"Nih minum dulu!" titah Rena, ia memberikan satu botol minuman dingin untuk sahabatnya. Shofia segera meneguknya hingga habis tak bersisa.
"Ahhhh … segarnya!" seru gadis berkuncir kuda itu.
"Nah ini bajunya! Cepetan ganti ke toilet!" ujar Naomi, memberikan satu stel seragam yang ia simpan di lokernya.
"Terima kasih banyak, kalian emang sahabat terbaikku," ungkap Shofia.
"Ayo, balik ke kelas!" ajak Naomi, ia ulurkan tangannya memberi bantuan pada Shofia.
"Bentar. Sumpah, aku capek banget!" seru Shofia.
"Istirahatnya di kelas aja, pelajaran keburu dimulai," ujar Rena, ia pun mengulurkan tangannya.
"Iya nih. Buru kita anter ke toilet," ucap Naomi.
"Gendong!" rengek Shofia manja.
"Dih ogah!" balas Naomi jutek.
"Aaah, aku udah gak bisa jalan. Cepet gendong!" Shofia terus merengek, kakinya ia gerak-gerakan layaknya anak kecil minta jajan.
"Aku panggilin Danish mau?" tawar Rena.
"Dih ogah!" Shofia segera beranjak dari tempatnya lalu berjalan gontai menuju toilet.
Naomi dan Rena terkekeh melihat tingkah Shofia, lalu keduanya mengikuti ke toilet.
***
Shofia memicingkan matanya saat ia mendapati sebotol minum serta buku diary biru miliknya tergeletak di atas mejanya. Secarik kertas tersimpan di bawah botol minuman tersebut, sedikit basah terkena embun karena botol itu dingin. Shofia segera mengambil dan membacanya.
'Lain kali jangan ceroboh. Semua hanya dapat merugikanmu sendiri. Semoga jadi pelajaran dan tetap semangat!'
Naomi dan Rena mendekat lalu mereka membaca kertas itu secara bergantian.
"Dari siapa sih?" tanya Naomi penasaran.
"Gak tau. Disimpen gitu aja di sini," jawab Shofia tangannya menunjuk meja.
"Bentar deh, aku kok ngerasa kenal sama ini tulisan," ungkap Rena menerka-nerka.
"Iya ya, berasa pernah liat," tambah Naomi.
"Siapa emang?" tanya Shofia yang sama sekali tidak mengenalnya.
"Ah, ini kan …," ucap Rena memandang ke arah Naomi. Mereka saling menatap lalu bola matanya membulat saat menyadari siapa pemilik tulisan tersebut.
"Masa sih? Kok aku gak percaya, ya?" ujar Naomi ragu.
"Siapa sih maksud kalian?" tanya Shofia penasaran.
"Kamu gak sadar?" timpal Rena.
Shofia menggelengkan kepalanya.
"Ini kan guru matematika yang menghukum kamu tadi, Shofia!" ujar Naomi.
"Masa? Jadi buku ini ada di Pak Rico?" tanya Shofia mengacungkan buku diary biru miliknya.
Rena dan Naomi menganggukkan kepala secara bersamaan.
"Ah, tidaaaaak!" teriak Shofia membuat seisi kelas menatap ke arahnya penuh tanya.
Shofia mulai membayangkan apa jadinya jika ternyata gurunya itu membaca seluruh isi bukunya yang berisi semua curahan hatinya. Dia menggelengkan kepala berharap apa yang dipikirkannya tidaklah nyata. Yang pasti untuk saat ini ia tak ingin bertemu dengan guru baru itu.
"Cukup, cukup sampai di sini urusanku dengannya," gumamnya.
***
Shofia terus membaca kata demi kata yang tertulis di secarik kertas yang berisi pesan. Lalu dia beralih membaca buku diarynya yang baru-baru ini ia tuliskan u*****n-u*****n untuk guru barunya itu. Kemudian menggasak rambutnya dengan kasar merasa frustasi dengan apa yang terjadi padanya.
'Gimana kalo Pak Rico baca? Dia pasti mengutuk keras aku, atau mungkin ini alasan dia menghukumku tadi?' Shofia bersenandika.
Ting. Ting. Ting.
Gawainya berdenting banyak notifikasi masuk. Shofia segera menyambarnya lalu membuka pesan yang tersemat dari notif tersebut. Rupanya pesan tersebut berasal dari grup chat yang terdiri dari dirinya dan kedua sahabatnya yang tak lain adalah Naomi dan Rena.
[Ayolah, jangan berlebihan! Aku yakin Pak Rico gak baca buku kamu!] Pesan ini berasal dari Naomi.
[Iya! Coba deh kamu baca ulang pesannya, kata-katanya manis banget] Rena menambahi.
[Jangan bikin aku khawatir, woy! Cepet bales. Kamu tadi udah kayak orang disambar setan!] Naomi kembali mengirim pesan.
[Nggak bukan. Lebih tepatnya seperti raga tanpa jiwa. Ngedip juga kagak!] timpal Rena.
[Aku bakal cuti sekolah untuk beberapa hari. Aku gak mau ketemu dulu Pak Rico. Malu, malu, malu.] Shofia mengetik balasan untuk mereka.
[Ah, elah. Kamu pikir kerja? Yang bisa cuti seenaknya!] balas Rena.
[Kalau besok gak sekolah awas kamu ya!] ancam Naomi.
[Emang kenapa?] tantang Shofia.
[Aku bakal seret kamu dari rumah!]
Shofia memajukan bibirnya. Ia simpan gawainya itu lalu membaringkan tubuhnya. Matanya terpejam berharap bisa terlelap. Satu menit dua menit, satu jam dua jam, mata itu tak dapat diajak kompromi.
"Aaaaaa … kepikiran terus!" teriak Shofia.
***
Rico menatap langit-langit kamarnya. Sesekali senyumannya tersungging menghiasi wajahnya yang tampan. Bayangan demi bayangan Shofia silih berganti terputar di otaknya. Wajahnya yang cantik kadang terlihat lucu, terlebih saat Shofia menggerutu tentang dirinya.
Rico lalu mengubah posisi tubuhnya. Kini ia duduk, memejamkan mata lalu menggelengkan kepala. Apa yang aku pikirkan? batinnya. Ia pejamkan matanya, tapi bayangan Shofia terus memenuhi kepalanya.
***
Esok harinya, Shofia memaksakan diri untuk pergi ke sekolah. Tubuhnya terlihat lesu, tak ada semangat yang tersirat dalam wajahnya. Tiba-tiba seseorang datang dari arah belakang. Tangannya melingkar pada bahu Shofia.
"Lesu banget. Semangat dong! Cantiknya jadi ilang!" ucapnya mengagetkan Shofia.
Shofia menoleh. Suasana hatinya semakin buruk saat melihat siapa yang datang, tapi dia acuhkan. Bersamaan dengan itu matanya menangkap seseorang yang terus mengusik dirinya. Shofia menyunggingkan senyuman.
"Hehe, iya nih lagi kurang semangat," jawabnya menanggapi pria yang kini berjalan sejajar dengannya.
"Kenapa? Gara-gara sehari kemarin gak ketemu aku, ya?" tanya pria tak tahu malu itu.
"Haha kamu bisa aja, Danish!" Shofia menjawab sekenanya.
"Kamu pasti mencariku 'kan?" tanyanya kemudian, ia mulai kepedean.
"Haha menurut kamu?"
Sengaja ia biarkan pria itu berlaku demikian terhadapnya karena tahu ada sepasang mata yang mengawasinya dan membuat hatinya panas. Shofia merasa menang dengan melakukan hal ini, agar dia tahu bahwa Danishlah yang menggodanya duluan.
"Sudah pasti begitu. Maaf ya kemarin aku ada acara keluarga mendesak jadi izin untuk tidak masuk sekolah." Pria itu mengeluarkan sesuatu dari tasnya. "Dan ini sebagai tanda maafku," lanjutnya.
Mata Shofia berbinar melihat apa yang dikeluarkan Danish dari tasnya. Sebuah boneka beruang berukuran sedang diberikan Danish pada Shofia. Dengan senang hati Shofia menerimanya. Ya, bagaimana lagi Shofia merasa sayang jika harus menolak teddy bear kesukaannya itu.
"Makasih ya, Danish! Jadi gak enak," ungkapnya. 'Padahal aku sama sekali tak peduli kamu ada atau tidak' batinnya. Sudut bibirnya terangkat dengan mata melengkung membentuk bulan sabit.
"Ya, sama-sama. Ini tidak seberapa, kok!" ujar pria tinggi itu.
Jessica yang sejak tadi memperhatikan mereka semakin panas. Tangannya terkepal kuat serta wajahnya berubah merah padam. Ia masuk ke dalam kelas dengan menghentakkan kakinya. Shofia yang melihat tingkah wanita itu semakin girang. Namun satu hal tak Shofia sadari. Dari sudut lain seseorang memperhatikan mereka juga.