DLE-18

1222 Kata

° ° Andes mendekapku, uaran aroma mint dari nafasnya yang kudengar mulai teratur, menggelitik ku penasaran hingga mendongak ke arahnya. Sebuah senyum kecil terbit dari bibirku. Sayang sekali, wajah kemayunya ternoda beberapa lebam. Bibir tipisnya agak bengkak. Tubuhku merambat, beringsut agar sejajar dengan Andes. Kupandangi bibir yang luka itu. Kukecup sudutnya. "Sembuh sayang," bisikku. "Tadi nggak mau aku cium. Kenapa sekarang cium-cium, hah?" sebelah matanya terbuka. Aku menggaruk kepalaku,"Biar cepet sembuh." Andes menatapku horor. "Nggak boleh ya?" Dia mengerjap, lalu bersandar di kepala sofabed. "Kamu lagi ngidam? Kok ngidamnya lama sih? Kok ngidamnya aneh-aneh?" "Emang kenapa?" Andes berdecih,"Terlalu keju, tahu nggak?" "Alay maksudnya?" Aku sontak bangkit dan dudu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN