With Love

2553 Kata
Dua minggu sejak kematian Claudia. Keadaan fisik Justin yang sebenarnya sudah baik tidak mempengaruhi kesehatan mentalnya yang jelas-jelas masih terguncang akibat kematian adik satu-satunya. Sejak pulang ke rumah, Justin hanya diam di kamar Claudia tanpa makan dan minum sampai ia sempat dilarikan ke rumah sakit karena dehidrasi. Di sekolah pun, Justin lebih banyak berdiam diri. Dia yang biasanya senang mengobrol atau mengumbar senyum sekarang seperti mayat hidup. Diam tak mau berbicara, bahkan saat guru menyuruhnya untuk menjawab pertanyaan saja ia mengabaikan. Dan biasanya, ketika istirahat siang seperti ini Justin akan duduk sendirian di bangku taman di bawah pohon dekat parkiran mobil. "Selly, mau ke mana?" Audrey menahan tangan gadis itu saat kakinya hendak melangkah ke suatu tempat. Selena menolehkan kepala. "Aku mau ke Justin sebentar, Rey." Matanya melirik ke arah luar jendela, tepat di mana Justin tengah duduk berdiam diri. Dari lorong lantai dua ini mereka bisa melihat Justin dengan jelas. "Jangan," Audrey mengeratkan pegangannya pada pergelangan Selena. "Biarin dia sendiri. Jangan kasih perhatian berlebih. Lo emangnya mau dia salah paham dan berbalik mikir kalo lo punya rasa buat dia?" "Kamu ngomong apa sih, Rey?" kening Selena berkerut bingung. "Justin juga nggak bakalan mikir kayak gitu. Kita kan temen. Lagian masa iya Justin dalam masalah kayak gitu aku diem aja? Aku udah berhutang banyak sama dia, Rey. Sebelumnya dia nyelametin aku dari anak panah. Paling nggak sekarang aku pengen bahagiain dia." "Bahagiain dia? Lo mau di sisi dia terus-terusan dan melupakan fakta--" "Biarin aja Rey, terserah Selena mau ngapain juga," suara Rieki membuat Audrey mendongak, mendapati pemuda itu berdiri di belakang Selena. "Rie!" Selena mengeluh saat salah satu tangan Rieki mengacak rambut gadis itu. "Dia emang nggak bisa dibilangin," kepalanya menggeleng kemudian menarik wajah Selena mengarah padanya agar mereka berdua bisa bersitatap. "Mau nggak mau gue harus nemenin dia nyamperin Justin." Audrey menghela napas sebelum akhirnya mengangguk dan berjalan mendekati Kei yang sudah melambaikan tangan ke arahnya dengan senyuman lebar. Sepeninggal Audrey dan Kei, Selena memandang Rieki dengan bibir mengerucut sebal. "Aku bisa sendiri, nggak perlu ditemenin." 'Tapi aku nggak suka kamu ngobrol dari hati ke hati atau semacam dengerin curhat dia,' Rieki mengirimkan sinyal tak-mau-dibantah. 'Kalau orang lain sih, aku nggak masalah. Tapi ini, dia--Justin, yang jelas-jelas punya something in his heart.' Kening Selena berkerut dalam. 'Apa sih maksudnya? Aku nggak ngerti.' Rieki menghela napas. Benar-benar tak habis pikir, bagaimana bisa Selena tidak mengerti perasaan Justin setelah insiden penembakan panah waktu lalu? Siapa pun, semuanya juga mengerti arti dari perlindungan itu. Justin menyukai Selena. Itu jelas terlihat. Mendengar untaian pernyataan yang sengaja tidak disembunyikan oleh Rieki membuat Selena membeku. Matanya membesar seketika, mulutnya melebar setengah sambil mengedip-ngedipkan mata. "Jangan bercanda, Rie." Rieki menaikkan sebelah alis. "Mukaku ini keliatan bercanda? Kamu bisa baca pikiran aku dan sebaliknya. Kalau aku bohong, kamu pasti tau sejak awal." Tak ada yang bisa disembunyikan diantara mereka. Kalaupun salah satunya sengaja menutupi pikiran mereka, lambat laun pasti akan terbongkar. Entah secara sengaja atau karena salah satunya tidak menyadari tentang pikirannya yang melayang-layang sampai pada pasangannya. Saking memikirkan ucapan Rieki tentang perasaan Justin padanya, Selena tak sadar kalau wajahnya sudah tertunduk dalam. Memandangi sepatu putih yang biasa digunakan di dalam lingkungan sekolah. "Jadi, aku harus apa?" tanya Selena akhirnya. "Diam dan biarkan dia sendiri," Rieki mengambil tangan Selena. "Dia memang butuh sendiri. Biarkan waktu yang menyembuhkan luka Justin. Kita hanya perlu menjaganya dari jauh. Kalau kita melihat dia akan melakukan hal bodoh, barulah kita mendekat." "Apa itu yang terbaik?" "Kenapa kamu begitu memperhatikannya?" tangan Rieki terangkat, menyentuh wajah Selena dan mengusapnya pelan. "Apa memperhatikanku saja nggak cukup buat kamu?" Selena menghela napas, berjalan mendekati Rieki dan tersenyum. 'Nggak bisa ngilangin pikiran negatif kamu, Rie? Aku sama Justin cuma sebatas teman. Aku ngasih perhatian ke dia, karena dia adalah teman.' 'Dulu kita juga berawal dari teman, kan?' Mereka saling bertatapan tajam, mengisyaratkan bahwa keduanya mempertahankan apa yang mereka yakini meski bertentangan. Tapi tatapan Rieki lebih menusuk dan tegas, Selena sampai mendengus sebal dan memutuskan ikatan pandang mereka. "Fine. Kamu menang. Aku nggak akan deketin Justin lagi!" sahut Selena sebal. Rieki tertawa puas dan menarik Selena ke dalam rengkuhannya kemudian mengecup puncak kepala gadis itu dengan sayang. "Kamu tau pasti, aku melakukan ini karena aku sayang sama kamu. Aku nggak mau ada lelaki yang merasa punya kesempatan untuk ngerebut kamu dari aku." "Iya, aku tau." "Pinter," bisik Rieki seraya mengusap-usapkan pipinya di puncak kepala Selena. Dalam jarak sedekat ini, Selena bisa merasakan debaran jantung Rieki yang berirama. Dia tersenyum senang, bahagia karena berada di pelukan orang sebaik Rieki. Tiba-tiba saja, ada suara batuk yang terdengar di telinga mereka berdua. Membuat pelukan mereka mengendur dan memandang orang yang merecoki momen romantis mereka. "Pacaran jangan di sekolah ih, bikin panas sekitar aja," itu Satoki, dengan tumpukan buku di pundaknya. Rieki tersenyum. "Ya kalo lo iri tinggal peluk Lily," matanya melirik Lily yang entah sejak kapan berada di belakang Satoki, karena pemuda itu tampak terkejut akan kehadiran kekasihnya di belakangnya. "Nggak usah ganggu orang pacaran deh." "Lily? Kamu sejak kapan di situ?" tanya Satoki kaget. Lily menunduk malu-malu. "Sejak tadi," kemudian dia mengeluarkan sesuatu dari punggungnya. Kotak yang sejak tadi ia sembunyikan. "Buat kamu!" sahut Lily seraya menyerahkan kotak berwarna kebiruan lalu berlari menaiki tangga menuju kelasnya. Satoki yang mendapatkan hadiah hanya bisa melongo. "Kenapa gue dapet ini? Perasaan hari ini gue nggak ulang tahun--astagaaa! Sekarang kan hari valentine!" matanya berbinar melihat kotak yang dikempitnya diantara lengan dan tulang rusuknya. Seperti iklan di sela-sela film yang ia tonton di televisi, Satoki berlalu melewati Selena dan Rieki yang hanya diam memandangi punggung cowok itu. "Emang spesialnya valentine itu apa?" "Ya kamu bisa kasih cokelat atau hadiah lainnya ke orang yang kamu sayang dengan memanfaatkan momen valentine ini," Rieki melirik Selena. "Aku, misalkan." "Kenapa harus hari ini? Aku bisa kok ngasih kamu hadiah kapan pun. Ya kan?" "Ya bisa sih," Rieki merangkul pundak gadis itu. "Tapi dengan adanya hari valentine, semuanya bisa merayakan hari kasih sayang secara serentak." "Oh, gitu? Menurutku sih, hari kasih sayang itu tiap hari, jadi nggak perlu ada tanggal khusus." "Iya, iya, iya. Gimana kamu aja deh ya, Anna." *** "Psst, Justin," panggilan berbisik itu membuat Justin yang baru saja berdiri di depan loker untuk menukar sepatunya terkejut mendengar suara mencurigakan itu dari sebelah kanan. Jelas dia kaget, Selena memanggilnya dari sudut yang tertutupi loker tinggi menjulang. Tidak terlihat kalau dari sudut pandang siswa yang lain. Tapi, karena gadis itu memperlihatkan sedikit wajah nyengirnya serta melambaikan tangan, ia jadi tau kalau di sana ada seseorang. Justin memandang Selena dengan kening berkerut, seolah bertanya, ada apa? Yang langi-lagi dihadiahi gerakan tangan untuk mendekat. Mau tak mau, Justin menghampiri gadis itu. "Hai Justin!" sapa Selena, yang hanya dijawab anggukan kepala Justin. Merasa pemuda itu tidak ingin berlama-lama atau berbicara dengannya, gadis itu merogoh tasnya dan menyerahkan sesuatu. "Buat kamu," ujar Selena tepat saat kotak kecil itu diterima Justin. "Aku denger sekarang hari valentine, jadi aku mau kasih kamu cokelat kewajiban alias cokelat persahabatan." "Kenapa?" Selena memiringkan kepalanya. "Kenapa? Aku cuma pengen kasih kamu aja. Emangnya nggak boleh?" Justin diam memandangi sekotak cokelat yang biasa ditemukannya di kantin. Dia tersenyum sebelum mengangkat wajahnya untuk menemukan mata Selena yang selalu bersinar ketika memandangnya--memandang sekeliling, maksudnya. Melihat kebaikan terpancar dari sorot mata Selena membuat Justin mengingat betapa banyaknya hal buruk yang telah ia lakukan pada gadis itu. "Nggak perlu ngasih gini. Lagian, hubungan kita nggak cukup deket untuk saling bertukar hadiah. Gue bahkan udah ikut berkomplot buat nyelakain lo," Justin menghela napas dalam. "Gue nggak pantes dapet kebaikan seperti ini." "Psst," Selena mengambil tangan Justin dan menggenggamnya erat. "Ngomong apaan sih? Aku ngasih--" "Ngasih apaan?" Tubuh Selena tersentak ke belakang, pegangannya pada tangan Justin terlepas ketika punggungnya menabrak sesuatu. Lengan besar yang melingkar di leher Selena terasa sangat familiar. Dia mendongak, mendapati Rieki tengah merengkuhnya erat namun tatapan matanya mengarah pada Justin. "Cuma cokelat kewajiban," Justin mengangkat kotak berwarna biru tersebut. "Thanks cokelatnya," dia membungkukkan badan sebagai rasa terima kasih pada Selena sebelum meninggalkan ia dan Rieki berdua. Justin menunduk memperhatikan kotak cokelat di genggamannya. Dia bersyukur tidak salah menyukai seseorang. Seandainya Selena masih sendiri, dia pasti akan terus berjuang untuk mendapatkan cintanya. Tapi melihat Selena tersenyum bahagia dengan Rieki, membuat hatinya menghangat. Mulai saat ini, dia berhenti mencintai Selena. Bersamaan dengan cokelat yang dimakannya sekarang, dia juga akan menelan semua perasaannya dan mencari cinta baru. "Emm, Kak Justin," suara seorang gadis membuatnya menghentikan langkah. Tidak sampai lima langkah, di hadapannya ini ada seorang gadis yang sepertinya masih SMP--dilihat dari seragam birunya. Rambut gelombangnya yang dikuncir di sisi kanan bergerak mengikuti arah angin. "Ada apa?" tanya Justin dengan kening berkerut. Dia ingat sekali tidak punya kenalan anak SMP. "Namaku Victoria, Kak," dia menunduk malu-malu sembari melirik Justin. "Kakak mungkin nggak pernah liat aku, tapi aku sering liat Kakak, dan ...," tangannya menyodorkan sesuatu. "Tolong diterima, Kak." Justin menunduk. Kotak panjang berpita kuning itu pasti memiliki isi yang tidak jauh berbeda dengan yang diberikan Selena tadi. Cokelat valentine. Ini bukan cokelat persahabatan seperti yang diberikan Selena tadi, melainkan cokelat pengungkapan perasaan. Dia bisa tau hanya dengan melihat wajah merona merahnya yang tengah menunduk dalam. Pipi tembamnya terlihat menggemaskan, membuat bibir Justin tertarik membentuk senyuman. "Makasih, ya," ucap Justin seraya mengusap puncak kepala Victoria. Victoria tampak melebarkan matanya selama sekian detik. Wajahnya terlihat makin merah dan dia membungkukkan badan berulang kali sambil mengucapkan erima kasih. Dia terlihat sangat senang karena cokelat buatannya diterima. Segera setelah dia tak punya apa-apa untuk dikatakan pada Justin, Victoria pamit dan berlari keluar sekolah menghampiri teman-temannya yang sejak tadi memperhatikan dari kejauhan. Justin hanya tersenyum kecil melihatnya dan melambaikan tangan begitu Victoria kembali menatapnya. Gadis itu tampak begitu senang. Wajahnya merah parah ketika teman-temannya menggodanya. "Yah, gue memang harus mencari yang baru," gumam Justin seraya tersenyum manis. "Siapa tadi namanya? Victoria? Sepertinya bulan depan gue harus ngasih balasan ke dia." *** "Apa tuh maksudnya ngasih-ngasih cokelat ke Justin?" Rieki tampak sebal, dia menatap Selena dengan cemberutan garis keras yang terlihat jelas. Membuat Selena melirik Rieki dengan senyuman kecil. Entah kenapa dia merasa Rieki sedang cemburu dan it membuatnya senang. "Iya, aku cemburu! Terus kenapa? Wajar aja dong aku kesel liat kamu ngasih cokelat ke cowok lain," dia menggerutu, membuang wajahnya dari Selena dan memandang air danau yang berwarna kebiruan. "Pacarnya sendiri aja nggak dikasih. Aneh banget sih kamu." Selena terkekeh dan melingkarkan tangannya di lengan Rieki. Dia ingat, tempat dengan hamparan rerumputan hijau dan banyak bunga liar diantara mereka ini adalah tempat di mana mereka berciuman pertama kali. "Aku juga punya cokelat buat kamu, Rie." "Kupikir kamu nggak suka dengan ide valentine, diliat dari tanggepan kamu pas istirahat tadi. Tapi kenapa tiba-tiba kamu ngasih cokelat ke Justin pas pulang?" "Dia keliatan sedih, aku cuma pengen dia seneng. Nggak lebih." Selena menghela napas dan mengusap pipi Rieki yang tampak tembam karena pemuda itu menggembungkan pipinya kesal. Pertama kali Selena melihat Rieki seperti ini. Membuatnya tersenyum geli. "Hei, aku punya cokelat buat kamu lho," Selena menangkup wajah Rieki sampai pemuda itu terpaksa menatapnya. "Kamu mau nggak? Kalo enggak, aku kasih cowok lain aja nih." Rieki menaikkan sebelah alis. Membaca mata Selena, mencari kebenaran atas ucapan gadis itu. "Kamu nggak akan ngasih cokelat itu ke siapa pun selain aku," sudut bibir Rieki terangkat. 'Jangan coba ngancem aku, Anna. Nggak akan bisa selama pikiran kita masih terbuka satu sama lain.' Kedua bahu Selena mengangkat bersamaan. "Aku nggak bermaksud ngancem atau semacamnya. Aku cuma pengen liat reaksi kamu," dia mengedipkan sebelah matanya. "Abisnya dari tadi kamu ngambek melulu sih." "Aku tau rencana kamu, dan aku nggak ngambek," Rieki melirik Selena yang sudah tersenyum geli melihat kebohongannya. "Anna! Ah, tau ah. Ngeselin." "Dih ...," Selena tertawa melihat ketidakjelasan sikap Rieki karena kecemburuannya. Tubuh Selena bergoyang ke kanan dan kiri, memaksa Rieki untuk bergerak mengikutinya. Gadis itu bersenandung, menyanyikan lagu nina bobo yang bahkan sudah lama sekali tidak didengar oleh Rieki. Pemuda itu melirik Selena yang masih sibuk mendendangkan lagu, sama sekali tidak memikirkan apapun selain lagu yang ia nyanyikan. "Kamu ngantuk?" bisik Rieki seraya menyapu poni Selena yang menutupi sebagian keningnya. "Mau pulang sekarang? Udah mulai dingin sih." Selena menggeleng dan melingkarkan tangannya di perut Rieki. Hari semakin larut, dan seperempat jam lagi matahari akan tenggelam. "Aku masih mau di sini," bisik Selena, kemudian dia mengeluarkan cokelat yang ternyata sudah dibuatnya sejak kemarin. "Ini, buat kamu. Jangan lupa white day ya, balesannya. Hehe." Rieki menerima cokelat itu kemudian memainkan ujung dagunya yang runcing ke puncak kepala Selena. "Mau apa buat white day nanti, hm?" "Mau kamu!" seru Selena dengan suara cemprengnya. "Dasar," Rieki terkekeh dan membuka bungkus cokelat yang lumayan besar. Di dalamnya ternyata ada cokelat berbentuk hati yang cukup besar. "Wih, bentuknya keren. Buat sendiri kamu?" Selena mengangguk. "Bareng-bareng sama Lily dan Audrey," tubuhnya bergerak, berputar di antara kaki Rieki hingga ia terduduk menghadapnya. "Enak, kan? Suka?" Dalam keadaan mulut yang masih mengunyah, Rieki mengangguk. "Enak, suka. Lain kali buatin lagi, ya." Selena mengangguk dan kembali memutar tubuhnya untuk bersandar pada pemuda itu. Matahati sudah tenggelam, disambut dengan suara jangkrik yanh bersahutan dan beberapa burung hantu yang terdengar menggema dari kejauhan. "Anna, terima kasih sudah hadir di hidup aku," Rieki sudah selesai makan cokelat dan merengkuh Selena ke dalam dekapan. Wajah pemuda itu yang berada di sisi kanan Selema begitu dekat, sampai-sampai terpaan napasnya terasa di permukaam kulit gadis itu. "Aku sayang banget sama kamu," pemuda itu mengecup pipi Selena dengan lembut, namun hanya beberapa detik. "Janji ya jangan pergi lagi dari aku. Kalau ada hal yang buat kamu nggak nyaman, bilang sejujurnya biar aku bisa perbaiki." Selena mengangguk. "Aku juga sayang banget sama kamu. Makasih juga tetep nungguin aku meski nggak tau aku masih hidup atau udah meninggal." "Karena aku percaya kita akan dipertemukan kembali." Selena menegakkan punggungnya dan memandang Rieki dengan senyuman terlebar yang dimilikinya. Mata mereka saling bersitatap, memandang satu sama lain tanpa sepatah dua kata yang mereka lontarkan. Perlahan-lahan, Rieki mendekati Selena hingga hidung mereka bersentuhan. Kening mereka menyatu, terpaan napas keduanya menyambut satu sama lain. Tepat sebelum bibir mereka bersentuhan, dering ponsel Rieki membuat keduanya terkesiap dan menjauhkan diri. "Uh, siapa nih," gumam Rieki sembari mengecek ponselnya. "Halo?" sapanya begitu mengangkat sambungan telpon. Selena menunduk dalam, menyembunyikan wajahnya yang terasa panas. Apa baru saja Rieki akan menciumnya? Kalau ponselnya tidak berdering, pasti mereka akan.. Duh. Meski ini bukan yang pertama, tapi tetap saja ia gugup sekali. "Yuk, pulang," Rieki menyentuh puncak kepala Selena. "Anak-anak nungguin kita. Katanya di asrama ada acara gitu deh." "Acara apa?" "Entahlah." Sambil mengangkat bahu, Rieki bangkit dan mengulurkan tangannya pada Selena. Ada rasa kecewa yang melingkupi hati Selena karena pemuda itu mengajaknya pulang sekarang. Padahal sebenarnya, dia masih ingin berlama-lama di sini. Berduaan dengan Rieki. Kalau diingat-ingat, selama ini mereka jarang benar-benar berduaan. Selena menghela napas, membiarkan Rieki berjalan di sisinya dengan tenang. Sampai beberapa detik kemudian, Rieki berhenti berjalan dam memutar tubuhnya menghadap Selena. Gadis itu mendongak dengan kening berkerut ketika Rieki memandangnya dengan tatapan tak bisa diartikan. Tapi selanjutnya yang ia tau adalah, Rieki menarik tenguk Selena hingga bibir mereka bertabrakan. Kaget adalah hal pertama yang dirasakannya, apalagi ketika tangan Rieki melingkar erat di pinggang gadis itu. Membuat tubuhnya agak terangkat karena Rieki semakin memeluknya erat dan memperdalam ciumannya. Ini bukan seperti Rieki yang dikenalnya. Pemuda ini sedikit berbeda. Tapi Selena tidak menolak ciuman Rieki dan mulai menutup mata karena pemuda itu tampak tidak berniat melepaskan Selena. Satu yang dirasakannya saat ini. Ciuman Rieki terasa manis. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN