09

990 Kata
Dalam rumus dunia ini, mana yang akan masing-masing pribadi manusia pilih? Mencintai atau dicintai? Adakah rumus dengan tingkat perhitungan akuratnya? Jika itu aku. Dan mungkin saja kebanyakan manusia lainnya akan memilih untuk melemparkan rumus tidak terbedah antara dicinta atau mencinta, karena tanpa diminta, aku akan memilih saling mencintai. Mencintai Zaka, sudah jelas. Dan Zaka yang mencintai diriku... aku tidak meragukan itu. Justru sekarang, akhir-akhir ini, waktu bergulir dan menjeratku hingga terseok-seok akan hadirnya pengganggu sekaligus pengrusak rencana hidup saling mencintaiku bersama Zaka. Jika kejujuran aku ungkap, dan berlari dari cengkeraman siasat busuk Abi, maka aku akan mendapatkan jeratan lain tanpa perlu diminta persetujuan. Karena Zaka sudah pasti membuangku, jika sampai mengetahui hal ini. "Sayang?" Ah, ya! Aku lupa jika sedang bersama Zaka. Ya ampunnnnn! Bagaimana mungkin aku melamun sejak tadi? Sedangkan Zaka mengoceh padaku sejak perjalan menuju mall—toko perhiasan. "Heuh? Kenapa, Za?" Lihat, aku yang menjadi terlihat sangat bodoh! Aku tau jika Zaka memasang wajah bertanya-tanya dengan sikapku, tapi... akan aku coba alihkan. "Jadi kita mau milih cincin yang mana?" Begitulah Zaka, dia akan tetap bertanya meski berada dalam mood yang kurang suka dengan diriku seperti saat ini. Zaka itu memang memiliki sifat kekanakan yang cukup tinggi. Memang banyak—terlalu banyak kesempatan dimana aku harus terus mengalah. Terkadang bahkan aku tidak menyadari siapa Zaka sebenarnya. Sifat meledak sesaatnya itu membuatku takut... takut jika sewaktu-waktu dia akan meninggalkanku. "Oahhh, ya... tentu... Za. Hehe, kita harus milih yang bagus!" Oh, astaga! Jawabanku melenceng.... Bodohnya aku! Bodohnya diriku ini... Ya Tuhaaaannnn. "Ekhem," dehamku agak keras dan beralih menatap pelayannya. "Saya mau liat yang warna agak ada corak biru itu, Mbak!" pintaku pada si pelayan. Zaka menurut, dan aku yakin setelah itu perhatian serta fokusnya akan kembali pada rancangan sedikit demi sedikit menuju pernikahan kami. Bukan tanpa alasan kenapa aku mau menerima keputusan Zaka untuk menikahiku. Kami pernah sepakat semasa SMA, bahwa Zaka akan menikahiku diusia muda. Kami sepakat menikah muda. Meski sejujurnya aku dan Zaka sangatlah muda. Delapan belas tahun, mungkin kami akan dijadikan bahan pembicaraan yang aneh-aneh nantinya. Entah aku yang hamil duluan sebelum menikah, atau ada aib lain dari diriku yang hanya bisa Tetutupi dengan keputusan 'menikah'. Semuan kejelekan akan mengarah pada diriku sebagai wanita.   Seusai memilih cincin, Zaka memutuskan mengajakku makan malam. Dan tentunya ingin menguak apa yang membuatku menjadi berbeda dihadapannya sejak tadi. Karena semakin lama, kebiasaan melamunku semakin menjadi. "Kamu nggak mau cerita sesuatu, Kai?" Pertanyaan Zaka tidak akan jauh-jauh dari itu. Sejak dulu, Zaka akan bertanya begitu jika melihat gelagatku yang berbeda. Bukan bosan, hanya saja, aku lelah merangkai kebohongan ini lagi. Sebab semenjak menyetujui perjanjian gila dengan Abi, aku sering melamun sekaligus sering berbohong pada Zaka. "Nggak. Beberapa bulan ini orderan papan bunga agak menurun, Za. Aku bingung harus gimana lagi. Kasian Mbak Arimbi, dia mengandalkan kinerjaku banget, tapi malah sepi begini." Apa akting mengeluhku bagus? Zaka mengelus jemariku lembut, menghantarkan senyuman hangat. Jarang-jarang lagi aku bisa menikmati sentuhan dan usapan dari Zaka? Persiapan pernikahan selama enam bulan itu tidak sepenuhnya mampu membuat kami bertemu secara terus menerus. Justru waktu Zaka semakin banyak tersita. "Wajar, kok. Lagian emang bulan-bulan ini jarang ada pembukaan cabang usaha baru, juga mungkin semakin sedikit yang meninggal." Jelas sekali jika Zaka mencoba menghiburku. Dia tau jika biasanya banyak order bunga papan kematian, dan kali ini, aku tidak ingin mengecewakan. Tentu saja aku tertawa. "Jahat banget kamu! Masa iya mau ngarepin orderan cuma dari orang meninggal! Dasar...," balasku. "Yaudahlah, jangan bahas kerjaan di meja makan kita. Nikmatin aja waktu dinner kita ini, Kai. Aku bosen bahas masalah kerjaan. Mau itu kerjaan kamu atau kerjaan aku sendiri." Nah! Yang salah siapa sekarang? Tadi dia memintaku bercerita—meski cerita yang bohong, tapi tidak sepenuhnya bohong. Setidaknya aku mencoba mengimbangi pembicaraan, dan Zaka kembali menjatuhkan semangatku untuk menghilangkan pemikiran berat akan sosok Abi serta merta perjanjian gilanya itu. "Heum, oke. Maaf, ya?" tanyaku membalas usapan jemarinya. "Nggak masalah, lagian, seenggaknya kamu udah lega." Semoga, Za... semoga kamu selalu bisa genggam aku kayak gini. Otomatis aku akan ngerasa selalu lega. * "Udah malem, kamu nggak mau nginep aja, Za? Mama nggak akan keberatan, kok, kalo kamu istirahat di sini." Aku bukan sengaja menawarkan agar Zaka menginap di rumah, tapi ini salah satu cara agar Abi tidak semena-mena terhadapku yang sangat jelas memiliki kekasih. "Nggak enak sama tetangga kamu, Kai. Lagian, nggak masalah juga aku balik, apartemenku lebih deket dari pada rumah. Aku akan ke apartemen aja." Oh, Zakaaaa. Aku meleleh dengan sikap penuh pengertiannya dalam hal ini tentunya. Dalam hal yang lain, mungkin Zaka belum bisa lebih bijak. Anggaplah seperti itu. Kupandangi wajah Zaka yang begitu menarik. Aku selalu sadar, jika daya tariknya memang luar biasa. Dia selalu tampan dengan wajah hitam manisnya, dan aku lebih menyukainya ketika memakai topi. Entah, tapi Zaka akan terlihat seperti pemuda kebanyakan jika tidak mengenakan tuxedo mahal layaknya hari ini. "Eumm, Za...?" "Iya?" Aku ragu, tapi sepertinya aku harus menanyakan hal ini. "Kalo salah satu diantara kita ada yang berkhianat... apa yang kamu lakuin?" Aku sampai menggigit bibir bawahku karena terlalu gugup. Zaka tidak akan menjawab untuk meninggalkanku, kan? "Kenapa tiba-tiba nanya begitu?" Ayolah, Zakaaaaa! Hanya tinggal menjawab, apa sulitnya itu?! "Aku pengen tau jawaban kamu, supaya nantinya nggak akan ada pengkhianatan, juga aku bisa antisipasi, apa yang bisa aku lakuin setelah itu terjadi. Meski pun aku nggak mau itu terjadi." "Kalo itu aku, yang berkhianat. Kamu berhak ninggalin aku. Tapi kalo kamu berkhianat..." Zaka tenggelam dalam lamunan sesaat. "Aku nggak bisa bayangin itu, Kai. Kamu nggak akan ngelakuin itu. Iya, kan?" Apa yang harus aku lakukan? Jawaban apa yang pantas aku berikan pada Zaka? "Iya," jawabku dengan mengangguk dan memeluk Zaka. Sejujurnya aku tidak ingin dia cepat pulang. Aku ingin bersama Zaka. Karena sungguh menyiksa jika aku berada di rumah. Bayangan lelaki s****n itu akan selalu kembali hadir. Terus ku eratkan pelukan pada Zaka, seolah aku akan ditinggalkan olehnya. Terserah Zaka berpikir bagaimana, tapi aku mulai takut sekarang. Zaka... mungkin saja dia akan meninggalkanku. Zaka, pantaskah aku mencintaimu?      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN