11

918 Kata
  Suasana menjadi sangat canggung, bukan karena apa. Tetapi keadaan yang memaksa mereka berada dalam satu meja yang sama. Kai tidak menyangka, karena rencana makan malamnya bersama Zaka akan dipertemukan kembali dengan Abi. Lelaki itu seperti tahu setiap jadwal harian atau jadwal penting dirinya bersama Zaka. Bahkan Kai mampu melihat seringai yang diam-diam dilayangkan Abi, sangat halus. Hingga ibunya sendiri tidak bisa melihat, betapa kejamnya lelaki yang menyandang sebagai kekasih Sela. "Bagaimana persiapan kalian, Za? Udah tinggal tiga bulan lagi, lho." Kai mendengus, tidak biasanya wanita itu menanyakan hal yang tidak akan penting bagi dirinya. "Oh, udah 70% kok, Tante. Cuma tinggal nyiapin gaun, desain undangan, list tamu, ya... sekitaran itu. Kalo yang besar-besar dan cincin nikah, udah siap." Mungkin Zaka kelewat bahagia, dan diusia yang muda, Zaka cenderung lebih antusias. Entah antusias atau terburu-buru. "Padahal kamu masih muda banget, Za. Nggak nyangka Tante, kalian bisa awet, dari sahabatan sampe mau nikah gini." Kai sunggu merutuki sikap palsu ibunya. Bukan berarti Kai tidak suka jika diperhatikan, tetapi Kai merasa bahwa semua itu percuma. Justru dengan dipercepatnya waktu, maka Sela akan semakin senang. Kai akan pergi dari rumah, dan Sela bisa melakukan hal sesuka hatinya. "Haha, iya. Saya juga nggak nyangka kalo Kaina juga betah sama saya," tutur Zaka melirik perempuan di sampingnya. Kai terlampau diam jika sudah satu meja dengan ibu dan kekasih ibunya—Abi. Dan Zaka tidak suka berada dalam keadaan itu. "Ekhem, Tante. Saya masih mau muter-muter sama Kai, kita duluan, ya?" Zaka berinisiatif, dan Kai memandang calon suaminya itu dengan mata yang tidak mengerti. Zaka menggenggam jemari Kai erat, memberi kode bahwa dirinya paham. Dibalasnya dengan Kai menggunakan senyuman. Abi tersentak dengan hal itu, sebab Kai tidak pernah menunjukkan senyum itu jika bersamanya. Hati Abi terbakar, dan itu pertanda yang tidak bagus. "Kita permisi kalo gitu, Tante." Antara ikhlas atau tidak, Zaka hanya memandang dan menurunkan kepalanya sebagai tanda menghargai keberadaan Abi. Dan keduanya langsung pergi, Zaka tidak menyukai berlama-lama menebar basa-basi. Karena memang Zaka hanya menghargai jasa Sela, sebagai wanita yang sudah melahirkan wanita cantiknya. Jika tidak ada Sela, maka Kaina juga tidak ada. Selepasnya dari ruangan yang mendadak menyesak kan itu, Zaka mengurai jemarinya menyentuh jidat Kai. "Kamu sakit?" "Hum?" Kai bingung harus menjawab apa, sebab dirinya juga tidak mengerti mengapa terbawa suasan malas saat ini. "Nggak, kok. Cuma rada males aja, Za." Kai menenangkan Zaka, dan itu berhasil. "Oke. Kali ini aku percaya," ucap Zaka. "Kita mau ke mana lagi? Kamu mau makan sesuatu? Tadi kamu makan dikit banget, nggak napsu, kan?" tebakan Zaka memang betul, dan Zaka tidak akan menunggu lama meminta persetujuan Kai. "Kita makan di restoran Krisna, aja." * Restoran Krisna memang tidak mewah, berbagai kalangan bisa menikmati menu tradisional di sana. Terlebih, pembawaan Krisna—sang pemilik—yang sangat luar ramah, membuat para pelanggan berdatangan. "Eh, Reza! Apa kabar, bro?" sapa Krisna yang menangkap bayangan temannya itu. "Baik, lo sendiri gimana?" tanya Zaka balik. "Keliatan lah, udah coba-coba bisnis yang nggak seberapa ini." Lalu pandangan Krisna beralih pada wanita yang berdiam diri hanya melihat interaksi keduanya. "Kenalin dong, Za!" sindir Krisna. Meski usia Krisna terpaut lebih tua dari Zaka dan Kai, tapi dia tidak ingin merasa dituakan oleh Zaka. Krisna menjadi teman yang memang terasa sebaya. Zaka tidak begitu akrab, dalam artian bukan bentuk persahabatan dengan Krisna. "Hai, Krisna." "Kaina," jawab Kai membalas uluran tangan Kris. "Oh. Bukannya kalian dulu satu sekolah?" tebak Kris. Zaka merangkul bahu Kris, dan berjalan mencari kursi yang bagus bagi dirinya dan Kai. "Iya. Kita udah kayak... apa, ya? Pokoknya nempel terus lah, jadi nggak ada yang bisa misahin kita lagi!" ujar Zaka sangat yakin. Kris meninju d**a Zaka, "Jangan sok yakin gitu. Kalo takdir Tuhan nggak ada yang tau!" Kris selalu yakin, bahwa takdir tidak akan bisa ditolak. Maka setiap manusia harus mampu menghadapinya. Di dalam konteks tersebut, manusia harus kuat dan mampu mengendalikan diri. Jika Zaka yang Kris sudah kenal sejak masa SMA itu terlalu takabur akan hubungannya bersama Kai, maka Kris tidak menjamin, bahwa ketika badai mendera kehidupan keduanya... apakah Zaka mampu menghadapi. "Ck! Yaudahlah, yang penting sekarang gue yakin banget sama calon istri gue ini," sahut Zaka seraya melepas tangan dari bahu Kris, dan menarik Kai untuk duduk di meja dekat jendela yang bisa memandangi panorama jalanan Jakarta di malam hari. "Mau mesen apa?" tawar Kris. Seketika saja pemilik itu berubah menjadi pelayan yang menanyakan, menghantar, dan melayani Zaka bersama Kai dengan apik. Zaka mulai memesan, dan begitu juga Kai. "Cocok juga lo jadi pelayan, apalagi muka lo menunjang, Kris! Haha." "s****n!" rutuk Kris. "Tunggu pesanannya, oke. Nggak lama, kok." * Sepulang keduanya, Zaka kembali cemas dengan keadaan Kai. Kai kembali tidak menghabiskan makanannya saat berada di restoran Kris. Dan semakin lama menunggu Kai menghabiskan makanan, maka kesabaran Zaka juga ikut habis. Terlebih, sifat gampang merajuknya Zaka membuat Kai merasa enggan berlama-lama di sana. "Kamu mending istirahat aja, aku nggak bisa liat kamu kayak gini. Apa-apa nggak ada semangatnya!" cibir Zaka. "Maaf, ya? Aku nggak bermaksud gini, Za. Beneran deh, minggu depan aku nggak akan bikin kamu bad mood lagi." Zaka lelah, hari yang seharusnya dapat membuatnya semangat menemui Kai. Malahan membuat diri Zaka kesal sendiri. Zaka tidak suka melihat wanita itu lemah, dan keadaan seperti itu mengingatkan Zaka akan kebiasaan Kai dulu, ketika Zaka sering sekali membentak Kai karena terlalu gampang menangis, melamun, dan berperawakan lemas. Zaka tidak ingin kembali membentak Kai, dan tidak mau membuat hubungan mereka berjarak jika ada kemarahan yang menguar. "Hati-hati, ya." Zaka tidak menanggapi, hanya sekadar bergumam dan menutup kaca mobil. Ada apa dengan diriku?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN