05

922 Kata
Semuanya, Kai ingin semuanya berakhir. Mulai dari masalah keluarganya, percintaannya, hingga dirinya yang tersiksa oleh Abi. Tapi Kaina tidak tahu bagaimana cara lepas dan mengakhiri masa kelam dalam kisahnya sendiri. Hidup Kai tidak akan pernah berjalan dengan baik, jika Abi masih terus membayangi Kaina. "Lepas, bisa?! Saya tidak pernah berurusan dengan Anda. Kenapa Anda melakukan semua ini terhadap saya, hah?! Saya tidak pernah membuat kesepakatan untuk terus bertemua dengan Anda... manusia b******k!" Kai masih menjaga sopan santunnya dengan tidak meludahi wajah Abi saat mengumpat. Dan Abi masih saja mencari kesempatan untuk membawa Kaina malam ini.  "Kamu sudah sepakat sejak malam itu, manis. Bersikap baik, mengerti? Aku nggak suka dengan sikap kurang ajar kamu, Kai!" Kai menolak untuk mengeluarkan air mata, karena air mata Kai terlalu berharga untuk Abi. "Apa kamu tau, tanpa saya, hidup Ibu kamu itu nggak akan berjalan baik. Dan tanpa kamu, aku nggak akan bisa mendapat pelepasan di ranjang dengan sangat baik." Abi suka berbicara v****r dengan Kai, terlebih lagi keadaan apartemen Abi yang kosong. Abi, entah bagaimana—Kaina tidak mengerti bagaimana bisa Abi membuat Arimbi memercayakan dirinya pada Abi setelah pulang kerja. "Kenapa? Kenapa kamu melakukan ini, Abimana?! Kenapa harus aku yang kamu gilai? Kenapa?!" teriak Kai frustasi, meronta agar Abi melepaskan cengkeraman ditangannya. Abi mendengus, dan memasang seringai. "Kamu harusnya tau, bahwa kamu sudah terlalu jauh mengikuti permainan di keluarga Parvenandra. Jadi, Arimbi sangat benar mempercayakan kamu pada saya. Karena Arimbi, dia nggak akan bisa berjalan sendiri untuk melaksanakan rencana ini. Mengerti?" Kai semakin tidak paham apa yang Abi maksud, karena yang ada dipikiran Kai sekarang adalah lepas dari Abi sesegera mungkin. "Ah, ya... kamu akan menikah?" Abi menjeda ucapannya sejenak. "Heuh! Kamu pikir pacar kamu akan tetap melaksanakan pernikahan bersana kamu, kalo tau kamu sudah berkhianat dibelakangnya... begitu?" Kai sangat paham jika Abi tengah memberi nada ancaman, meski ancaman itu belum meluncur secara langsung. "Apa maksud kamu? Apa yang kamu rencanain, b******k?!" Kai semakin berteriak, tapi Abi mrmanfaatkan itu untuk mencium Kai secara brutal. Kai merasakan perih di bibirnya, dan merintih kecil saat Abi terus meremas buah dadanya kasar. Abi tidak akan pernah tahan saat bersama Kaina, dia akan melakukannya meski Kai merasa kesakitan. Abi tidak akan memberi jeda apalagi pengampunan pada Kai yang terus melawan dirinya. Kaina sudah lemas, sekuat apa pun dirinya menangis, maka semua itu sia-sia. Justru apa yang dilakukannya malah membuat tubuhnya semakin lemas. k*****s Abi datang, dan entah dia sadari atau tidak, Abi mengeluarkan cairannya di dalam rahim Kaina. "Berhenti menangis, huh? Menikmatinya, Kai?" Abi mengitari lekuk wajah, leher, dan p******a Kai dengan mengecupinya. Tidak ada yang ingin Abi tinggalkan di sana. Abi sangat berhasrat pada Kaina, dan Abi tidak tahu hingga kapan hasrat itu akan berhenti. "Karena kamu udah mulai jinak, aku akan jelaskan, Kai." Abi menarik kepunyaannya dari himpitan sempit milik Kai, dan bergulir di samping tubuh Kai berbaring. Pandangan Kai kosong, matanya sembab, bibir merekah merah—bengkak, dan tidak merubah posisi. Tangannya berada di atas kepala, dengan leher yang agak mendongak akibat ulah Abi, buah dadanya menyembul karena Abi yang beringsut dari atas tubuhnya. Kewanitaannya terbalut selimut, tapi tidak terjaga dari dinginnya pendingin ruangan. "Harus selalu seperti ini, Kai. Kamu harus melakukannya denganku, dan rahasia kamu aman. Tapi kalo kamu memberontak, jangan harap pacar s****n kamu, Ibu kamu, dan orang-orang diluaran sana akan mengetahui apa yang kita lakukan." Meski seperti tidak menangkap ucapan Abi, tapi Kai mendengar sangat jelas apa yang Abi sampaikan. Abi mencoba membuat kesepakatan, dan Kai mau tidak mau harus menurutinya. Jemari Abi kembali menjelajahi tubuh Kai. Abi bahkan tidak memikirkan kondisi psikologi Kai setelah seluruh paksaannya berdampak buruk pada Kai. "Katakan, Kai. Apa kamu mau aku menjauhimu tapi setelah itu semua orang akan meninggalkanmu... termasuk Zaka. Atau kamu menurut, dan semua akan berjalan baik... seperti hari biasa." Kai kembali menitikan air mata dalam diam, kebungkamannya menandakan gejolak amarah, kebingungan, dan ketakutan dalam satu waktu. Abi tidak peduli itu, Abi hanya menginginkan Kai, dan semuanya akan beres jika Kai menuruti kesepakatan ini. "Jawab, Kai. Atau kamu juga mau Ibu gurumu itu tidak bertemu dengan Arjuna?" Kai semakin tersentak, dan itu semakin menekan batinnya. "Y... ya...," lirih Kaina menahan segala yang ia rasakan sendiri. "Katakan dengan jelas, Kai." Abi menuntut Kai. "Ya. Aku akan selalu menuruti apa yang kamu mau, soal tubuhku. Asal, kamu juga menepati janjimu, b******k!" Kali ini suara Kai lebih lantang dan kuat. Bagus, Kai. Semuanya akan berjalan dengan baik, terus lah menurut.... * "Bi, kenapa Kaina pulang bareng kamu?" Sela tidak mendapat jatah jemputan Abi malam ini, karena memang Abi beralasan ada proyek yang harus ditangani secara mendadak. "Iya, tadi aku liat Kai nunggu di halte. Karena udah malem juga, aku anter dia." Abi berbohong, dan Kai memilih diam. Tanpa menunggu lagi, Kai meninggalkan tempat di mana Abi dan Sela berada. "Kamu nggak mampir?" tanya Sela sepeninggalnya Kai. Abi tersenyum—palsu. Dan memeluk Sela. "Nggak bisa. Karena ada meeting besok pagi, kalo aku di sini, aku yakin nggak akan bisa istirahat." Ya, Abi dan segala napsu birahinya. Sela membalas pelukan Abi dan mengeratkannya. "Ya, ya, ya... aku paham, sayang." Diusia Sela yang sudah kepala empat—empat puluh tiga tahun tepatnya. Sela masih saja senang bermain-main dengan laki-laki berumur dibawahnya. Dan Abi, bagi Sela Abi adalah yang paling serius sejauh ini. Selama satu bulan kemarin, dan Sela mengajaknya ke rumah, Abi semakin sering menanyakan keadaan Kai—putrinya. Sela selalu mengira jika semua itu adalah bentuk kasih sayang Abi pada Kai sebagai anaknya. "Aku pulang...," pamit  Abi. "Bye. Hati-hati, Bi!" Bukan Sela, tapi Kaina yang menjadi inti dan pusat perhatianku mempertahankan hubungan dengan Sela.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN