Setelah usai bercerita, Kaina mampu lebih tenang. Tubuhnya tidak bergetar seperti sebelumnya, Sera sempat khawatir saat Kai bersikap seperti itu. Tapi Sera lebih dewasa, dan mampu menyikapi dengan baik. Sera pernah mengalami hal yang hampir sama seperti Kai, tapi perbedaannya, Sera sempat memiliki perhatian dari laki-laki yang menghamilinya. Tidak seperti Kaina, yang justru tertekan dengan laki-laki itu.
"Kamu belum mau istirahat?" tanya Sera yang ke luar kamar, dan mendapati Kaina menonton tv.
"Belum, Bu. Belum ngantuk, ini juga dari tadi mual melulu. Nggak bisa diajak istirahat kalo belum malem banget," jawab Kaina.
Sera menyunggingkan senyuman, dan itu membuat Kai membalas senyumannya juga. "Besok kita ke supermarket, mau? Buat beli kebutuhan kamu."
"Eum, Bu. Sebenernya, Kai bakalan pindah dari sini."
"Lho, kenapa?" Sera mendekat ke arah Kai duduk. Sera jelas menyayangi Kai, meski bukan anak kandungnya. Sera memiliki tempat sendiri bagi Kai, dia adalah anak yang sudah seperti menggantikan posisi anak kandungnya.
"Kai nggak bisa lama-lama di sini. Kai nggak mau bikin, Ibu repot. Lagian, Kai juga mau membesarkan anak Kai di tempat lain. Kai nggak mau dia dicemooh di sini, karena sedikit banyak, ada temen sekolah Kai yang dulu dan masih tinggal di lingkungan sini."
Sera menatap sendu Kai, dia paham, bahwa tidak akan mudah menjalani kehidupan disaat tengah berbadan dua. Sera suka sekali, ketika mengelus rambut lebat Kai. Sera tidak habis pikir, ibu seperti apa yang tega mengimusir anaknya sendiri dan memilih mempertahankan dirinya kekasihnya yang b******k.
"Oh, iya. Ibu belum cerita kalo anak Ibu beberapa hari yang lalu ke sini, ya?"
Arjuna?
"Maksud, Ibu..."
"Iya, Arjuna. Dia dateng nemuin Ibu. Ibu bahagia sekali, Kai. Dia bahkan nangis, dia nyebut nama Ibu berkali-kali."
Apa Abi benar-benar berhasil bujuk Mas Arjuna?
Kai hanya bisa bersikap seolah dirinya tidak tahu menahu mengenai andilnya dalam hal itu. Karena Kai sendiri hanya bercerita mengenai Abi kekasih ibunya yang terobesesi dengannya, bukan Abi yang menambahkan perjanjian terkutuk yang ternyata, hasilnya tidak diragukan lagi.
"Gimana orangnya, Bu?" tanya Kai antusias. Padahal, Kai pernah melihat sesekali saat Arjuna menjemput Arimbi–dulu.
"Dia ganteng, Kai. Badannya tegap. Ibu nggak pernah nyangka kalo dia akan jadi penerus JP grup, bahkan Ibu tetep berayukur meski pun dipisahkan, karena dia sekarang jadi orang besar."
Mungkin, suatu saat nanti. Kai berharap, anaknya akan menjadi orang besar akan kesuksesan juga, tetapi tidak dengan dipisahkan dari anaknya. Karena Kai tidak akan sanggup jika sampai itu terjadi.
*
Surat pengunduran diri Kai sudah ia siapkan. Kai benar-benar ingin lepas dari semuanya. Tidak ada yang perlu ia lakukan lagi di sini, karena dengan sering bertemu Abi, maka akan semakin sulit menyembunyikan kehamilannya. Kai bertekad tidak akan membiarkan Abi mengetahui kehamilannya.
Kai pikir, dengan hari ini ia mengundurkan diri, maka harinya akan berjalan lancar. Karena Abi sepertinya masih marah besar. Itu memudahkan Kai, tapi ternyata... bukan Abi namanya, jika tidak kepo.
"Ngapain kamu ke luar dari ruangan Pak Emon?"
Kai memilih tidak menanggapi, dia berusaha berjalan dengan sisi yang tidak terhalang oleh Abi. "Jawab, Kai!" Bukan Abi jika tidak memaksa juga. Kali ini, pergelangan tangan Kai yang menjadi sasaran Abi untuk menyakiti Kaina.
"Mau kamu apa, sih?! Nggak cukup kamu menyakiti saya juga membuat pernikahan saya dan Zaka batal, hah?!" murka Kai. Emosinya juga tidak stabil, karena hormon kehamilannya.
"Tinggal jawab, Kai. Apa yang kamu lakuin dari ruangan Pak Emon!"
"Bukan urusan kamu!" balas Kai membentak.
Lalu kesabaran Abi menghilang, Abi menarik paksa Kai. Ucapan Kai sama sekali tidak diindahkan oleh Abi. Pria itu menggeret Kai sesuka hatinya.
"Abi! Lepas!"
Dari apa yang Kai rasakan, perutnya lah yang mulai mengalami keluhan.
Oh, tidak. Jangan sekarang, sayang. Mama butuh dukungan kamu, jangan rewel, ya. Maaf, kalo bikin kamu kesakitan di sana, ya.
Kai berbicara dalam hati seolah bayinya mampu mendengar dan mengerti Kai.
Bugh
Lagi-lagi Kai harus merasakan sakit dibagian punggung, Abi menghempaskannya pada badan mobil.
"Kamu mau main-main sama aku, Kai?"
Kai sudah lelah, membalas Abi memang membutuhkan banyak tenaga. "Jawab, Kaina...," desis Abi.
"Berhenti. Aku berhenti kerja. Puas kamu?! Sekarang, lepasin aku!" Kai mengharapkan Abi segera melepaskannya, dan masalah tidak akan bertambah panjang. Kai butuh istirahat, sekarang.
"Kamu pikir segampang itu," ujar Abi. "Kamu emang mau ngulang kejadian kemarin, Kai!"
Dan memang itu yang Abi lakukan, menyiksa Kai untum membalas ciumannya. Tapi hanya pemberontakan yang Kai lakukan. Abi menggigit bibir Kai, terasa agak sedikit amis dan asin, menyeruak. Mungkin karena efek emosi Abi. Tapi yang membuat Abi berhenti, adalah tubuh Kai yang mulai merosot.
Abi menangkap tubuh Kai, setelah melepaskan bibirnya. "Kai..." Agaknya Abi mulai panik.
"Sakittt..." rintih Kai dengan memegang perutnya. Tubuhnya sudah lemas, dan hanya tinggal menunggu hitungan detik bagi Kai untuk kehilangan kesadaran.
"s**t! Kai kamu pendarahan!" maki Abi, dan langsung membopong tubuh Kai masuk ke dalam mobilnya.
Abi bukan pria bodoh. Jelas darah yang Abi lihat mengalir dari pangkal paha Kai, menjelaskan bahwa wanita itu tengah hamil. Dan ucapan asalnya terbukti, bahwa Kaina hamil, anaknya!
*
Selama menunggu selesai pemeriksaan Kai, Abi terus saja berpikir dan menyalahkan dirinya. Abi hampir saja kalap, memukul perawat yang lamban mengurus permintaannya agar segera menangani Kai.
"Keluarga Nona Kaina?"
Abi langsung berdiri. "Saya, dok."
"Ah, suaminya?" tanya dokter memastikan.
"Iya. Saya suaminya, dok."
"Ke ruangan saya, Pak. Kita bicarakan di sana." Ajakan dokter tersebut langsung diiyakan oleh Abi.
Dalam ketenangan dokter yang bernama Rian itu mulai menyampaikan apa yang terjadi dengan Kaina. Abi mendengarkan saksama, kehamilan Kaina yang ternyata memasuki bulan ketiga. Dengan masalah stres, dan asupan gizi yang kurang baik. Abi dirundung rasa bersalahnya sendiri. Ia yakin jika Kai mengandung bayinya, dan itu menjadi kabar bagus, sekaligus kabar buruk bagi keluarga Abi.
"Terima kasih, dok." Abi pamit, ke luar dari ruangan tersebut. Lutut Abi tiba-tiba saja terasa lemas, ia hampir membunuh anaknya sendiri.
Aku nggak akan ngelepasin kamu, Kai!