"Abang!" teriak Shila begitu ia melihat Rico. Tangannya melambai-lambai memberi tahu keberadaan dirinya. Aksinya itu sukses mengundang banyak pasang mata tertuju ke arah mereka. Rico bergeming, ia hanya berjalan lurus ke arah adiknya. Tak dihiraukannya tatapan-tatapan murid kepadanya.
Shila memeluk Rico saat kakaknya itu tepat di hadapannya membuat para murid tercengang dan bertanya-tanya. Shila tersenyum jahil, mengerjai banyak orang merupakan hal yang paling disukainya. Perlahan Rico melepaskan pelukan adiknya itu dan berbisik, "Mulai deh! Malu tahu diliatin orang."
"Ih … Abang jahat! Emang gak kangen ya, sama aku yang comel ini?" tanya Shila. Sikap manjanya mulai kumat.
"Gak, sama sekali tidak!" Rico kembali melangkahkan kakinya, kini ia menuju sepeda motor yang disimpan di parkiran.
"Bohong! Pasti bohong! Selama di perkemahan aku ingat Abang terus, itu artinya Abang juga lagi ingat aku. Iya kan? Iya kan?" Shila terus berbicara sambil mengekori kakaknya dari belakang.
"Bawel! Cepat pakai helmnya!" Rico memberikan helm setelah ia memakai helm full face miliknya. Shila lalu menaiki motor tanpa menunggu perintah dari Rico lagi.
Sesampainya di rumah Rico berjalan menuju kamarnya. Shila mempercepat langkahnya untuk mengikuti langkah kaki kakaknya. Namun saat baru saja ia hendak masuk, Rico menutup pintu kamarnya.
"Sebaiknya kamu istirahat. Abang mau sendiri dulu," ucap Rico di balik pintu.
Dengan segudang pertanyaan memenuhi kepala, Shila beranjak menuju kamarnya. Ia mulai menerka-nerka apa gerangan yang sebenarnya terjadi pada kakak sulungnya itu. Ia sudah menyadari ada masalah yang terjadi padanya sejak ia melambaikan tangan pada Rico, tapi memilih untuk pura-pura tak tahu.
Ya, memang kakaknya Shila ini berwajah datar dan dingin. Namun sebagai adik satu-satunya Shila tahu ekspresi dari wajah datarnya itu baik senang atau sedih. Dan sejak saat tadi Shila melihat kesedihan di raut wajahnya itu.
***
Rico merebahkan tubuhnya ke atas kasur. Sampai saat ini suasana hatinya benar-benar buruk. Bayang-bayang Shofia kembali memenuhi kepalanya. Wajahnya yang begitu ceria saat berada di sisi ketua basket itu mengusik hatinya.
'Perasaan macam apa ini, seorang guru cemburu pada muridnya? Ah, benarkah ini cemburu?' batin Rico.
Lalu ia beranjak dari tempat tidurnya menuju meja kerjanya. Mulai menyibukkan diri dengan mengerjakan pekerjaan yang ada di depannya. Namun hal itu tak berhasil, bayangan Shofia terus menghantuinya.
Di tempat lain, Shofia menenggelamkan wajahnya ke dalam bantal. Hatinya mempertanyakan keberadaan wanita yang datang ke sekolah dan tiba-tiba memeluk gurunya. Benarkah dia istrinya? batin Shofia.
Lalu ia mengambil buku diary biru hendak menuliskan curhatan hatinya serta keluh kesah yang terjadi saat ini. Hal yang selalu ia lakukan saat hati tak berdamai ketika tak dapat bercerita pada kedua sahabatnya. Namun saat ia baru saja melihat buku itu sebelum mengambilnya, bayangan Rico kembali memenuhi benaknya. Kejadian demi kejadian terputar otomatis dalam otaknya. Kejadian saat di ruang guru atau kala di perpustakaan, saat matanya beradu pandang dengan sang guru, ia merasa ada yang berdesir dalam hatinya. Dan kejadian tadi, benar-benar mengusik hatinya.
Shofia mengurungkan niatnya untuk menuangkan isi hatinya ke dalam buku itu. Buku itu malah membuatnya semakin memikirkan Rico. Ingatannya kembali pada saat buku itu tergeletak di atas mejanya bersama botol minuman serta secarik kertas berisi pesan.
'Bodoh! Apa yang aku harapkan setelah Pak Rico membaca buku ini. Tentu saja dia tak akan suka pada murid sepertiku, dan bisa dipastikan yang tadi benar-benar istrinya!' batin Shofia 'Tapi, entah mengapa kenyataan ini terasa begitu menyakitkan?! Ayolah Shofia kau harus sadar!' lanjutnya dengan menggelengkan kepala, berharap semua bayang-bayang yang ada di dalamnya hilang hanya dengan sebuah gelengan.
***
Esok harinya Shofia datang ke sekolah kembali dengan wajah murung. Tak ada keceriaan sedikit pun tergambar dari raut wajahnya.
"Haaahh … perasaan akhir-akhir ini kamu datang ke sekolah manyuuuuunn teruuuusss," protes Naomi begitu Shofia duduk di sebelahnya.
"Mama papa lagi?" tanya Rena beranjak dari tempat duduknya menghampiri Shofia.
Shofia hanya menjawab pertanyaan kedua sahabatnya dengan gelengan kepala.
"Oh ya, pelajaran pertama kan olahraga, katanya ditukar sama pelajaran kedua. Jadi, nanti kita olahraga digabung sama XII IPA 4," ujar Rena kemudian.
"Kata siapa?" tanya Naomi.
"Tadi Pak Gunawan ngasih tau sebelum kamu datang," jawab Rena.
"Oh," balas Naomi," a-apa itu artinya kita ...?" lanjutnya menggantungkan perkataan.
Rena mengangguk matanya melirik cemas ke arah Shofia. Sedangkan Shofia masih belum menyadarinya, pikirannya melayang entah kemana.
"Ah, kenapa sih kok segala ditukar gitu?!" keluh Naomi.
"Gak tau, katanya sih Pak Isra nanti ada keperluan jadi dia minta tukar jam sama Pak Gunawan," jelas Rena.
Shofia duduk di kursinya tanpa menanggapi topik yang dibicarakan kedua sahabatnya. Tak lama, bel pun berbunyi lima menit kemudian Pak Isra datang, pelajaran yang seharusnya olahraga diganti menjadi fisika.
"Eh, kok Pak Isra masuk sekarang?" tanya Shofia berbisik pada Naomi. Rupanya ia benar-benar tak memperhatikan obrolan tadi.
"Kan tadi Rena juga bilang!" jawab Naomi dengan bisikan juga.
"Kapan?"
"Kamu kenapa sih, Fia? Kamu dari tadi melamun ya? Baru aja tadi kita ngomongin ini!"
"Terus olahraga?" tanya Shofia kemudian.
"Ya nanti setelah ini," jawab Naomi.
"Oh," jawab Shofia singkat.
Naomi memicingkan matanya heran, Shofia benar-benar tak tahu apa yang akan terjadi dengan jam pelajaran ditukar. Ia sendiri sudah menerka-nerka sesuatu akan terjadi, terutama Danish si ketua basket pasti berbuat ulah.
Dua jam kemudian bel pergantian pelajaran berbunyi. Para murid menuju ruang ganti mengganti pakaian putih abunya dengan baju olahraga. Setelah itu mereka menuju lapangan. Kelas XII IPA 4 telah kumpul terlebih dahulu.
Dari kejauhan bola mata Naomi menyisir lapangan mencari posisi Danish. Ia berusaha agar Danish tidak memiliki kesempatan untuk mendekati Shofia. Namun baru saja mata Naomi menangkap keberadaan ketua basket itu, ia terlebih dahulu melambaikan tangan ke arah Shofia.
"Shofia!" teriak Danish, setengah berlari ia menghampiri Shofia.
Saat Danish hendak menyapa Shofia, Pak Gunawan meniup peluitnya sebagai isyarat agar semua murid berbaris dengan rapi.
"Setelah selesai olahraga jangan dulu kemana-mana, ya! Ada yang ingin aku sampaikan," ucap Danish pada Shofia.
Shofia mengangguk.
"Mau ngapain sih tuh anak?!" gerutu Naomi.
"Emang kenapa?" sahut Shofia.
"Aku gak suka kamu berurusan sama dia," ungkap Naomi.
"Kenapa gitu? Suka suka akulah!" protes Shofia.
"Terserah kamu! Tapi aku bener-bener gak suka sama cara dia deketin kamu!" ucap Naomi. "Nanti awas kamu diam-diam ketemu dia!" ancamnya.
"Lah, emang kenapa?"
"Pokoknya tetap harus bareng kita!" ujar Naomi.
Shofia mendelik lalu beranjak meninggalkan sahabatnya.