__
Pertemuan kali kedua dengan Sandy tanpa kehadiran Elsa. Pertemuan yang tak disengaja sebenarnya. Dan disinilah kami kini. Duduk berdua, menghadap balkon, memandang suasana malam dan tak hirau pekikan klakson yang bermain di jalan raya di bawah sana. Hanya suara musik mendayu, romantis di atas sini.
"Aku nggak sangka kamu mau nikah sama Andes," Sandy memecah hening di antara kami.
Aku mengangguk,"Ya. Jangankan kamu, aku juga nggak ngira bakal sejauh ini. Lagian nggak kepikiran kalo dia yang jadi suamiku kelak,"
"Semua di luar ekspektasi, ya Shy?"
Aku mendengkus. Ya, semua diluar ekspektasi. Aku pernah naksir dan ngegebet cowok di sampingku ini, dulu.
Lalu pacaran sama Mas Wisnu selama empat tahun lamanya. Namun, tanpa pacaran, tanpa pengenalan diri yang berarti, Andes meminangku. Dan gilanya aku, aku setuju. Ya, terpaksa setuju tepatnya.
"Aku kadang bertanya-tanya, kenapa Ayahmu memberlakukan hal itu-ini dan memberi batasan yang nggak perlu. Kenapa aku yang anak seorang prajurit nggak bisa pacaran dengan putri seorang jendral?" maniknya menghunjamkan beribu panah dihatiku.
Aku menggeleng,"Kita nggak pernah tahu apa mau orangtua kita. Kadang mereka lebih childish dari anak TK. Iya nggak sih?"
Kami terkekeh. Sandy manggut-manggut. Benar-benar Sandy berubah, selain makin ganteng, tubuhnya makin berotot, berisi dan terlihat gagah. Dulu dia tak begitu.
"Aku yang lebih nggak nyangka kamu sama Elsa, San. Dia bestie aku," cicitku.
"Awalnya, aku nggak sengaja ketemu Elsa. Iseng, aku mengorek tentangmu lewat dia. Ternyata aku masih penasaran ya?" matanya mengerjap lalu mantap menatapku.
"Penasaran pacaran sama anak jendral?"
Kami tergelak. Lalu kuseruput cappucino-ku.
"Andai masih ada sela waktu," cetus Sandy.
"Apa?" tolehku.
"Kamu mau bantu menghilangkan rasa penasaranku?" Sandy mendongak, kedua tangannya bertautan.
"A-apa maksudmu?"
"Kita pacaran sehari? Gimana?"
"Hah? Pacaran sehari?"
Sandy mengangguk. Aku membatu. Pikiranku blank. Entahlah, setan mana yang membuatku menyuarakan hal yang setelahnya kusesali.
"Oke,"
°
"Kamu sayang aku? Cinta? Serius?"
Dia menatapku. Ya, dia tak percaya. Apa ini karma yang harus kuterima karena aku hampir mengkhianatinya?
"Sekarang kamu mencintaiku?" tanyanya, mengulang.
"Ya udah, aku nggak nuntut kamu percaya kok. Tapi dengan kehadirannya, apa masih mungkin hubungan kita nggak berlandaskan cinta?" aku mencoba mencari alasan yang masuk akal.
"Seperti kamu bilang, apa alasanmu nggak pengen punya anak karena kita nggak punya cinta. Lalu sekarang, kita bisa mengusahakannya kan? Bukankah cinta akan hadir karena terbiasa bersama, terbiasa saling memberi, saling menerima?"
Kupaku netranya padaku. Untuk sekali ini saja. Aku ingin Andes mendengarku.
"Kenapa sekarang?" lirihnya.
"Kenapa sekarang, kamu bilang? Sekarang ada dia. Nggak mungkin kita cuma kasih dia makan dan t***k doang kan? Itu yang kamu bilang. Anak butuh cinta dan kasih sayang. Kalo kita mengusahakannya, apa salah?!" aku mulai emosi.
"Shylo, bukan maksudku--"
"Oke. Aku terlalu kepede-an. Ternyata... Cih!"
Aku melepaskan tautanku di kedua pipinya.
"Shy," dia meraih lenganku, dan menarik tubuhku kepelukannya.
Dia tak bersuara. Tak sepatah katapun yang dia ucapkan selama kami berpelukan. Tapi kunikmati pelukannya yang selalu hangat dan melenakanku. Hanya deru nafasnya yang kudengar.
"Apa karena dia alasanmu mencintaiku? Kalo dia nggak ada, apa kamu tetap mencintaiku?" tanyanya diantara deru nafasnya.
Entahlah. Ingin kusuarakan itu. Tapi suaraku tercekat sesuatu di sana.
"Aku nggak mau kamu kepaksa nyintain aku gara-gara dia. Tapi, kamu mau nunggu kan sampai saat itu tiba? Sampai dengan sendirinya hati aku bener-bener milik kamu?"
Luruh air mataku di d**a Andes. Aku tak tahu mesti ngomong apa. Speechless. Aku yang masih kaget dengan rentetan kalimat yang dia luncurkan saat ini.
Jadi, dia minta aku nunggu? Nungguin dia siap mencintaiku beserta hatinya? Gitu?
"Aku pergi dulu," dia mengecup keningku.
Dia menatap turun ke arah perutku. Membelainya. Lalu mengecupnya.
"Papa kerja dulu ya... Jagain Mama," ucapnya.
Aku terhenyak. Mematung seketika. Salahkah yang kudengar?
"Hei, jangan sok syok gitu. Bye," dia mengelus pipiku dan berlalu.
Dan aku masih mematung disana, lengkap dengan debaran dan hati berbunga!
°
Kulirik jam berkali-kali. Ahh... Ini sudah larut. Tapi kenapa? Aku tahu Andes tak mungkin mengirim ataupun membalas chat, SMS sekalipun. Ditelpon berkali pun sudah, tapi tak diangkat. Ini udah jam setengah satu malam dan dia belum pulang!
Akhirnya, kuberanikan diri menelpon Zen. Sang adik ipar terdengar kaget aku menelponnya tak ingat waktu seperti ini.
"Andes? Nggak tuh. Nggak kesini. Coba kamu telpon Bebi," kata Zen.
"B-bebi? Siapa?"
"Asisten Andes kalo keluar. Mereka sering bareng kok. Jangan bilang Andes nggak ngasih nomor si Bebi,"
Aku menggeleng,"Emang aku nggak punya nomor dia, Zen."
Dengusannya terdengar kesal.
"Oke, biar aku yang nelpon Bebi."
Setelahnya aku berharap-harap cemas, semoga tak ada hal buruk yang terjadi. Makan malam bareng kru, apa iya harus sampai selarut ini? Atau.... Tidak, tidak. Bukankah tadi pagi dia bilang akan berusaha dan menyuruhku menunggu?
Sambil menunggu kabar dari Zen, aku memikirkan perasaan Andes padaku. Apa yang membuat dia seolah tertahan untuk mencintaiku? Seolah ada yang dia sembunyikan. Andes bisa berubah dalam hitungan detik. Dan aku yakin, sekarang ini Andes mungkin dalam masa perubahan itu.
Kuremas kemejaku. Mataku terpejam, liquid bening mulai meleleh, menyusuri pipiku.
"s**t! I don't care!"
Segera kucari kunci kontak di laci. Bingo!
Kupakai jaket dan kupastikan untuk selalu hangat. Jam segini di luar sana bukan tak mungkin sekitar 17-15°C.
Aku tak suka paranoid Andes menular padaku. Aku harus memastikannya sendiri.
Kupacu Audi silver itu menuju tempat-tempat suamiku biasa kongkow bareng kru-nya. Kuhubungi Diah. Dia tadinya asisten Gea. Kami pernah bertukar nomor saat aku pernah bermasalah dengan Andes. Di hari-hari pertama pernikahan kami.
"Di, maaf, malem-malem nih. Kamu tahu nggak, kira-kira Andes suka ngajak makan kru-nya, dimana ya?" tanyaku.
"Eoh? Pak Andes belum pulang? Tadi sekitaran jam sebelas kami udah bubar kok, Mbak!" jawabnya yang makin membuatku yakin akan instingku.
"Bener?"
"Iya, Mbak."
"Oke, bisa vidcall?" kutepikan kendaraaanku dekat pos satpam.
Ini kenapa aku lakukan? Pernah kudengar selentingan, Diah suka sama Andes. Dia suka cari-cari kesempatan.
Akhirnya dia mau melakukan vidcall.
"Mbak mau cari Pak Andes di sini? Nggaklah. Se-stupid itu saya? Nih liat,"
Oh, syukurlah. Andes memang tak ada di sana.
"Kamu tau nomor Bebi?"
"Bebi? Oh ya, ada. Biasanya Pak Andes kalo pergi suka sama dia."
"Bebi itu yang mana sih? Aku kok belum pernah liat?"
"Ya, kalo mbak nyarinya cewek ya nggak akan ketemulah. Bebi itu cowok, Mbak. Aku w******p aja ya nomornya?"
Cowok? Apa Andes... pikiranku jadinya traveling kan!
"Thanks ya Di. Sori, bukan curiga aku cuma memastikan," tandasku.
Andes dan Bebi? Aku menggeleng.
°°
Hi, readers!
Curiga apa curiga...?
So
Gomaweo & Saranghae
tbc