Janji Fana

2456 Kata
Bukan pertama kalinya Antares berpergian menuju perbatasan dengan kondisi kurang tidur, tetapi ini pertama kalinya ia berulang kali berhenti untuk istirahat. Istana memang bukan tempat yang paling nyaman, tinggal di sana tidak lantas membuat Antares selalu nyenyak. Pernah satu malam ia nyaris mati karena hampir dibunuh oleh orang yang  tidak suka akan keberadaannya yang dekat dengan raja Orion. Namun apa boleh buat, Antares sudah mengikrarkan diri untuk selalu setia dan mengabdi pada Orion hingga napas terakhirnya. Barang kali, jika Orion meminta Antares untuk terjun ke lembah yang berisi binatang buas pun Antares tak akan berpikir dua kali untuk menolak. Di bawah pohon nan rindang, Antares duduk di atas batu. Mengeluarkan bekal dari Lettasya yang diberi kemarin. “Apa Tuan sakit?” Salah seorang prajurit menghampiri Antares. “Tidak.” “Saya perhatikan, perjalanan kali ini Tuan banyak mengambil istirahat lalu makan tamale. Saya pikir mungkin saya bisa mencarikan makanan yang lebih baik agar Anda lebih cepat sembuh.” “Tidak perlu, ini sudah cukup.” Lelaki itu memandangi tamale yang cukup banyak dan teringat ucapan Lettasya untuk membaginya dengan prajurit lain. “Apa kau mau?” Prajurit tersebut cukup terkejut hingga tidak bisa merespon dengan cepat. Bukan hal langka seorang Antares menyuruh anak buahnya untuk beristirahat atau sekedar menyuruh makan dan sebagainya, tapi menawarkan makananya yang dia punya itu hal lain. “Jika tidak mau tak apa.” Si Prajurit kembali dibuat bengong. Bingung untuk menanggapi sikap atasannya. “Aku masih punya banyak, sehingga aku harus menghabiskannya sebelum tiba ditujuan.” Antares teringat pesan Lettasya untuk memakan tamale buatannya dalam perjalanan. “Tapi aku rasa aku tidak bisa menghabiskannya sendirian.” “Tuan bisa membaginya dengan kami.” “Aku rasa juga sebaiknya seperti itu, tapi….” Antares teringat tangan Lettasya yang terluka akibat memasak. “Aku merasa keberatan untuk membaginya dengan kalian,” ujar Antares dengan wajah datar. “Kalau begitu Tuan bisa menikmati semuanya,” sahut prajurit tersenyum canggung. “Seperti yang aku bilang. Aku tidak yakin bisa menghabiskan tamale ini sebelum kita tiba di tujuan.” Prajurit itu menunduk. Mungkin dalam hatinya tengah mengumpat kelabilan tuannya sebelum kemudian undur diri. Menghampiri kawanan prajurit lain yang juga ikut beristirahat. “Tuan kita sepertinya sedang dalam masalah.” “Kapan Tuan Antares tidak berada dalam masalah?” sambar prajurit lain yang mengipasi diri dengan dedaunan sekitar. “Setiap kali ada tugas berbahaya atau membunuh seseorang, Tuan Antares akan selalu menjadi yang pertama maju. Sedangkan Jendral Bayszil hanya menunggu di belakang, tapi jika kemenangan berhasil maka dia lah yang diagungkan. Sementara jika gagal, Tuan Antares selalu disalahkan. Aku bahkan masih ingat saat dulu Tuan Antares harus memasuki gua demi mencari obat penawar. Sedangkan Jendral Bayzil menemani Raja Orion menikmati kemenangan perang.” Beberapa tahun silam, saat Orion kembali dari medan perang bersama pasukannya. Selang dua hari kemudian banyak rakyat yang menderita wabah, setelah diselidiki rupanya itu dibawa oleh para rajurit yang kembali dari medan perang. Wabah dari wilayah yang dijajah pun menyebar. Di saat Orion dan Jendral Bayzil masih sibuk merayakan pesta kemangan selama sepekan penuh, banyak rakyat yang tumbang. Antares lah yang turun langsung ke lokasi di saat  Jendral Bayzil sendiri menolak melihat keadaan karena takut akan tertular. “Kau benar. Aku yang saat itu melihat Tuan Antares tak takut mati demi menyelamatkan banyak orang begitu terkagum dan menganggapnya luar biasa. Tapi sekarang, setelah mengikuti Tuan Antares, aku justru merasa dia yang paling menyedihkan.” “Entah sebuah keberuntungan atau kesialan karena kita telah memilih dengan kesadaran diri untuk menjadi prajurit Tuan Antares dibanding Jendral Bayzil.” “Kenapa kau berpikir begitu?” Si prajurit berhenti mengipasi dirinya dan menatap Antares. “Satu sisi Tuan Antares memang terlihat sangat pemberani, tapi di sisi lain kita tahu jika sesungguhnya  Tuan Antares tidak memiliki niat untuk hidup. Keadaannya yang selalu siap menerima segala risiko adalah untuk menunggu kematian.” “Tapi aku berhutang padanya. Keberaniannya itu lah yang menyelamatkan nyawa keluargaku ketika kami terkena wabah sementara sebagai rakyat miskin kami tidak mempunyai cukup biaya untuk membeli obat yang begitu mahal.” “Kau benar. Hal itu juga yang membuatku mengikutinya. Usianya mungkin seumuran dengan adikku, tapi lihat lah dia?” “Aku berharap Tuan Antares mendapat sedikit saja alasan untuk menjalani hidup lebih baik.” keduanya menatap Antares dengan iba. ***** Entah berapa kali Antares mengambil istirahat hingga akhirnya mereka tiba di Barak Utara. Hal pertama yang Antares lakukan membersihkan diri. Perutnya terasa penuh setelah makan tamale begitu banyak meski pada akhirnya ia tidak mampu menghabiskan semua yang Lettasya buat dan membagi sisanya pada prajurit lain. Begitu kembali ke barak, ada seorang wanita yang menunggunya di tenda pribadi. “Seorang wanita?” tanya Antares pada prajurit yang melapor. “Benar, Tuan.” “Apa….” Antares menjeda kalimatnya sesaat. “Dia cantik?” “Tentu saja.” Si Prajurit mengangguk dan secepat itu Antares melesat menuju tenda miliknya, dalam hati mempertanyakan bagaimana Lettasya bisa datang ke tempat ini. Tirai tersibak. “Letta—” Sosok perempuan yang memunggunginya itu menoleh. “Pasty?” “Wow, sesuatu yang tidak biasa mendengarmu memanggilku dengan nama itu.” Biasanya Antares hanya memanggilnya dengan nama belakang, Mudller. “Apa yang kau lakukan di sini? dan….” Pandangan menelusuri penampilan Pasty. Gaun berbahan satin dengan warna hijau tua dipadu jubah menutupi seluruh tubuhnya hingga ke kepala. Bukan pakaian yang umum untuk digunakan oleh sembarangan orang. “Apa yang kau kenakan ini?” Pasty mendekatkan bibirnya ke telinga Antares. “Penyamaran.” “Coba tebak apa yang aku dapatkan?” Antares melangkah untuk duduk di kursi kayu pendek di dekat ranjang, menghela naps kecewa. “Apa?” “Ada orang lain yang juga mencari seseorang yang sama. Seorang gadis bertanda khusus.” “Jendral Bayzil,” gumam Antares. “Apa orang-orang yang mencarinya cukup banyak?” “Aku tidak tahu pasti jumlahnya, tapi sepertinya memang banyak. Beberapa orang yang bersamaku juga melaporkan hal yang sama dan jelas sekali orang-orang tersebut bukan dari kalangan yang sama seperti kita.” “Bagaimana bisa?” “Ada banyak orang yang mulai bergosip.” Antares tidak habis pikir. Apa keuntungan para bangsawan sana dengan merecoki kerajaan. Apa mereka tidak sadar jika Raja Orion bisa memenggal kepala siapa saja? Antares juga tidak ingin menambah pekerjaanya. Merepotkan membunuh para bangsawan. Terutama yang memiliki banyak pengawal. Meski mungkin tidak setara dengan kekuatan para prajurit istana, tapi korban pasti akan selalu ada. “Sekedar informasi, aku tadi mendatangi kediaman Marquis Harly.” “Lalu?” “Putrinya mendapat surat undangan perjamuan teh dari Putri Cleosana.” Mungkin itu terdengar hal yang biasa, tapi tidak ada hal biasa yang dilakukan oleh Cleosana. Selalu ada tujuan tertentu. Apalagi jika yang mendapat undangan adalah putri bangsawan keluarga Harly. Keluarga yang dulu menolak kepemimpinan Yang Mulia Raja Orion. Antares menduga pasti akan ada pertumpahan darah lagi. “Apa ini?” Pasty melihat tamale yang tersisa di meja. “Kau memakan ini?” “Taruh kembali di tempatnya, Mudler.” Pasty berdecih karena mendengar Antares kembali menyebutnya dengan nama belakang. “Aku ambil satu. Anggap saja sebagai imbalan.” “Aku akan membayarmu, tapi tidak di sini.” “Tapi aku butuh sekarang.” “Keluarlah sebelum aku menyeretmu!” “Satu hal lagi. Mungkin ini tidak terlalu penting. Tapi kau pasti tahu Penginapan Atap Merah.” Antares menoleh pada wajah Pasty yang tersenyum bangga. “Seseorang yang bekerja di sana berasal dari tempat yang sama sepertimu. Jika kau memang masih pada rencanamu yang dulu. Cari tahu lah! Aku yakin itu akan berguna dikemudian hari.” Kemudian Pasty pun berlalu meninggalkan Antares yang masih bimbang. ***** Hari berganti, pagi pertama Antares berada di perbatasan. Prajurit yang berjaga semalam sudah berganti dan gerbang perbatasan yang ditutup telah mulai dibuka. Benar apa yang didengar Antares. Pendatang membludak. Beberapa bahkan sempat masuk melompati dinding. Tapi tentu saja tertangkap oleh penjaga. “Semua! Buat lah barisan,” teriak satu penjaga. Antares tentu hanya perlu memeriksa dalam diam. Ada begitu banyak orang dan Antares yakin akan membutuhkan waktu lama. Pendatang lelaki tidak lebih banyak dari jumlah wanitanya. Rata-rata mereka yang datang adalah pengungsi, yakni orang-orang yang telah tidak sanggup tinggal di tanah kelahirannya. Sejak pemusnahan beberapa kerajaan yang berada di bawah pimpinan Orion untuk kemudian para putrinya ditumbalkan, tidak sedikit wilayah tersebut yang mengalami ketidak stabilan dan akhirnya kacau. Para bangsawan yang kian semena-mena, pemilik tanah memungut pajak pedagang dengan jumlah tidak wajar. Petani yang diperas, serta nelayan yang pulang dengan tangan kosong karena hasil yang didapat diambil hampir seluruhnya oleh pemilik kapal. Begitu pula bahan pangan yang berputar. Alih-alih bisa dikirimkan ke wilayah lain dan kelangkaan itu menjadikannya mahal untuk para kalangan bawah. Antares sudah menduga hal seperti ini akan terjadi. Tidak heran jika ia menjadi sasaran amarah oleh orang-orang yang masih hidup dan mengetahui siapa dirinya. Seperti lelaki yang menyerangnya tempo lalu. “Haruskah mereka memeriksa kita di tempat seperti ini? Di tempat banyak orang dengan pengawal lelaki. Sungguh aku bersyukur tidak memiliki tanda yang dicari,” ujar seorang perempuan yang berhasil melewati pemeriksaan. Antares menebak mungkin wanita itu marah dengan pemeriksaan ini yang mengharuskannya memunjukan bagian tubuh. “Sstt! Jangan berbicara sembarangan.” Antares yang semula hanya duduk pun pada akhirnya melangkah menuju barisan. “Aku akan membunuh Raja Orion jika berhasil menemukannya.” Samar-samar Antares mendengara ucapan dari barisan para lelaki. “Kau pikir yang membunuh hanya Raja Orion? Tentu saja tidak. Aku mendengar Raja Orion memiliki Jendral yang melindunginya sejak kecil dan juga seorang tangan kanan yang rrela mati untuknya. “Maka aku akan membunuh mereka semua.” Seharusnya Antares mendatangi lelaki itu untuk kemudian melarangnya masuk atau mengurungnya sebagai bentuk ancaman terhadap raja,  tapi melihat lelaki yang berbicara berdiri dengan tongkat kayu, badan yang ringkih kelewat kurus. Antares pun mengabaikannya, lagi pula seandainya lelaki ini memang mampu membunuhnya mungkin Antares akan bersenang hati menerima kematian yang menjemput. Antares teringat sebelum berangkat kemarin dari istana, Orion mendatangi Antares. Sebuah kebiasaan yang lumrah saat dirinya hendak melakukan tugas penting. Orion akan memberi rencana cadangan. Namun kali ini, kedatangannya berbeda.   “Setelah aku mendapatkan gadis itu. Aku akan memberimu kebebasan,” tutur Raja Orion. Serta merta Antares yang tengah menunduk pun mengangkat wajah terkejut. “Aku tahu ada banyak yang ingin kau lakukan selain dari pada hanya mengikuti perintahku. Tapi kau masih tetap bersamaku karena merasa masih berhutang budi.” Orion mendekati tempat Antares dan menepuk punggung lelaki itu. “Yang Mulia ini….” “Aku adalah satu-satunya orang yang bisa kupercaya. Dan aku telah memikirkan ini ratusan kali.” Dalam Arti, Orion telah memikirkannya jauh-jauh hari. “Sudah sejak lama, Antares. Aku akan memberikanmu wilayah Akkadia. Tanah kelahiranmu setelah nanti kita menguasainya.” Ini merupakan hal yang paling tidak bisa Antares tebak. Bahkan di dalam mimpinya sekalipun ia tahu bahwa sisa hidupnya hanya akan melayanin Raja Orion. tetes darah terakhirnya akan ia gunakan untuk melindungi orang yang paling berjasa menolongnya dari kematian. “Kau pasti memiliki banyak pertanyaan. Aku akan menjawabmu setelah kita mendapatkan gadis itu. Jadi aku akan katakan jika tugas ini mungkin adalah tugas terakhirmu.” Kemudian sang Raja meninggalkannya begitu saja dalam kebingungan. Bagaimana Antares akan menjalani hidup sebagai orang biasa, apa yang akan ia lakukan? Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu seolah terlalu sulit untuk didapat jawabannya ketika ia telah mengabdi lama pada Orion. “Tuan!” panggil seorang prajurit mengambalikan kesadaran Antares jika kini dirinya masih ada di perbatasan. “Ada apa?” “Ada seorang wanita yang memiliki sebuah tanda di punggungnya.” Antares bergegas menuju tempat si perempuan itu berada, tempat yang cukup sepi dari para pendatang agar tidak dilihat oleh orang-orang. Di sana tampak seseorang berpakaian sederhana tampak berdiri gelisah, terlebih kedatangan Antares membuatnya seperti baru saja melihat malaikat maut. “Tu-tuan. Apa sa-salah sa-ya?” “Bisa kah aku melihat punggungmu?” Sejujurnya bisa dibilang ini terlampau v****r di negara mereka, tapi seperti biasanya. Antares tidak peduli bahkan jika drinya mendapat cacian karena dia hanya perlu mencocokan tanda yang ada dengan gambar miliknya. “Saya … saya mendapatkan tanda karena kecelakan ketika saya kecil.” “Biar kan saya melihatnya.”  Antares bergerak maju, tapi perempuan itu ikut mengambil langkah mundur. Menciptakan jarak oleh karena rasa takut. “Apa kau tahu kenapa kami perlu memeriksa bahumu, Nona?” Perempuan itu menggeleng. Antares tidak yakin ia benar-benar tidak tahu karena jika tidak mungkin perempuan ini tidaka akan menghindarinya. “Apakah saya akan dibunuh? Saya bahkan tidak tahu apa-apa, Tuan. Tolong ampuni saya.’ Dia kembali melangkah mundur. “Saya tidak ingin menghadap Raja Orion. Saya tidak ingin mati.” Setelah mengatakan itu, perempuan tersebut mencoba melarikan diri. Akan tetapi sebuah anak panah entah melesat dari mana mengenai tepat di dadanya. Antares segera mencari sumber arah kedatangan panah tersebut dan sepintas melihat sesosok pemanah yang menutupi wajahnya melarikan diri. “Kejar orang itu!” teriak Antares. Dia kemudian bergerak mendekati si perempuan untuk kemudian merobek pakaiannya. Memeriksa tanda yang ada untuk kemudian menghela napas karena tidak sesuai. Namun, perempuan itu telah terkapar dan saat Antares memerika jalur pernapasnya ia tidak lagi menemukan tanda kehidupan. Seseorang yang tak bersalah telah meninggal lagi. Antares duga, pemanah tadi merupakan suruhan dari Jendral Bayzil. “Kalian urus dia.” Antares memerintahkan prajurit lain untuk mengurus mayat yang ada. Beberapa waktu kemudian setelah prajurit yang Antares utus untuk mengejar pemanah tadi kembali tanpa hasil. Antares merasa ia harus lebih berhati-hati. Jika saja perempuan tadi merupakan gadis yang dicari, maka itu akan menjadi sebuah bencana. “Tingkatkan kewaspadaan. Jika kalian menemukan kembali gadis bertanda khusus. Kalian amankan di tendaku.” “Baik, Tuan!” jawab para prajurit serempak. Musim telah berganti dua kali pasca diturunkannya perintah pencarian gadis pembawa keabadian. Entah harus berapa lama lagi, tapi Antares kembali mengingat janji Orion yang akan membebas tugaskan dirinya serta membuat wilayah Akakadia di bawah pimpinannya. Orang lain mungkin tidak akan percaya dengan perkataan tersebut mengingat bagaimana Orion begitu haus akan kekuasaan, begitu juga Antares. Akan tetapi hal itu kembali membangun keinginannya yang semula telah mati, rencana untuk mengunjungi desa tempatnya kelahirannya. Mengetahui kabar terbaru orang-orang di sana. ***** Tidak seharusnya Antares berada di sini. Berdiri di depan Penginapan Atap Merah. Tujuannya pergi ke perbatasan adalah untuk mencari gadis bertanda khusus. Namun berkat informasi dari Pasty dan janji fana Orion, Antares merasa ia perlu mencari tahu. Tentang seseorang yang bekerja di sana yang berasal dari desa yang sama dengannya. Maka setelah malam semakin larut dan perbatasan ditutup. Antares mendatangi tempat ini. Penginapan Atap Merah merupakan satu dari sekian banyak rumah yang menyediakan penginapan untuk para pelancong, musafir dan pedagang untuk istirahat. Tetapi di sisi lain mereka juga menyediakan tempat untuk para lelaki yang membutuhkan sentuhan. Langkah pertama Antares memasuki tempat itu langsung disambut oleh wanita berparas jelita dengan senyum menggoda yang sudah biasa Antares dapatkan. “Katakan saja apa yang Tuan butuhkan. Makanan, tempat tidur, atau seorang teman?” ****** To Be Continue….  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN