Rencana Jahat

1120 Kata
"Gue bakal buktiin ke kalian sebentar lagi Shofia bakal jadi pacar gue!" ujar Danish pada teman-temannya. "Haha, jadi pacar doang? Gak menantang! Lo kan cakep, ya pasti maulah dia!" timpal Reza teman satu kelas Danish sekaligus satu klub. "Anjir … terus maksud lo gue harus ngapain?" tanggap Danish. "Cium dia! Gue berani taruhan kalo lo berhasil ciuman sama dia!" tantang Reza. "Gue juga. Kalo lo sampe berhasil gue berani bayar berapa aja!" tambah Andre yang juga teman satu kelas Danish. "Haha gila lo semua!" imbuh Danish. "Kenapa? Lo gak berani?" tanya Reza kemudian. "Cemen lo!" ejek Andre. "Rese kalian! Gue berani, kok. Gitu doang, gampang! Apalagi si Shofia, kayaknya udah biasa sama yang gituan!" ucap Danish. "Haha, oke. Tapi gue harus liat dengan mata kepala gue sendiri!" ungkap Reza. "Setuju!" sahut Andre. "Oke! Tapi gak sekarang," ujar Danish. "Haha iya, santai aja! Kasi tau aja kapan lo bakal ngelakuin!" jawab Andre. "Anjir gila tantangannya. Haha, gue bener-bener tertantang! Tapi bertahap oke, gue mesti jadi pacarnya dulu!" ungkap Danish. "Halah kalo gitu bukan tantangan namanya. Kalo sama pacar jangankan Shofia si Anisa juga bakal mau!" ucap Reza. "Siapa Anisa?" "Ituloh yang jilbabnya suka lebar! Cewek tuh semua sama, kalo cewek udah pacaran dia bakal mau ngelakuin apa aja, gada artinya jilbab lebar!" "Terus gue mesti ngapain?" tanya Danish. "Sosor dia! Lo tau? Kalo cewek udah terbiasa dia akan lebih agresif dari kita. Dan kalo lo berhasil buat dia layanin, lo bisa dapet lebih dari itu. a***y gak sih? Bisa nikmatin tubuh seksinya!" papar Reza. "Haha lo tau aja yang beginian. Ya, memang Shofia tidak hanya cantik, tubuhnya yang sedikit sintal enak dipandang juga enak di ranjang!" "Hahaha belum aja nyoba!" ucap Andre. "Oke gue bakal buktiin, dan kalian semua harus bayar gue kalo gue berhasil sebagai taruhan. Tidak. Gue pasti berhasil!" "Dan jika lo gak berhasil, lo yang harus bayar balik ke kita, dua kali lipat!" ucap Reza. "Oke. Deal!" Tanpa mereka sadari di sisi lain seseorang mengepalkan tangannya murka mendengar semua yang mereka bicarakan. *** "Shofia, pulang sekolah ada waktu?" tanya Danish saat mereka selesai berolahraga. "Emmm, ya, sepertinya ada," jawab Shofia. "Oke, kalo gitu temui aku di belakang sekolah, ya!" ujar Danish. "Ah, oke!" jawab Shofia. Naomi yang baru menyadari posisi Shofia melihat sahabatnya sedang berbincang dengan Danish, ia menarik tangan Rena berlarian ke arah Shofia. "Shofia!" teriaknya. Shofia hanya menoleh sekilas. "Kamu ngomongin apa sama Danish?" tanya Naomi setelah berada di dekat Shofia. "Tidak. Tidak ada apa-apa," jawab Shofia. "Shofia, tolong jangan ada yang disembunyikan!" ucap Naomi memaksa. "Naomi, aku bisa urus diriku sendiri, aku bisa ngadepin masalahku sendiri. Plis gak usah bersikap berlebihan!" ujar Shofia. "Berlebihan? Siapa yang berlebihan? Aku peduli sama kamu, Fia!" ucap Naomi sedikit membentak, ia kesal pada sahabatnya yang membuat dia sendiri khawatir. "Kamu gak tahu betapa sulitnya aku ngadepin ini. Jadi, aku minta kamu diam saja!" imbuh Shofia. "Sulit? Ngadepin ini? Ini apa? Mana aku tau kalo kamu gak cerita?!" "Gak semua bisa aku ceritakan!" bentak Shofia, ia beranjak dari tempatnya pergi meninggalkan kedua sahabatnya. "Sudah … sudah … biarkan saja dia," ucap Rena menenangkan Naomi. "Tapi, Na, aku hanya khawatir sama dia. Apa aku salah?" sanggah Naomi. "Tidak, kamu tidak salah. Tapi untuk kali ini, biarlah semaunya dia. Kita pantau dari belakang saja," imbuh Rena memberi pengertian. "Baiklah," balas Naomi. *** Bel pulang sekolah berbunyi. Shofia bergegas keluar kelas saat mendapati dua sahabatnya sibuk merapikan buku-buku. Ia mengambil kesempatan itu agar mereka berdua tidak mengikuti kemanapun ia pergi. Shofia menelusuri jalan menuju halaman belakang sekolah dengan tergesa-gesa. Sambil berjalan benaknya dipenuhi banyak pertanyaan. Ini kali pertamanya Danish mengajak bertemu, hanya berdua. 'Kenapa harus di belakang sekolah sih? Kenapa tidak di cafe atau di mall. Haha, payah! Apa dia akan menyatakan cintanya? Tenang saja Danish aku akan menerimamu walau aku tak mencintaimu. Bukankah cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu?' Shofia bersenandika. Alih-alih khawatir, ia hanya memikirkan bagaimana caranya dia bisa terlepas dari guru muda itu. Ya, guru baru yang akhir-akhir ini mengusik pikirannya. "Hai, Danish," sapa Shofia saat ia melihat Danish tengah menunggunya. "Hai, Shofia. Rupanya kau datang juga." Danish mendekati Shofia, tangannya menyentuh poni Shofia. Shofia menghindar merasa risih dengan sentuhan Danish. "Ada apa, Danish?" tanya Shofia hatinya mulai resah dengan kelakuan pria di depannya. Danish semakin mendekat, sedangkan Shofia melangkah mundur memberi jarak. Tubuh wanita itu menabrak dinding di belakangnya, tak ada lagi ruang untuknya melangkah. Danish tersenyum senang, kini kedua tangannya menyentuh dinding di belakang Shofia membuat wajahnya kian dekat pada wajah wanita di depannya. "Da-Danish, apa yang sedang kamu lakukan?" Shofia semakin risih dengan kelakuan ketua basket itu. Tanpa permisi Danish mencium bibir Shofia, tapi Shofia berhasil mengelak. Shofia mulai mengerti apa yang sedang dilakukan pria tinggi itu terhadapnya. Ia berusaha menghindar walau tubuhnya terhimpit dua tangannya yang kekar. "Ayolah, Shofia, tak perlu kau malu-malu seperti itu. Aku tahu kau terbiasa melakukannya 'kan?" Danish menyeringai, ia kembali melakukan serangan cumbuan. "Kamu gila, Danish! Lepas! Lepaskan aku!" Shofia berteriak dan memberontak. Ia angkat kakinya lalu mendorong Danish kuat-kuat dengan telapak kakinya. "Aaaarrgghh." Danish meringis kesakitan, tangannya menyentuh bagian yang sakit. Shofia mencuri kesempatan untuk melarikan diri. Namun gagal, tangan kekar Danish berhasil menahannya. Danish mendorong Shofia hingga tersungkur ke tanah lalu ia kembali melakukan p*********n. Shofia memberontak, tapi kini lebih sulit karena posisinya berada di bawah. Saat Danish baru saja akan mencium Shofia, seseorang datang dari arah belakang menarik kerahnya. "Pak Rico?" gumam Shofia. Ia melongo heran melihat siapa gerangan yang datang. Satu pukulan mendarat di pipi Danish. Danish tak menerima, lalu ia layangkan satu pukulan balasan tapi terelakan. Kembali, Danish memberi satu pukulan tapi kali ini pukulannya terhenti karena Shofia tiba-tiba berdiri di depannya melindungi pria yang memukulnya. "Ck! Menyebalkan!" Danish berdecak lalu pergi meninggalkan mereka. "Bapak, tidak apa-apa?" tanya Shofia pada Rico. "Tidak. Ayo cepat pulang!" ucap Rico, ia beranjak dari tempatnya. Shofia merapikan bajunya yang sedikit berantakan lalu berlari menyusul Rico mensejajarkan langkahnya. "Bapak kok bisa ada di sini?" tanya Shofia heran. Rico tak menjawab. Ia terus berjalan. "Terima kasih, Pak," ucap Shofia kemudian. Rico hanya melirik sekilas lalu kembali menatap lurus ke depan. Wajahnya merah padam memendam kemarahan sedang tangannya terkepal kuat masih tak puas memberi pelajaran. "Shofia!" Tiba-tiba Naomi dan Rena datang mereka berteriak bersamaan menghentikan langkah Shofia dan Rico. "Kamu dari mana? Bisa-bisanya ninggalin kita?" protes Naomi, tampak sekali ia khawatir pada sahabatnya itu. "Ah, a-anu …." Shofia tergagap bingung harus mengatakan apa, bagaimanapun semua ini memang salahnya. "Eh, Pak Rico," ujar Rena, "siang, Pak!" sapanya. Rico mengacuhkan mereka ia kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Shofia dengan kedua sahabatnya. "Dari mana? Ya ampun, kenapa bajumu berantakan seperti ini?" Kini Rena yang bertanya, matanya menyisir tubuh Shofia. "Nanti aku ceritakan, sekarang kita pulang saja!" ujar Shofia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN