Abi tidak pernah menyangka, jika sejauh ini pengaruh Kai dalam hidupnya. Seolah Abi selalu bergantung dengan perempuan itu, dengan segala kejanggalan yang terlihat oleh mata Abi. Terlebih lagi, Kai berada di kantornya, menjadi pegawai kelas bawah yang dibutuhkan oleh karyawan lain.
Sejak satu jam sebelum kepulangannya, Abi sengaja mengendap-endap ke pantry kantor. Tanpa ia duga, tanpa diperhitungkan oleh Abi, Kai berencana mengakhiri perjanjian. Dan kemarahan Abi tidak akan begitu saja lenyap. Abi sengaja menunggu Kai ke luar, dan mencari saat yang tepat untuk melakukan apa yang seharusnya Abi lakukan sedari awal untuk memiliki Kai sepenuhnya.
Pelan-pelan, Abi mengikuti Kai yang berjalan dari pantry. Kai sepertinya tidak sadar jika Abi sudah mengincarnya. Sebelum Kai beringsut menunggu Zaka di tempat yang biasa, Abi menarik Kai untuk ia bawa menuju parkiran di mana mobil Abi berada.
"Lepas! Apaan, sih?! Ngapain narik-narik?! Abi... lepasin!" jerit Kai saat Abi terus saja melakukan kegiatan dengan amarah yang ditahan.
"Awww...," punggung Kai harus terbentur dengan badan mobil Abi. Tanpa sadar, yang disentuh Kai adalah perutnya yang belum membuncit secara samar-samar.
Belum selesai rasa sakit dan terkejutnya, Kai kembali Abi mencoba menyiksa Kai. Dicengkeramnya rahang Kai dengan keras dan kuat oleh Abi. "Ini yang kamu rencanain, huh? Buru-buru minta ke pacar s****n kamu itu buat nikah bulan ini, hah!" bentak Abi membuat Kai takut. "Jawab jalang!"
"Aku bukan jalang..." desis Kai seraya menggenggam tangan Abi yang membuat rahangnya terasa teramat sakit.
"Bukan jalang? Terus apa yang kamu lakuin, setelah kamu melepas keperawanan kamu ke aku, dan mau mempercepat pernikahan sama Zaka, gitu?! Apa namanya kalo bukan jalang? Bahkan tubuh kamu ini nggak ada harganya!"
"Kamu yang buat aku kayak gini, s****n! Kamu yang bikin pacar orang lain ini menyerahkan diri secara cuma-cuma. b******n kamu!" maki Kai.
"Siapa yang lebih s****n di sini? Aku atau kamu? Kamu udah sadar, kalo kamu nggak pantes minta dinikahi sama Zaka karena kamu udah kotor. Tapi ternyata, kamu masih punya keberanian buat minta pernikahanmu dan Zaka dipercepat... apa-apaan itu?!"
"Bukan urusan kamu! Aku yang yang punya hak, dan kalo aku mutusin perjanjian kita, itu nggak akan jadi masalah! Kamu bukan siapa-siapa, setelah aku nikah sama Zaka."
"Kamu pikir bisa langsung nikah gitu aja?! Lihat ini..." Abi mencium Kai dengan kasarnya. Dalam gerakan memberontak, Abi menahan tubuh Kai agar diam. Dan tenaga Kai memang tidak sebanding dengan tenaga Abi. Dalam rontaan itu, perlahan, Kai mulai melemah. Dengan tangis tak bersuaranya, Kai seolah pasrah dengan apa yang dilakukan Abi di sana. Tanpa menyadari, bahwa satu pasang mata menyaksikan apa yang sudah terjadi.
Ini kah, yang kamu lakukan selama ini di belakangku... Kaina?
*
Setelah arguman panasnya dengan Abi, dan berakhir membuat Kai berlari setelah ciuman kasar itu didaratkan padanya. Kai mencari keberadaan Zaka, mencoba menghubunginya, dan ingin mempercepat segalanya. Setelah ke tiga puluh kalinya panggilan itu ditolak, akhirnya Zaka mengangkatnya.
"Za, kamu di mana? Aku mau ketemu kamu, kita harus ngomong... banyak banget yang mau aku jelasin tentang pernikahan kita-"
"Temuin aku di restoran Krisna. Kamu bisa ngomong sepuasnya di sana."
Lalu panggilan itu berakhir, Zaka yang mematikan panggilan tersebut terlebih dahulu. Membuat Kai heran dengan apa yang sedang terjadi pada Zaka.
"Kenapa perasaanku jadi nggak tenang gini, ya?"
Kai menuruti kemauan Zaka, dengan angkutan umum, Kai menuju resto Krisna—salah satu teman Zaka. Perempuan itu memutar pandangannya, ketika sudah sampai di restoran tersebut. Lalu menilik penampilannya sedikit, Kai merapikan tatanan rambutnya, dan kembali merangkak pandangan ke tempat yang diisi oleh kekasihnya.
Saat pandangannya mendapatkan apa yang ia cari, akhirnya Kai mendekat memasang senyuman manisnya juga. "Hai, kamu nungguin lama, ya?" sapa Kai. Bukan Kai tidak bisa melihat dan merasakan aura aneh dalam diri Zaka, yang dilihatnya sekarang adalah sisi Zaka yang berbeda. Lelaki itu marah, dan Kai sadar itu.
"Kamu mau pesen sesuatu? Pesen aja," ucap Zaka. Jauh dari pertanyaan Kai, tapi Kai masih lega karena Zaka masih mengeluarkan suara.
"Nggak. Kamu aja, aku udah kenyang."
Zaka mendengus kecil, lalu memandang Kai dengan meremehkan. "Jelas. Kamu udah kenyang karena abis seneng-seneng juga sama selingkuhan kamu, kan? Gimana rasanya? Main api sama pacarnya Mama kamu, heum?"
Kai seperti dilebur dalam bara api panas. "Ka... kamu ngomong apa sih, Za? Kenapa tiba-tiba kayak gini?"
"Ck. Yaudah, kamu yang ngomong duluan. Apa yang mau kamu sampein?"
"Eum, aku cuma mau bilang. Kalo bisa, jangan undang temen-temen Mama aku. Jadi acaranya akan lebih hikmat-" Ucapan Kain terpotong karena gerakan tangan Zaka yang memberi kode untuk berhenti.
"Nggak perlu undang siapa-siapa, kok." Dengan entengnya, Zaka mengucapkan hal tersebut.
"Za... kamu kenapa, sih?"
"Kamu masih nanya? Yakin kamu nggak ngerti ke mana alur ucapan aku, hah?"
Zaka memang menahan, dan Zaka semakin tidak kuat ketika melihat wajah Kai. Kelemahan Zaka, karena hatinya tahu akan keberadaan Kai. "Za...."
"Udah. Cukup, Kaina! Kamu menghianati saya! Kamu berencana mempercepat pernikah hanya untuk mendapat keuntungan, kan? Kamu mau membuat saya disisi kamu, dan tetap mempertahankan laki-laki selingkuhan kamu itu! Betapa liciknya kamu!" bentak Zaka. Untung saja resto itu tidak begitu ramai.
"Za. Percaya sama aku, ini nggak seperti yang kamu simpulkan. Dia, dia sama sekali nggak ingin aku pertahankan. Justru aku ingin kita menikah cepat-"
"Kamu bukan lagi milik saya, Kaina. Kamu bukan hal yang seharusnya saya perjuangkan. Karena kamu... kamu menyerahkan tubuh kamu untuk laki-laki itu!"
Air mata Kai menggenang, menyebabkan penglihatannya agak mengabur. "Za... aku mohon."
"Kita akhiri semuanya," lanjut Zaka. Kai tersentak dengan ucapan Zaka itu. "Pernikahan berakhir. Dan hubungan kita... anggap aja nggak ada yang terjadi. Kita lupakan semuanya."
Hanya itu kalimat terakhir yang Zaka terangkan, dan tidak perlu lagi dijelaskan se-menyedihkan apa keadaan Kai saat ini.
Aku butuh kamu, Za. Sangat butuh kamu....