Jangan Terluka

2193 Kata
Antares turun dari kuda lebih dulu disusul dengan Lettasya untuk kemudian mengikuti langkah Antares menuju kandang kuda. “Kenapa kau mengikutiku?” tanya Antares heran. “Bahan makanannya masih ada di sana.” Tatapan Lettasya tertuju pada barang bawaan yang mengantung di pelana kuda. Seharusnya memang ia hanya perlu masuk kembali ke rumah akan tetapi ia cukup sadar diri untuk tidak meminta tuan rumah membawakan barang. “Aku akan membawanya.” Tanpa membantah, Lettasya segera berbalik menuju ke rumah. Dia menyiapkan minum dan langsung menyodorkannya pada Antares begitu lelaki itu tiba di dapur. “Tuan sebaiknya istirahat. Tidur lah di kamar.” Yang Lettasya maksud adalah bersam adengan bocah lelaki yang msaih belum sadarkan diri. Toh, Lettasya akan sibuk di dapur. “Di tempat bekas kau tidur?” Pertanyaan itu mengandung makna ganda, Lettasya berpikir mungkin Natares tidak akan suka tidur bersama seorang rakyat jelata. “Tapi luka anda belum sembuh.” “Aku tidak kan mati begitu saja.” Lettasya ingin mencebik karena ucapan Antares begitu terdengar sombong, hanya saja ia tetap menjaga ucapannya. “Baiklah.” “Aku serius Lettasya.” “Saya tidak bilang anda berbohong.” “Mulut memang tidak, tapi raut wajahmu terlihat jelas.” Lettasya tidak berusaha mengelak. “Minumlah. Saya akan segera menyiapkan makanan untuk anda.” ***** Tidak banyak yang bisa Lettasya masak mengingat bahan makanan yang masih kurang. Ia sendiri bahkan tidak yakin Antares akan bersedia memakan makanan buatannya. Tampilannya sungguh tidak sedap dipandang mata padahal Lettasya sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun memang hakikatnya ia hanya pandai dalam meracik obat dan obat tidak mengutamakan rasa serta tampilan. Ada banyak alasan ketika melihat raut datar wajah Antares saat mencicipi hidangannya, tapi Lettasya tahu itu hanya akan memperburuk keadaan. Wanita itu bisa mengetahui dengan jelas bagaimana penilaian Antares tentang masakannya. Dan itu bukan nilai yang bagus. “Sebaiknya mulai besok kau tidak perlu memasak lagi.” Benar bukan. “Saya akan berusah lebih baik besok.” “Ini perintah. Jangan masak lagi.” “Baik, Tuan.” Padahal Lettasya yakin rasanya tidak begitu buruk, tapi ia juga sadar. Untuk orang seperti Antares, makanan ini tidak bisa dibandingkan dengan yang biasa ia makan. Maka dari itu Lettasya hanya melanjutkan makannya dalam diam. “Besok aku akan memerintahkan orang lain untuk membawakan makanan. Kau hanya perlu mengurus anakmu dan juga….” Antares telah menyelesaikan makannya dan melirik pada tangan Lettasya yang melepuh tersiram air panas. “Menjaga dirimu agar tidak terluka.” Untuk sesaat Lettasya memiliki pemikiran jika Antares melarangnya memasak bukan karena makanannya tidak sesuai dengan selera lelaki itu. Namun, Lettasya segera menggeleng untuk mengenyahkan hal tersebut. Posisinya sekarang ini di sini merupakan sebuah tawanan, barang kali saja Antares mengatakan hal itu untuk menutupi kebohongannya. Bukan tidak mungkin Antares lebih takut Lettasya menaruh racun pada makanannya. Pasti karena itu. Bagi Lettasya, memikirkan hal terburuk lebih aman untuk hatinya dibanding menumpuk asa. Karena ketika kau jatuh dan tebakanmu benar, kau tidak akan terlalu sakit dan justru akan bersyukur telah menduganya,. Lain hal bila kita telah terlanjur menimbun harapan, begitu tidak sesuai, maka kekecewaan itu bisa membuatmu bersedih dalam kurung waktu yang lama. Begitu lah cara Lettasya bertahan selama ini. “Apa kau sudah menyiapkan obat untuk anakmu jika seandainya ia masih belum sadarkan diri juga?” “Saya sangat yakin dia akan segera sadar.” “Baiklah, aku harap kau bisa mengurus anakmu dan tidak lagi membuatnya terluka.” Lagi-lagi kalimat seperti itu. Seolah Antares orang yang paling tahu jika Lettasya menganiaya anaka kecil. “Tuan Antares, ada utusan dari istana.” Seorang pengawal yang ditugaskan oleh Antares untuk menjaga rumah ini masuk untuk melapor. Tanpa menunggu waktu, lelaki itu segera meninggalkan Lettasya yang lagi-lagi gagal menyampaikan kesalahpahaman yang ada. Lettasysa menghela napas, ia memandangi telapak tangan bagian atas yang terluka. ***** “Tuan,”  sambut si prajurit istana menunduk sejenak sebagi bentuk hormat. “Apa ada hal yang mendesak?” “Yang Mulia meminta anda memeriksa di jalur perbatasan timur.” “Kapan?” “Secepatnya. Raja juga menyampaikan untuk mendatangi istana sebelum berangkat.” “Sampaikan pada Yang Mulia, malam ini aku akan ke istana dan berangkat ke wilayah timur besok pagi.” “Baik.” Prajurit tersebut segera undur diri dan meninggalkan kediaman Antares. Sekembalinya dia ke dalam rumah, Antares mengepak beberapa barang serta menyiapkan yang diperlukan untuk berpergian seperti biasanya. Saat itulah Lettasya mendatanginya dengan obat di tangan. “Tuan,” panggil Lettasya. Antares tidak menjawab, ia hanya menoleh sesaat dan kembali melanjutkan kegiatannya. “Sudah waktunya mengganti obat.” “Taruh saja di sana. Biar aku yang melakukannya sendiri.” “Anda akan berpergian?” “Hmm.” “Tapi Anda belum sembuh dan masih harus dalam tahap pemantauan.” “Kau urus saja anakmu.” “Tentu saja saya akan mengurusnya.” Entah kenapa Lettasya merasa jengkel mendengar jawaban Antares, ia telah berusaha untuk mengurus luka lelaki itu dan mengupayakan yang terbaik agar racun yang ada di tubuh Antares bisa  segera pulih sepenuhnya, namun yang lelaki itu ucapkan seolah tidak menghargai Lettasya. “Tapi siapa yang akan mengurus anda?” Antares menghentikan kegiatannya dan berbalik. “Apakah kau akan mengurusku?” tanya Antares dengan nada mengejek. “Kau bahkan tidak bisa mengurus anakmu sendiri.” Letttasya sudah membuka mulut, akan tetapi kalimatnya kembali tertelan mendengar penuturan Antares berikutnya. “Dan bagaimana bisa aku mempercayakan diriku untuk dirawat oleh sepertimu?” Baiklah! Lettasya merasa ini memang salahnya karena menganggap serta memperlakukan Antares sebagaimana pasien yang membutuhkan perhatian lebih. Sementara lelaki ini hanya memandang Lettasya tak lebih sebagai rakyat jelata yang kini berstatus tahanan. “Saya tidak berharap anda akan memperlakukan saya dengan baik. Tapi setidaknya, tolong untuk tidak terluka,” ujar Lettasya yang sudah berbalik menaruh baki beisi obat dengan kasar. “Bukan karena saya tidak ingin direpotkan mengurus luka. Seperti yang anda tahu, saya sendiri sudah cukup paham dan bukan menyombongkan diri, tapi memang saya sudah sering mengobati seseorang.” “Maka dari itulah … saya tidak terlalu suka melihat orang terluka. Karena tahu rasanya sakit. Maaf saya telah lancang mengatakan hal seperti ini. Anda bisa menambahkan hukuman untuk saya.” Selepas kepergian Lettasya, Antares mulai merenung. Pikirannya seolah tidak bisa diam untuk hanya sekedar mempersiapkan diri untuk perjalanan besok. Melainkan karena kata-kata Lettasya yang mengingatkan Antares pada  ibunya dulu. Dulu … sebelum ibunya memiliki rencana untuk membunuh Antares. ***** Ketika itu Antares masih kecil, mungkin seusia bocah yang datang bersama Lettasya dan Antares juga memiliki seorang adik lelaki. Adik yang hanya terpaut beberapa tahun lebih muda darinya. Adik Antares bernama Aegis. Selayaknya saudara, Aegis memiliki penampilan yang tak jauh berbeda dengan kakaknya. Rambut ikal berwarna cokelat kemerahan, kulit sawo matang, badan tinggi kurus. Namun, meski serupa tetap selalu ada perbedaan. Jika sorot mata Antares selalu penuh semangat, maka Aegis tampak sayu dan lebih lembut. Apabila Antares gemar berburu serta bermain pedang, Aegis justru lebih senang bercocok tanam dan memelihara binatang. Akan tetapi, binatang yang Aegis sukai tidak bisa diterima oleh kedua orang tua mereka karena Aegis lebih menyukai hewan sejenis ular, laba-laba beracun, kalajengking, dan sejenisnya. Tak jarang Antares pasang badan melindungi Aegis dengan mengakui jika binatang yang dibawa Aegis adalah atas perintahnya. Pada suatu pagi, Antares belia berencana pergi untuk berlatih mengayun pedang. Kaki anak itu mengendap sepelan mungkin, berharap ibunya tidak menyadari kepergian Antares. Sementara sang ibu tengah sibuk di depan tungku, Antares yang melangkah hati-hati dengan pedang kecil di pinggangnya terlonjak oleh karena sebuah teriakan. “Antares! Antares! Kau akan pergi ke hutan kan? Biarkan aku ikut.” Aegis berlari menyusulnya dari dalam rumah. Ibu mereka menoleh dengan dramatis, matanya menyorot tajam. Memperhatikan benda yang dibawa oleh anak sulungnya. “Antares, apa yang kau bawa itu?” “Ini … ini….” Antares belum menemukan alasan yang tepat sampai akhirnya ibunya merampas pedang yang ia bawa. “Sudah ibu bilang untuk berhenti bermain benda tajam.” “Tapi aku harus berlatih pedang, Bu.” “Untuk apa? Ibu tanya untuk apa kau berlatih menggunakan benda berbahaya seperti ini?” “Untuk mem—” “Untuk membela diri?” sambar ibu Antares. “Dari apa? Jangan bilang kau ingin menjadi prajurit dan Jendral perang, apalagi menjadi. Ibu tidak suka kau terluka.” “Aku menggunakan itu hanya untuk berburu.” Antares beralasan. “Bukankah semua orang di desa kita adlaha ahli dalam berburu bahkan ayah bisa mengalahkan beruang seorang diri.” “Dan ayahmu juga hampir mati karena itu,” tegas ibu Antares. “Ibu tidak ingin kau terluka. Ibu tidak ingin terjadi sesuatu hal yang buruk denganmu.” Antares tahu dia tidak akan bisa menolak permintaan ibunya dengan wajah demikian. Wajah yang penuh rasa khawatir, wajah yang begitu tulus menyayanginya dan tak ingin kehilangan anaknya. Antares tahu ibunya benar, tapi dia seorang lelaki. Oleh karena itu, Antares tidak bisa menjawab. Antares belia hanya berlari meninggalkan rumah, tanpa menoleh lagi, mengabaikan panggilan ibu serta adiknya. Kaki kurus milik seorang belia bernama Antares itu penuh dengan luka lecet juga bekas luka lain yang tampak mengering. Antares duduk di atas batu yang berada di pinggir danau yang terletak di hutan. Menatap pada hamparan air yang tenang dengan benak yang mengira-ngira seberapa dalamnya dasar tersebut dan apakah cukup untuk menenggelamkan dirinya. Ia tidak tahu mengapa berlari ke sini. Dia hanya merasa jengkel dengan larangan ibunya. Namun, dia sendiri juga tahu mengapa ibunya bersikap demikian. Yang ibunya tidak tahu adalah perilaku teman-temannya. ibunya tidak tahu jika beberapa luka yang ia dapat justru diperoleh dari teman Antares karena dirinya tidak bisa melawan. “Lihat siapa yang ada di sini?” Dia, tebak Antares dalam hati. Suara yang tidak asing dipendengaran Antares. Ia menoleh, untuk melihat anak lelaki yang lebih tua darinya tersenyum remeh. Berambut pirang cokelat terang. Seseorang yang Antares sebut sebagai teman. Ya, teman yang yang membuat Antares ingin berlatih pedang, Gola. Dan dia. Antares beralih melihat satu anak yang lebih kurus di sebelah Gola yaitu Lumo. Gola dan Lumo adalah dua anak yang terkenal dengan kemampuan menggunakan panah dan pedang. Mereka paling unggul dibanding anak-anak seusianya. Sebagaimana tradisi desa tempat Antares berada, Gola dan Lumo merupakan calon pemimpin terkuat untuk ketua desa mereka di masa mendatang. Antares kembali menatap danau, sepenuhnya mengabaikan meraka. Ia sedang tidak ingin diganggu saat ini. “Sepertinya kemarin kau menendang kepalanya terlalu kuat, hingga anak itu menjadi tuli.” Lumo berceloteh. “Jika kemarin aku membuatnya tuli, maka hari ini aku akan membuatnya bisu.” Antares bisa mendengar langkah mereka menghampirinya. Salah satu dari mereka menarik pundak Antares hingga ia terjungkal. “Kau harusnya menyapaku dengan benar.” Satu tendangan diarahkan pada Antares. “Jika aku sudah besar dan menjadi ketua desa nanti, aku akan mengusirmu dari sini.” Tendangan kedua diterima Antares tepat di perut. Lumo menyusul menendangi punggungnya. Sementara Antares hanya meringkuk berusaha melindungi wajahnya agar tidak terluka. Akan menjadi masalah jika ibunya melihat. “Hey, kalian! Kenapa kalian menendang kakakku?” Entah dari mana datangnya Aegis tiba di sana. “Aegis, pergi dari sini,” titah Antares. “Kalau kalian tidak berhenti melukai kakakku, kalian akan berada dalam bahaya.” Aegis melotot pada Gola dan Lumo. Tak gentar meski tubuh mereka dua kali lebih besar dari adiknya. Hal itu tentu tidak bisa diterima oleh Gola dan Lumo. Ancaman seorang anak kecil tak berarti apa-apa untuk mereka, tetapi cukup untuk mengusik harga diri keduanya. Sore itu, di pinggir danau, di bawah cahaya mentari senja, dari keempat anak yang ada di sana hanya satu anak yang berhasil kembali ke rumah. Antares … datang dengan wajah serta baju penuh darah, membuat ibunya menjerit ngeri sekaligus mengutuk Antares. ***** “Tuan! Tuan!” Lettasya menggoyangkan tubuh Antares yang tertidur sambil mengigau. “Tuan bangun.” Ketika mata cokelat Antares terbuka, ia menyadari jika dirinya kembali memimpikan tragedi masa lalu. Napas Antares bergemuruh cepat, Lettasya dengan sigap mengambilkan air minum membiarkan Antares menenggaknya hingga tandas. “Anda baik-baik saja?” Ketika tangan Lettasya berniat menyeka keringat dingin yang membasahi seluruh wajah Antares, lelaki itu menarik diri hingga membuat Lettasya merasa tidak enak hati dan berpikir terlalu lancang untuk seorang seperti dirinya menyentuh Antares tanpa izin terlebih dahulu. “Maaf,” cicit Lettasya. “Sejak kapan aku tertidur.” Lettasya tidak yakin. “Saya rasa itu cukup lama.” “Apakah matahari sudah tenggelam?” “Ya. Apa anda sudah lapar? Saya akan menyiapkan beberapa—” “Sudah kubilang untuk jangan memasak lagi bukan?” “Akan ada seseorang yang aku tugaskan mengirim maknana ke sini. Jika kau ingin makan sesuatu, katakan saja padanya. Kau tidak perlu menyusahkan diri. Cukup rawat anakmu.” Antares sudah beranjak bangkit. “Anda belum bisa berpergian saat ini.” “Siapa kau berani memerintah?” Sungguh, betapa Lettasya ingin mencekik tuannya hingga tak sadarkan diri hanya agar ia bisa mengobatinya. “Mimpi buruk yang anda alami.” Ucapan Lettasya menghentikan langkah Antares. “Itu merupakan salah satu dari gejala racun kemarin yang belum pulih sepenuhnya.” Antares menoleh, memandangi sekali lagi sosok Lettasya dengan lebih teliti. Selain rambut hitam kelam yang kontras dengan kulit putih wanita itu Lettasya juga mengetahui banyak jenis tanaman obat-obatan serta mengetahui racun yang paling langka sekali pun. Antares mengambil satu langkah mendekat, menatap pada mata hazel Lettasya. “Siapa kamu sebenarnya?” ***** To Be Continue…  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN