13

969 Kata
Kai memang harus mengakui ini adalah takdirnya. Pekerjaan yang ia andalkan selama beberapa bulan ini, malah harus ditinggalkan. Arimbi menutup perusahaan kecilnya itu. Sungguh aneh, tapi Kai tidak ingin asal menebak akan apa yang sedang terjadi. Kai sedang bingung sendiri, bagaimana dan pekerjaan apa yang bisa ia kerjakan saat ini. Tidak ada yang tahu. Arimbi tengah menanggung masalah, sangat besar, hingga mengharuskan wanita itu pergi jauh. "Mbak... kalo, Mbak pergi---" "Jangan mengandalkan saya, Kai. Kamu tau kalo dalam hidup, kita nggak bisa mengandalkan siapa-siapa." Arimbi menekan bahu Kaina, menyalurkan kekuatan yang ia sendiri sangat Arimbi butuhkan. "Sebenernya, Mbak... saya bingung kenapa tiba-tiba. Mbak selalu baik-baik aja di kantor, pemasukan kita stabil, nggak ada masalah serius sama kantor. Kita nggak akan bangkrut, tapi kenapa, Mbak malah nutup dan mau pergi?" Arimbi sendiri tidak akan memberitahukan alasan yang sebenarnya. Arimbi jelas dalam masalah besar, perusahaan ini hanya bentuk kecil dari investasi sekaligus mengjilangkan kejenuhan Arimbi. Di tempat lain, Arimbi memiliki aset lain yang lebih menggiurkan. Tapi alasan sesungguhnya, Arimbi harus menyembunyikan sesuatu. "Kai, saya nggak akan fokus sama usaha saya yang lain. Jadi, lebih baik saya ngurus yang lebih besar dan kuat, ketimbang saya harus balik ngerasain rugi nantinya. Lagian, saya nggak mampu berada dan tinggal di negara ini. Saya mau cari suasana lain," tutur Arimbi bohong. "Saya makin bingung, Mbak. Apa ini ada hubungannya sama keluarga, Mbak dan Abi? Apa ada hubungannya sama Mas Arjuna?" tanya Kai dengan tingkat keingintahuan tinggi. Hampir benar. "Nggak, kok, Kai. Ini memang kemauan saya. Yaudah, kamu beresin barang-barang kamu. Ini hari terakhir kamu mengabdi sama saya." Senyum Arimbi merekah, dan dibalas oleh Kai dengan tak kalah tulus. "Kamu ke ruangan saya nanti, ya. Soalnya banyak yang harus saya titipin ke kamu." "Iya, Mbak." Sebenernya, ada masalah apa? Kenapa jadi ngaco begini, sih? Ke mana lagi aku harus nyari kerja? * "Lo tau, kan kalo masalah ini nggak akan selesai begitu aja meski pun Arimbi pergi?!" pekik Abi. Di hadapannya, Arjun memilih diam dan tidak banyak menanggapi Abi. "Lo, tuh... cinta nggak sih sebenernya sama Arimbi?! Kenapa lo diem aja, dia ninggalin kita kayak gini, huh?!" Dalam berbagai sisi, tidak seharusnya Abi membala rasa cinta Arjun untuk Arimbi. Itu salah. Tapi Abi paham, bahwa semua yang Arjun dan Arimbi rasakan bukan atas kehendak keduanya. Bahkan jika harus disalahkan, mungkin Abi tipikal yang menyalahkan takdir Tuhan. "Udah lah, Bi. Nggak akan ada yang berubah. Saya dan Arimbi, nggak akan ada yang mengalah untuk mendapatkan satu sama lain, dan karena memang kita nggak bisa. Jadi, jangan membahas masalah perasaan saya serius atau nggak ke dia." Abi sudah berulang kali menghela napasnya kasar, sebab kelakuan Arjuna yang santai sekali. "Lo yakin, Arimbi nggak nyembunyiin hal lain? Lo yakin, Arimbi akan nyerah gitu aja setelah Ayah bolehin lo ketemu sama Ibu lo, Kak?" Arjuna sempat tidak yakin dengan keputusannya sendiri membiarkan Arimbi pergi, tapi sebagai calon penerus JP grup, Arjuna kembali bersifat egois. "Terserah dia mau nyembunyiin apa pun, saya nggak akan peduli!" "Lo emang gila, Kak! Seharusnya lo cari tau kenapa Arimbi pergi. Gue yakin, ada yang udah terjadi sama lo dan Arimbi, kan?" tebakan Abi memang luar biasa. Buktinya, wajah Arjuna langsung berubah pucat ketika mendengar pertanyaan itu dari Abi. "Gue bener, kan? Lo emang selalu jadi pengecut, Kak. Nggak akan ada laki-laki ngaku cinta tapi nggak berjuang sama sekali. Lo jelas-jelas berbohong!" Abi menutup pintu dengan keras, dan menimbulkan bunyi yang mengagetkan. Arjuna meremas rambutnya sendiri, dan menangkup wajahnya. Emosinya sudah naik turun akibta ulah orang-orang terdekatnya. "Apa yang sebenernya terjadi, Ar? Kenapa harus perasaan kayak gini yang terjadi sama kita...," gumam Arjun. * Kai sudah melingkari tanggal-tanggal pada kalender sesuai jadwal rutin dirinya biasa kedatangan tamu. Tapi sudah beberapa minggu ini, jatah bulanannya tidak juga ia jumpai. Kai heran, terakhir kali Kai hanya datang bulan tapi dengan intensitas sangat singkat, juga darah yang tidak banyak. Dan sudah Kai tunggu-tunggu jatah bulanannya, hingga jumlah pembalutnya hanya tertumpuk di atas nakas yang biasa ia gunakan menampung roti Jepangnya itu. "Kenapa, ya? Ck! Kenapa aku malah cemas sendiri gini, sih?" gumam Kai pada dirinya sendiri. Kai sudah balig, tidak menutup kemungkinan yang ia takutkan benar adanya. Terlebih lagi, Kaina sudah terlalu sering berhubungan badan dengan Abi. Semua itu menjadikan alasan kuat mengapa tamu bulanannya tidak datang. "Aku harus cek, kalo sampe hal itu bener... ya, ampun! Apa yang akan lakuin nantinya?" Drrrttt Kai tersentak dalam lamunannya. Dan lagi-lagi Kai mendapatkan panggilan dari Abi, lelaki yang baru saja terbesit di benaknya. "Kai, kamu di mana?" Kai seperti langsung tersihir ketika mendengar suara cemas Abi. Terdengar berbeda oleh Kai. "Di rumah. Kenapa?" jawab Kai dengan mempertahankan ke-judesannya. "Aku jemput kamu, tunggu di sana." Ditutupnya panggilan itu, karena Kai tidak akan menjawab titah Abi yang baginya tidak masum akal. Tanpa harus diperintah untuk menunggu, Kai akan tetap berada di rumah. Memangnya ke mana lagi Kai akan pergi?  Setelah sepuluh menit Kai ketar ketir sendirian di dalam kamar, karena bingung sendiri harus bagaimana. Ting tong Kai sudah siap dengan pakaiannya, Kai yakin jika dia tidak akan pulang malam ini. Sudah jelas siapa yang akan menahannya hingga pagi menjelang. Dan Kai juga sudah menyiapkan alasan penuh kebohongannya. "Hai!" Langkah kaki Kai sempat mundur, karena ketika mendengar sapaan itu, Kai merasa membayangkan Abi yang akan mengasarinya kembali. "Hei, kenapa?" sambung Abi. Kaina menggeleng, dan memilih mencari alasan tepat menghindari topik ini. "Mau ke mana malem ini? Ke apartemen kamu lagi?" tanya Kai. "Kamu mau ke sana?" Abi balik bertanya. "Terserah. Tapi kalo jadi, anterin aku beli obat ke apotik dulu." Siapa yang akan menolak, tentu saja Abi menyukai itu. Kai tidak memberontak, justru menawarkan diri untuk dibawa ke sana. "Langsung berangkat aja sekarang kalo gitu!" sahut Abi dengan semangat. Aku harus mastiin. Dan kalo bener, aku harus ngambil langkah cepet supaya pernikahan aku dan Zaka dipercepat. Dan perjanjian itu... segera mungkin akan lepas dariku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN