19

920 Kata
Dari berbagai sudut, Kai akan tetap tertekan. Karena pergi atau sebut saja kabur, dengan membawa nyawa lain sama saja menyusahkan diri sendiri. Bahkan, jika Kai licik, seharusnya dia gugurkan saja bayi itu. Atau tetap melahirkan bayi itu dan memberikannya pada lelaki b******n yang berhasil menanam benih dirahimnya. "Kai, bukan Ibu mau ikut campur. Tapi nggak baik kalo kamu kabur-kaburan kayak gini." Sera mengikuti pandangannya, yang melihat gerak-gerik Kaina merapikan pakaiannya. "Pikirkan bayi kamu, Nak. Ibu siap menerima kamu dan bayi itu hingga lahir. Kamu bisa menunggu hingga waktu itu tiba," bujuk Sera. Bukannya Kai tidak mau, tetapi Kai harus memberi alasan kuat agar Sera tidak menawarkan hal tersebut. Kai tidak akan melakukan keputusan bodoh itu, karena Abi sudah banyak tahu mengenai Sera dari kinerjanya mempertamukan Arjun dengan ibunya itu. Otomatis, jika Kaina tetap di rumah Sera, maka bukan tidak mungkin Abi akan menjelajah dan menanyakannya pada Sera. "Nggak bisa, Bu. Kai memang harus jalan sendiri. Kalo makin lama di sini, Kai nggak tau kemungkinan apa yang bakalan bikin nama baik, Ibu nantinya." Sera mendesah napas gusar. Sebagai seorang wanita, Sera tidak ingin membiarkan Kai berjalan sendiri. Keadaan berbadan dua akan sangat melelahkan nantinya, dan Sera sudah mengetahui bagaimana rasanya. "Kai..." lirih Sera. "Kai mohon, Bu." Kaina juga tidak kalah lelahnya membujuk Sera. "Kai udah memutuskan. Jangan bikin Kai merasa bersalah sama, Ibu, ya?" Mau tidak mau, Sera memilih mengalah. "Gimana cara Ibu mantau kamu?" tanya Sera agat tetap tidak terlepas menjangkau keadaan Kaina ke depannya. "Kaina belum bisa ngasih tau untuk saat ini. Jadi, Ibu bisa mantau Kai cukup dengan telepon. Mungkin kalo keadaannya udah tenang, Kai akan ngasih tau keberadaan Kai di mana. Ya?" Kai ingin meyakinkan wanita yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri itu, supaya tidak ada kecemasan berlebih dari Sera. Sera memberikan senyuman, dan mengelus kepala Kaina. Pelukan keduanya menjadi salam perpisahan terakhir. "Baik-baik sama bayi kamu, Kai." "Akan selalu Kai lakukan, Bu." * Gempuran tangan Abi pada pintu ruangan di mana Kai sangat ia jaga, dan saat Kai menghilang menjadi sasaran empuk emosi Abi. Kepalanya sudah terpastikan mengepul akan asap merah, dan rahang mengetat Abi jelas menandakan bahwa Abi kecewa pada penjagaan rumah sakit. "Saya sudah pernah bilang, kan... jangan membiarkan wanita di ruangan ini ke luar atau pergi ke mana pun jika tidak ada saya!" bentak Abi pada perawat yang sudah menangani Kai. Abi hafal betul dengan wajah-wajah di sana. Dan Abi belum menemukan kesaksian apa pun dari salah satu diantara mereka. "Maaf, Pak. Tapi diantara kami, memang tidak ada yang datang atau mengizinkan Nyonya Kai untuk ke luar tanpa dampingan, Bapak." Salah seorang perawat mengambil suara, dan diiyakan oleh perawat di belakangnya. "Oh. Nggak ada yang ngasih izin? Terus istri saya ke luar tanpa ada persetujuan dari pihak sini, begitu maksud kalian?! Istri saya kabur dari rumah sakit dengan pakaian yang sempat diganti?! Kamu pikir saya bodoh, hah?!" Jika bukan karena Abi adalah orang berpengaruh di rumah sakit itu, maka para perawat sudah pasti memanggil pihak keamanan untuk mengusir Abi. Tapi sayangnya, mereka tidak bisa semena-mena pada Abi. "Ehm, Pak. Maaf, tapi tadi pagi ada perawat yang bertukar jadwal dengan saya...," sebuah suara menginterupsi Abi. Dan Abi langsung mendekati perawat itu. Dari tatapan yang Abi berikan, perawat itu tahu jika Abi meminta penjelasan lebih rinci. "Menurut perkiraan saya, Dini yang ngasih izin supaya istri, Bapak bisa pergi. Dan sepertinya Dini kurang diberi peringatan, dia hanya tahu jika, Nyonya Kai istri dari, Bapak. Sebaiknya meminta Dini menjelaskan secara langsung, Pak." Takut-takut salah mengucapkan kalimat, perawat itu lebih berhati-hati dan menjelaskan secara pelan. "Bawa dia ke sini!" * Kaina. Sudah pasti keras kepala, karena usianya belum mengimbangi keputusan untuk ia ambil. Entah pergi ke mana, yang jelas, uang hasil dari uang gaji terakhir dan pesangon akan ia gunakan dengan baik. Kai memutuskan untuk pergi ke daerah Jawa. Di mana sang ayah pernah mengajak berlibur. Terakhir kali sebelum keluarganya berlebur dan pergi entah ke mana. Yang Kai inginkan memang bersama keluarga yang utuh, tapi itu tidak akan terjadi. Dan Kai tidak ingin itu terjadi. Sela sudah menghabisi kepercayaan dan kesabaran Kai. Dan satu-satunya keluarga yang ia miliki adalah bayi yang tengah bergelung dalam perutnya. Tanpa menyalurkan kekecewaannya sedikit pun pada bayinya, Kai membelai lembut perut ratanya. Kai tidak tahu tepatnya nama daerah yang ia datangi apa. Tapi yang jelas, Kai mampu datang karena mengingat bahwa daerah tersebut perbatasan antara Jawa Tengah dan Jogja. Kai menginap di salah satu penginapan yang tidak terlalu mahal, untuk sementara dia akan menetap di sana dan segera mencari pekerjaan. Di penginapan tersebut, Kai mampu melihat lukisan, patung-patung yang sekilas menyeramkan karena warna hitam pekat dengan bentuk mulut memiliki taring, Kai tidak tahu apa nama jelasnya. Ada gamelan, di dekat ruang tunggu. Tradisional, terkesan sederhana dan memang menyeramkan. Kai memesan kamar dengan harga lebih murah, dan diberikan kunci. Setelah mengatakan terima kasih, Kai masuk. Ternyata, model penginapan tersebut seperti kontrakan beruntun. Ada pintu yang masing-masing kamar dinamai. Bukan nomor, dan Kai mendapat kamar bernama Abimanyu. Betapa luar biasanya, hingga saat melihat nama kamar tersebut mampu membuat Kai menghela napas kasar. Ada kamar mandi darurat di depan kamarnya, dan Kai segera menggerakan kunci agar kamarnya terbuka. Keadaan gelap menyapa, Kai sempat tersentak karena wayang yang menghadap pintu tepat terpajang di atas dinding yang di bawahnya langsung ada ranjang. Kai menyalakan lampu dan masuk untuk segera mengistirahatkan tubuhnya. Kamr mandi berada di sebelah ranjangnya dengan dinding sebagai sekatnya. Di seberang pintu kamar mandi, terdapat cermin besar, dan terdapat teve di sebelah cermin tersebut. Kai menikmati waktu sendirinya, dengan mengusap kembali perutnya. "Sehat selalu, sayang."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN