° ° "SURUH sini aja," kataku, begitu Andes minta ijin menemui Bebi di kantin rumah sakit. "Shy, masak sih--" "Kesini atau nggak sama sekali?" "Apa kamu separno itu?" "Bukan parno, Ndes! Antisipasi! You know what?" sergahku makin kesal. Andes mengerjap, memijit pelipisnya. "Aku sama Bebi--" "Tetap aja, Ndes. Dia suka kamu. Aku nggak mau ambil resiko," tandasku. Andes menatapku serba salah. "Maaf, kali ini kamu harus ikutin kata-kataku," ucapku. Lalu Andes menelpon balik Bebi, menyuruhnya datang ke kamar inap kami. "Puas?" "Ndes, aku lakuin ini buat kita. Bukan buat kamu sama Bebi atau siapapun," kilahku. "Kecuali, kamu lebih milih mereka dan hidup bebas. Aku nggak akan ikut campur lagi," imbuhku. "Shy--" Ketukan di pintu kamar membuyarkan atensi kami. Setelah pintu ter

