen?" Justin tersenyum miring mendengarnya. "Sejak kapan kalian nganggep Claudia sebagai temen? Kalian berempat sama aja, menjauh tanpa berusaha untuk ngertiin gimana posisi dia." "Sikap dia yang maksa kita buat lakuin itu," bela Lily. Justin mendengus kemudian berlalu. "Nggak ada yang maksa kalian buat melakukan itu." Napas Lily sudah memburu saking kesalnya mendengar ucapan ketus yang Justin lontarkan. Dia tak habis pikir, kenapa sikapnya bisa seperti itu? Mereka berempat memang tidak menyukai Claudia, dan senang kalau ia tidak ada di sekitar mereka. Namun mereka tak bisa senang jika ia pergi dengan cara seperti ini. Bagaimana pun juga, kematian adalah hal yang menyedihkan, bukan? "Maafin dia, ya," Satoki menghela napas, mengusap pundak Lily agar tidak menegang. "Dia lagi sedih, jadi kebawa emosi. Nanti kalau dia udah baik, kita baru bisa ngomong sama dia." *** Selena masih belum bisa bergerak dari ranjangnya. Dokter belum memberikannya izin untuk sekedar duduk dari posisi berbaringnya. Selena mendapatkan benturan yang cukup keras di bagian bahu yang mengakibatkan tulangnya bergeser dari tempat asalnya. Kakinya pun, tak luput dari perban karena tulang di pergelangannya retak. "Anna, makan," Kakek melirik piring bubur yang sudah dipersiapkan suster beberapa saat yang lalu. Selena hanya melirik kakeknya lewat ekor mata. "Nanti Kek Anna makan," sahut Selena. "Kamu harus makan sekarang, Anna," paksa Kakek, membuat Selena mengerang karena sebenarnya ia tak begitu menyukai bubur. Akhirnya dengan desakan luar biasa dari kakek, Selena membuka mulutnya dan mulai menelan bubur itu dengan wajah aneh. 'Rie,' panggilan Selena sampai pada Rieki, namun tak ada jawaban. Membuat ia menoleh pada kakeknya. "Kek, Rie belum sadar?" tanyanya takut-takut. Kakek menghela napas dengan berat, memerhatikan jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sebelas siang. "Belum," kakek menggeleng. "Kita doain yang terbaik buat dia ya, Anna." Bibir Selena mengerucut sebal diikuti dengan air muka penuh harapan. "Dia pasti bangun, kan?" Kakek mengangguk cepat. "Anna pengen ketemu sama dia. Boleh ya?" "Makan dulu, abisin. Nanti baru boleh ketemu sama dia." "Beneran ya?" "Iya, sayang." Tak ada pembicaraan lagi diantara kakek dan Selena. Keduanya sibuk dengan aktivitas masing-masing hingga Selena menghabiskan makanannya dan beralih pada kakek. Banyak pertanyaan yang menggumpal dibenaknya. Saat kecelakaan terjadi, Selena sempat melihat pengemudi mobil yang menabraknya. Karena hal itu, ia tak bisa berhenti bertanya tentang keadaan Claudia. Lily, Satoki, Kei, Audrey, bahkan Kakek pun, tak memberitahukan bagaimana kabar Claudia. Membuat perutnya melilit gugup. Benar-benar takut kalau terjadi hal buruk pada gadis itu. Kalau Claudia tidak selamat seperti ia dan Rieki, bagaimana ia akan bertanya alasan dibalik perbuatannya itu? Memikirkannya saja sudah membuatnya sedih. Tapi di dalam sudut hatinya, ada perasaan kecewa dan marah, tidak mengerti kenapa Claudia sampai melakukan hal seburuk itu. Apa kehadirannya ini benar-benar dibenci Claudia? Tapi, bukankah mereka sudah berbaikan, dan bahkan berteman? Kakek mendongak ketika mendengar isakan kecil. Bangkit dari duduknya, ia menghampiri Anna dan duduk di pinggir ranjang. Membuat Selena memalingkan wajah sembari mengusap air matanya. Entah kenapa dia merasa malu saat kakeknya memergoki dirinya menangis. Sudah berapa kali dia menangis sejak pagi ini? "Kek, Anna pengen ketemu Claudia." Kakek tak menjawab apa pun, hanya meremas tangan Selena dengan lembut. "Kakek ...," panggilan itu membuat Kakek mendongak. "Kenapa semuanya seakan nyembunyiin Claudia? Dia kenapa, Kek? Keadaannya gimana? Dia udah bangun, kan?" Menghirup napas dalam, Kakek tersenyum. "Kakek yakin sekarang ini dia udah bahagia." "Ma-maksud Kakek, Claudia udah ..." kalimat itu tersendat di tekak, tidak ingin dia keluarkan karena takut bahwa itu lah kenyataannya. Kakek hanya diam, menunduk menunggu Selena melanjutkan kalimat yang tak bisa ia ucapkan karena sudah tergantikan air mata. "Kakek tau ini jahat, tapi ...," Kakek berjeda, "Kakek lega dia udah pergi selamanya." Selena menatap kakeknya tak percaya, kaget karena ia bisa mengucapkan kalimat sekejam itu. Kabar kematian Claudia tadi malam memang membuat lega empat orang yang menyaksikan kejadian langsung itu. Melihat reaksi empat orang sahabat Selena yang senang membuatnya penasaran dan bertanya. Saat itu juga lah, Audrey tanpa ragu menceritakan ulang seluruh kisah. Jadi, meskipun terdengar jahat, tapi kakek lega karena orang yang sangat ingin melenyapkan Selena sudah tidak ada. Cucunya ini sudah bisa merasakan kebahagiaan sesungguhnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN