12

1012 Kata
Akhirnya Kai terkulai lemas di atas ranjang dengan seprai berwarna biru mudanya. Setelah tiga hari memaksakan diri tetap bekerja, dan menghadapi banyak rancangan gila Tuhan dalam hidupnya. Arimbi, entah bagaimana caranya. Atasan Kai itu mengatakan jika dia harus pergi, usaha yang ia bangun harus Arimbi tinggalkan. Dan Kai tidak mendapatkan alasan jelasnya. Yang Kai mampu lihat, adalah kesakitan yang mungkin lebih besar dari apa yang Kai rasakan. Bahkan wajah Arimbi lebih menakutkan dari Kai, yang jelas sakit. Maka dari keseluruhan kejadian, Kai harus menyiapkan diri untuk mencari pekerjaan yang baru. Suhu badan Kai naik, entah berapa derajat tepatnya saat ini. Namun, Kai akan memastikannya setelah berhasil menghubungi Zaka. Ya, laki-laki itu marah. Tepat setelah makan malam tak bersemangatnya Kai. Kai tidak pernah terkejut, karena memang itu adalah kebiasaan Zaka. Mungkin karena faktor Zaka adalah anak tunggal, dan selalu mendapatkan apa yang dia inginkan. Selalu menjalani apa pun sesuai keinginannya, tidak bisa ditolak keinginannya jika sudah menggapai sesuatu. Bagus. Tapi bukan dalam hal membangun mahligai cinta. Anggaplah jika berumah tangga adalah kegiatan barter. Menukar satu hal dengan hal lainnya yang kita miliki, sama halnya seperti keadaan Kai saat ini, menukar hatinya dengan cinta yang dimiliki Zaka. Menukar kesabarannya untuk mendapatkan kasih sayang Zaka. Menukar logikanya hanya untuk menetapkan Zaka di sisinya. Bodoh. Tapi Kai tidak menyesal. "Kamu nggak berangkat kerja?" Sumber suara yang menginterupsi Kai dalam lamunan pejaman mata—tidur ayamnya. "Aku lagi nggak enak badan." Tidak ada lagi sanggahan, setelah mendengar penuturan Kai, Sela melenggang begitu saja. Pintu kamar Kai kembali tertutup, dan membatasi kesepian yang ia rasakan. Kai sungguh ingin diperhatikan oleh orang disekitarnya, dalam arti yang sesungguhnya. Orang sekitar yang sangat dekat, tinggal bersamanya, dan seharusnya membagi kisah bahagia ketika keadaan kapal keluarganya diterpa badai. Sayangnya, lagi-lagi sayangnya. Selama kurang lebih lima belas menit Kai meresapi napasnya terasa panas, getaran ponsel menginterupsi kesepiannya. Dalam keadaan lemas, Kai mencoba bersikap normal mengangkat panggilan tersebut. "Ya, halo!" "Aku ke rumah kamu, setelah nganterin Sela. Nggak apa-apa, kan kalo kamu sendirian dulu?" Dalam hati, Kaina membatin seraya mengutuk Abi. "Memangnya apa urusannya? Kamu dateng atau nggak, aku harus peduli?!" "Kamu mau makan apa? Bubur? Apa ada yang lain? Orang sakit biasanya kepingin yang aneh-aneh," celetuk Abi. "Aku demam, bukan ngidam!" hardik Kai dan langsung mematikan sambungan telepon itu sepihak. Dirinya muak, kala harus berlama-lama berbicara dengan Abi. Hanya amarah memuncak saja jika waktu senggangnya ia habiskan beradu argumen dengan pria tersebut. Rezaka'ku : Za? Kamu masih marah? Berulang kali Kai mengirimkan pesan tersebut, tanda bahwa pesan berantai Kai pada Zaka akan dimulai. Setelah pesan itu terkirim dan Kai menunggu selama... kurang lebih tiga menit. Jika tidak ada balasan, maka teror Kai mengirim pesan tak terelakkan. Rezaka'ku : Za, please bales. Aku minta maaf. Rezaka'ku : Ok. Aku paham aku salah, tapi tolong pikirin waktu yang mendekati hari pernikahan kita, Za. Rezaka'ku : Za, aku sayang kamu. Bales pesan aku. Rezaka'ku : Za... aku butuh kamu. Rezaka'ku : Za... i was sick. Kai sebenarnya tidak ingin mengirimkan pesan terakhir. Karena itu sama saja membuat Zaka panik. Kebiasaan lelaki itu, jika Kai mengirim kabar bahwa dirinya sakit, maka Zaka akan kalang kabut bingung sendiri. Pekerjaan apa pun, Zaka tidak akan bisa fokus dan menjalaninya dengan benar akibat pesan itu. Tapi Kaina tidak ingin berharap banyak, Zaka kali ini benar-benar marah padanya. Bisa saja Zaka mengabaikan pesan terakhir, sebab dia berpikir Kai sengaja mengirim pesan itu hanya untuk membuat diri Zaka panik dan tidak marah lagi. Decit pintu mengabari kesadaran Kai, setelah meletakan ponsel pintarnya, Kai mampu melihat keberadaan Abi. Jika saja bukan karena terpaksa, Kaina sungguh akan berlari dari rumah. Karena sejujurnya, Kai selalu takut ketika berhadapan dengan Abi. "Untung tadi Sela nggak sengaja bilang kalo kamu lagi sakit, dan nggak masuk kerja. Aku langsung ke sini abis nganterin dia," ujar Abi penuh ketenangan. Sudah tahu dan sudah sadar dirinya ditolak, tapi Abi terus saja gencar mengejar Kai. "Kamu ngapain ke sini, sih? Nggak ada kerjaan? Kayaknya leluasa banget kamu berkeliaran!" tutur Kai sinis. Dalam keadaan sakit sekali pun, Kai akan tetap bisa bersikap sinis pada Abi. Menurut Kai, itu pantas. "Ya. Karena memang aku punya kuasa lebih di kantor, banyak arsitek dan dan asisten handal ku di sana. Jadi, jika alasan yang aku gunain adalah ngurus calon istri yang lagi sakit... nggak akan ada masalah." "Sinting!" Kai mendengus kasar. "Siapa yang kamu sebut calon istri, hah?! Kamu emang gila! Nggak seharusnya aku setuju sama perjanjian itu!" "Percuma kamu mendesis kayak gitu. Lagian, sekarang... yang kamu punya emang cuma aku. Pacarmu itu nggak akan ngurusin kamu, dia nggak niat buat nikahin kamu!" cibir Abi, membuat Kai naik pitam. "Keluar! Pergi kamu dari sini!" teriak Kai. Tapi Abi tidak berhenti, dia sengaja mendekat ke arah ranjang Kaina. Menempatkan diri, membuat Kai terpojokkan. Dalam posisi terbaring, Abi mengelus bibir pucat Kai. "Aku peduli, Kai. Kalo kamu sakit, siapa yang akan menjalankan kesepakatan perjanjiannya, heum?" Kai sangat berusaha melepaskan pergelangan tangannya yang dicengkeram oleh Abi, tapi kekuatan itu tidak imbang. "Kaina!" teriak seseorang. "Kaina kamu di kamar?!" "Zaka...," lirih Kai. Otomatis, Abi mengubah posisinya. Karena sadar dengan perjanjian. "Kaina...." Zaka langsung berhambur memeluk Kai, yang sudah ia dapati keberadaannya. "Maaf, aku nggak tau kalo kamu bakal sakit begini. Maafin aku, ok? Aku udah kekanakan banget." Kai menggeleng, dan mengeratkan balasan pelukannya pada Zaka. "Nggak, Za. Makasih udah mau dateng. Aku pikir kamu akan ngira aku bohong, dengan alasan sakit buat bikin kamu nggak marah lagi." Suara Kai mulai serak karena menahan tangis. "Ssttt, aku tau kamu nggak akan bohongin aku." Tapi sayangnya aku udah mengkhianati kamu sebelum hari pernikahan kita, Za. "Ekhem!" Abi sengaja mengeraskan suaranya. Zaka yang merasa ada keberadaan orang lain, langsung melepas dan menoleh pada Abi. "Oh, kenapa Anda ada si sini?" tanya Zaka. "Tadi Mama nya Kaina bilang, bahwa Kai sakit. Karena Mamanya kerja, dan saya pikir tidak ada yang menjaganya, saya tentu saja di sini." Jawaban ringan dan penuh senyuman dari Abi, membuat Zaka sedikit percaya. "Terima kasih kalau begitu," ucap Zaka mengisyaratkan bahwa Abi bisa pergi. Abi menyadari itu, dan memutuskan memandang pada Kai. "Cepet sembuh, Kai. Juga, jangan lupa dimakan buburnya."  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN