18

923 Kata
Setiap manusia pasti akan memiliki sisi buruk dan baiknya. Tidak bisa sepenuhnya, di-cap salah satunya. Dan... Abi membuktikan itu. Dia tidak memiliki sisi baik dalam cara mendapatkan Kaina. Tetapi sebagai seorang pria yang menyadari keinginannya bersama Kai, dia tidak akan rela melepaskan wanita yang positif mengandung anaknya—darah dagingnya—benih yang berhasil berkembang dalam rahim Kai. Jika sudah mengetahui seperti ini, maka Abi juga sama positifnya tidak akan membiarkan Kai berbuat sesuka hatinya lagi. Abi akan pastikan, bahwa kekangannya lebih kuat, agar wanita itu serta bayinya tetap tinggal di sisinya. "Udah mendingan?" tanya Abi mencoba sehalus mungkin pada Kai yang baru saja membuka matanya. Ya, Kai menyadari di mana dirinya berada saat terbangun. Dan Kai tidak ingin gegabah, mengingat teriakan Abi terakhir kali adalah 'pendarahan', semua terlalu cepat bagi Kai. Kehamilannya ternyata tidak seperti siasat yang ia rencanakan agar tertutupi dari Abi. "Mau sesuatu?" tanya Abi kembali. Kai bahkan sangat jengah mendengar hal tersebut. "Makasih," jawab Kaina sebagai tanda penolakan telak. Sedari tadi, Kai hanya berpikir, melamun, dan menggeleng. Tidak ada senyuman, atau kata manis akan perlakuan Abi padanya. "Bisa kamu tinggalin saya sendiri?" Kai juga kembali membuat panggilan baku, karena ingin membatasi. "Nggak. Aku akan jaga kamu, karena bukan cuma diri kamu yang aku pentingkan, ada anakku di sana..." ucap Abi seraya melirik tajam pada perut rata Kai. "Apa lebih baik saya bunuh bayi ini, agar kamu tidak mendekati saya lagi?!" tanya Kai begitu tajam. "Apa seharusnya itu yang saya lakukan supaya kamu mampu melihat kematian saya dan bayi ini, supaya kamu berhenti menyiksa saya?!" bentak Kai. Abi tidak mampu mendengar itu. Sudah cukup baginya, tidak ada kata tanya memilukan yang akan membuatnya semakin kehilangan kendali, dan berujung menyakiti Kai. "Oke. Saya ke luar. Tapi saya akan terus mengawasi kamu!" "Saya nggak peduli!" bantah Kai. Tatapan tajam itu bahkan menerobos manik frustasi Abi. Dia sendiri bahkan sudah kebingungan. Karena kepergian Arimbi, diri Arjuna yang semakin semena-mena. Terlebih, Kai akan melahirkan keturunannya. Jangan stres Abi! Sadar! Kai butuh lo. Ada anak lo yang butuh tanggung jawab besar!" Abi membuat semangat, dan menyadarkan dirinya sendiri. Selama ia bisa berjalan, maka ia akan terus memperjuangkan Kai. * "Pak, maaf." Suara telepon dari seberang membuat Abi geram. Baru saja Abi bisa mengendap-endap masuk ruang perawatan Kaina, dan memejamkan matanya di sofa seberang ranjang Kai. Tapi ponselnya menginterupsi untuk segera kembali ke alam sadar. "Kenapa, Mit?" "Pak. Bapak belum mengkonfirmasi bagian foreman. Kata bapak, bapak yang akan memastikannya sendiri." Mitha tidak pernah setengah-setengah memberi pernyataan, dan paham bahwa Abi tipikal yang suka menyela ketika pernyataan diberi jeda tanpa kejelasan kuat. Abi secara otomatis menepuk jidatnya, karena dia memang meminta memastikan sendiri pengecekan tersebut, bukan menyerahkannya pada asistennya. "Ah, saya hampir lupa, Mit. Boleh minta tolong Nando yang handle?" Mitha sudah berkomat-kamit sendiri pada ponsel yang ia gunakan untuk berbicara dengan Abi, dan semua itu karena ia sungguh kesal pada atasannya itu. Mitha menghembus napas perlahan, dan mengembalikan suara manisnya. "Oh, iya, Pak. Baik kalau begitu, akan saya sampaikan pada Bapak Nando." "Bagus kalo gitu."  Dan hanya seperti itu Abi menutup panggilan Mitha. Dia bahkan enggan mengucapkan kata terima kasih. Abi bersiap kembali masuk dalam ruangan Kai, tapi ponselnya kembali bergetar. Digesernya panel menerima dengan kesal. "Apaaaa lagiiii, Mitha?!" "Maaf, Pak. Pak Nando sakit." "Ya ampun!" Abi mengeluh. "Oke. Saya yang jalan!" Tidak lagi, Abi berinisiatif mengucapkan satu salam kebanggaannya. "Siapkan hari bertempur kalian!" Abi akan sangat cemas. Bukan masalah pekerjaan, tetapi masalah 'siapa yang akan menjaga Kai?' Abi harus memikirkan dengan sangat, agar tidak ada kesalahan dalam mempertahankan Kai. Tapi Kai bisa aman selama aku tidak ada di sekitarnya. Abi berpikir, bahwa Kaina tidak akan melakukan hal-hal berbahaya bagi dirinya dan bayi yang Kaina kandung juga. Pelan-pelan Abi membuka pintu ruangan Kai, dan memandangi wajah wanita itu dari temaram cahaya, serta jarak yang cukup jauh. Abi sempat menyesal, tepat saat melihat keadaan Kai berdarah-darah. Dan saat membawa Kai ke rumah sakit, dokter mengatakan keadaan janin Kai tidak baik, Abi lebih menyesal lagi. Tapi Abi menyembunyikan penyesalannya sendiri, Kai akan tetap melihat diri Abi yang seperti ini, pemaksa. "Apa dengan seperti ini, kita akan bisa bersatu?" "Gimana caranya? Gimana caranya, supaya kita berkembang menjadi keluarga? Aku butuh kalian, kalo kamu mau tau." Kai tidak tidur, dia mendengar keluhan itu. Tapi karena Kai sudah mendengarkan hal itu, maka Kai membulatkan tekad bahwa dia harus menjauh dari Abi. * Kaina tidak akan tinggal diam lagi, dia mencari celah agar rencana menghilangnya dari hidup Abi berhasil. Menurut Kai, dengan berlama-lama menunggu Abi yang menyerah dan melepaskannya, maka tidak akan ada ujungnya. Berharap, sama saja mematikan diri. Jika setiap saat Kai mengancam untuk bunuh diri, dan otomatis membunuh bayinya, maka bisa saja Kai melakukan hal itu jika Abi tidak berhenti menjangkaunya, memaksa, dan menginginkan status keluarga utuh bersamanya. Kaina takut akan hal tersebut. "Sus, boleh tau di mana Pak Abi membawa baju saya?" Kai hampir sudah terbiasa menanyakan keberadaan Abi dengan menyematkan kata 'pak' pada perawat yang sibuk lalu lalang mengecek dirinya. "Oh, baju yang pertama kali, Ibu pakai, ya?" Kai mengangguki dengan cepat. "Pas sekali, kemarin suami, Ibu memberikan pada kami untuk membersihkannya." Gila. Sekaya apa Abi? Bahkan pakaianku saja bisa dititipkan pada perawat untuk dibersihkan? Memangnya rumah sakit ini punya nenek moyangnya? Tapi tak apa, itu berarti aku tidak perlu repot-repot ke luar dengan baju pasien. "Boleh saya minta, sus?" "Ibu mau pulang? Kenapa nggak nunggu suaminya aja, Bu?" "Kasian suami saya, sus. Dia lagi sibuk, lagian udah saya hubungin juga nggak bisa." Kaina memasang wajah memelasnya, dan hal tersebut sangat berhasil. Tidak ada yang bisa mengganggu kita lagi, sayang.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN