Curhatan Hati Shofia

1069 Kata
"Jadi, kemarin tuh kamu habis ngapain sama Pak Rico?" ucap Naomi begitu mereka sampai di rumah Rena. "Ambigu tau pertanyaan kamu!" protes Rena. "Haha iya nih si Mimi! Mana kemarin bajuku berantakan," sahut Shofia. "Iya ya, udah gitu dari belakang sekolah lagi!" tambah Rena. "Haha … bukan gitu maksudnya. Pokoknya ceritain yang kemarin, terus aku yakin semua ini pasti ada hubungannya dengan Danish!" ujar Naomi. "Ya, jadi kemarin aku janjian sama Danish di belakang sekolah." Shofia mulai menjelaskan. "Apa? Kenapa kita gak tahu?" potong Naomi. Shofia mendelikkan matanya. "Bentar, Mi, jangan potong dulu! Nanti ada sesi tanya jawab!" ujar Rena. "Oke. Shofia silahkan lanjut!" "Aku temui dia karena aku kira dia bakal ngasih apa gitu, atau mungkin mau ngungkapin perasaan." Shofia melanjutkan. "Kamu? Ngarep sama dia?" Lagi-lagi Naomi memotong penjelasan Shofia. "Ya, aku sedikit berharap, tapi karena suatu alasan." "Apa?" "Naomi … plis deh!" Rena mulai geram. "Haha oke … oke. Kamu bisa lanjut Shofia!" ujar Naomi. "Sebetulnya aku sedikit malas karena tempat yang dia pilih belakang sekolah, kalo emang mau nembak kan bisa di cafe atau taman atau dimana gitu. Tapi aku tetep temuin dia tanpa rasa curiga sedikit pun," lanjut Shofia. "Sesampainya aku di sana, tiba-tiba dia mendekat. Matanya menyisir dari ujung rambut sampe ujung kaki bikin aku gak nyaman. Saat itu aku mulai curiga dia bakal lakuin yang nggak-nggak, tapi aku tetap berusaha tenang dan berpikir positif." Shofia memberi jeda beberapa saat. "Apa yang Danish lakuin?" tanya Naomi yang sudah tak sabar. "Danish berusaha mencium, tapi aku berhasil ngelak," jawab Shofia. "What? Dasar ya tuh cowok emang b******k! Dari awal aku udah gak suka sama dia, apalagi kalo lagi deketin kamu, Shofia. Makanya aku kemarin larang kamu ngobrol sama dia ya karena ini, aku takut nyampe kek gini!" Naomi sudah tak bisa menahan emosinya. "Terus udah gitu gimana? Kamu kok bisa jadi bareng Pak Rico? Apa ada hubungannya sama Danish yang babak belur?" tanya Rena. "Ya. Waktu itu aku hampir berhasil melarikan diri tapi tangan Danish keburu megang terus dia dorong aku sampe jatuh. Dia kembali menyerangku dengan agresif, tapi beruntung sebelum dia lakuin itu Pak Rico datang terus tarik kerah baju dia. Gak sampai di situ, Pak Rico ngasih tonjokan keras banget makanya Danish nyampe babak belur gitu." "Kamu beruntung Shofia! Coba kalo gak ada Pak Rico. Ah, aku gak bisa bayangin. Gila tuh anak konglomerat b***t banget, kalo orang-orang sampe tahu mampus tuh dia!" Naomi benar-benar kesal dibuatnya. "Gak. Tanpa bukti orang lain gak bakal percaya, apalagi yang lakuin Danish. Guru-guru pun akan menyanggahnya," ujar Rena. "Kan ada saksi mata, Pak Rico," timpal Naomi. "Tetap, sama aja. Yang ada pak Rico yang bakal dikeluarin dari sekolah," jawab Rena. "Kok gitu sih?" "Zaman sekarang, apa-apa dijadiin bisnis, Naomi. Sebagai anak seorang dewan, tentu saja Danish punya banyak dukungan. Semua orang akan membelanya mati-matian tak terkecuali pak kepsek sekalipun," papar Rena. "Terus dimaafin gitu aja?!" tanya Naomi geram. "Ya, gimana lagi? Shofia selamat pun udah syukur. Kalo kamu sampe jadi korban pun, yang disalahin tetep kamu." "Jahat banget sih!" ujar Naomi. "Ya, makanya aku lebih memilih melupakan kejadian itu. Tapi satu hal yang menarik perhatianku, saat itu pak Rico benar-benar marah. Bahkan setelahnya aku ajak bicara pun dia tampak masih memendam amarah," imbuh Shofia. "Ya siapa sih yang gak marah liat murid kelakuannya b***t gitu!" sahut Rena. "Hmmm iya juga ya. Duh aku mikir apa sih?!" lirih Shofia. "Apa? Apa? Kamu mikir apa?" Naomi menyimpan curiga pada ucapan Shofia. "Haha, gak ah, bukan apa-apa," kilah Shofia. "Bentar, biar kutebak. Apa ini alasan kamu bakal nerima Danish? Kamu suka kan sama pak Rico?" tebak Rena. "I … eh, bu-bukan. Bukan gitu!" jawab Shofia terbata. "Oke fix. Berarti iya!" ujar Rena. "Haha … jadi kamu makan ludah sendiri? Yang katanya gak minat sama guru, sekarang ternyata suka juga. Hahaha," ledek Naomi. "Iiihhhh … apa sih kalian! Sok tau banget dah!" Shofia merebahkan tubuhnya berpaling dari dua sahabatnya. "Kamu gak pandai bohong, Shofia. Ayo, ngaku aja!" ucap Rena. "Iya … iya deh. Makanya itu aku pengen segera ngilangin perasaan itu sebelum terlalu dalam, aku sadar diri lagian pak Rico udah punya istri," papar Shofia. "Oh jadi ini yang bikin kamu marah tempo hari pas istrinya pak Rico datang?" tanya Naomi. "Ya, mungkin. Bawaannya aja pengen marah gitu." "Terus kenapa gak cerita ke kita?" tanya Rena kemudian. "Aku malu. Lagian aku berniat untuk menepis perasaanku ini." "Yang sabar ya, Fia. Nanti ada gantinya!" ujar Rena. "Ih, apa sih?! Aku biasa aja kali!" jawab Shofia sedikit membentak, ia kembali duduk. "Haha aku gak yakin kamu biasa aja, wle!" ejek Naomi menjulurkan lidahnya. "Liat aja nanti, sebentar juga aku bakal move on. Lagian aku gak sebucin itu, wle!" Shofia membalas Naomi menjulurkan lidah. "Terus tadi si Jessica itu habis ngapain?" tanya Rena kemudian. "Gak bukan apa-apa!" "Shofia bisa gak sih jangan ada lagi yang kamu sembunyiin!" ujar Naomi. "Oke, oke! Jadi sepertinya dia juga tahu tentang ini!" jawab Shofia. "Hah? Dari mana? Danish? Cemen banget tuh cowok kalo sampe ngasih tahu Jessica!" Naomi berkomentar. "Kamu tahu Shofia apa yang bakal Danish lakuin setelah kejadian kemarin?" tanya Rena. "Entah, tapi sepertinya aku harus lebih waspada." "Tepat! Aku yakin Danish gak bakal tinggal diam. Sudah tentu dia pasti memiliki dendam baik sama kamu juga pak Rico. Dan sepertinya kamu yang jadi sasarannya, Shofia. Baik dengan mendekati lagi atau menyakiti, maka itu akan cukup untuk membalas dendam dua-duanya," papar Rena. "Membalas dendam dua-duanya?" tanya Shofia heran. "Kenapa aku?" "Emmm … itu … rahasia!" ujar Rena. "Dih, kok gitu sih! Aku serius, Rena!" "Yah pokoknya gitu deh. Kamu harus lebih hati-hati mulai sekarang!" titah Rena. "Ren, aku juga gak ngerti," ungkap Naomi. "Nanti kamu aku kasih bocoran!" ucap Rena, ia kedipkan sebelah matanya ke arah Naomi. "Haha oke sip!" Naomi mengacungkan ibu jarinya. "Apaan sih kalian, katanya jangan ada lagi yang disembunyiin!" protes Shofia. "Kalian mau pesan makanan apa? Aku pesankan lewar g-food nih!" Rena mengabaikan Shofia. "Beli pizza aja yang ukuran besar!" usul Naomi. "Oke! Udah aku pesenin nih ya!" "Ih … kasih tahu aku dulu apa maksud tadi!" rengek Shofia. "Kalo nggak, aku gak bakal makan!" ancamnya. "Bodo amat! Yang rugi kan kamu!" celoteh Naomi. "Jahat! Kalian jahat!" ujar Shofia melayangkan bantal kecil pada Naomi juga Rena. "Wah ngajak perang nih. Oke satu lawan dua!" ucap Rena, ia mengambil ancang-ancang membalas Shofia. "Kaliaaaaann cuuraaaaang!" teriak Shofia, tangannya menutup kepala melindungi. Sedangkan Naomi dan Rena terus melemparkan bantal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN