Alasan

2223 Kata
Antares menoleh, memandangi sekali lagi sosok Lettasya dengan lebih teliti. Selain rambut hitam kelam yang kontras dengan kulit putih wanita itu Lettasya juga mengetahui banyak jenis tanaman obat-obatan serta mengetahui racun yang paling langka sekali pun. Antares mengambil satu langkah mendekat, menatap pada mata hazel Lettasya yang menyesatkan.  Warna rambut dan mata yang sangat jarang dimiliki oleh penduduk daratan Yunani. “Siapa kamu sebenarnya?” Lettasya merasa terkejut dengan pertanyaan tersebut, penyamarannya tidak boleh terbongkar. Yang Lettasya tahu, Antares adalah seorang  prajurit istana meski entah apa pangkatnya, tapi apa bila dilihat dari bagaimana seorang prajurit istana mendatangi rumahnya untuk menyampaikan pesan raja. Maka Lettasya yakin itu cukup  menjadi petunjuk bahwa tingkat Antares cukup tinggi dan ia tidak mungki mengatakan yang sejujurnya jika kedatangannya ke sini untuk membawa kembali seorang putri raja yang ditawan untuk dijadikan tumbal. Alih-alih menyelamatkan adiknya, Lettasya kemungkinan besar akan ikut menjadi tawanan. “Saya Lettasya,” ujarnya. “Dari mana asalmu?” Antares mengambil satu langkah mendekat seiring sorot matanya yang tajam penuh kecurigaaan. “Bagaimana kau bisa sampai di ibukota?” Ia melangkah lagi. “Apa tujuanmu sebenarnya?” Hingga tidak ada jarak di antara mereka, keduanya berdiri saling berhadapan dengan mata yang saling memandang. Antares yang curiga, sedangkan Lettasya yang menolak kalah. “Jawab aku. Lettasya!” Meski hatinya mulai gentar, Lettasya tetap bertahan. Namun ia yakin jika sorot mata bisa melukai, mungkin tubuhnya sudah tercabik-cabik sekarang hanya dengan tatapan Antares. “Saya datang ke sini untuk mencari seseorang.” “”Siapa? Suamimu?” Karena Antares masih berpikir jika bocah yang bersamanya adalah anaknya. Kini keinginan Lettasya untuk mengatakan kejujuran mulai memudar, harus kah ia mengiyakan saja agat Antares tidak bisa menebak siapa dirinya? Percakapan mereka terganggu oleh sebuah teriakan tiba-tiba. Lettasya lebih dulu berlari ke arah  sumber suara. Benar saja, seperti yang sudah ia perkirakan bocah yang sempat tak sadarkan diri beberapa hari itu akhirnya terbangun, meski dengan cara yang tak terduga. Anak itu menangis di atas dipan sambil menutup wajahnya. Tanpa keraguan Lettasya segera meraih anak itu ke dalam pelukan. “Tenanglah, sayang. Kau berada di tempat yang aman sekarang.” Sementara Antares hanya memperhatikan dari kejauhan dan Lettasya yakin lelaki itu semakin mempercayai asumsinya sendiri. Tak masalah, Lettasya memang tak berniat berbohong, tapi ia juga tak akan menjelaskan semuanya. Dia harus memastikan apakah kesalahpahaman ini menguntungkannya atau tidak. “Anda akan berangkat sekarang?” Lettasya menghampiri Antares yang sudah berpakaian lengkap dan siap melangkah ke luar. “Kenapa?” “Tunggu sebentar! Sebentar saja!” “Jangan berlari!” seru Antares melihat wanita itu melesat ke dapur. Tak lama kemudian Lettasya muncul dengan sebuah bingkisan di tangannya. “Saya memang tidak terlalu pandia memasak, juga mungkin masakan saya tidak seenak yang selalu Tuan makan, tapi saya harap ini bisa membantu sedikit selama perjalanan.” Saat Antares tertidur dan bermimpi buruk. Lettasya di dapur tengah meracik tamale untuk dibawa sebagai bekal Antares. “Bukan kah aku sudah bilang untuk berhenti memasak?” “Jika Tuan tidak bersedia memakannya, anda bisa memberikannya kepada prajurit yang lain.” Lalu, sekoyong-koyong Lettasya memeluk Antares, membuat lelaki itu membeku. “Berhati-hati lah! Jangan terluka dan kembali lah dengan selamat.” Bukan kewajiban Lettasya mengatakan hal demikian, ia juga tidak tahu untuk urusan apa lelaki itu dikirim ke perbatasan. Akan tetapi teringat bagaimana luka Antares yang masih masa pemulihan, Lettasya merasa kecemasannya tidak bisa dihindari. “Saya juga sudah menyiapkan obat untuk anda selama di sana.” Pelukan itu terlepas, Antares merasa kesadarannya baru kembali. Tanpa mengatakan apa-apa ia meninggalkan Lettasya bersama bocah yang diduga anaaknya itu dengan penjagaan ketat. ***** Wajah Lettasya tampak bingung karena sejak tersadar anak ini tidak mau bicara dan menolak makanan yang ia bawakan. “Kau harus makan agar bisa sembuh.” Anak kecil itu hanya menggeleng, duduk memeluk lutut. Merapatkan mulutnya sebelum kembali menenggelamkan wajah di antara kedua kakinya. “Kalau begitu katakan siapa namamu? Apa kau ingat di mana rumahmu?” Kendati Lettasya tidak yakin mampu menembus penjagaan ketat, tapi ia akan mencoba kabur dari sini setelah mengantar bocah ini kembali ke tempat orang tuanya. Setelah itu ia bisa bebas mencari keberadaan Theona dan itu hanya bisa terjadi jika anak ini tahu tempat tinggalnya. “Setidaknya beri tahu kau namamu?” Tidak ada jawaban, Lettasya menyerah. Untuk saat ini ia hanya akan membiarkan bocah tersebut merasa tenang. Menaruh makanan di dekatnya berharap saat Lettasya keluar anak ini bersedia memakannya. Satu pikiran terlintas di benak Lettasya. mungkin kah anak ini juga senasib seperti dirinya? Apakah kedua orang tua anak ini sudah mati dibunuh? Lettasya harus mencari tahu, tapi ia harus memikirkan caranya. Lettasya tidak punya uang, ia juga tidak punya orang yang bisa ia percayai. “Miguel.” Langkah Lettasya terhenti, ia berbalik menatap anak itu yang juga balik memandanginya. “Nama saya Miguel.” Oh, Lettasya harus bersyukur pada dewa. Anak ini akhirnya membuka suara. Lettasya kembali mendekat, duduk di sebelah bocah tersebut memasang wajah paling ramah yang ia bisa, lalu kembali mengulangi pertanyaan yang sama. “Miguel,” panggilnya pelan. “Apa kamu tahu di mana tempat tinggalmu? Atau orang tuamu?” Miguel kembali membisu. Lettasya tidak berniat menggali lebih dalam lagi. Ia akan lebih bersabar, masih ada hari esok sambil menunggu dirinya menemukan cara untuk kabur, tinggal secara gratis di sini cukup menguntungkan. Ia juga mendaptkan makanan yang layak. Memang lah benar, cahaya yang paling terang adalah tempat yang paling gelap. “Sebaiknya kau makan lebih dulu.” Lettasya meninggalkan anak itu sendirian berharap saat ia kembali, makanan yang ia sediakan sudah habis. Setelah ini Lettasya harus mulai memikirkan rencana, apakah ia hrus kabur sebelum Antares kembali, atau justru membuat anak itu mengakui Lettasya sebagai ibunya. Lettasya tidak yakin jika ia akan selamat jika Antares tahu dia sama sekali tidak ada hubungan dengan anak ini. Mungkin hukuman Lettasya akan bertambah atau justru ia langsung tewas saat Antares menyadari kebohongan ini. Namun, Lettasya menyakinkan diri. Ia sama sekali tidak berniat membohongi Antares. Lelaki itu yang termakan dengan asumsinya sendiri. Lettasya menoleh diam-diam ke arah Miguel yang sudah memegang makanan, dalam hati meminta maaf harus memanfaatkan anak itu demi kelangsungan hidupnya. Lettasya berjanji akan membawa Miguel bertemu kembali dengan keluarganya. **** Kedatangan Antares rupanya sudah ditunggu oleh Orion. Antares bisa melihat Orion duduk gagah di atas singgasananya dengan tanpa pengawal yang cukup. Hanya ada Cleosana yang entah karena apa wajahnya tampak menyiratkan seperti tengah merajuk. Namun, itu bukan kapasitas Antares untuk mengetahuinya. “Yang Mulia.” Hormat Antares sebelum kemudian menekuk satu lutut. “Bangunlah!” Orion berdiri untuk menghampiri Antares. “Sudah kubilang untuk tinggal di sini saja. Kenapa kau harus pulang?” “Ada hal yang harus saya urus. Maafkan hamba!” Alis Orion terangkat satu. “Setelah bertahun-tahun kau baru menyadari memiliki rumah?” Itu pertanyaan sarkas. Antares tidak berani menjawab. “Besok pergi lah ke perbatasan timur. Di sana mulai banyak orang luar yang datang ke ibu kota. Temukan sesegera mungkin dan pastikan dia tidak mengetahuinya,” ucap Orion setengah berbisik di kalimat terakhir. Antares paham betul dia yang dimaksud adalah Putri Cleosana. Semua orang tahu bagaimana tergila-gilanya gadis itu pada Raja Orion. Mungkin hampir seluruh penduduk dan pengawal mengetahui tujuan pencarian gadis bertanda khusus untuk dijadikan istri, tetapi Antares yakin. Hanya Cleosana yang belum tahu. Gadis itu bisa menggila. Apa bila Orion mampu membunuh seluruh raja beserta keturunannya, maka Cleosana mungkin bisa membunuh semua wanita yang ada di negara ini. Meninggalkan keduanya Antares berjalan menuju kamar yang telah disediakan. Kamar yang selalu menjadi tempatnya mememjamkan mata sejak Orion membawanya ke istana bertahun-tahun silam. Kamar ini tidak bisa dibilang luas jika dibandingkan dengan setiap kamar yang ada, tetapi cukup luas jika dibandingkan dengan kamar di rumahnya. Usaha Antares untuk beristirahat sepertinya tidak akan mudah. Tubuhnya barang kali sudah berbaring lurus di atas kasur, akan tetapi pikirannya msih tertinggal di rumah. Pada seorang pemilik rambut hitam bermata hazel yang memberinya pelukan sebelum berangkat. Untuk kesekian kalinya Antaeres tak bisa lagi menghitung sudah berapa banyak ia mengutuk kepalnya yang terus mengingat hal itu. Sebuah pelukan bukan hal istimewa bagi Antares dan bukan lelaki yang kekurangan wanita, baginya sebuah pelukan hanya awal untuk melakukan kegiatan lain. mungkin itulah yang membuatnya resah. “Lihat! Anjing istana sudah berbaring di kandangnya.” Antares mengenali pemilik suara tersebut. Orang yang selalu menjadi benteng terbesar yang melindungi Orion sekaligus orang yang tidak menyukainya karena menjadi tangan kanan sang Raja, Jendral Bayzil. Tidak ada orang yang membenci Antares melebihi Jendral Bayzil membencinya. Bagi Sang Jendral, Antares merupakan satu-satunya penghalang antara ia dan Orion. dia pula lah orang yang membuat masa kecil Antares di sini sangat tidak nyaman. Meski demikian, Jendral Bayzil juga orang yang berjasa yang telah menempa dirinya seperti sekarang. “Jenderal.” Antares bangkit dari kasur untuk memberi salam. “Siapa yang mengira, bocah yang dulu aku latih kini menjadi boomerang.” Tidak ada yang salah dengankalimat tersebut. Jenderal Bayzil memang satu dari dua orang selain Orion yang mengajarinya menggunakan pedang. Meski dibanding melatih, Antares lebih setuju jika pelatihan yang diberikan sang Jenderal lebih mirip siksaan. Namun, sebagai anak kecil yang tidak memiliki tujuan da ntempat tinggal. Tentu Antares tidak memiliki pilihan lain selain bertahan. “Aku harap kau masih mengingat jasa-jasaku.” “Tentu saja. Jasa Jenderal teramat besar.” “Bagus.” Bayzil tersenyum kecut. “Kalau begitu aku ingin kau menjadikanku orang pertama yang mengetahui keberadaan gadis bertanda yang tengah dicari saat ini.” “Soal itu sa—” Tangan Bayzil terangkat. “Kau tentu tahu apa yang akan putriku lakukan jika keberadaan gadis itu ditemukan?” Antares terdiam. “Aku beritahu hal yang mungkin sudah kau ketahui. Dia … putriku, tidak akan mebiarkan ada wanita lain yang mengambil Orion. Gadis yang kalian cari bahkan tidak pantas bersaing dengan Cleosana. Aku hanya mencoba membuat gadis itu tidak menderita.” Bayzil beranjak dari kursi. “Mungkin putriku terlihat lembut, tapi percayalah … kata lembut tidak pernah ada untuk perempuan yang mencoba mengambil Orion darinya.” Pria itu pun meninggalkan Antares setelah mengatakn hal tersebut. Mari kita simpulkan. Dengan kata lain, Bayzil sebenarnya menentang pernikahan Orion dengan gadis yang diramalkan akan membuatnya abadi. Baik Bayzil maupun Cleosana akan membunuh siapa pun gadis tersebut. Artinya Antares kini berada didua pilihan. Namun yang pasti siapa pun gadis bertanda yang dicarinya selama ini, sungguh bernasib malang. Jika ia tidak terbunuh oleh Bayzil dan Cleosana, ia mungkin akan hidup tersiksa dengan ancaman kematian setiap harinya karena berada di sisi Orion. Antares yakin, Orion sendiri tidak akan mencintai perempuan tersebut sebagaimana mestinya. Karena Antares tahu, Orion hanya mencintai satu wanita di dalam hidupnya. ***** Sementara itu di ruangan Orion, Cleosana masih merajuk. “Tidak kah Yang Mulia tahu jika sepekan lagi pesta bunga Iris.” “Aku tahu.” Orion duduk tak acuh sambil memeriksa beberapa laporan yang para menterinya berikan. Cleosana meraup lengan Orion, kemudian memeluknya. Menyandarakan kepala di bahu Orion. Tak peduli pada tinta di ujung pena berbulu sang Raja yang mencoret panjang. “Kalau begitu kita harus  datang bersama.” “Raja tidak pernah datang ke pesta seperti itu Cleosana.” Orion menghela napas demi merajut benang-benang kesabaran. “Kalau begitu datanglah sebagai orang biasa. Sebagai  sepupuku.” “Apa yang membuatmu begitu ingin mendatangi pesta seperti itu?” Pesta Bunga Iris diadakan sebagai tanda berakhirnya musim semi. “Aku ingin ikut pesta dansanya,” bujuk Cleosana dengan bibir mengerucut. Orion memutar badan menghadap Cleosana. “Jika kau ingin pesta, kau hanya perlu meintanya pada ayahmu. Jenderla Bayzil akan menyiapkan semuanya.” “Tapi aku hanya ingin berdua denganmu,” rajuknya lagi. “Bersabarlah kalau begitu. Segera setelah aku menguasai wilayah terakhir di daratan Yunani kita bisa mengadakan pesta.” “Tidak mau!” Cleosana melepas pelukannya. Entah Orion harus merasa senang atau justru sebaliknya karena melihat Cleosana yang masih merajuk artinya ia masih membuthnya bnayak kesabaran. Jika seandainya bukan Bayzil yang membantunya menjadi raja, mungkin Orion akan lebih memilih mengurung sepupunya yang cerewet ini. “Setiap kali Yang Mulia mengadakan pesta perayaan kemenangan. Selalu ada banyak wanita di sana yang mengambil perhatian anda.” “Tapi melukan pesta dansa bersama orang-orang yang bahkan bukan para bangsawan, tidak cocok untuk kita.” Cleosana tidak menjawab, tapi Orion tahu gadis itu belum menyerah sampai keinginannya terpenuhi. Pesta Bunga Iris banyak dinanti oleh para rakyat di negara ini—terkecuali bangsawan. Selain menandakan berakhirnya musim semi, Pesta Bunga Iris adalah sebagai bentuk simbolis Dewi Iris yang akan menyampaikan pesan para manusia di bumi pada para dewa di langit. Bagi rakyat biasa, mereka akan menanam bunga iris di kuburan orang-oang terkasih baik itu pasangan maupun keluarga dengan harapan menghubungakan jiwa mereka ke surga. Lain hal dengan para bangsawan di negara ini yang percaya meraka—para bangsawan bisa langsung terhubung pada dewa dengan melakukan persembahan untuk dewa-dewi penghuni Olympus. Sebelum Orion menjadi raja negeri ini, dirinya dan Cleosana juga pernah menghadiri pesta bunga iris. Orion tentu tidak akan lupa hari itu, hari di mana ia pertama kali jatuh cinta dan awal dari segala keserakahan yang membuatnya bertekad untuk menguasai seluruh daratan. Lagi pula Orion juga tidak akan bisa menghadiri pesta seperti itu lagi karena sepekan setelah pesta tersebut—yang berarti dua pekan dari sekarang—ia harus melakukan ritual upacara persembahan untuk mengorbankan putri para raja yang telah ia culik sebelumnya. Hal ini lebih penting dari sekedar melakukan pesta dansa bersama rakyat jelata di luar sana. Ia harus segera menjadi raja abadi. ***** To Be Continue….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN