Kai ingin menjadikan Zaka satu-satunya. Dalam hal apa pun, terlebih, Zaka selalu bersama Kai sejak SMP. Mungkin sekarang Zaka tidak akan bertanya apakah Kai masih menjaga keperawanannya atau tidak, tapi saat nanti keduanya sudah resmi... Kai tidak tahu apakah Zaka akan kecewa atau tidak.
"Kamu kenapa, sih, sayang?"
Zaka mungkin akan mau memahami keadaan keluarga Kai yang hancur lebur, tapi Kai berpikir keras, apakah Zaka mau menerima dirinya sebagai wanita yang sudah hancur lebur akibat ulah kekasih ibunya sendiri...?
"Nggak apa-apa, kok. Aku sebenernya udah agak kenyang, Za." Kaina mencoba terus tersenyum, setulus mungkin selayaknya hari-hari biasanya mereka bersama.
"Aku suapin, ya? Jangan bilang udah kenyang, kalo kamu aja keliatan lemes kayak gitu, Kai."
Aku lemes karena harus menutupi semuanya dari kamu, Za... semuanya yang salah.
"Tuh, kan! Kamu kenapa ngelamun terus, sih? Aku jadi males makan sama kamu kalo gini jadinya. Nyebelin kamu. Niatnya aku mau nyenengin kamu, kamu sendiri malah kayak gini! Lama-lama aku nggak yakin sama hubungan ini!" tukas Zaka membuat Kaina mencelos hatinya.
Kai langsung menarik jemari Zaka yang berada di atas meja, meremasnya untuk meyakinkan bahwa Kai tidak ingin ditinggalkan... lagi. Sudah banyak kehancuran dalam hidupnya, dan dirinya, maka Kai tidak ingin sekali pun membuat Zaka meninggalkannya dan membuat diri Kai semakin hancur.
"Aku minta maaf, oke? Aku yang salah, Za. Jangan ngomong kayak gitu lagi, ya? Aku sayang—bahkan cinta sama kamu, Za. Aku... aku nggak mau kamu tinggalin."
Tanpa sadar Kai sudah menangis tersedu-sedu, Zaka sontak heran dengan sikap Kai yang menjadi ketakutan—sangat ketakutan.
"Hei... sssttt. Kamu kenapa lagi, sih, sayang? Tadi kamu nyium aku di parkiran kantor kamu agresif banget, terus kamu nyuekin aku lagi makan, sekarang... kamu kenapa ketakutan gini?
Kai tidak akan menceritakan yang sudah terjadi kemarin. Kai tidak akan membuat Zaka melihat jijik pada dirinya, dan membiarkan Zaka pergi begitu saja.
Kai menggeleng dengan cepat, dan memeluk Zaka yang sudah menjatuhkan lututnya di dekat meja Kai. Kai takut, jelas Zaka merasakan aura itu. Dan lagi-lagi, Zaka tidak tahu apa yang sedang terjadi.
Seraya mengelus punggung Kai, Zaka mulai bergumam. "Kayaknya aku banyak ketinggalan dan kehilangan momen sama kamu, Kai. Kenapa kamu sampai kayak gini, hum? Cerita sama aku, Kai. Aku tau kamu nggak akan kayak gini tanpa alasan."
Zaka sudah tidak peduli lagi dengan sesi romantis makan malam mereka, yang Zaka pedulikan saat ini adalah bagaimana mengisi lagi ketidaktahuan diri akan Kai selama meninggalkan kekasihnya itu.
"Aku pengen sama kamu, malem ini, Za. Aku nggak mau pulang...," lirih Kai seraya memandang Zaka penuh pengharapan.
"Oke. Nginep di apartemenku. Tapi jangan nangis lagi, aku nggak mau dikira abis ngapa-ngapain ke kamu sampe bikin mata kamu bengkak, Kai." Permintaan Zaka langsung diangguki oleh Kaina. Dan Kai kembali membalut tangannya pada leher Zaka.
*
Layaknya janin yang meringkuk dalam rahim ibunya, Kai juga melakukan posisi yang sama. Zaka hanya mampu melihatnya dari jangkauan mata saat ini saja. Zaka sangat menghargai Kai, sangat. Hingga untuk mencium bibir Kai saja, Zaka lebih sering meminta izin pada Kai.
Zaka tidak akan melakukan hal apa pun yang membuat rasa penasarannya sebagai laki-laki terkuak sebelum hari pernikahan. Zaka ingin merasakan apa yang dia sudah bayangkan euforia nya. Spontan saja Zaka tersenyum membayangkan wajah memerah Kai akibat tersipu pada malam pertama mereka nanti. Zaka bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi sebelum hari pernikahan itu terjadi.
"Kamu nggak tidur, Za?" Kai bertanya dengan suara khas orang bangun tidur. Jam sudah menunjukkan pukul dua belas, dan Zaka masih asyik memandangi wajah Kai yang sedang tertidur di ranjang bersamanya. Dan memang kali ini, Kai benar-benar tidur, bukan ditiduri atau apa pun yang pantas disebut seperti yang Abi lakukan.
"Kamu kenapa bangun?" Zaka balik bertanya pada Kai.
"Karena aku ngerasa ada yang merhatiin, kerasa, Za. Kamu kan tau aku nggak bisa tidur pules kalo ada sedikit gerakan di tempat tidur," jelas Kaina yang langsung ditanggapi oleh Zaka dengan senyuman.
"Yaudah. Sini peluk, biar aku juga bisa tidur."
Kai mendelik tajam, sebelum menuruti keinginan Zaka. "Kamu nyari kesempatan, ya?!"
Zaka hanya mengerutkan keningnya, membuat Kai semakin ingin mendapat penjelasan. Setelah tenang, Zaka mulai meraih Kai dan merapatkan pelukkan. "Aku nggak akan ngapa-ngapin kamu, sayang. Kamu tau itu dengan baik, aku nggak akan nyentuh kamu sebelum pernikahan kita."
Kai tidak ingin menjawab, tapi justru semakin mengeratkan pelukannya pada Zaka.
*
Kaina tidak bisa terus menerus tinggal di apartemen Zaka. Dan tidak akan baik jika nantinya banyak orang yang mempertanyakan status antara Kai dan Zaka. Dan malam ini setelah mampir sebentar untuk memasakan Zaka, Kai diantar Zaka kembali ke rumah.
"Masuk dulu, yuk. Kamu udah lama nggak ketemu sama Mama," ajak Kai mencoba mengeratkan hubungan antara ibunya dan Zaka sebagai calon menantunya.
"Yaudah, aku sekalian mau ngomongin rencana pernikahan kita."
Keduanya memasuki rumah, dan lagi-lagi, Kai sudah bisa menebak apa yang terjadi di dalam sana. Abi dan Sela yang sedang berciuman.
Merasa ada yang memasuki rumah, Abi melepaskan ciuman itu terlebih dulu. Dan memandang Kai dengan tatapan yang sulit untuk dimengerti.
"Oh, Zaka... kamu tumben ke sini? Udah lama banget, lho kamu nggak dateng." Sela yang mendahului memecah keheningan di ruangan tersebut.
Zaka menampilkan senyumannya. "Iya, Tante. Saya ke sini juga karena mau ngomongin sesuatu, Tante."
"Kalo gitu duduk, dulu, Zaka." Tentu kedua pasangan itu duduk saling berhadapan. Dan Kai sangat merasa terintimidasi dengan pandangan Abi padanya.
"Nah, sebelumnya Tante kenalin dulu... ini Abimana, kekasih Tante, Za."
"Kekasih...?" Zaka spontan saja kaget. Meski sudah melihat adegan intim Sela dan Abi berpagutan, Zaka masih tidak mengira jika status keduanya adalah kekasih.
"Ahaha, Abi memang masih mudah. Dia dua puluh enam, keliatan banget, ya jomplangnya?"
Zaka buru-buru menampik dan menyelesaikan masalah itu. Dan berjabat tangan dengan Abi, tanpa masalah. Sedangkan Abi sudah memasang wajah datar dan dinginnya.
"Jadi, kamu mau bahas apa, Za?" tanya Sela to the point.
"Saya ingin menikahi Kaina, Tante. Mungkin akan sekitar enam bulan dari sekarang persiapannya. Karena saya juga nggak mau lama-lama menunda lagi, saya mau Kaina segera menjadi istri saya."
"Kamu yakin mau menikahi wanita lugu seperti Kai?!"
Bukan suara Sela, tapi justru suara Abi yang menggema.
Apa yang kamu inginkan lagi, b******n?!