10

908 Kata
  Berhenti mengucapkan omong kosong. Mungkin itu yang diharapkan Kai pada lelaki b******n yang merusak ketenangan hidupnya. Bosan sebenarnya—bagi Kai—menuruti semua perjanjian konyol. "Hari ini kamu rencananya mau kemana?" tanya Kai pada kekasihnya. Memang, seminggu lebih ini Kai mampu menjauh dari Abi. Dia berhasil membuat kedudukan Zaka menjadi utama. Dan itu pula yang dimanfaatkan oleh Kai, dia bisa ikut menyiapkan segala macam kebutuhan pernikahan mereka. "Aku nggak kemana-mana. Malah niatnya mau ajak kamu ketemu WO-nya." Zaka menatap Kai sesaat, lalu kembali pada kemudinya. "Kamu mau, kan... izin? Buat hari ini aja, sayang. Kalo nggak aku yang izin ke atasan kamu. Lagian kamu belum ambil cuti kantor, kan?" Kai bingung harus bersikap bagaimana lagi. "Za, kalo aku kebanyak cuti. Nanti malah habis, kalo nantinya kita nikah, aku hamil... ya, ampun, Za... itu akan nambah lagi. Aku nggak enak sama Mbak Arimbi." Zaka mendecak kesal, dan apa yang bisa dikatakan lagi olehnya. Kai selalu berhasil menentang apa yang Zaka inginkan dengan ancaman secara halus. Dan merasa bodohnya, karena Zaka hampir selalu luluh akan itu. "Terserah!" ucap Zaka dengan nada kentara akan amarah. Kai mengerti, dan akhirnya memang harus menjinakkan Zaka lebih lagi. "Za... please. Tolong mengerti posisi aku, Za. Usaha Mbak Arimbi juga butuh aku, beberapa bulan ini pendapatan banyak hasil dari penjualanku. Dan secara nggak langsung Mbak Arimbi mengandalkan aku." Zaka akan tetap dengan sifat kekanakannya, dan Kai tidak bisa berlama-lama menunggu sesi merajuk Zaka usai. Jadi ketimbang membujuk bayi tua seperti Zaka yang menghabiskan waktu, maka Kai memilih membiarkan Zaka serta memberinya waktu. "Aku turun. Makasih udah mau anter aku berangkat kerja hari ini," ujar Kai dengan mencium pipi kiri Zaka sebelum benar-benar turun. Beginilah hidup Kai. Tidak ada hal yang sempurna di dunia ini. Dan meski Zaka adalah sosok pria yang selalu Kai andalkan untuk menjaganya, maka akan ada ketidaksempurnaan lain dalam diri Zaka. Jika menilai secara egois, Kai yang paling sabar menghadapi semua masalah serta orang-orang dalam hidupnya. Mulai dari orang tua, keluarga, teman, kekasih, hingga orang asing seperti Abi. Kai akan selalu begitu, entah sampai kapan dan dimana batas kesabarannya sendiri. Dia yang memiliki beban saja tidak memikirkan, tetapi terbesit jika harus mengakhiri semuanya. Getaran ponsel Kai menginterupsinya untuk sadar dari lamunan, dan segera menjawab panggilan nomor tanpa nama di ponselnya itu. "Masih seneng-seneng sama pacar sialanmu itu?" tanya seseorang di seberang sana. Kai tidak menebak lagi, tapi sudah hafal betul seperti apa jenis suara yang mengganggu kerja paginya. "Ada apa?" balas Kai ketus. "Tidak ingin menyapa 'Hai!' pada selingkuhanmu ini, manis?" basa basi Abi tentu saja membuat Kai muak. Tapi apalagi yang bisa Kai lakukan, dia akan meladeni Abi hingga mulut pria itu berbusa, akibat terlalu banyak bicara. "Nggak. Kalo kamu butuh sapaan, cari aja di tempat lain. Aku nggak dibayar buat nyapa kamu!" kata Kai seraya membuka email kantor dan beberapa pesan di ponsel kantor. Bahkan jika Kai terus menerus bersikap sinis pada Abi, lelaki itu akan tetap berusaha maju lebih dari langkah mundur Kai. "Oke. Kayaknya aku terlalu banyak ngasih kelonggaran waktu sama kamu, manis. Jadi, begini sifat kamu setelah menghabiskan waktu dengan Zaka itu." Kai tidak berniat mendengarkan, dan tidak juga berniat menjawab. Tidak akan ada yang terjadi jika Kai bersikap begitu pada Abi, kan? "Huh! Hari ini aku yang jemput kamu. Jangan harap bisa cari alasan, karena kalo kamu nolak lagi... akan aku pastikan. Aku pastikan acara pernikahan itu nggak akan pernah ada!" desis Abi. Ancaman Abi memang tidak pernah terdengar meragukan. Kai tidak pernah bisa lari untuk bersembunyi menggunakan alasan ringan lain, jadi mau seperti apa pun itu, jika Abi sedang ingin... maka tidak ada alasan. * Kai terus menatap layar ponselnya, berharap Zaka akan membalas pesan yang ia kirim. Kai sudah tidak bisa berkutik, hanya pesan singkat yang menandakan jika dirinya tidak mengizinkan Zaka menjemputnya hari ini, dan Kai yakin jika Zaka semakin murka dengan pesan itu. "Apa benda itu lebih penting dari aku yang ada di sini, heum?" Kai tersadar, dia sudah berada di parkiran apartemen Abi. Sungguh, Kai tidak merasakan apa-apa sejak berangkat tadi. Jemari Abi menelisik rambut Kai, dan mengusap usap wajah Kai dengan gerakan sensualnya. "Kamu mau main di mobil?" tawar Abi, gila. Sontak saja Kai memicing. Tawaran gila yang Abi berikan, tentu saja tidak Kai setujui. "Kamu gila!" "Wow! Itu pernyataan, bukan pertanyaan." Abi selalu bisa naik pitam, sekaligus b*******h dengan sikap acuh dan ketus Kai. Abi sendiri tidak mengerti daya tarik apa yang memancar dari Kai, hingga membuatnya seperti ini. Abi tidak meladeni lagi, yang ia lakukan adalah mulai mengedarkan jemarinya untuk membuka kancing-kancing kemeja Kai. "Jangan melawan, Kai!" tuntut Abi yang sebelumnya sudah mendapat hadangan dari Kai. "Akan aku robek baju kamu ini, kalo kamu nggak bisa nurut!" Kai takut, dia selalu takut jika melihat Abi yang seperti itu. Baginya, Abi memiliki sisi mengerikan lain saat tidak Kai turuti. Abi merapatkan tubuhnya pada Kai, mengecupi leher Kai dengan lumatan kecil—awalnya—semakin lama lumatan kecil itu menjadi ganas. Tangan Abi sendiri sudah merayap kemana-kemana, dan ponsel Kai yang entah jatuh di mana. Seolah sudah terbiasa, Kai mengikuti dan membalas perlakuan Abi terhadap tubuhnya. Kai tidak mau dikasari lagi, cukup baginya mendapat perlakuan kasar. Jadi yang Kai lakukan, adalah dengan ikut menikmati permainan tersebut. Dengan kesadaran penuh, tetapi tidak ada yang menyadari jika posisi keduanya sudah saling menimpa. Dan kali ini, Kai yang berada di atas pangkuan Abi. "Kuasai aku, Manis....," erang Abi menuntut Kai. Wajah Kai sudah sangat memerah, dan yang ia lakukan—lagi-lagi—memang mengikuti apa yang Abi inginkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN