06

959 Kata
Kaina bersalah, tapi hanya itu yang mampu menjadi keputusan paling benar saat ini. Kai memang harus belajar, dan terus belajar. "Kai, maaf, ya kemarin kamu harus pulang sama Abi-" "Mbak, bisa kita ngomong di ruangan, Mbak Arimbi aja?" Arimbi bingung, sempat. Tapi Arimbi langsung mengangguki permintaan Kai. Langkah keduanya agak gontai, menyibukkan diri masing-masing akan pemikiran. Arimbi dengan banyak rahasi tersimpan, begitu juga Kai yang masih teramat abu untuk Arimbi baca. "Kamu mau ngomong apa, Kai?" tanya Arimbi langsung. "Mbak Arimbi punya hubungan apa sama Abi?" Arimbi tidak paham, tapi akan mencoba memahami. "Kamu mau banyak tau mengenai keluarga Arjuna? Parvenandra?" "Tolong langsung jawab aja, Mbak." Arimbi menarik napas dan menghembuskannya perlahan, Arimbi memang selalu begitu jika harus menjelaskan asal usul keluarga Parvenandra, dan semua itu di luar konteks perjanjiannya. Arimbi sama besarnya mengambil langkah untuk bercerita dengan Kaina. "Abi putra kedua dari silsilah Parvenandra. Dia saudara Arjuna, dan aku... Aku juga salah satu dari mereka. Aku adik dari Rama—oke, kamu nggak perlu tau siapa Rama. Yang jelas, Abi bersedia membantuku mempertemukan Arjuna dengan guru kamu itu, karena memang Abi yang bisa dekat dengan Arjun." Jika Arimbi jelaskan satu per satu keluarga Parvenandra dan keturunanya, maka tidak akan habis waktu satu hari bercerita. Karena itu, Arimbi lebih memilih mempersingkat apa yang menjadi keingintahuan Kaina. "Tapi nama belakang, Mbak...-" "Kamu akan pusing sendiri kalo nanya aku. Yang penting kamu tau kalo Abi, aku, dan Arjun adalah keluarga. Bagaimana nama kami, atau latar belakang hadirnya kami... kamu nggak perlu tau lebih jauh. Oke?" Kai hanya mengangguk. "Ada masalah kemarin pas dijemput Abi, Kai?" "Hah?" "Abi bikin masalah sama kamu?" "Nggak. Nggak, Mbak. Dia baik, kok. Saya cuma penasaran aja kenapa, Mbak kenal dia." Sepertinya Kai mulai pandai menyenbunyikan diri, seperti yang Arimbi lakukan. * "Abi? Ngapain kamu di sini?" Arimbi jelas heran dengan kedatangan Abi, karena memang tidak seharusnya Abi datang. Arimbi tidak meminta Abi datang menggantikannya mengantar Kai. "Mau jemput Kaina. Kenapa?" Abi memang selalu santai, dan terkesan lebih menampilkan wajah datar pada perempuan. Tapi jika gairahnya sudah naik, maka Abi akan dengan mudahnya tersenyum. "Kaina? Dia bakalan pulang sama aku, kok-" "Nggak lagi. Mulai kemarin malam, Kaina udah resmi aku jemput. Lagian dia juga searah sama aku, karena aku akan main ke rumah temen." Arimbi bukan wanita bodoh. Demi apa pun, Arimbi sudah hapal betul gelagat yang seperti Abi ini. Dan Arimbi sudah tahu sepak terjang Abi dalam urusan wanita. "Jangan macem-macem, Bi!" "Mbak, maaf Kai pulangnya sama Abi. Mbak bisa langsung pulang aja," ujar Kai yang baru selesai membereskan meja kerjanya dan ke luar dari dalam. "Nggak, Kai." Arimbi memicingkan matanya. Memandang tajam pada Abi, dab Abi hanya membalasnya dengan wajah santai nan datarnya. Tangan Abi bersedekap di depan d**a. "Mbak, Abi searah sama Kai. Jadi jangan mikir yang aneh-aneh sama Abi. Mungkin nanti Kai bakalan lebih sering pulang sama Abi," jelas Kai kembali. "Kai, kamu serius?" tanya Arimbi. "Iya, mbak." Arimbi masih saja menimang-nimang keputusannya, dan ucapan Kai memang mampu memengaruhinya dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan diri Kai. "Yaudah, Mbak pulang duluan. Kamu harus hati-hati sama Abi." Mata Arimbi penuh dengan tekanan pada Abi. "Hati-hati, Mbak. Selamat malam." Sepeninggalnya Arimbi, Abi langsung membukakan pintu mobil. Kai hanya menurut, tidak banyak memberontak pada Abi. Alasan kenapa Kai selalu menerima Abi menjemputnya adalah karena Zaka yang harus kembali lagi ke Surabaya. Ternyata urusan bisnis keluarga Zaka di sana masih harus diselesaikan oleh kekasih Kaina tersebut. "Mulai nurut, ya, kamu. Tambah manis." Kai tidak suka dengan perlakuan Abi, dan itu ya g menjadi alasan Kai diam tanpa mau membalas ucapan Abi. "Malam ini, seperti kemarin. Aku nggak akan jemput Sela, dan kamu harus punya alasan bilang ke Ibu kamu itu, bahwa malem ini kamu nggak pulang ke rumah." Kai langsung menatap Abi. "Kamu cuma sepakat atas tubuhku, bukan waktuku!" sungut Kai. "Karena menikmati tubuh kamu itu perlu banyak waktu, Kai. Dan ingat! Jangan  banyak membantah!" Jika dikatakan apakah Kaina menyesal, maka jawabannya adalah iya! Semua yang Kai putuskan dan berhubungan dengan Abi, maka Kai memang selalu menyesal ketika kekasih ibunya adalah Abi. * Abi sudah mencumbui Kaina, bahkan sebelum pintu apartemennya terbuka bebas. Kaina sungguh merasa kewalahan, Abi seperti kehilangan jati diri saat sudab memiliki kesempatan menyentuh Kai. "Balas aku, Kai...," geram Abi karena ciumannya yang tidak Kai balas juga. Kai mendorong tubuh setengah telanjangnya, dengan Abi. Napas Kai terengah, dan posisi kakinya sudah mengangkang akibat dorongan Abi merapatkan tubuh. "Aku akan bales. Tapi pelan-pelan. Bisa?" Abi sulit melakukan itu jika lawan mainnya tidak sebanding. "Aku nggak akan puas kalo kamu terlalu pasif, dan lembut? Kamu lebih nikmat kalo dikasarin." Abi sudah siap menerjang Kai kembali, tapi Kai kembali memberi jeda. "Aku akan bikin kamu puas. Kamu bisa percaya kalo aku nggak selugu seperti yang kamu bilang! Kamu nggak akan tau kalo nggak coba," jelas Kai membuat Abi memejamkan mata tanda berpikir sejenak. "Oke. Aku coba!" Dan malam itu, setidaknya Kaina merasa lebih dihargai saat di atas ranjang, melayani Abi. * Pagi Kai sempat terganggu, karena ponselnya yang pagi-pagi sudah berbunyi. Kai semakin berat saat hendak meraih ponselnya, karena tangan Abi mengait erat pada perutnya. Dengan agak memaksakan, akhirnya Kai bisa menggapai ponselnya. "Halo." "Sayang? Kamu dimana? Kamu nggak di rumah?" Kai mengernyitkan dahinya, begitu bingung dengan apa yang lawan bicaranya ucapkan. "Heum, aku lagi nggak di rumah aku nginep di rumah Ab-" Kai baru ingat jika dirinya bukan dalam keadaan yang bagus. Hampir saja Kai menyebutkan nama  Abi. "Aku jemput kamu, kirimin alamat rumah temen kamu itu. Sekarang!" "Eh, jangan! Aku langsung ke kantor. Iya, kantor. Kamu ke sana aja, ya. Bye!" Kaina langsung menutup panggilannya secara sepihak. Dan Kai kembali dikagetkan dengan Abi yang sudah menatapnya dengan kilat mata... Cemburu? "Abi–hmpppt...," Nggak akan aku biarin kamu bebas ketemu pacaran sialanmu itu, Kai. Nggak akan!  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN