Keadaan memaksa Kai untuk terus bertahan. Bayinya saja tak mengizinkan Kai untuk berdiam diri, Kai akan mual-mual ketika tidak melakukan kegiatan. Stres juga menambah nilai minus bagi perkembangan kandungan Kai, meski tidak pernah memeriksakannya secara rutin, tapi insting Kai sebagai seorang ibu mulai tumbuh.
“Uekkk uekkk....”
Kai baru selesai membuat sarapan, dan suaranya saat muntah membuat Sela terganggu. Ibu Kaina itu mendekati putrinya perlahan. "Kamu ngapain, sih? Dari tadi berisik banget! Mama baru bisa tidur, kamu gangguin terus!" omel Sela.
Terkadang, Kai berpikir bahwa Sela bukanlah ibu kandungnya. Karena sikap egois, keras, dan tidak ada perhatian terhadapnya, membuat Kai yakin dalam hati. Meski begitu, Kai tidak mengerti mengapa Sela masih mau mempertahankan dirinya di rumah itu, karena semenjak kerja pun, Kai tidak pernah memerikan uang pada Sela.
"Maaf, Ma. Aku lagi nggak enak badan soalnya," ucap Kai agar Sela mengerti.
"Sakit? Lagi?" pekik Sela. Seolah Kaina sakit terus menerus adalah hal yang tidak bagus baginya. "Siapa yang bakal ngurusin kamu kalo setiap hari sakit? Kamu itu nyusahin banget, Kai. Kemarin, Abi yang ngurus kamu, kan?! Huh! Sekarang kamu mau nyusahin calon ayah tiri kamu, gitu?!"
Ucapan Sela jelas sekali menohok Kai, penyebutan bahwa Abi akan menjadi ayah tirinya, sedangkan bayi yang Kai kandung adalah anak Abi... Tuhan, apa-apaan jalan takdir-Mu ini? Kenapa begitu terasa sulit dan menyesakkan?
"Ma, aku nggak minta dibantuin atau diurusin siapa pun. Toh, kemarin pacar, Mama itu cuma nganter bubur. Sisanya, Zaka yang ngurus aku!" balas Kai dengan sedikit menaikan nada suaranya. Kaina kesal bukan main, Kai sebal dengan kebodohan ibunya. Mau-maunya saja dibodohi pria bernama Abi itu. "Kalo, Mama mau tidur... ya tidur aja! Bukannya lebih enak tidur di hotel bareng pacar b******n, Mama itu?!"
Satu tamparan keras di pipi Kai sungguh perih. Kai tidak menyangka, hanya karena Kai menyinggung Abi, ibunya itu lebih sensitif.
"Kamu bilang apa? b******n? Kamu pikir siapa kamu berani-berani bilang kayak gitu, hah?!"
Kai tidak kuat, dia ingin meluapkan segalanya. Dia ingin berhenti diinjak-injak begini. Dan Kai ingin membuka mata Sela agar tidak dibutakan dengan Abi yang hanya bertopeng wajah malaikat sedangkan hatinya sangat busuk.
Kai berlari kecil ke kamar, untuk mengambil sesuatu. Lalu kembali lagi di hadapan ibunya yang berdiri dengan napas tidak beratur. Ditarik tangan Sela, dan Kai memberikan alat pengetes kehamilannya ditelapak tangan ibunya.
Sela tidak bodoh, dia tahu apa tanda yang menjelaskan di sana. "Kamu... kamu hamil?!"
"Ya. Dan pacar b******n Mama yang udah hamilin aku! Pernikahan aku dan Zaka batal karena ulah dia! Dia yang ngancem aku buat memenuhi hasrat setannya itu! Dia yang bikin aku selalu sakit kayak gini!"
Kai hampir saja terbentur ujung meja jika dia tidak menahan. Kai kembali meraba perutnya tanpa sadar, dan membuat Sela murka. Tamparan Sela yang kedua itu lebih kuat, dan menyakitkan dari sebelumnya. Kai merasa air matanya menetes.
"Kamu yang penggoda! Jadi ini ulah kamu dibelakang, Mama?! Kamu mau ngambil Abi dari, Mama?! Itu mau kamu, kan? Kurang ajar kamu!" bentak Sela. "Saya nggak pernah ngajarin kamu untuk jadi jalang!" teriakan Sela jelas membawa memori kelam dalam hidup Kai. Bayangan di mana Abi yang sama memakinya 'jalang', ingatannya tentang Zaka yang memandangnya jijik, lalu Sela yang berteriak seperti ini... mengembalikan ingatan masa kecil Kaina. Di mana ayah dan ibunya bertengkar hebat, menyebabkan salah satu dari mereka pergi tanpa mengatakan apa pun.
Kai memandang tak percaya pada ibunya. Sedangkan Sela lebih murka dengan cara Kai melihatnya. "Mama lebih percaya sama laki-laki itu... ketimbang anak, Mama sendiri?" Suara Kai bahkan lebih kecil dari apa pun, lirihan itu tentu dapat terdengar pada suasana sepi seperti ini.
"Ke luar kamu! Pergi kamu dari rumah saya! Kamu tau, kalo aja bukan karena ayah kamu yang ngirimin uang banyak buat kamu selama ini. Saya nggak sudi ngurus kamu! Kamu tau? Karena kamu jelas membebani saya! Kamu hadir hanya untum mengacaukan hidup saya dan... arghhh! Pergi kamu!" Sela secara tidak langsung membeberkan segalanya. Jadi, apa yang Kai pikirkan mengenai ayahnya yang tidak peduli lagi padanya, tentang ayahnya yang tidak ingin mengenalnya... itu ulah Sela.
"Mama... Mama yang pisahin aku sama ayah?"
"Ya! Dan kalian emang sama-sama nggak berguna! Pergi kamu sebelum saya sakiti kamu lebih dari ini, jalang!"
Kaina tidak butuh penjelasan lagi, semuanya sudah cukup menyakitkan bagi dirinya. Kaina benci melihat wajah Sela. Meski memang Sela adalah ibu kandungnya, tapi Sela telah merusak hidupnya.
"Nggak perlu, Mama usir... aku udah terlebih dulu mau angkat kaki dari sini. Aku nggak sudi tinggal sama wanita yang mengaku sebagai ibuku, tapi menghancurkan kehidupan anaknya sendiri!"
*
Seolah beban berkali-kali menimpa bahu Kai, hanya dalam hitungan detik, hidup Kai berantakan. Kai pikir, hanya ada fakta bahwa ibunya sungguh gila terhadap Abi. Ternyata, ibunya lebih jahat dari itu.
Kemana uang-uang itu? Dalam benak Kai sempat terpikir seperti itu, tapi apa peduli Kai? Karena semua itu sudah terjadi. Kai mengetuk pelan pintu rumah Sera. Dalam bentuk wajah yang membengkak karena tangisan, Kai berusaha ke rumah Sera.
"Kaina?" panggil Sera heran. "Yq ampun, nak. Ada apa dengan kamu?" Tentu Sera panik, apalagi Kai membawa tas, yang lebih menjelaskan adalah wajah kacau Kaina.
"Bu, Kai boleh numpang di sini beberapa hari?"
"Masuk, masuk. Jangan mikirin kamu mau tinggal berapa lama, kamu boleh tinggal di sini semau kamu...," tutur Sera seraya menuntun Kai masuk.
Setelah keduanya sampai di ruang tamu, Sera mengusap wajah Kai layaknya anak sendiri. "Tunggu di sini, Ibu buatin teh anget dulu." Setidaknya, Sera ingin Kai tenang. Sebagai sesama perempuan, Sera paham bahwa keadaan Kai sedang tidak baik.
"Kamu mau cerita?" tawar Sera lembut setelah selesai membuatkan teh.
"Ibu..." lirih Kai. Tangisan Kai kembali luruh.
"Iya, sayang. Ibu di sini, kamu bisa cerita." Usapan jemari Sera di kepala Kai, membuat perempuan itu agaknya tenang.
"Kai... Kai hamil, Bu...."