"Fia, tugas udah belum. Gak lupa kan?" Naomi bertanya begitu Shofia datang dan duduk di sampingnya.
"Matematika? Udah, kok!"
"Bagus! Jangan sampai lagi-lagi kamu kena hukuman. Bikin malu tahu!" celoteh Rena.
"Issshhh kok kamu gitu sih ngomongnya," keluh Shofia. Ia memanyunkan bibirnya.
"Denger-denger dari kelas lain, pertemuan ketiga ini pak Rico bakal kasih lembaran soal latihan sebagai evaluasi. Yang lain semua udah, tinggal kelas kita aja!" ucap Naomi.
"Kok mendadak sih?" Shofia mulai bete. "Ah, paling males tahu kalo matematika udah evaluasi. Tahu sendirilah, contoh kayak gimana di soal beda lagi," gerutunya.
"Tapi tetap seneng kan ketemu pak Rico?" goda Rena.
"Ih, apa sih kamu! Mulai deh!" Shofia beranjak dari tempat duduknya.
"Mau kemana, oy! Bentar lagi pelajaran dimulai!" seru Naomi.
"Ke toilet bentar," ucap Shofia, ia terus berjalan tanpa menoleh ke belakang.
"Yakin, gak minta anter?" tanya Rena setengah berteriak.
"Yakin! Bentar doang, kok!" jawab Shofia yang sudah berada di luar kelas, ia sedikit mengeraskan suaranya.
Shofia berjalan menuju toilet. Sebetulnya dia sengaja tidak mengajak kedua sahabatnya itu karena takut kena ejekan. Ini karena Shofia pergi ke toilet bukan untuk buang air melainkan untuk sedikit memoleskan produk-produk andalannya untuk mempercantik wajahnya.
'Haha apa sih yang kulakukan. Kenapa harus repot gini hanya karena akan bertemu dengan pak Rico?' batinnya.
Saat sampai di toilet ia keluarkan semua alat tempurnya dari pouch yang dibawanya sejak tadi. Satu per satu ia gunakan. Mulai dari bb cream, lipgloss, lalu terakhir sedikit sapuan blush on. Setelah selesai Shofia segera memasukan kembali alat tempurnya ke dalam pouch.
Shofia memperhatikan pantulan dirinya dalam cermin. Setelah dirasa cukup cantik,ia kembali ke kelas. Namun saat baru saja hendak keluar dari pintu toilet, Jessica beserta dua temannya datang.
"Wah, kebetulan sekali, nih!" ujar Jessica, ia tersenyum sinis disusul oleh kedua temannya.
"Maaf, saya sedang tak ingin berurusan dengan Anda!" ucap Shofia, ia berusaha menerobos mereka yang tengah berdiri di ambang pintu menghalangi jalan keluar.
"Eh, jangan harap gue kasih jalan buat lo!" ucap Jessica ujung jari tangannya mendorong pundak Shofia membuat wanita cantik itu mundur beberapa langkah.
"Awwww," erang Shofia.
Jessica bersama dua temannya mendekati Shofia masuk ke dalam toilet. Shofia mulai waspada, ia yakin mereka akan melakukan sesuatu. Sialnya, tak ada seorang pun yang datang ke toilet pagi itu. Mungkin karena hari masih pagi.
"Heh, dasar centil! Percuma aja lo dandan setebel apa pun, tetep gak ada bedanya! Gak ada cantik-cantiknya!" Adel mengambil pouch yang di pegang Shofia, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Heh, balikin! Balikin gak!" Shofia yang tak setinggi Adel kepayahan mengambil kembali pouch miliknya. Kakinya berjinjit berusaha agar tangannya sampai untuk mengambil pouch itu.
"Makanya tumbuh tuh ke atas bukan ke samping!" ejek Riri.
"Eh, sialan ya, lo!" Shofia mengangkat tangannya hendak menampar Riri, tapi Jessica terlebih dulu memegang tangan Shofia.
Tak segan-segan Jessica melintir tangan Shofia lalu menguncinya ke belakang. Shofia tak tinggal diam, ia berusaha melepaskan pegangan Jessica. Namun ketua cheerleader itu menendang punggung Shofia hingga jatuh tersungkur. Kakinya ia simpan tepat di atas punggung Shofia, sedang tangannya masih mengunci tangan rivalnya itu.
"Dasar para pecundang! Beraninya cuma keroyokan!" pekik Shofia.
Adel menggerak-gerakan pouch yang dipegangnya. Lalu membuka dan mengeluarkan seluruh isinya.
"Ah, kita lihat, apa yang akan dia katakan jika aku melakukan sesuatu?" tantang Adel.
Adel menginjak semua barang-barang Shofia, hingga sebagian darinya retak dan hancur.
"Eh bentar … bentar … Riri pegangin tangan dia!" titah Jessica. Lalu ia berjalan ke arah Adel mengambil liptint yang tergeletak di lantai. Ia menghampiri Shofia, berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Shofia.
"Heh, mau ngapain lo! Lepas gak! Gue minta lepas!" teriak Shofia.
"Haha … diem lo! Adel pegangin kepalanya biar cecunguk ini diam!"
Adel memegangi rambut Shofia, menahannya untuk tidak bergerak.
"Haha … bagus! Diem lo, atau Adel bakal jambak rambut lo!" ancam Jessica.
Jessica mencoret wajah Shofia dengan liptint yang tadi diambilnya. Shofia berusaha mengelak, tapi jambakan Adel membuatnya kesakitan. Namun tak kehabisan akal, Shofia meludah tepat di wajah Jessica.
"Aaaaaa … dasar cewek b******k!" Jessica lari ke wastafel mencuci mukanya.
"Dengar, Shofia! Kita belum selesai!" ujarnya. "Sekarang cukup! Dah tinggalin dia! Kita kelamaan, bisa-bisa temen yang lain nyusul nyari kita."
Jessica beranjak pergi lalu disusul kedua temannya.
"Gila tuh orang, beraninya cuma keroyokan. Payah!" gerutu Shofia. "Awas aja kalo dia lagi sendiri! Gue jambak rambutnya baru tahu rasa!"
Shofia bergegas membersihkan liptint di wajahnya. Beruntung ia selalu membawa micellar water kemana-mana dan benda itu masih utuh tergeletak bersama sebagian benda lainnya yang hancur. Lipgloss andalannya sudah tak bisa tertolong, potong diinjak Adel. Tak hanya itu, bedak padatnya hancur serta bb cream yang meluber kemana-mana tak bisa diselamatkan. Tinggallah tersisa beberapa yang masih utuh, di antaranya parfume, liptint, micellar water serta cat kukunya.
Dengan susah payah ia bersihkan noda merah di wajahnya itu hingga sebagian seragamnya terkena banyak cipratan air sedikit basah. Setelah membersihkan wajahnya, ia merapikan rambutnya yang berantakan. Kemudian Shofia membersihkan lantai. Segera ia buang benda yang tak bisa digunakan kembali, lalu mengepel lantai yang terkena kotoran.
Setelah semua dirasa beres, Shofia bergegas keluar sebelum teman-temannya menyusul. Benar saja, baru saja ia keluar dari toilet Naomi sedang berlari ke arahnya.
"Shofia, kamu gak apa-apa?" tanya Naomi, nafasnya tersenggal-senggal.
"Gak kok. Aku baik-baik aja," jawab Shofia menyembunyikan apa yang terjadi tadi pada sahabatnya.
"Ini … bajumu kenapa basah gini?" Naomi sedikit kesusahan mengatur nafasnya.
"Emmm … i-itu, tadi air kerannya muncrat. Haha … iya muncrat." Shofia berusaha mengelak, memalingkan wajah dari tatapan Naomi.
"Hah, ada-ada saja! Sikap cerobohmu itu lagi-lagi bikin aku khawatir tahu!" geram Naomi. "Ya udah, yuk buru ke kelas! Pak Rico udah nunggu dari tadi, evaluasi mau dimulai. Semua orang nunggu kamu!"
"Ah, oke!" Shofia berusaha tenang di depan Naomi.
Naomi berjalan gontai. Shofia menghembuskan nafas lega karena lolos dari interogasi Naomi. Ia mengekori sahabatnya itu tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Rico menatap tajam ke arah Shofia begitu muridnya itu masuk ke kelas. Namun sesaat kemudian ia menyimpan curiga melihat keadaan Shofia yang berantakan. Matanya tertuju pada bekas merah yang terdapat pada lengan muridnya. Hatinya berkata sesuatu telah terjadi. Tapi satu hal membuatnya heran, Shofia tampak berusaha baik-baik saja.
'Rupanya kau gadis ceroboh yang berusaha kuat, ya?' batinnya.