DLE-8

1166 Kata
° ° "AKU nanti pulang telat," ucap Andes saat aku mengolesi roti dengan selai kacang. "Something wrong?" tanyaku. Dia menggeleng,"Cuma ada acara makan malam bareng kru, sutradara dan para pemain. Biasa, acara habis syuting." "Apa emang wajib hadir?" tanyaku lagi mulai curiga. Andes mengangguk,"Aku produser, Shy. Ingat itu!" "Ya," lirihku. Aku bisa apa? Diriku, notabene adalah istri sahnya seorang Andes Mulya Arkananta, dikalahkan oleh para kru dan pemain film! Apalagi aku ingat saat Andes berpelukan dengan Erika. Geram, kukepalkan kedua tanganku. "Aku bosan dirumah. Apa aku juga boleh pergi?" pancingku. Andes menatapku tajam lalu membuang tatapannya jauh. "Jangan aneh-aneh deh, Shy." "Apanya yang aneh? Aku ada janji yoga hamil," ketusku. "Kandunganmu masih kecil, nggak nunggu nanti aja?" Andes menelisik perutku. Tangannya terulur mengusap perutku yang rata, mungkin memastikan. "Sekalian konsul, Ndes." "Ok, nanti dianter sopir aja." "Nggak usah. Aku naik taksi aja," tolakku. "Oh ya udah," Andes bangkit dari duduknya dan menyambar tasnya. Pergi begitu saja. Jangankan ada kesempatan bermesra-mesra, kesempatan untuk mengecup punggung tangannya saja sudah tak mungkin. Lelaki itu masih sok-sokan. Tapi aku tak bisa mengejarnya. Pamitan pun tidak. Ironis sekali! "Kamu mau kemana?" tanyanya saat melihatku memakai outfit jogging. "Olah raga," "Shy, nggak pake baju ginian juga dong! Apa kamu pengen menarik perhatian orang-orang?" "Eoh?" aku menilik pakaianku. Tank top hitam plus celana training senada. "Nggak usah nanti jatuh, trus kamu keguguran. Mau?" "Kalo keguguran ya udah, toh kamu nggak usah ribet. Bukannya seneng kalo keguguran kan jadi ada modus," bantahku. GREB. "Ngomong sekali lagi. Kamu kenapa sih?" Kulepaskan cengkraman Andes. Benar-benar mood-ku tak bisa kuatur. Apa pengaruh kehamilanku? Aku kembali ke dalam dengan langkah lebar. Masuk ke kamar. Andes ternyata mengekor di belakangku. "Shylo," "Ya?" "Ada apa?" suaranya melunak. "Pregnant syndrome, maybe." Andes merotasi matanya mendengar jawabanku yang asbun. "Kamu pengen apa? Aku nemenin kamu sepanjang hari, gitu? Nurutin semua kemauan kamu, yang orang sebut ngidam itu? Udah dibilang juga, punya anak itu ribet, nggak cukup cuma kamu kasih ASI, kasih makan, tapi kamu harus kasih cinta. Dan sori, aku bukan tipe orang kayak gitu. Paham?" Andes mengguncang kedua bahuku. Dia sampai segitunya. "Ck, pake nangis lagi. Gue bingung tau nggak?! Cewek kok bisanya mewek mulu, heran deh!" cebiknya ketus. Ya Tuhan... gini banget sih suamiku... "Trus, yang di perut ini udah terlanjur hadir, mau digimanain? Mau di kemanain? Katanya kamu seneng, nganggep ini berkah dan terlebih aku yang mengandungnya. Kamu akui dia anakmu, tapi kenapa gini?! Kamu kayak nggak menginginkannya, Ndes. Kamu selalu ketus, kamu selalu ngehindar. Apa salahku? Emang siapa duluan yang ngajak kita nikah? Kamu kan?" cecar ku tak tahan. Andes diam. Dia mengacak rambutnya. "Makin hari makin jelas, kalo kamu sakit Ndes. Kamu nggak pernah mau cerita apapun sama aku. Jangan salahin aku kalo aku nggak tau apa-apa dan nggak tau harus berbuat apa! " pungkasku. "Sakit? Lo tau apa soal kesakitan gue? Hm? Ngarang lo!" seringai dari bibir tipisnya tercipta saat itu juga. Kupejamkan mataku lalu kutangkup kedua tanganku di pipinya. "Ndes... Haruskah aku akui? Kalo aku sayang kamu, kalo aku cinta kamu?" Dan aku tak tahu apa yang kukatakan ini. ° "Jadi, kalian--" kupandangi keduanya bingung. Elsa meraih tanganku. Temen makan temen. Yaa ... tapi aku tak menyalahkan Elsa. Mungkin cinta hadir karena terbiasa. Biasa banget. Mainstream. Kenapa Elsa dan Sandy bisa? Sedang aku dan Andes, masih jalan di tempat? Dua tahun bersamanya, tak membuatku otomatis mengenalnya luar dalam. Dia tetap seperti dua mata sisi koin yang berbeda. Kapan cinta itu hadir diantara kami? "Shy, maaf--" "Nggak apa-apa. Ngaco, ngapain minta maaf?" elakku. "Kalian ngomongin apa sih?" Sandy mengerutkan dahinya. Aku menggeleng. Diikuti senyuman Elsa. "Nanti kalo ada undangan reuni, datang ya Shy?" ujar Sandy. Aku tidak menjawab, karena di ujung sana Becky dan Andes sudah melambai ke arahku. "Oya, kalian datang hari Sabtu tanggal 15 nanti, di gedung Salaam ya? Aku akan menikah," selaku. Elsa dan Sandy tampak terkejut. "Menikah?" - Elsa "Dengan siapa? - Sandy Kutunjuk lelaki di ujung sana dengan daguku. "Andes?" gumam Sandy dan itu jelas kudengar. Apa mereka saling mengenal? Kapan? Dimana? Sebelum terluncur pertanyaanku, Andes sudah membungkamku dengan rangkulan posesifnya. Ingin menunjukkan kepemilikannya. "Kamu cantik," bisik Andes di telingaku. "Hai, apa kabar San?" Andes menjabat tangan Sandy. Tampak ragu dan penuh tanya raut cowok yang pernah kutaksir itu. "Kalian saling kenal? Jangan-jangan satu SMP, kayak kamu sama Becky, Ndes," selorohku. "Yup! Betul sekali. Pastinya lo nggak ngira ya gue bakal nikahin Shylo," matanya tertuju pada Sandy. "Ya, karena kalian begitu berbeda," sahut Sandy terdengar berani. Andes tersenyum sinis sambil mengangguk. "Berbeda menurut versi lo, San. Tapi nggak di mata Tuhan. Buktinya gue sebentar lagi akan jadi suami dari seorang Shylo Arsyaka Betari," kilahnya yakin. Aku mendecih. Selalu seperti itu. Sombong. Arogan. Jutek. Tapi kenapa calon suamiku itu terlihat begitu hot saat melakonkan perannya yang menyebalkan? "Ayo, Shy... Kita ada acara fitting. Maaf, kami harus pergi," pamit Andes. Aku tak berkutik. Jangankan untuk pamitan pada keduanya, sekedar menoleh dan melambaikan tangan pun, tak bisa. Andes bener-bener pengen dibunuh! "Dia cuma masa lalu... Lagian Ayahmu nggak pernah suka sama Sandy," bisiknya di runguku. Sontak aku menoleh,"Kamu--" "Jangan terlalu deket, ntar aku h***y, gimana? Emang kamu mau tanggung-jawab?" Kudorong tubuhnya dan dia terkekeh. "Masuk, Becky udah nunggu. Udah duduk manis dia," tunjuknya. Ih! Greget! "Bukannya yang jemput kita sopir? Kenapa jadi kamu?" "My feeling is good, Shylo..." Aku mencebik. Modus! Makin dekat ke hari H, makin manja dan omes bin nyebelin nih cowok. Maunya apa sih? "Beneran tadi si Sandy? Sama siapa dia?" tanya Becky. "Iya, jadi Pak Kapten dia. Sama Elsa, sahabatku juga. Lo kenal, Beck?" "Nggak. Emang siapanya? Pacar? Wah...kemajuan nih!" Becky terkikik. "Eh, terus ... Jangan-jangan sejarah terulang lagi, Des? Ahhh, type kalian soal cewek tenyata sama ya..." Becky mengangguk-angguk. "Cewek? Dia emang suka cewek juga? Kupikir--" "Shylooo..." tegas Andes. Aku menahan geli sejak tadi demi melihat rautnya yang datar itu. Sampai kami tiba di butik yang kata Andes, famous. Iyalah, terserah dia. Dia yang beliin ini. "Gaunnya udah siap?" tanya cowok songong itu pada pemilik butik. "Udah dong, Ndes. Apa sih yang nggak buat kamu? Aku bikinin deh," Aku mengangguk-angguk paham. Pantas saja. Kenalannya banyak yang 'ginian' semua. Cowok melambai... Jangan-jangan, dia salah satu mantan atau penyervis-- "Singkirkan pikiran kotormu itu, Shy!" Idih! Dia tahu darimana aku berpikir kotor? Apa otakku transparan ya? "Bener-bener butuh di ruqyah ya kamu," dia menoyor kepalaku. Aku melotot,"Lo sekali lagi--" "Udah sana, tuh cobain." Kuhentakkan kakiku. Sebal! Emang salah ya kalau sekarang aku berpikir dia masih seperti 'itu'? Apa dia termasuk hetero? Bisex? Aku bergidik! Saat aku telah memakai gaun pengantin dan bersiap keluar ruang fitting, Andes menerobos masuk. Dia menatapku lekat. Mendekat. Matanya seolah menyanderaku dalam pesonanya. Andes memang menyebalkan! GREB. CHUP... Berupa lumatan lembut menyapu bibirku. Tangannya setia di pinggang dan kepalaku. "Kayaknya kamu lebih kece tanpa gaun pengantin, Shy..." ucapnya. Aku melotot. "Udah nggak ada rasa buat Sandy kan?" tanyanya di ceruk leherku. Mengecup di sana. Menghisap. Dasar! Jangan bikin hickey, Andesss! °° Hi, readers! Tsundere banget sih si Andes! Gemes tapi pengen nabok... So Gomaweo & Saranghae tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN