14

944 Kata
Semalam, perdebatan kecil sempat terjadi antara Abi dan Kai. Sebelum sampai di apartemen Abi, Kai memang meminta Abi agar mengantarnya ke apotik. Abi sempat menginterogasi apa obat yang Kai beli di sana, tapi Kai tidak memberikan jawaban yang memuaskan serta meyakinkan bagi Abi. Pria itu sempat naik darah karena Kai benar-benar tidak mengizinkan Abi untuk memedulikannya. Dan akhirnya, memang tugas di atas ranjang yang Kai berikan mampu menutup ocehan mulut Abi. Ada pembicaraan kecil juga, yang sebenarnya adalah tujuan utama mengapa Abi menjemput Kai, dan awalnya juga, Abi tidak berpikir menjemput Kai ke apartemennya. Abi ingin menjemput Kai menuju suatu tempat, entah makan malam atau lain sebagainya, membahas mengenai masalah perginya Arimbi. Dalam posisi Kai yang memunggungi, dan Abi yang hanya boleh menyentuh Kai jika wanita itu mau melayaninya kembali, percakapan itu berlangsung kurang lebih dua puluh menit. Keduanya sama-sama tidak tahu apa yang terjadi, dan itu membuat Abi bingung sendiri. Semalam, biarkan terjadi semalam. Dan kini, sekitar jam empat pagi, Kai sengaja menderap langkah menuju kamar mandi milik Abi. Mencoba peruntungan mengecek hasil apa yang akan Kai dapatkan. Sekitar lima alat pengetes Kai coba dan sejajarkan, Kai membiarkannya selama beberapa menit seraya sesekali memejamkan matanya. Kai penasaran tapi takut dengan hasil yang sebenarnya. Please. Please. Please. Jangan positif, jangan positif. Doa Kai dalam hati. Sepertinya, Kai tidak pernah mendengar istilah 'Jangan berdoa yang buruk karena bisa berkebalikan pada dirinya sendiri. Maka berdoa yang baiklah' tapi sepertinya—menurut Kai, itu bukan doa yang buruk. Justru jika ia mengharapkan tanda tersebut positif, malah menjadi hal yang buruk baginya. Kai membuka mata perlahan, dirasanya cukup. Dan samar-samar, Kai bisa melihat. Seluruh alat pengetes kehamilan itu, menunjukkan dua garis merah. Berarti itu tandanya... aku mengandung anak b******n itu?! Yang mampu dilakukan oleh Kai hanya histeris dalam hati, tidak boleh ada suara yang mengusik tidur Abi. Jika Kai membuat Abi curiga, maka rahasia mengenai kehamilannya ini akan semakin menjadikan alat ampuh bagi Abi untuk menjauhkan Kai dari Zaka. Tapi kalo dia tau, belum tentu juga dia mau tanggung jawab. Abi itu b******k! b******n! Mana mau dia ngakuin ini sebagai anaknya! Ya, Kai memutuskan akan menjalankan misi rahasianya. Kai sudah memikirkan cara itu. Persiapan pernikahannya dengan Zaka bahkan sudah terbilang siap. Kai tidak peduli jika disebut menggunakan cara licik, yang Kai lakukan—semuanya demi mempertahankan Zaka disisinya. Dia tidak ingin kehilangan Zaka. Kai terkejut bukan main saat muncul suara yang mengganggu lamunan serta gejolak emosinya sendiri. Buru-buru dia mengais seluruh testpack tersebut dan menyembunyikannya di balik kantong celananya. "Kamu ngapain jam segini bengong di kamar mandi?" tanya Abi dengan mata yang masih terlihat sangat mengantuk. "Eung... aku cuma cuci muka. Tadi kebangun soalnya mules, jadi sekalian cuci muka." Kai sengaja memutar keran dan mengusap-usap wajahnya, jelas sekali kecanggungan yang membuat Abi mengernyitkan dahinya. "Kamu nggak nyembunyiin sesuatu, kan?" Selain sifat Abi yang suka memaksa, Kai juga tidak menyukai sifat kepo Abi. Masalahnya, Abi suka sekali menebak. Dan tebakannya selalu membuat Kai tercekat sendiri, jadi Kai menjadi pembohong ulung karena Abi. "Nggak!" jawab Kai memasang wajah datar kembali. "Kalo kamu mau pake kamar mandinya, silakan. Aku mau ke luar. Permisi!" Sepeninggalnya Kai, Abi hanya menggaruk kepala belakangnya. Gerakan itu menandakan jika dirinya sangat bingung dengan sikap Kai. "Perasaan gue yang punya nih kamar mandi. Kenapa dia yang sewot?" * Selama satu minggu mencari pekerjaan, akhirnya Kai diterima di perusahaan High Building. Karena modal Kai hanya ijazah SMA, maka Kai tetap mensyukuri dirinya mampu bekerja. Menjadi office girl, tidak masalah baginya. Selama satu minggu itu juga, Kai harus menelan pil pahit. Ternyata, Abi adalah salah satu anggota yang bekerja di sana. Dan itu membuat intensitas waktu berpapasan Kai dengan Abi semakin rutin. Meski begitu, Abi juga mampu bersikap profesional. Abi seperti tidak mengenal Kai ketika melihatnya, dan hanya berlandaskan menyuruh-nyuruh membuat Abi senang berlama-lama di kantor. Kai. Dia sukses menyembunyikan kehamilannya. Bahkan meski tahu dirinya tengah berbadan dua, Kai belum memeriksakannya pada dokter kandungan. Ada hal lain yang membuat Kai memutar otak. Dia harus segera meminta Zaka untuk mempercepat tanggal pernikahan, tapi sayangnya, Zaka kembali sibuk. Kai berniat membahas itu sepulang kerja nanti. Karena Zaka mengajaknya makan malam bersama. "Jangan bengong aja, kamu harusnya bikinin kopi hangat buat saya. Bukannya ngaduk kopi sampe dingin kayak gitu!" sindir Abi yang mengejutkan lamunan Kai. "Oh. Iya, Pak. Maaf." Memang selalu baku. Dan Kai lebih membatasi diri berdekatan dengan Abi, semenjak sadar dirinya tengah mengandung. Banyak cara untuk membuat Abi menurut, sebab itu, Kai lebih sering berakting nelangsa dan memohon pada Abi. Jadilah, hanya sekedar make out kecil-kecilan untuk memuaskan Abi. "Beberapa hari ini, kamu keliatan pucet banget. Kenapa? Kamu sakit?" Abi meraih cangkir berisi kopi yang Kai aduk-aduk hingga dingin sedari tadi. Dan menyeruput dengan suara yang mampu Kai dengar. Entah kenapa, Kai benci sekali mendengar bunyi yang dihasilkan saat orang meminum kopi. "Maaf, Pak. Bisa minumnya lebih pelan? Saya nggak tahan dengernya, jorok banget."  Kai memilih langsung mengutarakan kemauannya. Kai tidak pernah atau mungkin belum merasakan ngidam aneh, mual berlebih. Paling hanya tubuh lemas, pusing, dan kebiasaan kecil yang mulai mengganggu kinerjanya. Salah satunya mendengar suara orang yang menyeruput kopi. "Oh, kamu nggak suka? Ok." Dan Abi mempraktikan minum kopi dengan lebih elegan. "Kamu belum jawab pertanyaan saya, Kai." "Nggak, Pak. Saya baik-baik aja, dan memang muka saya begini, kok. Mungkin karena saya nggak pake make up," jawab Kai tanpa menatap Abi. Abi manggut-manggut. Seolah percaya dengan apa yang menjadi jawaban Kai. Padahal, Abi bukan pria sebodoh itu. "Oh, saya pikir kamu hamil." Celetukan Abi kontan sukses melemaskan tubuh Kai, untung saja Kai mampu bertopang pada kabinet di sana. "Kalo beneran kamu hamil juga nggak apa-apa. Itu bagus," tambah Abi. "Saya bisa menghalangi pacar s****n kamu itu, buat deketin sekaligus nikahin kamu!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN