"Aneh? Aneh gimana?" tanya Andre mencoba memancing obrolan dari Danish.
"Jadi kayaknya emang bener omongan gue tadi?!" ujar Reza menambah panasnya situasi saat itu, tepatnya situasi hati Danish.
Danish bergeming mengabaikan dua temannya. Ia tak mau tersulut emosi di pagi harinya. Dua temannya itu memang paling pandai memancing emosi.
"Jangan bilang lo udah ngelakuin yang kemarin, terus dia nolak lo dan ngasih pukulan tepat di pipi sebagai balasan?" tebak Reza semakin menjadi. Namun Danish masih bersikap tak acuh.
"Ah, tidak … tidak mungkin Shofia yang melakukan, dia gak mungkin punya tenaga sekeras itu." Reza masih terus berbicara menebak-nebak yang terjadi kemarin pada temannya. "Ah, tunggu …." Tiba-tiba ia teringat sesuatu. "Apa jangan-jangan guru baru itu yang menghajarmu?" Ucapan Reza kali ini membuat Danish tak bisa mengabaikannya lagi. Danish berpikir temannya itu banyak tahu tentang Shofia.
Wajah Danish memerah akibat amarah yang menjalar di seluruh tubuhnya. Ia tarik kerah baju temannya itu kuat-kuat hingga kepalanya hampir berbenturan. "Lo tau dari mana semua ini, hah?" bisik Danish tepat di samping telinga Reza dengan gigi bergemeletuk menahan amarah.
Sejenak Reza terkesiap. Namun ia segera sadar kalau dirinya tak perlu takut pada pria di depannya. "Lepasin baju gue! Kalo tidak gue sebarin apa yang tadi gue omongin!" ancam Reza kemudian.
Tak punya pilihan lain, akhirnya Danish melepaskan kerah baju Reza dengan mendorongnya hingga membuat temannya itu sedikit tersungkur ke bawah.
"Sepertinya lo memang kalah taruhan kali ini! Oke, gue bakal tutup mulut dengan syarat lo bayar taruhannya!" ujar Reza, ia merapikan kembali kerah bajunya.
Danish kembali naik pitam tapi dia segera meredamnya. "Gue bakal bayar, kok! Lo kenapa takut banget gue gak bayar?!"
"Ya udah, kalau gitu mana sini?!"
"Gue bakal bayar sama lo berdua, tapi sekarang mending lo pada cabut dulu dari hadapan gue. Gue muak liat wajah lo berdua!" ucap Danish kemudian.
Reza menyeringai, tapi ia tak lagi menjawab dan memutuskan untuk segera pergi bersama Adrian dari hadapan Danish.
***
"Gue bayar sekarang! Tapi sebelumnya dari mana lo tau semua ini?" ujar Danish, ia mengajak kedua temannya itu ke belakang saat jam istirahat.
"Nebak aja!" jawab Reza santai.
"Gue nanya serius, Za! Jawab yang bener!" bentak Danish, hatinya belum tenang sejak kejadian kemarin.
"Cih!" decak Reza tak mau kalah.
"Lo tenang bisa gak sih! Dari pagi emosi terus," ujar Andre melerai keduanya.
"Gue beneran nebak, Dan. Lo gak nyadar apa sikap guru baru itu tiap lo deketin Shofia?"
"Mana gue tau!"
"Sepertinya dia emang suka sama Shofia. Makanya itu gue tadi nebak aja dan sepertinya memang benar," jelas Reza.
"Rese tuh guru baru! Ck, pantes aja kemarin dia emosi banget!" seru Danish.
"Dah lah, sekarang cepat mana uangnya!"
Danish memberikan sejumlah uang kepada kedua temannya sebagai bayaran kalah taruhan.
"Oke, thank you!" Reza menyeringai, ia tersenyum puas bersama Andre.
"Dah ya! Gue cabut!" imbuh Danish kemudian ia beranjak pergi meninggalkan mereka.
Reza dan Andre tersenyum menyeringai. Reza memberi isyarat dengan kepalanya untuk melakukan misi selanjutnya. Andre mengangguk, kemudian mereka berdua melangkahkan kaki gontai menuju XII IPA 1.
"Ada Jessica?" tanya Reza, kepalanya melongok ke dalam kelas.
Merasa terpanggil Jessica menoleh ke arah luar. Sambil jalan ia memicingkan matanya heran melihat Reza si pembuat onar mencari dirinya.
"Ada apa?" tanya Jessica begitu sampai di ambang pintu.
"Gue punya informasi yang sepertinya penting buat lo!" ujar Reza sedikit berbisik.
"Apa?"
"Tapi gak gratis, lo mesti bayar untuk dapetin informasi ini!" jawab Andre.
"Ogah! Dah lah sana pergi kalo gak penting!" Jessica mengusir mereka berdua, ia membalikan badannya hendak kembali masuk.
"Bentar. Lo yakin gak mau tau siapa yang mukul Danish?" tawar Reza.
Jessica mengurungkan niatnya untuk kembali duduk di kursinya. Kini ia mendekati Reza lebih dekat.
"Siapa? Cepat katakan!" ucap Jessica, ia mengeluarkan selembar uang kertas berwarna biru dari sakunya.
"Kuranglah! Kita kan berdua!" ujar Andre membuat Jessica merasa kesal, Reza tersenyum dengan ucapan temannya itu.
"Nih!" Jessica kembali mengeluarkan selembar uang kertas berwarna biru lalu memberikannya pada mereka berdua.
"Bagus. Sini gue bisikin!" ucap Reza.
Jessica mendekatkan telinganya pada kepala Reza.
"Guru baru matematika. Lo tau kan? Mereka berdua rebutan Shofia!" bisik Reza.
"APA?!!" teriak Jessica membuat orang-orang di sekitar menoleh ke arah mereka.
"Kontrol suara lo, woy!" ujar Andre, tangannya refleks membungkam mulut Jessica.
"Denger, jangan ada yang tau tentang ini yang ada nanti Danish membenci lo. Gue tau ini menjadi satu kesempatan buat lo membalaskan dendam Danish. Lakukan secantik mungkin, Danish akan menyukainya!" papar Reza.
"Oke cukup. Yuk, cabut!" ajak Andre kemudian mereka kembali ke kelasnya.
'Sialan cewek itu! Jadi semua ini gara-gara dia! Awas ya lo, Shofia!' batin Jessica penuh murka.
Jessica kembali masuk ke kelas menghampiri dua temannya, Adel dan Riri. Keduanya keheranan melihat wajah Jessica yang merah padam memendam amarah.
"Ada apa?" tanya Riri begitu Jessica duduk di kursinya.
"Kalian berdua bantu gue!" jawab Jessica.
"Ngapain?" sahut Adel.
"Bantu gue ngasih pelajaran cewek sok cantik itu!"
"Siapa? Shofia?" tanya Riri.
"Ya. Dia penyebab Danish dipukul seseorang!"
"Njirr kenapa tuh orang?" imbuh Adel.
"Entah, pokoknya kalian bantu gue buat balas dendam Danish!"
"Oke, kapan aja kita siap!"
***
"Cewek centil udah mulai buat ulah nih kayaknya!" ujar Riri.
Jessica dan teman-temannya melewati Shofia yang sedang menunggu Rena dan Naomi di gerbang sekolah. Shofia bergeming mengabaikan mereka.
"Wah … udah berasa jadi permaisuri aja nih sampe direbutin sama guru dan murid," timpal Adel.
Mata Shofia membulat. Ia heran dari mana mereka tahu tentang itu. Namun ia tetap berusaha tenang dan mengabaikan ucapan-ucapan mereka.
"Shofia, lo ingat satu hal! Gue gak bakal tinggal diam dengan apa yang lo perbuat!" ancam Jessica.
Bersamaan dengan itu, Naomi dan Rena datang.
"Yuk, cabut!" ajak Jessica pada dua temannya meninggalkan Shofia dan sahabatnya.
"Mereka ngomong apa?" tanya Naomi.
"Gak, bukan apa-apa. Gak penting banget," jawab Shofia santai.
"Beneran?" tanya Rena memastikan.
"Ya. Yuk, pulang! Udah mendung sepertinya mau ujan," ajak Shofia.
"Awas ya, kalo udah sampe di rumah Rena kamu janji bakal ceritain kejadian kemarin!" Naomi mengingatkan.
"Iya … iya, Emak bawel!" jawab Shofia menjulurkan lidahnya lalu lari meninggalkan Naomi.
"Hey jangan lari kamu! Awas ya aku gelitikin baru tau rasa nanti!" Naomi pun berlari mengejar Shofia.
Rena hanya bisa menggelengkan kepala melihat kedua sahabatnya yang kejar-kejaran.
Di sisi lain Rico tersenyum tipis melihat Shofia yang baik-baik saja.