07

959 Kata
  Terkadang manusia memang tidak pernah bersyukur dengan apa yang mereka dapat. Termasuk... Abi. Dirinya sama sekali tidak bersyukur. Karena dari yang sudah-sudah, Abi adalah salah satu keturunan Parvenandra yang paling 'bertingkah', dan Arjuna, memang cukup dekat dengan Abi. "Kenapa pagi-pagi kamu cari saya, Bi?" tanya Arjun langsung. Bahkan tidak ada basa-basi bagi Arjuna pada siapa pun. Arjun itu lebih emosional dari yang terlihat, dan Abi paham itu. Sifat dingin Arjun hanya sebagai kedok. Karena Jagat Parvenandra sangat membentuk sikap dingin itu pada anaknya sendiri—termasuk Abi. "Kak, gue mau tanya sesuatu boleh?" Abi lebih frontal pada Arjun, dan sisi tidak sopannya lebih terbuka jika berhadapan dengan Arjun. Karena memang Arjun adalah yang paling tua, maka Abi menghormatinya, tetapi jika sudah di luar ruangan Arjun. Maka Abi yang merasa, harus paling dihormati oleh adik-adiknya. Tapi sayangnya itu hanya akan bertahan jika ada Jagat—ayah mereka. "Kamu selalu bicara, bahkan jika saya tidak mengatakan atau menyatakan izin apa-apa, Abimana." Abi meringis, rasanya sangat kasihan melihat sisi Arjun yang jelas dibentuk oleh Jagat. Karena Abi juga tidak bisa merasakan, bagaimana rasanya dijauhkan dari ibu, dididik sangat keras dab disiplin sebagai CEO utama JP grup. Diantara anak lelaki yang lain, Arjuna saja yang mau mengikuti apa yang diperintahkan, dan mengikuti jejak ayahnya. Seperti Abi, dia lebih memilih bekerja sebagai kepala kontruksi di perusahaan lain, tanpa embel-embel usaha ayahnya. Dan keempat pangeran yang lain, mereka lebih memilih menumbalkan Arjun memegang saham terbesar dan mengendalikan perusahaan milik keluarga turun temurun. "Lo nggak mau ketemu ibu yang selama ini lo kira tega ninggalin lo, Kak?" "Pertanyaan konyol, Bi?! Jangan mulai lagi!" hardik Arjun yang sempat tertarik dengan pembahasan Abi, tapi tak butuh waktu lama membuat Arjun kembali berkutat dengan berkas-berkas kurang ajarnya.  "Gue nggak akan mulai kalo bukan perempuan yang lo cinta itu bilang ke gue," balas Abi. Abi tahu rahasia hati Arjun, dan Arjun paham apa keinginan adik keduanya itu. "Apasih yang ada di otak kalian, hah? Saya nggak ingin ini membuat hubungan keluarga kita goyah, Bi. Cukup mengatakan perempuan yang saya cintai itu dihadapan saya. Itu masa lalu! Dia nggak akan hidup sebagai perempuan yang saya cinta, tapi cukup menjadi saudara perempuan yang saya sayang... sama seperti kalian berlima." Abi tidak akan mengalah, argumen Abi akan lebih sengit untuk mendapatkan apa yang sudah Abi dan Arimbi sepakati. "Kita semua bukan dari rahim yang sama, cuma benihnya aja yang sama. Kita nggak sepenuhnya kandung, boleh gue bilang gitu, Kak? Kalo pun, iya. Tetep lo sih, lo nggak akan bisa bersatu sama Arimbi. Tapi yang jelas, maksud dia udah baik banget, dia mau jelasin sesuatu sama lo. Dia tau apa yang belum lo tau." "Keluar, Abi! Kalo maksud kamu hanya untuk meganggu saya bekerja, dan mengungkit kesalahan perasaan saya... lebih baik kamu keluar!" desis Arjun tidak suka. "Gue nggak akan keluar, sebelum lo mau ngambil ini." Mata Arjun menyipit, menyadari ada sesuatu yang ganjal, dimana Abi ia yakini menyembunyikan sesuatu. "Apa motif dibalik semua ini, Abi?!" Dan saudara Arjuna itu hanya menggiring sudut bibirnya naik dibagian sisi kirinya—membentuk seringai. * Di balik meja kerjanya, Kai lebih tidak mampu memfokuskan diri. Ada banyak pilihan yang menanti akan keputusan bagi Kai. Zaka memberi tahu akan menjemput Kai dan mengajak makan malam bersama, dan baru saja, Abi membuat keputusan sepihak akan menjemput dan meminta Kaina memasak di apartemen Abi. "Kaina... teleponnya kenapa nggak diangkat, sih?!" gerutu Dian yang menyadari jika juniornya itu tidak fokus bekerja. Dian sendiri duduk di seberang, tepatnya di sebelah Manuel berada. Karena meja kerja mereka tidak dibatasi dinding, hanya ada komputer, telepon, serta kertas-kertas, dan ATK lainnya sebagai penunjang kinerja mereka. Seperti yang Kaina ketahui, bahwa kantor Arimbi ini baru dirintis sekitar tiga tahun, dan belum terlalu besar. Entah Arimbi akan membangun lebih besar atau malah membeli gedung baru nantinya jika perusahaan itu mulai maju. "Eh, iya, Mbak. Saya nggak denger...," jawab Kai dengan kikuk. "Kuping kamu aja kali, yang cuma dijadiin cantelan!" gerutu Dian. Kai tidak ingin menimpalu lagi, karena memang itu kesalahannya, bekerja dengan tidak fokus. Kai lebih memfokuskan diri setelah itu. Dan tidak terasa waktu mulai menunjukkan tanda jam kepulangannya. Kai harus memutuskan, mana yang ia pilih untuk menjemputnya malam ini. Kai baru saja ingin mengetik pesan untuk menolak Abi, dalam keadaan sepi—dimana pegawai yang lain sudah pulang—Kai terkejut mendapati bahunya yang disentuh oleh seseorang. "Ya ampun!" Kai mendelik melihat ke arah lelaki itu. Dan yang ditatap dengan wajah kaget Kai hanya membalas dengan senyuman mautnya. "Ngapain kamu ke sini?!" Abi mengusap bahu Kai perlahan, dan menggeser beberapa kertas di atas meja. Abi menyandarkan bokongnya, dan mulai mencondongkan tubuh pada Kai dengan tangan yang masih mengusap-usap bagian tubuh Kai dibalik kemeja biru laut yang perempuan itu gunakan. "Kamu mau kirim pesan ke aku buat jemput kamu, kan, manis?" Tatapan Abi mulai nakal, sejalan dengan usapan tangannya yang bergerak ke bagian depan tubuh Kai. "Abi, malem ini Zaka akan jemput aku dan-" "Apa itu penolakan?!" Raut wajah Abi langsung berubah drastis. Jika sudah begitu, maka Kai sadar akan rasa takutnya. Beberapa hari yang lalu adalah bukti Kai tidak bisa bebas. Karena pagi dimana Kai menjawab telepon Zaka, dan Kai mencoba lari dari Abi untuk segera menemui Zaka, justru Abi memperlakukan dirinya sangat kasar. "Abi...." "Jangan bodoh, Kai! Kamu tau aku nggak akan biarin itu terjadi." Abi sengaja mencengkeram rahang wajah Kai, dan perempuan itu merasa kesakitan. "Bi... dia... pacar aku...," ucap Kai dengan susah payah. "Menurut, Kaina! Kamu akan melihat kekecewaan dan amarah Zaka malem ini!" ancam Abi. Kaina memejamkan matanya sejenak, dan menyiapkan diri. Setelah matanya terbuka kembali, Abi menunggu dengan rahang yang sudah mengetat menahan amarah. "Jadi, aku... atau dia, Kai?" "Aku akan hubungin Zaka supaya nggak jemput malem ini." Dan jawaban Kai sangat jelas membuat Abi melepaskan cengkeramannya dan mengembangkan senyuman kembali. Bahkan dia keliatan seperti psikopat....      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN