Cemburu?

1011 Kata
Rico menghentikan langkahnya saat melihat Shofia sedang berjalan bersama seorang siswa. Sesuatu berdesir dalam hatinya. Ingin sekali ia menegur mereka, tapi urung saat Shofia terus menerus mengembangkan senyumnya, bahkan sesekali ia tertawa. Rico terus memperhatikan mereka dengan perasaan campur aduk dalam hatinya. Kemudian ia meneruskan langkah kakinya menuju ruang guru saat hati semakin tak suka melihat sikap mereka. "Apa-apaan dua murid itu. Pacaran kok di sekolah. Gak ada akhlak!" Rico menggerutu saat masuk ke ruang guru. "Siapa Pak Rico?" tanya Santy tiba-tiba mengejutkan guru matematika itu. "Eh nggak, Bu," jawab Rico ia tersenyum lalu duduk di kursinya menyibukkan diri. Enggan jika terus berbincang dengan guru genit itu. Santy melongok ke luar. Sesaat kemudian sudut bibirnya tertarik ke bawah menunjukkan ketidak sukaan atas apa yang telah ia saksikan. "Dasar murid centil!" umpat Santy. Lalu ia kembali masuk ke dalam. "Jangan aneh ya, Pak Rico. Shofia itu memang gitu kelakuannya dia paling pandai deketin cowok-cowok keren apalagi kalo cowoknya populer. Mereka gak pacaran cuma Shofianya aja yang keganjenan. Pak Rico juga hati-hati, ya! Dia buaya darat versi betina." Santy terus mengoceh. Rico mengabaikan guru sejarah itu, ia beranjak dari tempat duduknya lalu pergi ke luar. 'Gak pacaran?' batinnya. "Ih, dasar ya! Orang lagi ngomong kok ditinggal! Untung ganteng." Santy menggerutu. Tak lama bel berbunyi. Rico memasuki kelas XII IPA 4 yang merupakan kelas si ketua basket. Suasana hati Rico semakin kacau di pagi ini. Entah, sejak tadi hatinya benar-benar kesal melihat wajah Danish. Rico mengajar murid-muridnya seperti biasa. Namun saat ia menerangkan, di bangku paling belakang Danish berceloteh dengan teman sebangkunya membuat Rico geram. "Kamu. Cepat ke depan!" ucap Rico, matanya menatap tajam sedang tangannya menunjuk ke arah Danish. Dengan penuh percaya diri Danish maju ke depan seolah tak merasa bersalah. "Terangkan seperti yang tadi saya lakukan!" titah Rico dingin, matanya menatap tak suka. "Ekhem. Jadi seperti yang telah Pak Rico terangkan, relasi dari himpunan A ke himpunan B disebut fungsi atau pemetaan jika dan hanya jika setiap anggota himpunan A berpasangan dengan tepat satu anggota himpunan B. Emmm lalu apa lagi ya?" ucap Danish mengingat-ngingat. Sedang Rico terus menatap tajam ke arahnya. "Ah dan satu lagi, suatu fungsi atau pemetaan dapat disajikan dalam bentuk himpunan pasangan terurut, rumus, diagram panah, atau diagram cartesius. Untuk contoh mungkin teman-teman tak perlu lagi saya jelaskan karena sudah bapak terangkan tadi ya, kan?" lanjut Danish, dengan mudah ia terangkan secara gamblang. "Woooooooo." Riuh satu kelas bersorak serta tepuk tangan memberi pujian pada Danish. "Ya sudah, kembali duduk!" titah Rico. Danish dengan gontai melangkahkan kaki. Para siswi semakin terpesona kepadanya. "Ah, memang ya Danish itu super di segala bidang," bisik seorang siswi pada temannya. "Haha, tapi gantengnya menurutku kalah sama ketampanan Pak Rico," balas temannya. "Halah, itu kamunya aja sih yang suka sama orang tua," timpalnya lagi. Danish yang mendengar bisikan itu tersenyum penuh kemenangan. 'Ck, dia hanya beruntung,' batin Rico. Tak lama bel pergantian pelajaran berbunyi. Rico masih sibuk dengan hatinya yang kacau, bahkan semakin kacau. *** "Shofia, bukannya kamu jauhin ini malah terima pemberian dari Danish. Kamu tahu 'kan nanti urusannya bakal panjang? Si ketua cheerleader itu pasti tidak akan tinggal diam, dan si Danish sudah pasti akan lebih agresif sama kamu!" ujar Naomi. Shofia dan kedua sahabatnya berjalan beriringan menuju gerbang sekolah untuk pulang. "Haha biarin aja. Menurut kamu memang sebahaya apa sih dia? Kalo misal dia berbuat ulah tinggal kita lawan apa susahnya?" jawab Shofia tak gentar. "Haha lihat sahabat kita yang satu ini, gayanya udah kayak jagoan aja!" cerca Naomi. "Selain itu emangnya kamu gak ngerasa terganggu ya dengan sikap Danish yang terus deketin kamu?" tanya Rena. "Hmmm … nggak tuh!" ujar Shofia. "Ah, baiklah … baiklah … biarkan saja dia sesuka hatinya, Rena!" imbuh Naomi. Ia kesal dengan tingkah sahabatnya yang sesantai itu padahal dirinya begitu khawatir. 'Ah, kalian tidak tahu aku sedang mengalihkan pikiranku dari guru baru itu. Bila perlu, aku akan menjadi kekasih Danish untuk menghindari rasa yang tak perlu ada,' batin Shofia. "Stop, stop, stop!" Tiba-tiba Rena menghentikan langkah kakinya, ia rentangkan tangannya meminta agar kedua sahabatnya ikut berhenti. "Ada apa sih?" tanya Naomi, alisnya bertautan heran. "Coba liat ke arah sana deh!" ujar Rena, tangannya menunjuk seorang wanita cantik yang sedang menunggu di dekat gerbang sekolah. "Bentar, kok kayak kenal ya?" tanya Shofia seraya mengingat. "Emmm … itukan yang waktu itu ketemu kita di depan mall?" timpal Naomi sesuatu mengingatkannya. "Betul! Dia yang jalan bareng Pak Rico," jawab Rena. Seketika wajah Shofia berubah sendu, sudut bibirnya turun. Ia bergeming menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Pasti lagi nunggu Pak Rico," ucap Rena yang belum menyadari keadaan sahabatnya. "Iyalah ngapain lagi?!" timpal Naomi, matanya fokus mengamati wanita yang ditunjuk Rena. "Ah, lihat … lihat ... sampai meluk-meluk segala," seru Rena saat melihat Rico dipeluk wanita itu begitu ia menghampiri. "Apa mungkin istrinya, ya?" tanya Naomi. Mereka berdua sangat penasaran dengan gurunya itu, sedangkan Shofia bergeming tak mengeluarkan sepatah kata pun. "Iya deh kayaknya, gak mungkin kan kalo bukan suami istri seberani itu. Lagian mereka serasi, Pak Rico ganteng istrinya cantik, iya gak?" ungkap Rena berargumen. "Iya iya, kamu bener, Ren!" Naomi membetulkan. "Udah gitu mereka mirip. Iya gak sih, Fia?" lanjut Naomi kini tatapannya beralih ke arah Shofia. "Sejak kapan kalian sibuk ngurusin urusan orang?" Shofia tiba-tiba bersuara, kemudian menghentakkan kakinya berlalu begitu saja meninggalkan Naomi dan Rena. "Kenapa dia?" tanya Naomi heran. Rena mengangkat kedua bahunya. "Entah." Lalu mereka berdua pun beranjak menyusul Shofia. Selama perjalanan pulang, Shofia sibuk dengan perasaan hatinya yang tidak bersahabat. Bayangan saat Rico dipeluk oleh wanita itu memenuhi pikirannya. Ia menerka-nerka kenyataan yang sebenarnya, benarkah apa yang dikatakan dua sahabatnya? 'Benarkah Pak Rico sudah menikah? Benarkah yang tadi itu istrinya? Jika ya, mengapa rasanya d**a ini sesak? Perasaan apa ini sebenarnya?' Ia terus bersenandika. Lalu tiba-tiba menggelengkan kepalanya kasar. 'Tidak … tidak … aku tak mungkin menyukainya. Aku tak boleh menyukainya,' batin Shofia. Sesaat kemudian ia teringat Danish. 'Benar. Sudah saatnya aku menerima cinta Danish agar tidak terjebak cinta yang rumit ini. Bagaimana mungkin seorang murid mencintai gurunya, begitu pun sebaliknya. Yang ada hanya murid yang b******a dengan murid lagi.'
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN